Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku

Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku
Tugas Awal Cempaka


__ADS_3

Keesokan harinya, Cem yang sudah terjaga namun masih dalam pelukan Reza merasa harinya akan jadi lebih baik.


Reza sudah bersiap-siap untuk bekerja.


Reza heran melihat Cempaka yang ikut bersiap-siap "Cem, bukannya kamu bakalan istirahat seminggu?"


"Emm?? aahh.. aku ada dapat tugas dari Pak Didi. Ada yang perlu aku kerjakan."


"Kamu yakin? kan baru saja balik tadi malam. Istirahat dulu. Lagian kerjaannya gak harus diseleseikan hari ini kan?" Ucap Reza yang khawatir. Setelah melihat istrinya semalam.


"Aku gak apa-apa kok. Takutnya, kalau aku gak lakuin hari ini, perasaanku akan goyah." Jawab Cem.


Reza kemudian mencium ubun-ubun istrinya yang sedang duduk depan meja rias.


"Jangan terlalu memaksakan diri. Kalau kamu lelah ataupun stress gara-gara Pak Didi cepat laporin ke Mas."


"Supaya apa? yang aku tahu Mas Reza juga gak terlalu akrab dan sering menghindari Pak Didi," ujar Cem mengolok Reza.


Karena setiap ada pak Didi dia selalu mundur atau pura-pura melakukan sesuatu.


"Eehh..jangan salah. Sekarang tuh Pak Didi kan sudah tua. Dan mas makin kuat. Kenapa takut?" ucap Reza sombong.


Cem berbalik menghadap Reza. Dan melihat suaminya dalam-dalam.


"Mas, pak Didi orangnya bagaimana sih?"


"hemmmm?" pura-pura berfikir.


"Mas, aku serius"


"Kok kamu malah penasaran sama Pak Didi sih? pokoknya yah Pak Didi orangnya gitu. Perencana, berbakat, galak, pendiam taulah. Mas juga bingung.


Soalnya Mas juga gak dekat sama Pak Didi, Kak Romi yang paling sering belajar sama dia," jawab Reza cuek.


"Kalau kak Romi, gimana orangnya?" tanya Cem lagi.


"kamu kenapa sih, tiba-tiba nanyain Pak Didi dan Kak Romi. Apa tugasmu ada hubungannya dengan Kak Romi?"


Cem berbalik menghadap cermin lagi. "Aku gak mau jawab, takutnya aku malah bohong".


"Hemmm...Mas percaya sama Cem. Hanya apapun yang Cem lakukan jangan membuatmu terlalu lelah, stress dan kamu juga bisa bicarakan semuanya sama Mas. Karena pekerjaan Pak Didi bukan pekerjaan yang mudah." Menepuk bahu istrinya dan mengajaknya untuk sarapan.


Di ruang makan, pelayan sibuk menyiapkan sarapan. Cem ingin membantu tapi dilarang oleh Bi Wati karena melihat Cem yang sudah menggunakan pakaian formal.


"Cem mau ke mana?" tanya Nyonya Besar yang melihat Cem sudah rapi.

__ADS_1


"Aku ada tugas yang harus diseleseikan, Ma" jawab Cem singkat.


"Hati-hati, jangan terlalu stress. Nanti Mama bilang sama Pak Didi supaya Cem jangan dikasi tugas yang sulit-sulit."


"Ma, jangan! Justru dari tugas sulit kan Cem bisa belajar lebih. Biar lebih kuat dan tahu cara mengatasi masalah," jawab Cem sambil tersenyum.


Tuan Besar yang melihat senyum Cem, merasa sedikit lega.


Berbeda dengan kemarin wajah Cem terlihat begitu stress, sampai berniat membatalkan pelatihan Cem dengan Pak Didi.


Setelah sarapan, Cem mengantarkan kepergian Reza. Mereka berjalan bergandengan.


"Kok kamu suka banget sih, gandeng tangan Mas sambil di ayun-ayunkan? mas kan sudah bilang rasanya kayak anak TK."


Cem melepaskan tangan Reza.


"ya sudah kalau tidak suka Cem gandeng kayak gitu."


"Bukannya begitu, tapi kan harusnya begini biar lebih romantis"


Reza meraih tangan kanan Cem, melingkarkan di lengan kirinya, dan menyandarkan kepala Cem di lengan atasnya. Reza kemudian mengajak Cem berjalan.


"Mas, tau gak posisi ini tuh gak enak banget di bawa jalan. Leher Cem lama-lama tengeng" ujarnya, tapi masih menyandarkan kepalanya.


(tengeng bahasa jawa untuk leher yang miring dan menyebabkan sakit)


"Emangnya Mas 4 hari ini nonton film apa?"


"kalau tidak salah judulnya DENDAM ISTRI LEHER TENGENG deh"


Cem pun tertawa terbahak dan memukul lengan suaminya di mana kepalanya tersandar tadi setelah mendengar judul film buatan suaminya.


Reza hanya mangadu kesakitan dan tertawa


"ooh..Hehhehe, mas cuma bercanda. Tapi memang di film yang pernah Mas nonton adegannya tuh romantis. Jalan di taman. Tapi kok Cem malah bilang lehernya tengeng. Lebih baik mas berhenti ngikutin film romantis deh. Bohong semua".


"Ya udah, mas berangkat gih. Mas bukan boss, nanti kalau terlambat gajinya bisa dipotong sama Kak Romi," Cem kemudian mengibas bahu suaminya, merapikannya.


Tapi Reza malah menyodorkan wajahnya kedepan istrinya. Cem melihat kiri dan kanan, kemudian mengecup bibir Reza dengan cepat.


"Kok sebentar? mumpung gak ada orang"


Cem pun memegang kedua pipi suaminya. Mengecup semua bagian wajah suaminya, meninggalkan banyak cetakan lipstik di wajahnya.


Awalnya Cem kaget sendiri, tapi dia putuskan untuk membiarkannya. Supaya orang tau kalau dia sudah beristri, fikirnya.

__ADS_1


Tentu saja Reza sumringah senang. Dan dengan cepat naik ke atas mobil dan melambai pada istrinya.


Tibanya di kantor, Reza seperti mengalami deja vu. Orang-orang tersenyum, berbisik melihatnya. Ia jadi sadar, kemudian bercermin di dalam lift.


Dia hanya tertawa tapi tak menghapusnya.


"Aku benar-benar gila," fikirnya.


"andaikan saja Cem tak sesibuk sekarang. Kita pasti bisa lebih menikmati waktu kita" menghela nafasnya, karena tak ada yang bisa dia lakukan.


Kenapa Pak Didi menyuruh Cem melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Kak Romi. Apa kak Romi buat kesalahan? Karena penasaran Reza pun meminta bertemu dengan Romi setelah pulang kerja.


Sementara itu, di rumah Cem dan Pak Didi berada di ruang kerja Tuan Wisnu.


"Jadi, siapa yang akan nona temui hari ini?"


"Anita" jawab Cem singkat.


Pak Didi, kemudian memberikan Cempaka map, berisikan rahasia besar dan skandal keluarga Anita. Cem hanya kaget dan membelalakkan matanya tak percaya.


"Saya juga mendengar, bahwa Tuan Romi dan Nona Anita mempunyai kontrak tersendiri. Tapi sampai saat ini, bahkan fotocopy nya belum sampai di tangan saya."


"Tapi, kita tak akan benar-benar menyerahkan ini ke publik kan?" jawab Cem terbata-bata.


"lagipula ini bukan drama di mana aku harus mengancam orang lain karena aib mereka kan?" batin Cem.


"Itu semua tergantung keputusan Nona Anita dan keputusan Anda. Karena ini tugas pertama anda. Saya akan membantu apapun keputusan nona."


Sementara Cem berkecamuk dalam fikirannya.


"Apakah harus menggunakan kelemahan orang lain untuk mendapatkan apa yang kita inginkan? Sejauh mana seseorang akan bertindak untuk melindungi miliknya? aaahh...aku jadi galau."


"Mungkin, terlalu dini untuk saya menaruh harapan besar pada Nona. Apa yang akan nona lakukan ini adalah melindungi keluarga Rahadi. Hanya itu yang harus Nona ingat."


"Tapi, bagaimana dengan orang lain? apakah harus menyakitinya demi melindungi milik kita?"


"Nona, saat Keluarga Rahadi tergoncang, ada puluhan, ratusan ribu kariawan yang akan terpengaruh kehidupannya dan keluarganya.


Dan saat mereka terpengaruh, tentu saja yang di tuntut pertanggung jawaban adalah keluarga Rahadi. Maka kedamaian dalam rumah pun akan terganggu."


Cem faham, sangat faham. Tapi bathinnya masih menolak.


"Tidak, aku sudah berjanji menjadi serakah demi melindungi apa yang kusayangi. Tak pelru perdulikan perasaan orang lain. Itu adalah salah mereka berurusan dengan keluarga Rahadi dari awal," menarik nafas dalam-dalam.


Ini bukan hal yang licik, ini adalah caraku melindungi keluargaku. Batin Cem yang berkecamuk.

__ADS_1


*bersambung......


__ADS_2