
Ciuman yang hanya mengecup bibir satu sama lain, berubah menjadi ciuman mengulum dan mengunyah bibir.
Tangan Reza sudah berpindah ke belakang kepala Cempaka, perlahan membiarkan tubuh Cempaka mundur berbaring di atas sofa.
Menopang tubuh dengan lututnya, tubuh Rezapun berada di atas tubuh Cem.
Ciuman yang memanas, membuat mereka mengeluarkan desahan. Nafas yang memburu, kedua tangan Cem yang melingkar di leher Reza perlahan, tangan kanannya bergerak ke arah kancing baju Reza dan membuka beberapa kancing.
Sementara tangan kanan Reza sudah mengarah meraba sampai paha Cempaka.
Merasakan telapak tangan Cempaka menyentuh dadanya, dengan terpaksa Reza menghentikan ciumannya kemudian meletakkan keningnya di atas kening istrinya.
"huuufffttt," Reza mendesah dan menatap mata istrinya.
"kenapa?kenapa berhenti?? tanya Cempaka yang nafasnya masih memburu dan heran.
"apa disini cuma aku yang berfikiran mesum?" bathinnya.
"Tanganmu masih dingin, kamu harus pulihkan tubuhmu dulu," jawab Reza dan mengecup bibir istrinya sekali lagi dan merebahkan tubuhnya disamping Cem di atas sofa.
Cem memiringkan tubuhnya berhadapan dengan Reza. "Tapi aku merasa panas, nanti juga badanku normal lagi." Jawab Cempaka.
"hahahahahha, aku tau kamu sekarang sedang berfikiran mesum. Tapi percaya, aku juga lebih mesum sekarang ini, tapi tolong sehatlah dulu." Memeluk Cempaka.
Cempaka mendesah kecewa, tanpa menyembunyikannya, sedikit senang setelah tahu bukan hanya dia yang berfikiran mesum, meskipun tak bisa melanjutkan kegiatannya.
"Pulihkan dulu badanmu, setelah pulih kita bisa berbuat mesum sepuasnya.
Sekarang aku hanya akan membantumu menghangatkan tubuhmu," mendekap tubuh Cem dengan erat dan wajahnya dibenamkan di dada Reza.
Belum lama mengatakan hal itu pada istrinya, berkecamuk batinnya
"apa lanjutin aja? kan dia juga mau, ahh, tapi kan dia lagi sakit, gimana nanti kalau bertambah parah? tadi timingnya sudah pas, kenapa aku menghentikannya?" sesal fikirnya.
Tetapi, setelah mendengarkan nafas Cem yang teratur, membuat ia lega. Tak ingin membayangkan terakhir kali ia melihat Cem kesusahan bernafas. Mereka pun tertidur pulas.
Sampai sore menjelang, Reza terbangun mengingat bahwa mereka perlu makan malam. Terutama Cempaka yang makan siang hanya sedikit.
Cempaka yang masih memeluk Reza, masih tertidur pulas. Tapi sudah waktunya Cempaka meminum obatnya juga. Dia memeriksa suhu tubuh cempaka yang sudah kembali normal.
Reza memikirkan bagaimana cara membangunkan Cem dengan tepat.
"Cem, Cem...bangun" dengan suara lembut.
"emmm? kenapa?"
"ilermu basahin dada aku." Dengan cepat Cem mengangkat wajahnya mencari jejak basah di dada Reza.
"Mana? basahnya di mana?"
Otomatis Reza hanya bisa tertawa. Mejahili Cem dengan cara yang samapun tetap berhasil fikirnya. Cem yang sadar dikerjai, memukul dada Reza dengan pelan.
Setelah makan malam, mereka menonton sebentar kemudian melanjutkan istirahatnya.
__ADS_1
Karena besok mereka berencana mengelilingi tempat bulan madu mereka.
Reza sudah tertidur lelap, Cem yang tertidur seharian masih terjaga, dan menatap jauh ke luar jendela kamar hotelnya.
Pertemuannya kembali dengan Reza, membuat ia merasakan hal baru dalam hatinya.
Dinding kedewasaan yang iya bangun agar bertahan hidup dengan pantas dan layak perlahan runtuh dengan perlakuan Reza.
Masih teringat, ketika ia di bawa ke rumah sakit saat itu. Gadis kecil yang berangsur sadar itu, bertanya-tanya di mana ayah dan bundanya.
Kenapa mereka belum kembali juga setelah meninggalkannya, ia hanya bisa menangis sesegukan.
Setiap mata memandangnya, mereka melemparkan dan berbisik mengatakan rasa iba pada gadis kecil yang menjadi yatim piatu dalam semalam itu.
Pengasuh yang biasanya datang setiap hari mulai jarang menampakkan diri.
Perawatan yang ia jalani pasca trauma, tidak berjalan maksimal, karena ia tak mau mengatakan apa-apa dan selalu tertutup.
Perlahan ia sudah mulai bicara pada perawat yang disewa bibinya. Dan dokter yang ditemuinya, sangat baik di matanya. Ia merasa sedikit lega.
Kurang lebih setahun, karena dilihat Cempaka perlahan pulih mulai bicara dan tersenyum. Akhirnya pihak rumah sakit memanggil walinya.
Hari itu, dokter dan perawat yang sudah dia anggap yang akan menemaninya seterusnya, meninggalkannya dan menyerahkannya pada Bibinya. Ingin rasanya dia menangis, tapi mereka bukanlah ayah dan bundanya.
Hari itu pertama kali ia bertemu bibinya. Perawat dan dokter beberapa kali menyinggungnya. Tapi tak pernah sekalipun menjenguknya.
Tak punya pilihan tentu saja ia harus ikut.
Begitu juga Dini, umur mereka yang terpaut agak jauh mebuatnya tidak diikutkan dalam pembicaraan anak remaja yang sedang gencar-gencarnya membicarakan gebetan dan kekasihnya.
Sampai ketika Reza datang mengantar Dini, Reza menyempatkan diri bermain dengan Cempaka, main tebak-tebakan dan yang lainnya meski Dini tak begitu suka dengan kegiatan yang dilakukan.
Sejak saat itu, Reza merupakan orang spesial untuk Cempaka.
Reza yang biasanya datang, setiap akhir pekan, semakin lama semakin jarang mengantar atau bermain ke rumah Dini.
Dan yang ia tahu, Reza mengakhiri hubungannya denga Dini, Dini kemudian dirawat di RS.
Ditinggalkan lagi, gadis itu di panti asuhan.
Tak disangka, ia akan ditinggalkan lagi.
Oleh orang-orang yang terlanjur ia sayangi.
Di panti itu ia melihat bahwa tempat itu adalah tempat terakhir di mana anak-anak tanpa orang tua akan dibuang. Dia bahkan bertemu dengan anak-anak yang dibuang d pinggir jalan.
Di tempat itu, mereka tidak akan ditinggalkan, melainkan mereka yang akan meninggalkan tempat itu.
Sejak saat itupula dia bertekad menjadi kuat dan tegar.
Belajar dengan giat siang dan malam, mempalajari keterampilan. Menjahit, memasak, membuat kerajinan tidak ada yang ia tidak bisa.
Dia menjadi dewasa di usia belia, tak ada yang memperlakukan ia seperti anak-anak lagi.
__ADS_1
Tapi mereka lupa, jauh dilubuk hatinya, ia masihlah anak-anak yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang.
Pertemuannya dengan Nyonya besar membawa pengaruh besar. Di hadapan keluarga itu, ia diperlakukan dengan penuh kasih sayang.
Tapi belum berani membuka hatinya yang pernah berharap pada orang-orang yang pernah meninggalkannya.
Kekhawatiran akan ditinggalkan tak bisa hilang dari bagian terdalam hatinya, meskipun kasih sayang yang begitu besar dirasakannya.
Sempat, hampir ia menerima di adopsi tapi ia urungkan. "hanya sperti ini aku akan bersyukur" batinnya.
Di hadapan keluarga itu ia mulai menunjukkan sifat kekanakan, ceroboh, tapi tetap pada mempertahankan keterampilan dan kecerdasan yang ia punya.
Sampai Reza datang kembali, meski belum mengetahui itu adalah Reza yang ia kenal, rasa tampak familiar dan keisengan Reza,
dengan cepat juga mempengaruhi hatinya.
Wajah Reza saat ia tersadar di rumah sakit, terus membayang di kepalanya, ada getaran-getaran di hatinya.
Keesokan harinya mereka berjalan-jalan di pantai. Tengah asyik, tiba-tiba sandal Cem terputus.
"Tunggu di sini sebentar yah, biar mas belikan sandalmu di toko sana," menunjuk toko yang lumayan jauh dari tempat mereka berada.
Tegang wajah Cem mendengar kata-kata di suruh menunggu. Karena perasaan takut ditinggalkan, kadang muncul di saat-saat tertentu. Cem pun memegang lengan baju Reza dengan erat.
Melihat ekspresi istrinya, Reza kemudian berjongkok membelakangi istrinya. "Ayo, kita beli sama-sama."
Melingkarkan tangannya di leher Reza dengan bahagia. Reza melangkah dengan santai ke arah toko.
"Mas Reza tau gak? Seingatku cuma Mas Reza yang pernah gendongin aku kayak gini. Aku gak ingat pernah digendong ayah.
pertama waktu aku kecil, kedua waktu kita menikah dan sekarang." Ucap Cem lirih.
Karena ingatan masa kecilnya, buyar setelah trauma.
"Wahh. Berarti Mas harus bangga dong. Karena Mas satu-satunya laki-laki yang pernah menggendong Cem dan megang bokong Cem kayak gini," sambil mengeratkan pegangan pada bawah paha Cem.
"Mas Reza!! diliatin orang," teriaknya
"Kenapa?? mas kan cuma gendong kamu. Malah suaramu yang buat orang ngelihat kita," balas Reza.
"Makasih," mencium pipi kiri Reza dari belakang.
"kok sebelah doang, badan mas jadi berat sebelah nih," memiringkan tubuhnya ke kiri seakan jatuh.
"muah" di cium pipi kanan Reza.
"Kamu sudah berani mesum-mesum depan umum yah sekarang?" Berjalan sambil menegakkan tubuhnya kembali
Karena malu, Cem meletakkan wajahnya di pangkal leher Reza yang membuatnya geli.
Mereka berjalan sambil tertawa ke arah toko.
*bersambung....
__ADS_1