Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku

Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku
Wisnu dan Didi


__ADS_3

"Saya akan melindungi dan menjaga keluarga Rahadi, sebagai istri, menantu dan juga Anak dari keluarga Rahadi.


Aku mungkin tidak akan menyelesaikan masalah seperti yang Pak Didi lakukan.


Tapi kita semua akan punya peran masing-masing kan?" Cem tersenyum.


"Baiklah kalau itu pilihan nona, silahkan laksanakan tugas Nona.


Dan saya harap Nona akan bahagia dengan pilihan Nona. Ini adalah hadiah dari saya" memberikan map yang dipegang Pak Didi tadi.


"Ini juga informasi mengenai Tuan Romi. Karena Nona sudah tahu sebagian besar rahasianya. Saya pikir menambah informasi Nona tak akan menyakiti siapapun," Cem merasa ragu mengambilnya.


"Apakah benar mengetahui rahasia itu lebih baik?" Cem berfikir, kemudian menolaknya.


"Terima kasih Pak Didi. Aku menghargainya. Tapi kadang, ketidaktahuan juga sebuah berkah." Pak Didi mengangguk dan Cem berjalan menuju pintu.


"Ahh dan aku harap juga Pak Didi juga bahagia dengan pilihan Pak Didi," ucap Cem sebelum keluar dan menutup pintu kembali.


Pak Didi tersenyum mendengar ucapan Cem.


"Apa aku bahagia? iya, aku bahagia. Mungkin bagi orang lain hidupku sudah sia-sia karena kuberikan pada keluarga Rahadi. Tapi aku bahagia."


Flashback


Wisnu anak laki-laki yang berusia 14 tahun itu terpisah dari pengawalnya karena keramaian. Dia mulai berjalan tanpa arah.


Hingga ia tiba di sebuah kawasan kumuh.


Orang-orang yang tak mengenakan pakaian, anak kecil menangis, bau asap dan busuk yang entah dari mana.


Dari sebuah rumah, ia mendengar teriakan.


"Amppuunn. Pak..ampuun" teriak anak laki-laki yang tengah dipukuli menggunakan kayu papan yang keras di teras kecil rumahnya.


Meski mendengar teriakan ampunnya, laki-laki dewasa itu tak berhenti.


Orang-orang di sekitar itu tidak ada yang melerai ataupun memperdulikannya, seolah itu adalah hal yang biasa terjadi.


Wisnu hanya melihat seorang wanita, tersenyum, seperti orang mabuk di atas kursi kayu di dekat anak itu dipukuli.


"Paman, hentikan. Kamu bisa membunuhnya!" Wisnu mendorong tubuh laki-laki kekar itu.


Dan sama sekali tak bergeming.


Malah dia balik mendorong Wisnu.


"Jangan ikut campur kalau kamu tak mau mati!" Ancamnya pada Wisnu.


Wisnu sangat membenci kekerasan, tapi dia berusaha mendorongnya lagi.

__ADS_1


Sementara anak laki-laki yang tergeletak itu, sudah tak meminta ampun. Hanya berbaring di lantai kayu itu dengan lemah.


Wisnu yang tak tahan melihat adegan itu. Menemukan kayu dan ia gunakan untuk memukul laki-laki dewasa tadi. Melihat laki-laki itu tumbang. Wisnu lalu mengangkat tubuh anak kecil itu, tapi dia merintih kesakitan.


"Maaf, tahan sebentar ya. Kita akan ke rumah sakit."


Wisnu berteriak minta tolong berlari sambil menggendong anak laki-laki itu di punggungnya tapi tak ada yang menghiraukan.


Akhirnya dia menanyakan arah rumah sakit. Hanya beberapa orang yang menjawab.


"Untuk apa kau bawa ke rumah sakit, luka segitu tidak akan membunuhnya!" sambil tertawa mereka mengatakan hal itu, hampir di sepanjang jalan mereka mengatakan hal yang sama. Meski ada beberapa dari mereka yang dengan sopan meberitahu arah rumah sakit


Punggung Wisnu sudah basah bercampur keringat dan darah anak kecil itu.


Setelah tiba di rumah sakit, anak kecil itu langsung mendapatkan perawatan.


Kebetulan rumah sakit ini adalah tempat salah satu teman Ayahnya bekerja.


Beberapa jam kemudian, anak itu sudah selesei dirawat dan sudah sadarkan diri.


Pengawal Wisnu pun, sudah menunggununya. Dia berniat meninggalkan anak kecil itu setelah sadar.


"Siapa namamu?"tanya Wisnu


"Didi, Bang"


"Umur?"


"Maaf aku sudah memukul ayahmu. Aku sangat membenci kekerasan.


Aku akan pergi sekarang, ku harap kamu akan baik-baik saja."


Ketika Wisnu pergi, anak itu sontak bangun dari kasurnya dan mengikuti Wisnu dengan kaki yang pincang.


"Bang, Bang, bawa aku!" Bagi Didi, Wisnu adalah penyelamatnya hari itu. Tidak, baginya Wisnu adalah malaikat.


Semenjak setahun yang lalu, ibunya menikah dengan laki-laki itu penyiksaan merupakan makanannya sehari-hari.


Sementara Ibunya mabuk dan jadi pengguna narkoba. Dia tak mau kembali ke neraka itu lagi.


"Maafkan aku, aku tidak bisa memutuskan itu" Wisnu berhenti dan menatap Didi yang sudah memar sekujur tubuhnya.


"Bang, aku gak punya siapa-siapa lagi. Seperti yang Abang lihat, Ibuku seperti itu. Dan ayah tiriku akan menyiksaku terus," ucap Didi memohon, menahan sakit sekujur tubuhnya.


Untuk pertama kali seumur hidup, Wisnu mengambil keputusan besar dalam hidupnya.


Memukul seseorang padahal ia sangat membencinya.


Dan membawa Didi pulang bersamanya.

__ADS_1


Karena ayahnya yang otoriter, Wisnu selalu melakukan apa yang hanya diperintahkan ayahnya.


Beruntungnya, Wisnu memiliki ibu yang siap melindunginya, setiap ayahnya ingin menggunakan kekerasan.


Ayah Wisnu, yang mendengarkan berita ini tentu saja geram.


"Ayah, hanya sampai tubuhnya jadi lebih baik. Dia sangat butuh pertolongan" Wisnu menatap ayahnya dan melirik ibunya meminta bantuan.


Ayah Wisnu berfikir kalau Wisnu itu terlalu lemah menjadi penerus keluarga Rahadi.


Setelah mendapat laporan tentang kesehatan Didi. Ayah Wisnu memutuskan untuk mendidik Didi.


Bukan sebagai penerus, tapi orang yang akan mendampingi Wisnu.


Didi bisa mendapatkan pendidikan, makanan dan tempat tinggal. Meski dipukuli oleh ayah Wisnu beberapa kali, tak sebanding dengan tempat yang ia sebut neraka.


"Di, kenapa kamu tidak pergi? Bukankah kamu ingin berhenti dipukuli? tapi kenapa kamu menyukai ayahku padahal kamu dipukuli.


Aku sangat membenci kekerasan."


Didi hanya tersenyum


"Saya tidak menyukai ayah Tuan Muda, tapi saya menyukai Tuan Muda. Dan saya berjanji akan menyerahkan seluruh hidup saya untuk melindungi Tuan muda dan keluarga Rahadi" ucap anak laki-laki 10 tahun itu.


Mendengar ucapan Didi, entah kenapa Wisnu merasa sedih. Meski ada kebanggaan dalam hatinya karena anak laki-laki di depannya ini sudah menjadi jauh lebih kuat.


Tapi rasa sedih yang ia rasakan lebih besar dari kebanggaan yang dia rasakan terhadap Didi.


Sudah 2 tahun semenjak kedatangnnya ke rumah Wisnu.


Berkali-kali Wisnu menyuruhnya pergi, tanpa merasa perlu balas budi. Wisnu menyuruhnya mencari cita-cita lain. Tapi Didi menolaknya.


Bertahun-tahun, Wisnu terus berusaha mebujuknya. Hingga akhirnya iapun menyerah membujuk Didi.


"Suatu hari ia akan menemukan sesuatu untuk dirinya sendiri," Fikir Wisnu.


Didi sempat jatuh cinta pada seorang gadis, tapi karena karakternya yang kaku dan dia sendiri tidak tahu bagaimana cara menghadapi wanita membuat ia enggan lagi menanyakan wanita untuk bersamanya.


Dan di sinilah laki-laki itu hampir 40 tahun menemani Wisnu. Tidak ada penyesalan dalam hidupnya menemani Wisnu.


Mungkin hanya akan ada satu yang ia sesalkan.


Dia memandang mudah untuk membentuk karakter seorang pemimpin pada calon penerus Rahadi.


Dia dengan berani mengambil tanggung jawab yang bahkan Tuan Wisnu tak ingin menanggungnya.


Tuan Wisnu, hanya ingin hidup yang damai tanpa paksaan.


Tapi Didi meyakinkan bahwa Keluarga Rahadi membutuhkan pemimpin yang lebih kuat

__ADS_1


karena Wisnu sadar, kalau ia bukan pemimpin yang kuat dan karena itu pula ia membiarkan Didi mengajarkan dan mendidik Romi, semua tentang perusahaan.


*bersambung......


__ADS_2