
Pagi itu Reza yang berangkat dengan semangat karena begitu banyak kabar bahagia yang akan dia dapat.
Meskipun belum pasti tentang kehamilan Cempaka.
Proyek yang ia pimpin mendapat dukungan penuh.
Di dalam rapat pagi ini, hampir semua petinggi perusahaan menyelamatinya.
"Selamat, Ja!" ucap Romi datar.
"Iya Kak, makasih. Karena Kak Romi sudah percaya sama aku dan kasi kesempatan."
"Andaikan aku dalam fikiran jernih, mana mungkin aku berikan izin padamu. Dan aku tak tahu bahwa apa yang kamu kerjakan di luar sana membuat mu sekompeten ini." batin Romi.
"Kalau begitu, aku kembali dulu." Reza pun pergi dari ruangan Romi.
Romi jiwanya yang semakin terbakar, hatinya yang semakin panas mendengar tidak ada yang dibicarakn selain Reza dan prestasinya dalam waktu singkat.
Bahkan beberapa petinggi sempat mengatakan kalau Reza yang lebih cocok jadi pemimpin Rahadi karena sifatnya mirip seperti Tuan Wisnu.
Romi membanting semua isi ruangannya. Matanya sudah memerah. Dengan cepat Gun memberikan obatnya.
Setelah merasa tenang, Romi melihat foto Cem yang ada di meja kerjanya.
Foto mereka berdua di danau setelah Romi mengajaknya makan malam.
Dan melamar Cem untuk ketiga kalinya. Meskipun usia Cem saat itu masih 17 tahun.
Romi semakin labil sekarang.
Dia tidak ingin menjadi lebih marah karena orang-orang di sekitarnya hanya memancing amarahnya.
Dia tidak mengijinkan siapapun masuk dalam ruangannya dan beristirahat.
Ketika pulang, seperti biasa Anita akan menyambut layaknya istri yang baik. Romi yang turun dari mobil melihat Anita entah kenapa dia semakin kesal.
Mengingat Reza adalah mantan kekasihnya, tapi disini dia bermain rumah-rumahan sebagai seorang istri.
Mengingat perusahaan yang lebih menyukai Reza setelah apa yang selama ini sudah dia lakukan untuk perusahaan itu.
Mengingat Cem, wanita yang dicintainya malah berada dalam dekapan Reza.
Romi yang berkecamuk dengan fikirannya tiba-tiba berbalik menyerang Anita yang mengikutinya di belakang, mencengkram lehernya dan membuatnya jatuh ke lantai.
"Kapan? kapan kamu akan membuat Cem kembali ke dekapanku? ini semua karena kamu. Seandainya kamu tidak datang untuk melamarku dan menghinaku, Reza tidak akan kembali ke sini dan Cem tidak perlu menikah dengannya." Berbisik di telinga Anita dan semakin keras ia mencengkram leher Anita.
Gun yang sedari tadi berusaha menarik Tuan Romi belum berhasil. Ketika Anita hampir kehabisan nafas. Romi melonggarkan cengkramannya.
"Jawab, kapan? kapaaaaan?" Romi berteriak. Para pelayan hanya bisa melihat ngeri dan ketakutan.
"Ki...hi...ta..hhhaaaa..bii sa memulainya hari ini," sambil menjawab dengan nafas yang tersengal.
Romi melepaskan leher Anita. Kemudian Anita duduk di lantai dan Romi merebahkan tubuhnya di sofa.
Gun mengusir pelayan yang melihat adegan tersebut.
Anita masih berusaha mengatur nafasnya. Ini adalah kali pertama Romi melakukan kekerasan padanya.
"Kita bisa memulainya hari ini kalau kamu mau," ucap Anita yng nafasnya sudah teratur kembali sambil memegang lehernya.
Romi bangun mendekati Anita meminta Anita berdiri. "Apa kamu yakin?" menarik rambut Anita ke belakang membuatnya merintih.
"Kali ini aku akan melakukannya sendiri. Karena setelah ini kita tak perlu bertemu bukan?"
__ADS_1
Gun yang mendengar ucapan tuannya langsung maju. "Tuan, saya yang akan melakukannya. Tuan tidak perlu mengotori tangan Tuan"
"Mundur!!" perintah Romi melototi Gun.
Gun melangkah mundur.
Romi kemudian menampar Anita.
Anita hanya merintih tapi tidak meminta ampun atau meminta Romi untuk berhenti.
Lanjut dia menamparnya berulang kali. Mendorongnya, kepalanya terbentur meja.
"Tuan, saya rasa sudah cukup," ucap Gun.
"Gun, ini menyenangkan. Sekarang aku tau kenapa kamu selalu melakukannya."
Lanjut dia memukul Anita, dia tidak berteriak tapi air matanya sudah jatuh mebasahi seluruh wajahnya.
Gun menyadarkan Tuannya, menyuruhnya berhenti. Dia menahan tubuh Romi agar tidak mendekati Anita lagi.
"Pergilah, cepat!" ucap Gun, Anita pun pergi dengan membawa kunci mobilnya.
Dia pergi dengan kecepatan lumayan tinggi.
Dia menangisi dirinya. Ini adalah pertama kali Romi memukulnya, tapi entah kenapa hatinya juga merasakan pedih, ia menangis sepanjang perjalanan. Ia akan melepaskan Romi, agar kembali pada Cem.
Pengorbanan yang ia lakukan demi membuat laki-laki yang dicintai mendapatakan cintanya kembali.
Penjaga pintu yang sudah mengenali mobilnya membukakan gerbang. Anita berhenti depan pintu utama dan membukanya.
Dia melihat Cem di sana.
"Mbak Anitaaa!!" teriak Cem yang mendekati tubuh Anita yang hampir terjatuh.
Pak Didi yang sedang ada di ruang kerja dan baru saja mendapatkan telepon dari pelayan yang dia titip di rumah Romi ikut keluar.
Reza yang melihat keadaan Anita, langsung menggendong Anita dan membawanya ke salah satu kamar tamu.
Semua sibuk mengikuti Reza ke kamar tamu.
Sementara Cem yang masih kaget melihat adegan itu, masih berdiri di tempat semula.
Melihat Reza yang langsung menggendong Anita seperti itu mendapatkan ketukan di hatinya.
"Astaga Cem, sadar. Gak cukup apa kamu berfikiran negatif dengan Kak Dini? Demi apa, dia tuh baru di hajar Cem. Sadar!" bicara dalam batin dan memukul pelan kepalanya sendiri.
Anita sudah sadar kembali, wajahnya sudah di kompress dan diberikan obat.
Tiba-tiba di ruang tengah terdengar suara pecahan barang.
"Anitaaaaa!!!"
Semua orang keluar, termasuk Anita yang masih merasa lemah berjalan pincang di belakang Reza dan mencengkram baju lengan kiri Reza.
"Cem, dia ketakutan. Kenapa kamu jahat sekali. Dia hanya menyentuh orang di depannya karena ketakutan," karena melihat Anita mencengkram lengan Reza dengan erat.
"Romi, ini bukan kamu kan yang melakukannya?" tanya nyonya besar mendekati putranya.
"Mah" Cem yang ingin menarik mertuanya karena tidak tahu apa yang bisa dilakukan Romi.
Reza menahan tubuh Cem. Reza bingung dengan apa yang dilihatnya.
Sekarang Anita berdiri di belakang lengan kiri Reza sedangkan Cem di sebelah kanannya.
__ADS_1
Romi mengulurkan tangannya mengabaikan pertanyaan Mamanya.
"ayo kembali padaku," Anita menggeleng.
Meski mengucapkan hal itu, bola matanya mengarah pada Cem.
Pak Didi yang melihat hal itu ingin memastikan hal itu, melangkah ke dekat Cem dan menarik lengan Cem agar Cem mundur.
"Jangan sentuh dia" ucap Romi tiba-tiba menutup matanya untuk menangkan diri.
Sementara itu, mamanya menatap anak di depan matanya melihat tangan putranya.
"Bilang sama Mama kalau ini bukan perbuatanmu!" ucap Nyonya besar itu menyentuh tangan putranya yang merah bekas memukul Anita.
"Saya yang sudah melukai Nona Anita. Tuan Romi tidak pernah melakukan hal seperti itu pada Nona Anita." Ucap Gun membela Romi.
Nyonya merasa sedikit lega. Tuan Wisnu tak bisa berkata apa-apa melihat kejadian di depannya. Dan Pak Didi pun tak mau memancing nya.
"Sialan, ayo kembali!!!" teriak Romi dan tamparan mendarat di wajahnya.
"Jangan memperlakukan wanita seperti itu!" ucap Mamanya setelah menampar Romi. Dia hanya menyeringai.
Mengabaikan Mamanya "Baiklah, kalau begitu untuk saat ini aku akan kembali sendiri."
Romi dan Gun lalu keluar dari rumah itu. Mamanya berteriak memanggil namanya tapi tidak dihiraukannya. Mamanya terjatuh lemas, cepat di tangkap oleh Cem dan Pak Didi.
Ketika Reza akan ikut membantu, Anita tiba-tiba pingsan.
"Aku akan membawanya ke rumah sakit" Reza menggendong Anita dan membawanya ke mobil.
"Mas!" panggil Cem, tapi Reza sudah berlalu. Dia bingung melihat Reza pergi dan melirik Mama mertuanya dan membantu Pak Didi.
"Kita sudah memanggil dokter tadi ketika Anita datang," ucap Pak Didi.
Setelah dokter memeriksa nyonya besar, Cempaka lalu pergi mengambil kunci mobil dan berencana ke rumah sakit, akan tetapi dicegah oleh Pak Didi.
Tapi, akhirnya Pak Didi menemani Cem untuk ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Cempaka melihat Reza yang sedang menjaga Anita, memegang tangannya duduk di samping tempat tidur. Cem memutuskan untuk menunggu di luar ruangan bersama Pak Didi.
Tidak lama kemudian Reza keluar ruangan lalu melihat Cempaka dan meminta Cempaka untuk pulang.
"Sayang, kamu pulang aja duluan. Aku bisa jagain Anita"
"Gak, aku mau temani kamu. Kamu bisa kan huhungi keluarganya?" entah kenapa perasaannya terganggu dengan hal ini.
"Kumohon jangan merasa berasalah juga atas Anita." pinta Cem dalam hati
"ya sudah, kalau kamu gak apa-apa nungguin aku. Aku sudah ada di sini. Lagipula apa kata keluarganya kalau lihat kondisinya?"
Setelah itu Reza kembali ke dalam ruangan dan menjaga Anita.
Pak Didi melihat mata Cem beekaca-kaca, masuk ke dalam ruangan meminta Reza kembali bersama mereka.
"Pak Didi tolong ajaklah Cem pulang bersama Bapak saya perlu menjaga Anita," ucap Reza pada Pak Didi.
"Saya akan mengirimkan beberapa orang untuk menjaga di ruangan ini." ucap Pak Didi kepada Reza.
"Dan secepatnya tuan Reza kembali ke rumah, kalau begitu saya permisi." ucap Pak Didi pamit.
Setelah beberapa lama dibujuk barulah Cem setuju untuk pulang.
*bersambung......
__ADS_1