
Cem yang merasa masih kesal karena dikerjai suaminya. Sedang berfikir bagaimana caranya balas dendam.
"aaahhh..tapi aku tak tau apa kelemahannya," berfikir kesal sendiri memikirkan cara membalas.
"Cem, cepat! Semua orang sudah menunggu di bawah. Nanti bisa terlambat kita naik pesawat."
Cem keluar dari kamarnya.
"Mas, apa perlu kita pergi bulan madu keluar?"
Cem keluar menggunakan lipstik yang merah merona dan tebal.
"hahahahah, ngapain kamu pakai lipstik setebal itu?"
"Kenapa kita gak di sini aja, nikmatin malam berdua?"
Reza hanya berusaha menahan tawa melihat tingkah istrinya yang berusaha terlihat seksi.
Cem berjalan ke arah Reza, mengelus pipi Reza.
"Sayang kita dirumah saja, yang kita lakukan di sini dan di sana akan sama saja kan?" goda Cem pada Reza.
Masih menahan tawanya.
Cem yang melakukan hal sok seksi inipun merasakan wajahnya memanas, geli dan malu. Tapi dia tahan demi balas dendam.
Cem meraih wajah Reza dengan kedua tangannya.
"aku harus cium di mana? di bibir atau di kening supaya dia malu? tapi ini kan ciuman pertamaku? masa aku pakai mengerjai dia sih? sudahlah, toh dia suamiku" perang bathin dalam fikiran Cem.
Cem mengecup bibir Reza dengan kencang.
Reza pun terkejut, tapi dia menikmatinya.
Meskipun ciuman itu terbilang terlalu lucu, karena Cem memeramkan matanya dengan rapat. Bukan adegan ciuman seperti di drama-drama korea.
Saat tangan Reza mulai memegang bagian wajah Cem, Cem melepaskan bibirnya dari bibir Reza.
"Sudah, ayo berangkat!" kata Cem tiba-tiba.
"huh??apa???" tanya Reza heran.
Cem yang berjalan cepat didepan Reza, dengan sigap menghapus lipstik di bibirnya. Sementara Reza masih kebingungan di belakangnya.
Suara nyonya yang kedengaran bahagia itu terdengar dari atas tangga.
"Ibu, bapak," Cem berjalan memeluk Nyonya dan Tuan Besar.
"sekarang kan harusnya manggilnya Mama sama Papa aja," pinta Nyonya Besar.
"Mama, Papa" jawab Cem dengan malu-malu.
Setelah Reza turun, semua orang tertawa.
Meskipun Reza tak tahu apa yang mereka tertwakan dia juga ikut tertawa.
Pelayan yang melihatnya hanya senyam senyum tidak berani tertawa lepas.
"Cem, mama antar ke mobil yah? Papa mau ngomong sama Reza sebentar," Mama mengajak Cem berjalan ke arah mobil.
"Nanti baik-baik di sana. Makannya juga harus baik-baik," sambil mengelus dan memperbaiki rambut menantunya.
"Mama senang banget, akhirnya Cem mutusin buat jadi keluarga Mama, meskipun hanya jadi menantu. Mama merasa seperti sudah dipercaya sama Cem," sambil berkaca-kaca mata Nyonya nya.
Karena Nyonya benar-benar merasa bahagia setelah mengenal Cem. Entah pengaruh apa yang dia punya.
"Ma, Cem selalu percaya sama Mama sama Papa, tapi ketakutan Cem selalu ada di fikiran Cem," sambil memeluk mertuanya.
"Udah, Cem kan mau bulan madu, kita malah mewek-mewekan. Bikinin mama cucu yang banyak"
Memerah wajah Cem.
__ADS_1
Tuan Besar mengajak Reza ke ruang kerja.
Melihat lipstik yang merah merona di bibir putranya.
Tuan Besar tidak menghiraukannya, karena dia tau pasti itu pekerjaan Cem.
Karena kabar Reza yang sering menjahili Cem sudah tersebar di seluruh rumah.
"Ada beberapa hal yang perlu papa ingatkan. Pertama, jangan pernah ninggalin Cem di kamar sendirian kalau dia sudah tidur, seandainya kalau kamu harus ninggalin dia, buka jendela kamar.
kedua, kamu harus bawa kotak P3K buat jaga-jaga.
ketiga, kam.... belum selesei bicaranya terpotong karena alarm hp yang berbunyi untuk mereka segera berangkat.
"apa itu semua? memangnya dia kenapa?nanti Papa sms aja ke aku. Aku takut kita terlambat naik pesawat," potong Reza
"ya sudah, kalau begitu. Jangan lupa kabari kalau sudah sampai. Nanti Papa kirim detailnya."
Ketika keluar dari ruang kerja. Reza melihat mata Mamanya yang berkaca-kaca sambil melihat Cempaka dan membelai rambutnya.
Dia mendengar kalimat akhir ibunya.
Reza berjalan ke samping istrinya, memeluk pinggang istrinya.
"tenang ma, berapa cucu yang mama mau?" tanya Reza bercanda.
Yang tadi sudah memerah, sekarang rasa wajah Cem terbakar karena malu. Diapun membenamkan wajahnya di dada Reza.
"Ya udah, kita berangkat dulu."
Dan keduanya pun berangkat ke bandara. Di bandara, Reza heran kenapa semua orang memandanginya? Dia sama sekali tidak bercermin karena sibuk memandangi Cem yang tertidur karena perjalanan ke Bandara cukup jauh.
Cem yang melihat lipstik tebal di bibir suaminya, masih menahan tawa. Mereka berjalan bergandengan tangan. Entah apakah ia juga harus merasa malu karena penampilan suaminya?
Di pesawat pramugari-pramugari hanya bisa tersenyum. Semakin heranlah Reza, mereka duduk di kelas bisnis.
"Maaf mbak, apa ada yang aneh dari pemampilanku?" Reza bertanya pada seorang pramugari sementara Cem sedang ke toilet.
"hahahahahaha," dia hanya bisa tertawa.
"ternyata ini alasan kamu menciumku?"
Cem yang kembali dari toilet melihat suamiya dengan lipstik yang sudah terhapus dari bibirnya. Dia merasa sepertinya harus pindah tempat duduk.
"sayang, sudah kembali. Ayo cepat duduk," dengan senyuman yang menakutkan.
mau tak mau Cem duduk.
"Aku sudah senang, karena dicium istriku yang seksi tadi pagi. Ternyata hanya dikerjai."
"Mas lihat gambar hotel ini, sepertinya nyaman kalau nginap disini" Cem menunjukkan majalah hotel berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Berani sekali yah, ngerjain aku?" berbisik di telinga Cem.
"hah, tapi siapa yang ngerjain orang lain lebih banyak?"
Reza mulai menggelitiki Cem,
Cem berusaha menahan tawanya..
"hihihi..ampunn...ampunnn.. Mas, berhenti!kita diliatin orang," pinta Cem yang sudah kehabisan nafas menahan tawa, Reza akhirnya berhenti.
Sesampainya di bandara, Cem dan Reza di sambut beberapa orang yang ditugaskan untuk mengambil gambar bulan madu mereka untuk bukti bahwa Cem bukan simpanan Tuan Besar.
"aahh, menyebalkan sebenarnya. Tapi semuanya demi Papa dan karirnya di dunia politik dan aku adalah penyebab skandal itu muncul," keluh Cem dalam hati.
Sesampainya di hotel, mereka bersiap bermain ke pantai, bukan untuk benar-benar bermain, melainkan pengambilan foto.
Sore akan segera berganti malam, akhirnya selesei mengambil foto, Cem berterima kasih pada orang-orang yang terlibat.
Reza sedang pergi membelikan es krim.
__ADS_1
Tiba-tiba salah satu kameramen mendekati Cempaka.
"Kamu Cempaka yang pernah sekolah di SMP OO kan?" tanya pria itu.
"ehh..iya. Ada yang bisa aku bantu??"
"haha, kamu mungkin gak ngenalin aku, kita satu kelas dari kelas satu SMP."
"hemm..maaf." merasa tidak enak karena tak mengenali teman SMP nya.
"hei, gak perlu minta maaf. Aku ngerti kok, waktu itu kamu sibuk sekali belajar. Sampai-sampai gak ada teman-teman kita yang berani ganggu kamu," ujarnya sambil tertawa.
"tapi gak nyangka ketemu kamu, sekarang malah sudah jadi menantu Tuan Wisnu Rahadi."
Cempaka tidak menjawab. Pikirnya, orang yang mengetahui pernikahannya dengan Reza hanya akan menganggapnya lelucon.
"oh yah, kalo gitu. Aku pergi dulu." pamit pada Cempaka.
"eh iya, makasih yah atas kerja kerasnya, emm..."
"dia udah sebutin namanya apa belum yah?"
melihat Cempaka berusaha mengingat namanya.
"Beny, namaku Beny"
"okeh, makasih Beny" tersenyum melambaikan tangan.
Akhirnya Beny pergi mengikuti kru yang bersamanya tadi.
"siapa yang kamu lihatin?" tiba-tiba Reza muncul dari belakang membawa es krim dan menyerahkannya pada Cem.
"teman SMP ku katanya"
"katanya?kok bisa katanya? terus katamu apa?" sambil memakan es krimnya.
"aku gak tau, gak ingat, aku gak punya banyak teman," jawab Cem singkat dan mulai berjalan.
"Kita enaknya ke mana sekarang? gak lapar? dari tadi kan kita cuma sibuk foto-foto karena skandal."
"yah, kan itu tujuannnya ke sini," Reza menjawab santai tanpa maksud apa-apa.
Setelah bicara dengan Beny, seseorang yang tauh kalau ia menikah dengan Reza karena skandal, ditambah jawaban Reza, Cem seperti tersadar, meragukan semuanya.
Ada banyak yang tau, kalau pernikahan mereka hanyalah untuk membantu Papa,
Bukan karena Reza suka dengannya atau pun sebaliknya.
Tapi jawaban Reza, telak membuat ia tersadar lagi.
Berkali-kali ia putar ingatan kata-kata Reza pada malam pernikahannya.
"aku serius menikahimu."
Tapi tak cukup membuat gelisah dalam hatinya menghilang.
Lelaki yang kurang dari satu bulan ia temui lagi ini, menjadi suaminya, bahkan meski kenangan Reza pada masa lalu berusaha membuatnya ingin percaya bahwa pernikahan ini adalah pernikahan yang sesungguhnya.
"ayo kita balik ke hotel kalau begitu."
"kenapa, bukannya tadi katanya lapar?" Reza yang melihat es krim yang dibelikannya mulai mencair ditangan Cem, menyadari kalau istrinya itu sedang berkelut dengan fikirannya.
Iya, mengenal seseorang tidak cukup untuk mengetahui segala sesuatu tentang orang itu.
Tapi untuk seseorang yang selalu menunjukkan emosinya di depan Reza ini, cukup meyakinkan Reza, istrinya sedang memikirkan sesuatu.
"hei..hei ..kenapa??" Reza meraih tangan Cem.
"gak kenapa-kenapa," dia menepis tangan Reza dan berjalan kembali ke kamar hotel.
*bersambung...
__ADS_1