Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku

Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku
Home Sweet Home


__ADS_3

Masuk ke rumah langsung menuju ruang makan, Cem dengan wajah merah dan Reza yang terlihat santai.


Dan Ina yang cekikikan di belakang mereka.


"Om, Tante, gi mana sih? katanya makan siang buat menyambut pengantin baru. Kok malah makan duluan? Pengantin baru malah ditinggalin." Tanya Ina bercanda yang langsung duduk di meja makan.


"Tante lapar, In. Mau nungguin orang yang di tunggu. Mereka malah sibuk sendiri," balas Mama bercanda.


Sementara Papa juga berusaha memasang wajah datar tapi tersenyum diujung bibirnya


"Sudah, duduk nikmati makan siangmu."


Reza dan Cem akhirnya duduk dan makan siang. Setelah makan, mereka duduk di ruang keluarga dan mengobrol.


Karena kebiasaan, Cem otomatis langsung membantu di dapur menyiapkan minuman, buah dan cemilan.


"Sayang, kamu ngapain?" Reza memeluk Cem dari belakang dan meletakkan dagu di pundak Cem.


"Tuan Reza, adduuhhh, bibi masih belum terbiasa melihat Cem digituin" tutur Bi Wati yang terkejut melihat adegan di depan matanya.


Cem memukul tangan Reza agar melepaskan pelukannya.


"ahh, bi Wati gak asyik. Kita kan pengantin baru. Kan mau juga sekali-kali mesra di dapur kayak di film-film," goda Reza.


"Aduh Tuan, cukuplah. Bibi sudah tua jangan disuguhkan adegan anak muda."


Cem yang melihat respon Bi Wati hanya cekikikan.


Cem mambawakan nampan membantu Bi Wati, Reza pun ikut membantu karena belum mau jauh dari istrinya.


Berdampingan jalan membawa nampan. Reza membisiki Cem.


"Kita lanjutin di kamar yuk? Kan kita belum lihat kamar baru kita juga?"


Cem menghentikan langkahnya, wajahnya memerah tapi melototi suaminya.


"Aku tadi udah malu, mau nambah ini lagi. Mama sama Papa kan nungguin kita, mau ngobrol sama kita, masa kita tinggalin?" bisiknya agak kesal.


"ya udah," pura-pura manyun dan mengalah.


Reza memegang nampan buah dengan satu tangan, kemudian mencium leher Cem dari samping, karena Cem sangat geli dan sensitif disitu dan Reza kabur berjalan cepat ke ruang keluarga.


Cem yang kaget meremas pinggir nampan dan berteriak.


"Mas Rezaaa....!!dasar laki-laki mesum."


Bi Watipun ikut kaget hanya bisa geleng-geleng.


Setelah meletakkan nampan, Cem yang tak sempat menyapa, akhirnya menyapa Ayah dan Mama mertuanya. Memeluk mereka seperti biasanya setelah lama tak bertemu.


"udah sehat kan sekarang?"


melihat wajah Cem dengan khawatir, membolak balik badan Cem melihat tanda terluka.


"kamu terbentur apa ini? kenapa sampai biru-biru?" dengan suara kesal melototi Reza.


Reza hanya angkat bahu.

__ADS_1


"emmm..Tante??halloo tanteee?? Mereka pengantin baru , pulang dari bulan madu. Jadi kalo ada tanda merah atau biru atau ungu jangan di tanya. Kalau ada luka sayatan, jahitan, silahkan di tanya," celetuk Ina menyadarkan tantenya.


Malu dan sadar akan pertanyaannya sendiri.


Romi menjatuhkan garpu buahnya karena kaget, Anita menjatuhkan gelasnya karena kesal. Dengan sigap pelayan membersihkannya.


Sementara Cem hanya memerah dan memperbaiki pakaiannya, "Ma, Cem gak apa-apa. Kemaren Mas Reza jagain Cem dengan baik kok." berjalan dan duduk di sofa samping suaminya.


"ya iyalah dengan baik, kalau nggak, mana mungkin Cem dapat tanda cinta dari suaminya," celoteh Ina membuat Cem memerah


"Mbak Ina," panggil Cem, supaya berhenti membahas masalah tanda ditubuhnya.


Ina adik sepupu Reza, tapi ia lebih tua dari Cem.


"Ja, lusa kamu sudah mulai kerja kan?" tanya Romi mengalihkan pembicaraan.


"Iya kak, untung juga Cem bakalan sibuk sama kampanye jadi gak bosen sendirian," jawab Reza yang tak berhenti memainkan jari-jari Cem.


Cem pun tanpa sadar membiarkannya, sementara beberapa orang yang melihatnya ada yang senang ada juga yang tak senang.


Tapi Reza tak perduli.


Setelah lama mengobrol, akhirnya Romi dan Anita pamit. Begitu Romi dan Cem akan berpelukan Reza melerainya.


"Sekarang Kak Romi cuma KAKAK IPAR, KAKAK IPAR," Reza mengulang perkataannya.


"iihh..apaan sih. Lebay deh," jawab Cem lanjut memeluk Romi.


"Kalo gitu aku gak apa-apa meluk Nita. Kan KAKAK IPAR ku?" berbisik pada Cem.


"ya udah, peluk gih sana." Cempaka langsung membalikkan badan dan berjalan ke lantai atas.


Reza pun langsung berbalik mengikuti istrinya yang merajuk.


Setelah tiba di lantai atas untuk pertama kalinya, Cem bingung kamarnya di mana.


Jadi dia tidak tahu di mana dia akan merajuk. Akhirnya dia duduk di sofa ruang santai. menarik lututnya dan meletakkan dagunya di atas lututnya.


"Cem?sayang?" memanggil, Reza juga bingung, tapi melihat Cem duduk di sofa ia pun duduk disamping Cem.


Dilihat wajah istrinya yang kesal. Reza memegang bahu Cem, tapi disingkirkan dengan menggerakkan bahunya.


"Udah, gak usah sentuh-sentuh! peluk aja Anita sana. KAKAK IPAR kesayanganmu sana."


Sadar kalau ini bukan sekedar kesal, tapi juga cemburu. Reza segera minta maaf.


"Sayang, Mas minta maaf. Tadi cuma bercanda. Soalnya Cem kan juga meluk Kak Romi."


Makin kesal Cempaka mendengarnya. Melihat wajah Cempaka Reza semakin kebingungan.


"oke, Mas minta maaf..maaf??" sambil memasang wajah sok imutnya di samping istrinya sambil meletakkan dagu di bahu istrinya.


Cem yang melihat wajah Reza menurunkan kakinya." Ya udah, kasi tau. Salahnya di mana?"


"emm???salahnya, Mas karena pura-pura pengen meluk Nita?"


"terus??" tanya Cem lagi.

__ADS_1


"enngg...sayang. kita cek kamar yuk?" Reza berusaha bangun dan di tarik duduk oleh Cempaka.


"bisa gak, Cem aja yang ngasi tau Mas??eemmm?" sambil mencolek pipi Cempaka.


Cempaka kemudian menarik nafas dalam-dalam.


"Satu, Kak Romi juga kakak Cem jadi gak apa-apa di peluk. sedangkan Anita itu mantan Mas Reza , jadi gak boleh dipeluk.


Dua, Cem gak pernah punya perasaan aneh-aneh sama Kak Romi. Sedangkan Mas Reza pernah cinta kan sama Anita?" semua dia ucapkan dalam satu kali nafas.


"Okay, Mas salah. Mas gak akan bahas-bahas atau niat meluk Anita. Karena Mas cuma bakalan meluk Cem aja." Memeluk dan mencium pipi Cem.


"Dan juga, Mas kan sudah pernah bilang. Dia sudah Mas lepaskan. Sekarang cuma Cem yang bakalan Mas genggam selamanya." Merasa gemas, Reza melingkarkan tangan dan kakinya dengan erat di tubuh Cempaka.


"Mas, Mas ini mau meluk apa mau ngajakin gulat sih??" sambil memukul tangan Reza yang melingkar di tubuhnya.


Tak mau melepaskan pelukannya, Cem mendorong tubuhnya ke arah Reza. Sehingga Reza berbaring di atas sofa, dia langsung melepaskan tubuh Cem, jadi Cem berbaring di atas tubuh Reza. Meletakkan kupingnya di dada Reza mendengarkan detak jantungnya.


Mereka diam sejenak. "Mas?"


"emm??" jawab Reza.


"Sebenarnya Cem tadi gak mau marah, tapi gak tau kenapa aku gak suka aja. Walaupun aku tau Mas Reza bercanda," jelas Cem.


"Iya, Mas minta maaf. Tapi yang berhenti meluk Kak Romi, mas juga serius. Walaupun Cem cuma anggap Kakak. Tapi Mas juga gak suka."


Mereka berhenti bicara, menikmati momen sepi tersebut. Reza mengelus kepala dan rambut Cempaka. Dan Cempaka tengah mendengar detak jantung Reza.


Kedua insan seperti tenggelam dalam ketenangan rasa masing-masing.


Mama dan Papa sangat senang melihat adegan tersebut.


Mereka berniat menunjukkan kamar baru anaknya. Tapi dibiarkan menikmati momen berdua oleh orang tuanya.


Setelah beberapa lama, Cem bangun.


"Mas ayo lihat kamar. Sekalian beresin pakaian yang kita bawa. Oleh-oleh juga tadi lupa aku kasi Kak Romi dan mbak Anita."


Karena melihat anaknya sudah terlepas dari momen berdua. Ayahnya berdehem.


"Pa, ma, kok beda banget kamarnya sama terakhir di sini. Padahal cuma 1 minggu." Cem yang menengok ke arah deheman itu berasal.


"Gi mana? suka??" tanya Mamanya.


"sejauh ini, suka. Soalnya belum periksa yang lain juga. Hehehehe."


Mereka pun di antar berkeliling lantai 2, ada 3 kamar tidur, ruang kerja, ruang santai, dapur mini untuk membuat kopi atau teh jika ingin bersantai tanpa harus turun.


"Sebenarnya mama, mau meletakkan kamar anak kalian nanti di lantai bawah saja biar lebih aman," ucap mama ceplas ceplos.


"ehemmm...Mamamu sudah tidak sabar. Soalnya Romi udah 28, Reza 26 tahun. Jadi Cem maklum yah?" ucap Papanya yang juga sebenarnya tak sabar.


Cem hanya tersenyum, tapi memerah. Dia memang tidak merencanakan memiliki anak. Tapi kalau memang dia diberi saat masih muda begini, dia pun tak merasa keberatan.


"Mama juga pas hamil Romi baru 21, jadi gak bedah jauh sama Cem. Kalau semisalnya Cem hamil," senyum-senyum sendiri membayangkan cucu-cucu kecilnya.


"Reza akan berusaha sekuat tenaga, supaya mama cepat menimang cucu," mengepalkan tangan ke depan wajahnya. Cem hanya menyikut perutnya pelan.

__ADS_1


"ooccchh," memegang perutnya, pura-pura sakit berlebihan.


*bersambung.........


__ADS_2