
Pak Didi yang tengah sibuk dalam sebuah ruangan persiapan kampanye dalam sebuah gedung. Tiba-tiba seseorang membuka ruangannya dengan kasar.
Dia mencengkram kerah baju pak Didi dan mendaratkan beberapa pukulan di wajah Pak Didi.
Orang-orang yang bekerja di luar ruangan terpaku melihat adegan tersebut.
Beberapa orang mencoba membantu Pak Didi, tapi dia mengangkat tangannya perintah untuk mundur.
"Apa sebenarnya yang kamu lakukan?" Romi berteriak di depan wajah pak Didi.
Pak Didi hanya diam dan mendengarkan yang akan dikatakan oleh tuan mudanya itu.
"Apa sekarang kamu sudah berniat mengganti Presdir lagi? Dan kau ingin Reza yang menggantikanku? Apa maksud semua ini?" Romi mendorong Pak Didi, yang hanya merintih sekali kemudian kembali terduduk di kursinya. Meski sudah tua Pak Didi masih dengan tubuh yang fit.
Reza yang menghela nafas menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa dan menaikkan kakinya ke atas meja
Pak Did berdiri, memperbaiki pakaiannya. Dan berjalan ke arah pintu dan menutupnya.
"Apa tuan sadar apa yang sudah Tuan lakukan barusan? Tuan masihlah pemimpin perushaan Rahadi. Apa yang membuat tuan gusar?"
"Kenapa Reza yang menangani proyek sebesar itu? Padahal ia bekerja belum genap 2 bulan?"
"Bukankah Tuan Romi sendiri yang menyetujuinya dan menandatanganinya? Beberapa eksekutif hanya menyarankan nama Tuan Reza karena kinerjanya."
Romi memang sering membuat keputusan yang gegabah belakangan ini.
"Tuan Reza memiliki koneksi yang sangat luas. Di luar negeri dia bekerja dan berteman dengan beberapa pengusaha terkenal, hal itu juga turut membantu proyek ini."
"Jadi sama sekali tanpa bantuanmu?heh, kamu fikir aku percaya?"
"Tuan Romi dapat menganggapnya begitu. Itu keputusan Tuan untuk percaya atau tidak pada saya." jawab Pak Didi.
"Tuan Romi, tau apa alasannya kenapa saya memilih mendidik Tuan Romi untuk jadi pemimpin Keluarga Rahadi?
Itu karena sifat Tuan Romi sangat jauh berbeda dari sifat Tuan Besar, Tuan Besar terlalu banyak berfikir untuk mengambil keuntungan.
Beliau bahkan memikirkan rivalnya dalam bisnis. Dan menurut saya itu adalah langkah yang bodoh.
Tetapi sekarang saya sadar. Bahwa saya sudah salah langkah. Sifat Tuan Wisnu mungkin adalah suatu kelebihan dalam bisnis ini."
"Hah. Jadi apa sekarang? kau akan menggantiku? Dan apa hakmu melakukan semua itu?" tanya Romi yang semakin emosi.
" Hak? saya sudah mengabdikan hidup saya untuk keluarga Rahadi selama hampir 40 tahun, Jika menukar kedudukan Tuan Romi dan Tuan Reza akan membuat Rahadi lebih baik dan melindungi keluarga lebih banyak. Maka saya akan melakukannya."
Romi melemparkan botol air minum ke Pak Didi dan mengenai dadanya.
"Sikap tuan Muda sekarang, tidak lebih hanya seperti sikat seorang anak pemarah. Dan perusahaan ini bukan mainan Tuan yang harus Tuan miliki, disitu juga ada amanah dari orang-orang yang percaya pada Tuan. Ada ratusan ribu hidup orang yang bergantung pada kestabilan dan kemajuan perusahaan ini"
"Tidaaakkk, perusahaan ini adalah milikku. Bukan hanya kamu yang sudah mengabdikan hidupmu demi perusahaan ini. Tapi aku juga!"
kembali Romi berdiri menarik kerah baju Pak Didi, nafasnya sudah memburu.
"Aku tidak akan membiarkan Reza atau siapapun mengambilnya dariku. Dan Aku akan mengambil Cempaka kembali dari tangan Reza. Baik Cempaka atau Perusahaan ini adalah milikku!"
__ADS_1
Pak Didi terkejut mendengar perkataan Romi.
Dia tahu kalau Romi menyukai Cem, tapi tidak sampai ke tahap ia akan merebut Istri adiknya sendiri.
Pak Didi baru saja mendapatkan informasi tentang penyakit Romi dan akan melapor pada tuannya. Tapi setelah melihat Tuan mudanya ia semakin yakin, bahwa ini adalah masalah serius.
Nafas Romi tiba-tiba sesak. Pak Didi cepat mengambilkan obat Romi yang ada di lacinya. Ia mendapatkannya dari salah satu pelayan di rumah Romi.
Setelah beberapa menit, ia menjadi lebih baik.
"Tuan Muda, baiknya kita ke rumah sakit. Saya dengar dosis yang anda minum sangat tinggi" Pak Didi membantu Romi berdiri tapi di dorong oleh Romi.
"Jadi kamu sudah mengetahuinya?
Aku tidak butuh bantuanmu. Aku akan memimpin perusahaan dengan baik meski aku gila sekalipun. Aku tidak menyia-nyiakan masa kecilku hanya unyuk digantikan bocah seperti Reza."
Romi kemudian keluar, Gun sudah menunggu di luar.
Mereka memutuskan kembali ke rumah Romi.
Romi yang sudah tertidur karena efek obat, dibopong oleh Gun menuju kamarnya.
Anita ikut membantunya.
Setelah Gun keluar. Anita hanya menatap wajah Romi. Dia ragu untuk mengusap pipi Romi.
"Apa yang harus kulakukan padamu?" Anita menitikkan air mata.
Setelah mengenal Romi, Anita tahu kalau Romi juga laki-laki yang perhatian.
Laki-laki di depannya ini seringkali marah, menangis, tersenyum hanya karena sebuah nama dan gambar dari wanita itu. Cempaka.
"Aku akan membawanya untukmu," mengecup kening Romi dan masuk ke dalam kamar kecilnya.
......
Rumah Rahadi
"Sayang, Cem?" Reza pulang dengan membawa berita bahagia.
Tidak seperti biasanya, ketika pulang Cem akan menunggunya di bawah dan menyambutnya.
"Nona Cem masih tidur Tuan, setelah makan siang langsung tidur dan belum bangun sampai sekarang." Jawab bi Ida.
"Dia gak masih ngambek kan?"
"Sepertinya nggak, Tuan. Tapi makan siang tadi hanya sedikit," jelas bi Ida khawatir.
Reza yang mendengar penjelasan Bi Ida merasa sedikit khawatir.
Cem sangat suka makanannya, karena bukan pemilih. Dia juga tidak pernah meninggalkan sisa dalam piringnya.
Karena menghargai yang memasak dan membelinya. Karena dia tahu bagaimana susahnya mencari uang.
__ADS_1
Masuk ke dalam kamar, ia melihat Cem pulas tertidur. Tapi dia sudah tidur siang lebih dari 3 jam.
"Sayang...sayang...Cem??" sambil mengelus pipi istrinya.
"eeemmm?" dengan suara masih mengantuk.
Cem langsung menarik leher suaminya dan memeluknya, ia hanya ingin mencium aroma tubuh suaminya.
"Sayang, aduh. Leher mas sakit nih," karena Reza berdiri di samping tempat tidur ketika membangunkan Cem.
Cem melepaskan pelukannya. "Mas, beli martabak langganan Mama yuk?"
"aahh? kamu tau kan itu di mana? jalan ke sana tuh hampir 2 jam. Itu kalau lancar." Jawab Reza yang membuka pakaiannya dan pergi ke kamar mandi.
Sementara Cem menangis dan turun ke bawah. "Bibi, Mama sudah pulang?"
Pelayan yang melihatnya menangis jadi kaget.
"Non, kenapa?" tanya Bi Siti khawatir.
"Mama mana? Aku gak mau lagi tinggal sama Mas Reza. Dia itu gak perduli sama aku. Padahal aku sudah nunggu dia dari tadi. Telepon sama sms ku juga gak di balas."
Semua pelayan yang melihat ini, berusaha menenangkan Nona Mudanya dengan menawarkan makanan. Cem mengangguk dan memakan buah dan beberapa cake cokelat dan keju.
"Tapi aku mau martabak langganan Mama, Bi Wati Pak Ridwan mana? siapa aja deh yang lagi senggang. Antarin aku!"
"Ke mana Non? ke tempat martabak? kan lumayan jauh Non!" Cem yang mendengar kata-kata yang sama dengan suaminya, air matanya berkumpul di pelupuk matanya.
Reza yang selesei mandi, tidak melihat Cem di dalam kamar.
Setelah ganti pakaian, ia memutuskan untuk turun mencari Cem. Padahal sebenarnya ia ingin membagikan berita bahagia.
"Aku benci sama kalian semua, Aku gak mau tinggal di sini!" Cem beranjak dari tempat duduk dan menghentakkan kaki dan masuk ke perpustakaan.
Reza yang melihat langsung mengikuti cem, tapi di cegah oleh para pelayan.
"Tuan, jangan!"
"Kenapa?" berjalan ke arah pelayan.
"Nona Cem minta dibelikan Martabak. Mending Tuan pergi beli deh sekarang."
"Dia masih bahas martabak? Tapi kan jauh Bi."
"Aduuuh Tuan, kalau bawaan bayi. Mau jauh mau dekat mereka gak perduli. Yang penting ada."
Kaget Reza mendengar ucapan salah satu pelayannya.
"Bayiiii? Maksud bibi Cem hamil?" Reza bertanya meninggikan suaranya.
Semua pelayan men-"ssshhh"-kan Reza.
Reza langsung berlari ke tempat Cem berada.
__ADS_1
*bersambung......