Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku

Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku
Kencan (Part 2)


__ADS_3

Setelah sarapan, Cem mangajak Reza untuk belanja keperluan sehari-hari. Di dalam supermarket, mereka berjalan berdampingan mendorong keranjang troli yang sama.


Tangan kanan Reza dan tangan kiri Cem mendorong troli sementara tangan mereka yang lain, berada satu titik di tengah pegangan troli.


Sambil mengobrol, mereka menunjuk dan mengambil barang-barang kesukaan mereka. Cem bahkan menceritakan kapan dan bagaimana menstruasinya, meskipun malu dia menceritakannya karena Reza yang memintanya. Agar dia sigap membantu istrinya nanti kalau waktunya tiba.


Kurang lebih dua jam mereka berkeliling membeli semua keperluan untuk stok selama satu bulan.


"Ternyata belanja begini seru juga yah? apalagi belanjanya sama istri" Reza mengecup pipi istrinya.


Mereka berjalan keluar ke arah mobil. Supir dengan sigap mengambil barang bawaan mereka.


Masih menggunakan baju couple nya. Cem malu karena dilirik oleh beberapa pengunjung lain, entah yang berusaha membaca tulisan di bajunya atau sekedar terhibur melihat pasangan itu.


Sesampainya di rumah, mereka langsung ke dapur "Sekarang waktunya siapkan makan siang" ucap Cem sambil melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 11 pagi.


Cem mondar mandir menyiapkan bahan-bahan makanan. Dan Reza mengikuti kangkah ke manapun Cem melangkah sehingga mereka sering bertabrakan. Cem akhirnya merasa kesal.


"Mas, bisa tidak, tidak usah ngikutin di belakang Cem dan siapain bahan yang lain. Kan Cem juga sudah catat di situ tugas mas Reza," menunjuk kertas di atas meja.


"Gak, gak mau. Mas itu mau melihat langkahnya satu-satu secara langsung, dari bahan-bahannya. Jadi, penting buat Mas ngikutin Cem."


Para pelayan yang sedang berada di taman belakang, sesekali mengintip ke arah dapur. Sejak kemarin, Cem sudah berpesan akan menggunakan dapur, sehingga mereka memasak makan siang mereka lebih awal dan kebetulan nyonya dan tuan besar sedang keluar kota.


"Tau gak? Tuan Muda Reza kayak peliharaan yang ngekorin majikannya ke mana-mana." ujar Bi Siti.


"hahhaha, jadi ingat waktu mereka belum nikah. Non Cem marah-marah terus gara-gara di kerjai Tuan Muda", sambung bi Ida.


"Itu saja masih marah-marah. Non Cem gak bisa fokus masak karena dari tadi diikutin Tuan Muda terus."


Mereka tertawa membicarakan kelucuan pasangan yang sedang sibuk di dapur itu.


"Mas, lebih baik mas duduk di situ deh!" Cem menunjuk kursi di balik meja dapur.


"Aku pikir ini akan jadi kegiatan romantis," tambah Cem menghela nafasnya.


Akhirnya Reza hanya melihat istrinya memasak dari balik meja dapur.


Tapi ketika asyik menumis bawang putih, Reza bangun dan melingkarkan tangannya di pinggang Cem memeluknya dari belakang.


"Kayak gini baru romantis," ucap Reza sambil menghirup aroma dari rambut sekitar leher Cem yang sensitif. Cem hanya tertawa geli.


"Sayang, aku bukannya mau merusak suasana romantis kita. Tapi.." agak ragu Reza mengucapkannya.

__ADS_1


"tapi kenapa?" tanya Cem dengan lembut.


"rambutmu bau bawang putih"


Cem kemudian tertawa dan menyikut pelan suaminya.


"hahahaha...ya iyalah, mana mungkin aku bau mawar melati kalau sedang tumis bawang putih".


"Tapi aku tetap padamu. Walaupun kamu bau bawang putih, bawang bombai, bawang merah ataupun bau petai dan jengkol," Reza lanjut memeluk dan meletakkan dagunya di bahu istrinya.


Cem tersenyum, tak keberatan dipeluk oleh Reza. Meskipun agak menghambat ketika dia ingin mengambil sesuatu. Entah kenapa dia merasa sangat bahagia.


Setelah makan siang, mandi dan berganti pakaian mereka memutuskan menonton film. Mereka berbaring di sofa tidur menyamping.


Cem tidur didepan Reza dan menjadikan lengan Reza bantalnya, kepala Cem di depan dada Reza. Dan Reza memeluk Cem dan meletakkan dagunya di bagian atas kepala Cem.


Entah sejak kapan mereka tertidur. Reza terbangun karena nada dering hp nya. Dia melepaskan pelukannya, mengangkat kepala Cem pelan-pelan dan pergi menerima telepon ke ruangan lain agar istrinya tidak terbangun.


Setelah dia kembali, dia melihat Cem sudah duduk di sofa menunggunya. Cem tersenyum ketika melihat suaminya, sementara Reza terlihat sedih tapi juga stress.


Cem menepuk sofa, meminta Reza untuk duduk di sampingnya. Reza pun duduk dan menghela nafas panjang.


"Siapa?" Reza tak menjawab pertanyaan Cem. Sebenarnya Cem sudah bisa menebak siapa yang menelpon.


"Mas?" ucap Cem dengan lembut.


"Bibimu dan Dini" Cem tersenyum kemudian menarik wajah Reza supaya melihatnya.


"Mas, bukankah sudah saatnya melepaskan rasa bersalah Mas? Bukankah Mas juga lelah kalau terus-terusan begini?"


Reza kemudian menangis. "Bagaimana bisa aku melepaskan tanggung jawabku? dia gila karena aku Cem, hampir mati bunuh diri, bagaimana aku bisa lupa?"


Cem memeluk Reza dan mengusap punggung Reza. Berkaca-kaca matanya.


"Mas, aku tau itu pasti berat. Melihat orang membuat pilihan buruk karena kita. Tapi, akhirnya yang membuat pilihan adalah mereka sendiri. Jadi itu bukan salahnya Mas Reza," masih memeluk Reza.


"Sekarang, mas jadi lebih takut. Kalau mas tidak bisa melepaskan Dini dari hidup Mas, Cem akan pergi ninggalin Mas. Cem gak akan pergi kan?"


Yang paling Reza takutkan, adalah kalau sampai Cem meragukannya cintanya. Karena dia benar-benar mencintai Cem.


"Kan Cem sudah janji, Cem akan tetap menemani Mas Reza. Kita akan jalani sama-sama." Cem menghapus air mata Reza dan mencium keningnya.


"uuuhh. cup cup cup. tuami atu bita nangit duga" Cem mengolok Reza sambil mencubit pipinya.

__ADS_1


Reza yang kesal diolok, padahal sedang serius balas mencubit pipi Cem sampai memerah. Cem meraih bantal sofa dan memukul Reza.


Reza yang kaget melepaskan cubitannya malah meraih bantal sofa juga. Cem langsung bangun, kabur supaya Reza tidak mebalas.


Mereka saling mengejar dan tertawa. Mungkin begini adegan film india yang saling berkejaran di balik pohon. Mereka melupakan kesedihan mereka untuk sementara.


Cem menyerah karena lelah dan menyandarkan kepala nya di sofa. Reza berdiri di belakang Cem dan menatap wajah, kemudian memegang kedua pipi Cem dan membanjiri wajah Cem dengan kecupan.


Cem tersenyum sambil menutup matanya.


Reza berjalan mengitari sofa dan duduk di samping Cem.


"Sayang, sebenarnya ada yang aku gak kasi tau ke kamu." Cem membuka mata dan menatap suaminya.


Reza langsung berlutut di depan Cem. "aaah..semoga dia mau memaafkanku karena membatalkan kencan kita besok."


Reza yang tak pernah berlutut di hadapan siapapun ini, entah sudah berapa kali merendahkan tubuhnya untuk wanita di depannya ini.


Menggendongnya, memasang sandalnya, menghiburnya.


Ketika mencintai seseorang, kamu bahkan tidak sadar melakukan sesuatu yang tak pernah kamu lakukan pada orang lain dan hanya untuknya.


"Apa sih Mas?" serius ia menatap suaminya.


"Kencankitabesokharusdibatalin," ucapnya dengan cepat dan kurang jelas.


Sebenarnya Cem sudah menangkap apa yang diucapkan suaminya. Tapi dia berpura-pura tak mengerti. "Apa sih? kenapa ngomongnya gak jelas gitu?"


"Aku minta maaf banget, kencan besok harus aku batalin. Karena besok ada meeting penting, aku sebagai ketua tim gak boleh gak hadir. Kamu ngerti kan, sayang?"


Pura-pura merajuk "gak apa-apa, asal kamu mau pakai kutek coupelan. Kan Mas Reza suka yang couple-couple. Kalau gak mau, aku gak mau lagi olahraga malam bareng Mas" ancam Cem.


Pasrah, Reza menurut. Di kuku tangan kirinya nama Cem di apit gambar jantung di kuku jari kelingking dan ibu jarinya dan di kuku Cem bertuliskan Reza dan jantung di kuku jempol tangannya.


"Bagaimana kalau teman kantor Mas ngetawain Mas?"


"Jawab aja, itu tanda cinta" mengecup bibir Reza dan masuk kamar.


"Mas gak mau olahraga malam?"


Itu adalah pertama kali Cem yang mengajak lebih dulu. Sehingga Reza bahagia sekali dan berlari masuk kamar dengan kencang.


*bersambung......

__ADS_1


__ADS_2