Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku

Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku
Lega


__ADS_3

Reza lalu melepaskan pelukan Cem.


"Mas mau mandi dulu" Reza berjalan menuju kamar mandi tanpa berbalik.


Cem hanya menunggu Reza di kamar dan berdiri di jendela sambil berfikir.


Setelah keluar dari kamar mandi.


"Makan malam sudah siap?"


"belum, aku siapin snack atau buah mau?"


"iya, itu juga gak apa-apa" jawab Reza singkat.


Cem faham, Reza hanya belum ingin membicarakan masalah Dini dengannya. Tapi mau sampai kapan?


Setelah membawa snack, Cem mencari Reza di kamar tapi menemukannya di ruang kerja.


"Mas mau ngerjain sesuatu dulu, panggil nanti kalau makan malam sudah siap!" Cem langsung meletakkan snack tadi di atas meja kecil.


Tak seperti biasanya, meskipun ia harus kerja. Dia akan mengerjakannya di mana ia bisa melihat Cem.


"Mas?" memanggil suaminya lembut.


"Cem, kenapa? kenapa kamu pergi ke sana?" nada suaranya agak tinggi.


"Kan aku sudah bilang sama Mas, waktunya Mas buat move on berhenti merasa bersalah dan bertanggung jawab atas keadaan Kak Dini. Atau jangan-jang......"


Meskipun tak ada niat meragukan perasaan Reza.


Tapi manusia itu tak pernah puas.


SAAT KAU MENUNJUKKANNYA CINTA DENGAN PERBUATAN MEREKA MASIH MENUNTUTMU MENGATAKANNYA.


SAAT KAU MENGATAKANNYA DENGAN JUJUR DAN SEPENUH HATI PUN MEREKA AKAN MENUNTUT BUKTI PERILAKUMU.


Yah, karena pada dasarnya Cinta juga membutuhkan bukti dan pengakuan.


Belum selesei bicara, Reza langsung bicara lagi "Jangan berani kamu lanjutkan kalimatmu, kamu bilang tidak akan meragukan Mas." Meninggikan suaranya lagi.


"Karena itu aku yang melangkah duluan, membantu Mas melepaskan semuanya.


Kak Dini seperti masalah yang belum terselesaikan dalam hidupmu.


Aku sudah berjanji akan mendampingimu.


Bagaimana aku mendampingimu jika melangkah saja kamu tidak mau?" Ucap Dini meninggalkan ruangan kerja Reza.


Reza mengerang, menutup laptopnya dan mengikuti Cem.


Cem sedang di kamar, karena kesal ia tidur menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Cem? sayang?" Reza menggoyang tubuh Cem dari atas selimut.


Cem tidak menjawab. "Ayo kita bicarakan. Maafkan Mas karena meninggikan suara Mas."


Perempuan akan sangat senang, apabila laki-laki tahu persis apa kesalahan yang mereka lakukan.


Cem membuka selimut sampe hidungnya dan melirik Reza.

__ADS_1


"Janji gak pake marah?"


"Iya, mas janji. Maafin mas yah?"


"Iya, Cem juga minta maaf. Harusnya bicarakan dulu sama Mas Reza."


Akhirnya, Cem dan Reza duduk di atas tempat tidur.


"Kemarin bibi menelepon, meminta Mas untuk sekali saja menjenguk Dini. Tapi Mas gak mau."


"Kenapa? Kenapa Mas gak mau?"


"Mas sendiri juga gak tau. Mungkin takut merasa lebih bersalah? Entahlah" Reza mengangkat bahunya.


"Mas, waktu kak Dini gak lama lagi kata dokter."


"Apa maksud Cem, gak lama lagi?"


"Dia menderita kanker usus. Dan juga kesadarannya lebih sering muncul. Dan dia lebih sering nyariin Mas Reza. Bibi juga ada yang mau dibicarakan."


Reza hanya terdiam mendengar kabar tersebut.


" Bagaimana kalau besok, Mas pergi menemui Kak Dini?"


"Besok? secepat itu?"


"Cepat apanya? hampir 10 tahun loh Mas." Cem menyentuh wajah Reza.


"supaya jangan ada lagi penyesalan"


Reza mengangguk kemudian mereka berpelukan. Reza menghela nafas panjang. Berfikir apa ia benar-benar bisa melakukannya besok.


......


Mereka tiba di depan kamar Dini. Mereka mengaitkan jari satu sama lain.


Reza sangat gugup, karena ini akan jadi pertama dan terakhir kalinya ia melihat gadis yang pernah mampir di hatinya itu.


Entah kenapa, Cem juga ikut-ikutan gugup. Tapi dia berusaha tersenyum lebar.


Mereka memasuki ruangan tersebut. Reza menghentikan langkahnya setelah melihat Dini.


Gadis yang dulu terlihat ceria, dengan pipi merah muda merona.


Kini terbaring lemah, pucat, tubuhnya yang semakin kurus tak memperlihatkan semangat kehidupan.


Cem menarik Reza mendekat ke kasur Dini. Cem tersenyum dan Reza duduk di kursi samping tempat tidur.


Reza mengangkat tangannya ingin menyentuh tangan Dini, tapi melihat ke arah Cem seolah minta izin.


"aahh..mas Reza jangan lihat aku dengan mata berkacamu meminta izin menyentuh tangan wanita lain," batin Cem.


Cem tersenyum memberi izin. "Aku tunggu di luar yah?" Cem menyentuh bahu Reza dan Reza mengangguk.


Setelah di luar, Cem menghela nafas yang tak sadar ia tahan ketika di dalam. Dia duduk di kursi tunggu depan kamar menyandarkan kepalanya ke tembok depan kamar.


"Cem, sekarang bukan saatnya cemburu. Kamu sekarang itu istrinya Mas Reza. Lagipula Kak Dini sesang sakit dan mereka hanya menyelesaikan urusan yang belum selesei." Ia memukul kepalanya dengan pelan.


Suara Reza terdengar, karena pintunya yang tidak tertutup rapat.

__ADS_1


"Dini? aku minta maaf karena baru sekarang bisa menjengukmu.


Aku, dulu aku harusnya lebih menunjukkan ke kamu rasa sayangku. Bagaimana aku sangat menikmati waktuku bersamamu." Reza menangis memegang tangan Dini.


"Eca?ini beneran kamu kan?" Dini terbangun dan melihat Reza ada di dekatnya. Ia tersenyum lemah.


"Iya, Din. Ini aku!" ucap Reza.


Cem semakin penasaran, jadi ia memutuskan untuk mengintip lewat kaca bening di pintu kamar.


"Cem, jangan malu-maluin. Percaya sama suamimu. Lagian mereka bisa ngapain di dalam sana?" batin Cem melarangnya mengintip.


"Eca, kamu datang juga. Emm. Maafin Aku Ca, harusnya aku lebih percaya pada perasaanmu di banding hasutan-hasutan orang lain" bicara dengan nada lemah dan jeda yang panjang.


Reza hanya menatap Dini.


Sementara Cem yang di luar tegang, takut ia membahas Romi, salah satu orang yang sudah menghasutnya.


"Aku harusnya tidak melakukan pilihan yang membuat ibuku dan kamu menderita.


Wajah ibu sudah tak kukenali lagi, sama seperti aku tak mengenali wajahku sendiri." Dini tersenyum getir.


"Ca, kamu baik-baik kan? Aku lihat kabar pernikahanmu.


Kata ibu, awalnya aku sangat marah." berhenti untuk menarik nafas.


"Tapi, di lain waktu aku memuji kamu dan Cem pasangan serasi. Aku gak nyangka kamu sam Cem bisa nikah." Dini tertawa kecil, karena tidak banyak energi yang bisa ia keluarkan untuk tertawa.


"Ca, maafin aku. Aku juga dengar apa yang sudah ibu lakukan. Karena selalu menyalahkanmu." Air mata Dini mulai mengalir.


"Kamu gak perlu merasa bersalah. Semuanya pilihanku, karena apapun hasutan mereka kalau aku cukup kuat untuk tak terhasut..hehehhee" Dia tertawa mengingat kebodohan masa lalunya.


"Tapi ini juga takdir. Kamu sama ibu adalah orang paling menderita. Aku sadar hanya beberapa kali. Tapi kalian, menderita setiap hari karena ini."


"Cem ada di sini juga kan?" Reza mengangguk


Cem yang sudah mendengar pembicaraan mereka langsung masuk dalam ruangan dan berjalan mendekati Dini.


Dini tersenyum "Kamu sudah besar dan makin cantik sekarang." Cem hanya mengangguk matanya berkaca-kaca.


"Dulu, kalau di rumah kalian berdua malah asyik main berdua. Ku doakan kalian bahagia."


Dini tersenyum menghela nafasnya dan tertidur, ia lebih banyak tidur karena efek obat penahan sakit yang ia minum.


Cem kini menangis sesegukan, Reza memeluknya.


"sssshhhhh....." mengelus punggung Cem. Entah kenapa malah Cem yang menangis. Reza hanya menarik nafas lega.


Kenapa ia tak melakukannya dari dulu fikirnya.


Dia merasa seperti semua beban terangkat dari hati dan pundaknya.


Cem merasa bersalah, karena marah kemarin. Ia juga akhirnya sadar, kalau bibinya juga menderita.


Terlepas dari apa yang sudah dilakukan. Bibinya hanya seorang ibu yang akan melakukan apapun untuk putrinya.


Bibinya, berkali-kali meminta maaf. Tapi tidak menjelaskan alasan perbuatannya. Dia meminta maaf dan mendoakan yang terbaik untuk Reza dan Cempaka.


*bersambung......

__ADS_1


__ADS_2