
"Lepasin," Cem berusaha melepaskan lengannya dari tangan Reza.
"Kenapa kamu begitu marah, aku cuma mengajak kamu ke rumah sakit untuk periksa. Kenapa kamu semarah ini?"
"Bagaimana aku tidak marah, begitu melihat Anita terluka kamu langsung meninggalkan aku. Kamu menyuruh aku pulang waktu aku sudah kejar kamu ke rumah sakit.
Kamu pikir bagaimana perasaanku? apa yang harus aku fikirkan?
Dan tadi malam untuk pertama kalinya aku tidur dengan jendela terbuka, karena kamu sibuk nemanin dia." Ucap Cem masih marah.
"Aku minta maaf, karena lama kembali. Aku janji gak akan ngelakuin itu lagi.
Aku nyuruh kamu pulang karena khawatir sama keadaan kamu."
"hah, Kalau kamu khawatir sama aku, harusnya kamu pulang sama aku, bukan malah menyuruh Pak Didi nemanin aku.
Istri kamu itu Aku, bukan Anita.
Kamu harusnya tau siapa yang lebih penting dalam hidup kamu," ucap Cem menunjuk dada Reza.
Reza seperti tersadar, bahwa apa yang dilakukannya memang salah.
"Tapi, kamu lihat sendiri bagaimana keadaan Anita, dia babak belur dan shock."
"Aku tahu, karena itu sekarang aku merasa aku perempuan paling jahat. Aku tahu kamu cinta sama aku, tapi perasaanku gak mau mengerti tentang keadaan Anita. Tapi kamu ti...." air mata Cem sudah dipelupuk mata.
Belum selesei bicara, pesan masuk dalam telepon Reza.
"Ada yang pengen kuceritakan tentang Romi. Cepatlah datang," Anita.
Reza melihat Cem lagi. Cem menutup mata menenangkan diri dan menghisap nafas dalam-dalam.
"Cem? ayo kita ke rumah sakit!"
Cem mecoba tersenyum menutup rapat bibirnya, menghela nafas.
"Kamu pergi aja duluan, nanti aku bisa menyusul sama Pak Didi. Kamu juga pasti bakalan disibukkan sama Mbak Anita. Karena mungkin dia merasa nyaman sama kamu." Cem langsung naik ke atas tanpa berbalik.
"kumohon kejar aku, paksa aku ke rumah sakit karena memang kamu khawatir padaku. Bukan karen ingin menjenguk Anita," pinta Cem dalam hati
Para pelayan yang melihat perdebatan mereka berharap Tuan Muda nya naik ke atas mengikuti istrinya.
Wanita selalu berharap laki-laki selalu mengerti keinginan mereka meski tak diberi tahu.
Disisi lain, laki-laki berharap wanita langsung mengatakan apa yang mereka inginkan.
Reza mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan mengerang.
Reza lalu mengetuk ruang kerja Papanya.
"Pa, aku ke rumah sakit dulu," izin Reza.
"Tuan Muda, lebih baik anda menemani Nona Cempaka," ucap Pak Didi.
"Tapi Anita sendirian di sana. kita belum menghubungi keluarganya. Dan ada yang perlu dia bicarakan."
Tuan Wisnu dan Pak Didi ingin menjelaskan tentang keadaan Romi. Tapi mengingat sifat anaknya akhirnya Tuan Wisnu hanya menasehatinya.
"Reza, jangan mengulangi kesalahan yang sama. Dulu ketika Dini, kamu menghabiskan 9 tahun di luar negeri untuk menghindarinya. Bahkan hubunganmu tidak bisa berjalan dengan baik karena rasa bersalahmu."
"Pah, Aku nggak," dia berhenti memikirkan apa yang sebenarnya ia lakukan.
"Kamu tidak pernah memaksa Anita untuk menikahi Romi. Dan juga memaksa Romi untuk memukul Anita.
Dan istrimu sekarang lebih membutuhkan kamu sekarang.
Papa dan Pak Didi sudah mendengar tentang gejala kehamilan Cem.
Biarkan masalah Romi kami yang seleseikan.
__ADS_1
Jaga Cem dan tetap di sampingnya," tambah Tuan Wisnu.
Setelah mendengar apa yang ayahnya katakan. Ia sudah melepaskan Anita 3 tahun yang lalu. Apa yang terjadi pada Anita bukanlah sepenuhnya tanggung jawabnya. Ia hanya harus fokus pada Cem dan masa depannya.
Ia akhirnya tetap pergi ke rumah sakit.
"Kamu datang Ja?" Reza membalasnya dengan tersenyum.
"Aku sudah mengabari orang tuamu. Mereka masih di luar negeri secepatnya akan datang ke sini.
Nit, aku minta maaf atas perlakuan Kak Romi ke kamu. Mereka akan segera menemukan Kak Romi," Reza menarik nafas, lalu melanjutkan kalimatnya.
"Aku masih merasa bahwa separuhnya memang kesalahanku.
Tapi Nit, kamu membuat pilihan ini untuk dirimu sendiri.
Dan aku juga tidak menduga kalau kak Romi akan tega melakukan ini padamu.
Tapi aku tidak akan menyiakan waktuku merasa bersalah. Aku akan fokus pada istri dan keluargaku.
Semoga kamu cepat sehat. Nit." Reza sudah berada di pintu.
"Nggak, ini bukan rencananya. Kamu harusnya nemanin aku disini", batin Anita.
"Cem sudah tau kalau aku mendapatkan kekerasan fisik aku bahkan meminta bantuannya untuk lepas dari Romi" Ucap Anita tiba-tiba.
Reza berbalik melihat Anita.
"apa maksudmu?"
Dan Anita menceritakan pertemuannya dengan Cem lebih dari sebulan yang lalu. Bagaimana Cem tidak melakukan apapun untuk membantunya.
Bagaimana Cem menyayangi dan mempercayai Romi.
Setelah mendengarkan cerita Anita, Reza langsung keluar ke parkiran rumah sakit.
Hingga sore hari, ia baru kembali pulang.
Pak Didi memperketat keamanan rumah, apabila ada yang melihat Romi di suruh melapor. Karena sejak kepergiannya dari rumah. Keadaannya belum diketahui.
Hanya beberapa orang yang mengetahui detailnya.
Mereka masih belum melaporkan pada polisi. Karena mereka ingin menyelesaikan secara kekeluargaan.
Cem sedang berada di dapur, dia tengah mencoba memaksa dirinya untuk makan. Semuanya makanan membuat ia mual. Akhirnya ia hanya memakan beberapa buah-buahan.
"Mama, masih belum mau makan Mbak?" tanya Cem pada Silvi yang merawat Nyonya besar sejak pagi.
"Iya mbak Cem, gak di sentuh sama sekali" jawab Silvi.
Reza akhirnya kembali dari Rumah Sakit.
"Cem, aku bisa bicara sama kamu?"
Cem mengangguk dan mengikuti Reza ke lantai atas.
Begitu Cem masuk ke dalam kamar dan menutup pintu Reza langsung berbalik
"Sejak kapan kamu tahu kalau Anita diperlakukan tidak baik?"
"Kenapa itu penting sekarang?" Cem balik bertanya.
"Apa kamu mau melindungi Kak Romi? Aku pernah dengar dia pernah melamarmu. Karena kamu masih muda dia berniat menunggumu."
"Kenapa malah membahas masa laluku dan Kak Romi yang tidak pernah terjadi?" batin Cem.
"Seandainya kamu meberitahuku lebih cepat" tambah Reza.
Cem mulai merasa sangat kesal sekarang.
__ADS_1
"Apa? kalau aku memberi tahu kamu lebih cepat apa yang akan terjadi? kamu akan bisa menyelamatkan wanita yang pernah kamu cintai. Tidak. wanita yang masih kamu cin..."
"Cempakaaa!!!" teriak Reza.
Cempaka kaget,
"Bukankah kamu berjanji tidak akan pernah meragukan perasaanku?" tanya Reza.
"Bagaimana aku tidak meragukanmu? kamu bersamanya kemarin semalaman, kamu menggennggam tangannya seolah dia adalah satu-satunya yang merasa terluka karena kejadian ini.
Ada mama, ada Papa, tapi kamu memilih merawatnya.
Hari ini dari pagi sampai sore kamu bersamanya. Aku bertanya-tanya apa yang kalian bicarakan? dia punya keluarga.
Sementara di sini aku sendiri."
Cem mengambil tes kehamilan yang dibelikan pelayan.
"Ini, ini harusnya bisa menjadi kabar bahagia buat kita. Tapi aku bahkan nggak berani membuka bungkusnya," melemparkannya ke dada Reza.
"Apa kamu serius akan terus curiga sama perasaan aku? bukannya kamu sudah berjanji gak akan pernah meragukan aku?"
Reza tahu dia sudah bersalah, tapi Cem yang mencurigainya membuat ia terluka.
"Janji? bagaimana dengan janji kamu? kamu bilang hanya akan menggenggamku. Tapi buktinya kamu juga menggenggam Anita"
"Dia lagi..." Reza menghela nafasnya. Dia sadar, kalau Cem saat ini terlalu emosional.
"Dia lagi apa? hah? Dia lagi butuh cinta kamu?"
"Cem cukup, Mas lebih baik keluar dulu. Kamu bisa tenangin diri kamu," Reza melangkah keluar kamar.
"Janji, janji, janji, kamu terus bicara janji. Kamu bilang gak akan ninggalin aku. Tapi sekarang kamu malah pergi, mau ketemu sama Anita lagi?" Cem berteriak kemudian menangis.
Dia sangat marah, kesal, benci tapi ia juga ingin dipeluk Reza. Ia memeluk lututnya di samping tempat tidur.
Reza turun ke dapur
"Bi, tadi Cem ada bilang mau makan apa?"
"Katanya mau es potong Tuan, tapi tadi sudah coba dicari sama Pak Man gak ketemu. Jadi makan juga sedikit," jawab Bi Siti.
"Tolong bikinin teh jahe juga, biar dia agak tenang."
"Tuan Reza mau ke mana?"
"Saya mau nyariin dia es potong dulu. Siapa tau rejeki ketemunya sama saya. Soalnya dia kayaknya lagi marah banget."
Reza akhirnya keluar sambil menenangkan diri dan mencari makanan yang diinginkan Cem.
Setelah beberapa jam berkeliling, dia tidak menemukan penjual es potong.
"Sekarang sudah jam 10? pantes, bagaimana mau ketemu?" ucapnya sambil melihat jam tangannya.
Akhirnya Reza pulang dengan membawa es krim dengan segala rasa.
Reza heran melihat gerbang yang terbuka lebar. Cepat dia memarkir mobilnya dan masuk ke dalam rumah.
Reza memanggil orang-orang tapi tidak ada yang menyahut.
Ia bergegas ke kamarnya, Cem juga tidak ada. Ia mencari ke kamar mandi. Dia juga mengecek orang tuanya yang sudah tidur.
Dia melihat pos penjaga yang menjaga gerbang.
Dua orang entah tertidur atau pingsan. Ia segera menelpon Pak Didi.
"Pak Didi, Cem hilang"
*bersambung......
__ADS_1