
Terkejut mendengar pembicaraan antara Anita dan Reza, Cem hanya bengong di anak tangga. Sampai Reza membuyarkan lamunannya.
Dia kemudian berlari dan sembunyi menghindari Reza.
Keesokan harinya.
Cem, masih menghindari Reza.
"Lebih baik aku ke kampus hari ini. Astaga
Aku Lupa, aku minta izin untuk semester ini." Sambil memukul jidatnya sendiri
"Non, sehat?" tanya salah satu pelayan
"emmmm?" jawabnya lemas.
Wajah Cempaka memang terlihat pucat, karena dia mimpi buruk.
Dia selalu mimpi buruk kalau dia terlalu stress dengan suatu masalah. Apalagi yang didengarnya kemaren termasuk rahasia besar.
"Mbak Anita istri Kak Romi, Kak Romi kakak Tuan Reza, Tuan Reza dan mbak Anita pernah pacaran, mbak Anita masih menyukai Tuan Reza. Dan aku akan jadi istri tuan Reza...aaaarrrrgggghh..pusing,
apalagi maksudnya tentang Kak Dini?" berfikir sambil mengacak-acak rambutnya.
"Bi, aku di kamar dulu mau istirahat. Kalo dicariin bilang aja lagi tidur cantik," jalan kembali ke kamar.
Dengan cepat masuk ke kamarnya, supaya tidak bertemu dengan Reza. Beberapa kali Reza mengetuk pintu kamar Cem tapi dia sengaja tidak menjawabnya.
Cempaka sudah berhasil menghindar dari Reza selama 2 hari.
Pagi-pagi sekali Reza berdiri di depan pintu kamar Cem menunggunya keluar. Terang saja, Cem yang begitu membuka pintu, kaget melihat Reza dan segera menutup pintunya, tapi lengan Reza sudah lebih dulu berada di antara pintunya.
"Sampai kapan kamu mau menghindar?hem?" tanya Reza
"Selamanya gak boleh? Kalau bisa gak usah omongin hal itu sama sekali." Pinta cem dalam hati.
Reza kemudian mendorong pintu kamar Cempaka, masuk kemudian menutupnya lagi.
"Tuan, apa tidak bisa kita bicarakan hal ini nanti?" suara Cem mulai bergetar.
"nanti? nanti kapan? Aku sudah cukup sabar selama 2 hari." Berjalan ke arah Cem, hingga punggung Cem menyentuh tembok.
"kenapa dia sering memojokkan ku ke tembok. Apa dia lupa pribahasa, tikus bisa menggigit kucing kalau dipojokkan?" bathin Cem.
"kamu sakit? kenapa mukamu pucat begitu?" tanya Reza khawatir.
"iya, gara-gara rahasiamu yang gak seharusnya aku dengar, kadang aku heran, momentnya selalu saja tak tepat." batin Cem
"apa itu penting? bukannya Tuan mau minta saya tutup mulut? gak usah sok khawatir," jawab Cem, berusaha memberanikan diri, mengingat dia pernah dipojokkan di tembok oleh Tuannya ini beberapa hari sebelumnya.
"Karena kamu gadis yang cerdas, aku tau kamu mengerti apa kesimpulan dari perbincanganku dengan Anita kan?
__ADS_1
dan kenapa aku tidak boleh khawatir sama calon istriku?" tanya Reza pada Cem dengan tatapan tajam.
"kenapa dia masih imut, walaupun bangun tidur dan terlihat pucat? dan wajah imutnya. Tuhan ampunkan aku yang mudah jatuh cinta dengan wajah imut dan polos, ya Tuhan".
Reza sangat ingin terlihat keren, tapi kenapa malah dia yang wajahnya terasa panas dan memerah.
"aaahh, sudahlah! aku yakin kamu sudah mengerti dan tidak akan memberitahu siapa-siapa. Aku dan Anita cuma masa lalu." Jelas Reza melangkah mundur dari posisinya.
"Tapi sepertinya mbak Anita tidak berfikir seperti itu," celetuk Cem, lalu menutup mulutnya dengan tangannya.
Reza lalu menatap Cempaka dan maju lagi mendekatkan wajahnya.
"Dengerin baik-baik yah anak kecil, Anita itu masa lalu ku, begitu juga dengan kakakmu." Reza kemudian berbalik dan berjalan keluar dari kamar Cem.
"anak keciilll???" emosi, Cem mengikuti Reza keluar kamar.
"Anak kecil? bagian manaku yang kelihatan seperti anak kecil? Mana ada anak kecil punya ini seperti ini, dan ini seperti ini!" agak sedikit teriak dan meremas dada dan memukul bokongnya untuk menunjukkan poin penting kalau dia bukan anak kecil.
"oohhh, jadi mau promosi? tenang, nanti setelah kita menikah aku cek. Biarkan aku yang nilai, itu punya anak kecil atau orang dewasa"
melangkah maju mendekatkan wajahnya ke wajah Cem, dengan otomatis Cem memundurkan wajahnya yang mulai memerah dan menyilangkan tangan di depan dadanya.
"bersihkan juga belek dimata kamu"
dengan sigap Cem meraih sudut matanya untuk membersihkan tapi tidak ada apa-apa.
"buaahahahahahhaha, dasar anak kecil, gampang banget ketipu," Reza tertawa dan balik ke kamarnya.
Belum juga 2 minggu, laki-laki itu ada di rumah ini, tapi sudah menguras tenaga Cem untuk simpanan 1 tahun.
"kalau gini bakalan bisa mati muda aku, hiksss," melempemkan pudaknya, yang terasa lelah meski baru bangun tidur.
"Non, gak apa-apa?" tiba-tiba suara Bi ida di dekatnya.
"ibuuuu.....aaaah..bibi jangan ngagetin. Dari kapan disitu?" tanya Cempaka, merengek sambil mengelus dadanya.
"Dari Non nunjukin dada sama bokongnya ke tuan Muda," jawab Bi Ida pura-pura polos sambil melanjutkan pekerjaannya.
Lantas saja, wajah Cem jadi panas, pipinya memerah. Dia buru-buru masuk kamar dan membasuh wajahnya.
Mungkin karena marah akan hal lain, Cem tidak terlalu fokus ke rahasia Tuan mudanya yang tidak sengaja dia dengar.
"sudahlah, itu bukan urusanku, toh yang punya rahasia adem-adem aja" Ucap Cem yang entah pura-pura tak perduli, atau memang tak perduli.
Setelah itu, mereka tidak pernah lagi membicarakan hal tersebut.
Hampir setiap hari bertemu, ada saja yang dilakukan Reza untuk membuat Cem marah atau kesal.
1 hari sebelum hari H.
Melihat sekeliling rumah yang dihias dan tinggal sentuhan finishing dekorasi,
__ADS_1
nama Cem dan nama Reza sudah terpampang sebagai calon pengantin.
Rumah yang halaman sangat megah ini akan dijadikan sebagai tempat menggelar resepsi pernikahan putra bungsu keluarga Rahadi.
Cem mulai gugup tidak karuan.
Meski hari-hari sebelumnya dia merasa gugup, tapi tidak segugup hari ini.
Yang sebelumnya masih belum terlihat nyata sekarang lebih terlihat nyata. Bahkan pada saat mencoba gaun pengantinnya pun, dia hanya merasa seperti akan hadir di suatu acara penting dan bukan pernikahannya.
"Apa aku kabur aja? nikah kan bukan main-main. Bagaimana nanti kalau aku benci sama suamiku sendiri karena dia kasar? atau dia benci sama aku, terus minta diceraikan. Terus apa yang akan terjadi pada hubunganku dengan ibu dan bapak?
aahhhh...tapi ini kan demi bantu Bapak juga.
aaahhhhhh" pikiran yang berkecamuk dalam kepala Cem dan dia mengacak-acak rambutnya mondar-mandir dalam kamar seperti wanita gila.
Angel yang merupakan salah satu sahabat Cem, datang berkunjung ke ke kamar Cem.
"Ceeemmm, Cem, tadi diluar aku sempat ngelihat calon suami kamu, dia ganteng bangeett siihh!" bertingkah heboh didepan sahabatnya.
"iya, ganteng.. tapi laki-laki itu bakalan buat kamu jadi nenek-nenek dalam satu 1 Minggu."
Setelah melihat kondisi sahabatnya, Angel yang tadi heboh merasa khawatir.
"Cem, kenapa?" tanya Angel khawatir.
"Jel, apa keputusanku udah benar? apa aku akan baik-baik aja? apa semua bakalan baik-baik aja?" tanya Cempaka.
"keputusan ini, kalian berdua yang buat, jadi seandainya kamu mundur sekarang, mungkin nyonya dan Tuan juga akan mengerti.
Tapi aku yakin, bagaimanapun yang terjadi akhirnya nanti kamu pasti bisa melewati semuanya," kata Angel memegang bahu Cempaka untuk menyemangatinya.
Sementara di sisi lain tak jauh dari kamar Cempaka.
"apa keputusanku sudah benar? ini juga demi membantu Papa. aku sadar kalau nikah itu bukan main-main. Tapi kenapa juga aku nawarin diri aku? aaahhh, sudahlah. keputusan sudah diambil."
Masing-masing calon pengantin itu, berdebat dalam fikirannya masing-masing.
Di sisi lain, yang paling bahagia adalah Nyonya Besar Mutia Rahadi yang merasakan bahwa skandal dan pernikahan ini adalah sebuah berkah untuknya. Mendapatkan putri sekaligus menantu secara resmi.
Cempaka hanya menceritakan alasan sebenarnya kenapa ia tak mau di adopsi kepada Nyonya besarnya, sehingga Nyonya tak pernah memaksa Cempaka agar mau diadopsi lagi.
Itulah kenapa ketika dia menyetujui usulan pernikahan ini, nyonya besar itu sangat bersyukur dan bahagia.
Hari Pernikahan.
Hari yang di tunggu pun tiba. Dua orang yang paling gugup dan paling khawatir bagaimana kehidupan mereka akan berlanjut setelah ini, sudah menyiapkan diri.
Pernikahan berlangsung secara hidmat dan Nyonya Rahadi sampai menitikkan air mata kebahagiaan. Melihat pasangan itu terlihat sangat serasi.
Di sisi lain, ada beberapa orang yang menghujat pernikahan mereka.
__ADS_1
*bersambung....