Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku

Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku
Kehilangan


__ADS_3

Meski ada, dia tak lagi ada di sana.


Meski tersenyum, senyumnya tak lagi sama.


Hilang, ia ada tapi tak ada.


Hampa, raga yang nampak dengan kekosongan jiwa.


Nyonya Besar keluarga Rahadi, wanita yang merupakan seorang ibu dan juga istri yang hebat. Itulah yang difikirkan orang-orang tentangnya.


Tapi seringnya, banyak orang yang menilai tanpa tahu apapun tentang apa yang dinilai.


Wanita yang dikira manusia paling tegar dalam keluarga ini, kini hatinya sedang hancur berkeping-keping.


Dia mencintai kedua putranya. Dan kini salah satunya telah pergi.


Meninggalkan raga yang sama dengan jiwa yang berbeda.


Betapa kini, ia memandang dirinya sebagai seseorang yang tidak pantas untuk menjadi seorang Ibu.


Kadang terlambat, ketika kita fikir apa yang kita lakukan yang terbaik.


Justru yang terjadi sebaliknya.


Karena memang pada kodratnya tidak semua yang kita inginkan atau rencanakan akan sesuai dengan yang kita inginkan.


Banyak orang yang memujinya, karena kecerdasan putranya.


Kehebatan yang di raih putranya.


Dan ia tenggelam di dalamnya.


Ia lupa, kalau anaknya hanyalah anak-anak yang masih membutuhkan kasih sayang ibunya.


Iya, tanpa sadar. Ia sudah kehilangan Romi sejak lama.


Sejak Romi tidak lagi di pangkuannya.


Sejak ia tak lagi punya waktu memeluk putranya.


Sekarang, ia berdiri di depan ruangan putranya yang menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.


Kakinya di ikat agar dia tidak lari.


Ia menangis sesegukan melihat putra sulungnya itu.


Putra yang dulu berjalan dengan penuh percaya diri kini hanya menatap kosong.


Dan satu-satunya hal yang membuatnya tersenyum hanyalah gambar Cempaka yang diperlihatkan padanya.


Kini ia mengingat dengan jelas.


Bagaimana ketika Romi jatuh sakit. Dia hanya melihatnya dan mencium kening putranya dan menyerahkan sisanya pada pelayan untuk merawatnya. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.


Windi saat itu juga menemaninya. Tapi tidak berani terlalu dekat dengannya.


Berbeda dengan Cempaka, ketika sakit selama 3 hari 3 malam. Cempaka selalu menemani Romi.


Setiap Romi membuka matanya, Cempaka selalu ada di dalam ruangan bersamanya, menanyakan apa yang ia perlukan.


Tiga hari itu Romi mengikat hatinya pada Cempaka.


Cempaka hanya meninggalkan ruangan untuk mandi, bahkan makanpun dia menemani Romi.

__ADS_1


Pertama kali seumur hidup Romi dirawat dan diperhatikan seperti itu.


Iya pertama kali melihat Cempaka ia sudah jatuh Cinta padanya.


Setelah melihat dalam kasih sayang Cempaka, semakin dalam juga perasaannya. Sampai tahap Dia berharap bahwa Cempaka hanya ada untuk dirinya.


Sudah satu minggu sejak mereka membawa Romi ke tempat ini.


Dan setiap hari Nyonya Besar selalu menjenguknya.


"Mah, ayo kita pulang. Hari ini Cempaka keluar dari Rumah sakit." Ucap Tuan Wisnu.


Cempaka yang lolos dari ancaman peluru hari itu. Sudah bisa pulang dengan syarat rawat jalan.


Nyonya Besar hanya mengangguk.


Mereka pun pergi meninggalkan Romi.


Untuk saat ini Romi belum diizinkan berinteraksi secara langsung, karena di takutkan akan menyakiti orang lain.


Setibanya di rumah, Tuan dan nyonya duduk di ruang keluarga menunggu kepulangan Cempaka dari rumah sakit.


Begitu Cempaka tiba, Nyona besar langsung menyambutnya di pintu. Berkaca-kaca matanya melihat Cempaka, begitu juga Cempaka.


Mereka memeluk satu sama lain. Seperti ibu dan anak yang yang sudah lama terpisah.


Setelah menanyakan kabar, mereka langsung kembali ke kamar masing-masing.


Nyonya yang langsung tidur karena kelelahan dan suaminya memeluk dan menemani istrinya.


Pak Didi sibuk di ruang kerja, karena keadaan perushaan yang sedang goyah. Saat seluruh keluarga sedang goyah.


Ia mengambil alih sementara. Ia yang menjadi penyanggah saat semua orang itu sedih.


Reza dan Cem kembali ke kamarnya.


Setelah berganti pakaian mereka merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur yang sudah beberapa hari mereka tinggalkan.


Tentu saja Cem akan melakukan posisi favoritnya menyandarkan kepalanya di dada Reza dan mendengarkan detak jantungnya.


Dan Reza memeluknya. Luka di bahu Cempaka belum benar-benar sembuh. Karena itu Reza memeluknya dengan hati-hati.


"emmm. Rasanya udah lama banget gak peluk Mas Reza seperti ini." Mencium aroma tubuh suaminya.


"Cem?"


"emm?" menoleh melihat wajah Reza.


"kamu gak mau jenguk Kak Romi?"


"Mas sendiri gimana?"


"Mas sih pengen, tapi Mas gak tau mau bagaimana?"


"ya udah, mas yakinin dulu diri Mas. Baru kita bicarakan lagi"


"menurutmu apa ini waktu yang tepat buat kasi tahu semuanya?" tanya Reza.


"emm, aku juga bingung. Ini kabar gembira. tapi kita juga lagi bersedih." Ucap Cem yang bingung tentang berita yang mereka miliki.


"kalau kita kasi tahu, mungkin bisa jadi penghibur juga kan?"


Dan mereka memutuskan akan membagikan kabar bahagia ini untuk keluarganya setelah makan malam.

__ADS_1


Makan Malam pun tiba. Tapi nyonya besar tidak ikut karena sedang tidak bernafsu.


Cem matanya sudah mulai berkaca-kaca"


Reza merangkulnya, menepuk lengannya agar tidak bersedih.


"Mas yakin, begitu mama mendengar beritanya mama akan langsung sehat." Bisik Reza.


Cem hanya mengangguk dan menghapus air matanya yang sudah terjatuh.


Tuan Wisnu hanya tersenyum, karena mengerti keadaan menantunya.


Tentu saja yang sudah mengetahui hal ini adalah Pak Didi dan Tuan Wisnu saja.


Setelah makan malam, mereka memaksa Nyonya besar agar ikut bergabung di ruang keluarga untuk mengobrol.


"Jadi, kita berdua mau bagi kabar gembira buat semua orang" Ucap Reza


Cempaka terlihat gugup, karen ekspresi mama mertuanya yang hanya tersenyum lemah.


Reza menggenggam tangan Cempaka dan menarik nafas dalam-dalam bersamaan dengan Cempaka.


"Kita bakalan punya bayi!"


Nyonya besar terbelalak mendengarnya. Menganga kemudian menutup mulutnya dengan tangannya.


Seperti hujan di musim kemarau.


Air matanya mengalir tanpa dia sadari.


Cempaka langsung bangun memeluk mama mertuanya.


Mamanya memegang wajah Cem dengan kedua tangannya dan melihat wajah anak menantunya itu.


"Ini beneran kan? Mama gak sedang mimpi kan?" Cem mengangguk, lantas ia mencium pipi dan kening Cem.


"makasih sayang," ucapnya bahagia.


"karena itu, mama harus banyak makan sekarang. Tambah energi biar tambah kuat. Karena yang bakalan jagain anak kita itu Mama," ucap Reza.


Mamanya memeluk Cem lagi dengan bahagia, setelah itu dia langsung menyantap buah yang ada di meja.


"Tenang, mama akan kuat menjaga banyak cucu dari kalian," Cem memerah mendengar ucapan Mamanya.


"Tenang aja, Mah. Aku sama Cem juga akan berusaha sekuat tenaga." Cem langsung memukul dada Reza.


Berita itu kembali membawa senyum di dalam keluarga Rahadi.


Lima bulan kemudian.


Dua bulan pertama, mereka menjenguk Romi seriap hari, tapi setelah itu mereka hanya datang sekali seminggu.


Itu bukan karena mereka semakin tidak perduli. Tapi karena ada Anita yang merawat Romi.


Romi jadi terlihat jauh lebih baik, lebih sehat dan rajin tersenyum.


Nyonya besar sangat bersyukur dengan perubahan Romi.


Tapi tak lama berselang, berita duka datang untuk Cempaka.


Salah seorang keluarganya yang masih tersisa, Dini meninggal.


Cempaka merasa sangat bersedih, tetapi juga lega. Karena kakak sepupunya itu tidak perlu lagi merasa tersiksa karena penyakitnya.

__ADS_1


*bersambung......


__ADS_2