Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku

Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku
Bertengkar (part 1)


__ADS_3

Cem yang merasa bersedih karena disuruh pulang oleh Reza hanya diam duduk di dalam mobil hingga tiba di rumah.


"Ah Cempaka, mereka tidak akan melakukan apapun tidak usah berpikiran buruk kamu tahu bagaimana sifat suamimu yang akan merasa bersalah pada Anita." batin Cem menghibur diri sendiri.


Sesampainya di rumah ia memeriksa keadaan Mama mertuanya sebelum kembali ke kamarnya. Setelah masuk kamarnya dia membuka jendela dan membiarkan angin masuk ke dalam kamarnya. Agak lama dia berdiri membiarkan semilir dingin angin malam menyapu kulitnya.


Entah kenapa dia merasa sangat kesepian malam ini.


Malam ini adalah pertama kalinya jendela kamarnya terbuka malam hari setelah menikah. Karena biasanya Reza akan selalu ada menemaninya.


Cempaka memutuskan untuk duduk meringkuk nemeluk lututnya di bawah jendela sambil menunggu suaminya.


Dia tak tahu apa yang membuatnya merasa sedih sehingga sehingga air matanya jatuh.


Perasaannya bercampur aduk. Melihat suaminya menyentuh wanita lain karena sakit, apakah ada yang salah pada dirinya. Cemburu di saat yang tak tepat.


Pukul jam 11 malam Reza belum juga pulang Cempaka semakin merasa sedih dan dia menangis tersedu-sedu. Tidak lama kemudian dia tertidur di mana dia duduk.


Sekitar setengah satu Reza pulang dan mendapati Istrinya tidur di bawah jendela dengan jendela yang terbuka, Reza merasa bersalah pada Cempaka lalu dia menggendong Cempaka dan memindahkannya ke atas tempat tidur.


Tak lama kemudian Cem tersadar bahwa dia tidur di atas tempat tidur. Kemudian melihat jendela yang tertutup. Ia sesak nafas dan ingin berlari ke arah jendela tetapi tiba-tiba ada yang mencegahnya, "sayang ini Mas, Mas ada di sini," ucap Reza sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang.


Perlahan nafasnya mulai tenang, tapi air matanya yang mengalir ketika tahu ada Reza di belakangnya.


"Maafin Mas, mas gak akan ninggalin Cem sendirian lagi."


Cem tidak berani berbalik melihat wajah Reza.


Padahal Ia sangat ingin memeluk dan mendengar detak jantung suaminya untuk menenangkan diri.


Ketika ia tahu Reza sudah tertidur, ia bangun berdiri melihat keluar jendela. Sesekali melirik Reza yang tertidur.


Setelah melihat apa yang dilakukan Romi terhadap Anita, seharusnya Cem tidak cemburu ketika melihat suaminya menyelamatkan wanita itu ke rumah sakit sendirian.


Dia tahu Reza menyentuh tangan Anita untuk menghiburnya.


Ia harusnya tahu bagaimana perasaan


suaminya.


"Apa ini perasaan mbak Anita ketika melihat Mas Reza berurusan dengan Kak Dini?" batin Cem.


Karena merasa lapar dan mual Cem pergi ke dapur. Mungkin karena ia tidak makan malam fikirnya. Tapi semua orang juga tidak makan malam karena kedatangan Anita.


Ia memakan beberapa buah, ketika ia akan mengambil kue keju kesukaannya, ada aroma menggelitik hidung sampai ke perutnya. Ia berlari ke kamar mandi terdekat.


Setelah mengeluarkan isi perutnya yang baru saja di isi. Ia merasa pusing dan memutuskan kembali ke kamarnya.


Ia mencoba untuk tidur agar pusingnya hilang.


Tapi matanya belum mau terpejam juga. Akhirnya ia hanya duduk di atas tempat tidur dan sesekali melihat Reza.

__ADS_1


Jika perasaannya seperti biasa, ia akan langsung menyelipkan dirinya dalam pelukan Reza.


Tapi ada sesuatu yang menghalanginya.


Ketika ia baru akan terlelap, sekitar pukul 5 subuh. Perutnya kembali merasakan mual. Dan ia berlari ke kamar mandi.


Reza yang mendengar langkah Cem langsung terbangun berdiri depan kamar mandi karena pintunya terkunci.


"Sayang, gak apa-apa?"


Cem keluar dari kamar mandi sambil memegang kepalanya. "sayang gak apa-apa?" tanya Reza sambil memeriksa kepala Cem.


Entah kenapa, tanpa sadar Cem mendorong tangan Reza dengan halus.


"Iya aku gak apa-apa kok. Mungkin karena gak sempat makan malam," menjawab Reza dan berjalan ke tempat tidur.


Reza semakin merasa bersalah, lalu berlutut di depan Cem dan menggenggam kedua tangannya.


"Maafkan Mas, mas gak bakalan ninggalin Cem lagi kayak tadi malam. Mas, minta maaf. Nanti kita ke rumah sakit yah?"


Cem menarik tangannya. "Untuk periksa Cem, kan sudah gak enak badan beberapa hari ini"


"Gak usah, Cem gak suka rumah sakit. Nanti juga sembuh sendiri. Cem nanti beli obat di apotek aja."


"Gak, gak boleh, pokoknya harus ke rumah sakit. Jangan minum obat sembarangan."


"Mas gak usah sok perhatian, pergi aja jagain Mbak Anita. Aku juga sudah biasa minum obat apotek dari dulu, aku mau tidur. Minggir" Dia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Iya, niat Mas jagain Anita baru periksakan aku kalau ada waktu sempat kan?"


"Pokoknya nanti ke Rumah sakit sama Mas." Ucap Reza tegas tak ingin berdebat lagi.


"hah, ngapain? mau suruh aku lihat kalian berdua bermesraan kayak tadi malam? aku cuma diselipkan di selah-selah waktumu"


Sudah pukul 8 pagi, Reza masih membujuk Cem agar mau diperiksa ke rumah sakit.


"Sayang kamu gak ngerasa kalau tubuh kamu ada perubahan?"


Cem tidak menjawab.


"Kamu lihat kan tanda-tandanya? Kemungkinan kamu hamil. Jadi ayo kita cek ke rumah sakit."


Cem benar-benar tidak ingin ke rumah sakit. Meskipun ia sangat penasaran setelah mendengar ucapan Reza tentang kehamilannya.


"Nanti aku beli tespek aja di apotek, bisa tahu tanpa ke dokter."


Reza hanya menghela nafas. "Setidaknya ayo turun sarapan." Ia mengalah sekarang.


Begitu turun, Reza dan Cem melihat Mamanya menampar Pak Didi.


Tuan Wisnu memegang tangan istrinya.

__ADS_1


"Apa kamu bilang, gila? anakku? bukannya kamu minta izin supaya kamu mendidiknya menjadi penerus Rahadi. Tapi apa ini?" Nyonya menarik baju Pak Didi dan menggoyangkan tubuh Pak Didi.


Pak Didi hanya minya maaf.


"Aku bahkan tidak bisa memanjakannya. Kamu bilang kamu akan menjaganya. Sekarang apa yang terjadi? aaaahhhhh" menangis dan berteriak pada Pak Didi, pakaiannya sudah berantakan, sementara Tuan hanya memegang tangan Nyonya.


Nyonya besar terduduk lemas, setelah dijelaskan tentang kemungkinan penyakit mental yang di alami Romi.


Reza yang ingin mendekati dilarang oleh Cem.


"Kenapa? aku juga mau tahu. Kenapa kak Romi sampai tega melukai Anita? dan kenapa tadi malam Papa dan Pak Didi gak ngelakuin apa-apa? Apa kak Romi sakit?"


"Aku gak tau pastinya, mas. Untuk saat ini kita tunggu saja," ucap Cem.


Setelah Mama mertuanya terlihat lebih tenang , Cem mendekat dan membawanya ke kamar. Sementara itu Reza menunggu.


"Ma, emmm..." Cem tidak tahu kata-kata apa yang bisa menghibur Mama mertuanya, jadi dia hanya memijat tangannya.


"Cem, rasanya Mama tak pantas menjadi Ibu. Mama fikir Mama sudah melakukannya dengan baik.


Melihat Romi yang selalu belajar dengan giat, dia yang berhasil memimpin perusahaan di usia muda.


Tapi apa gunanya kalau dia sudah tak memakai akal sehatnya? Mama bahkan tak menyadari kalau anak Mama sendiri menderita." Menangis dan meremas tangan Cem.


Cem hanya bisa mendengarkan saja.


Karena tidak bisa terlelap semalaman, akhirnya Mama mertuanya tertidur.


Setelah itu, ia akan bergabung dengan Tuan Wisnu, Pak Didi dan Reza di ruang kerja.


Ketika Pak Didi akan mulai menjelaskan, telepon Reza berdering. Cem hanya melirik ke arah Reza, tapi Cem tahu pasti siapa yang menelepon.


Reza meminta izin keluar ruangan. Cem mengikutinya di belakang.


"Iya, aku bakakan ke situ. Iya. tunggu sebentar," kalimat itu yang di dengar oleh Cem.


Reza berbalik melihat Cem. Cem hanya menunggu apa yang akan dikatakan Reza.


"Anita, ia minta aku jenguk." Reza memperhatikan wajah Cem yang datar, tentu saja merasa bingung.


"Sekalian kita periksa keadaan kamu. Cem, kamu sebenarnya kenapa?"


"Bukannya dia juga punya keluarga, kenapa kamu harus jenguk dia sepagi ini? Kamu bahkan belum sarapan. Dan juga kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi dari Pak Didi." Cem menjawab dengan datar, menutup mata dan bernafas dalam-dalam.


"Kamu bisa pergi sendiri jenguk atau jagain atau apapun yang kamu mau lakukan di sana" ucap Cem kesal.


"Aku kan sudah bilang, kita juga perlu cek keadaanmu," Reza melembutkan bicaranya dan meraih tangan Cem.


Tapi Cem menepis tangan Reza dengan keras "Aku kan sidah bilang aku gak mau ke rumah sakit!" Cem berteriak dan berjalan kembali ke kamarnya.


Reza kaget, matanya terbelalak. Tapi kemudian menarik lengan Cem.

__ADS_1


*bersambung......


__ADS_2