Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku

Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku
Permohonan Maaf Didi dan kedatangan Anita


__ADS_3

"Sayaaaang!" Reza berteriak sambil membuka pintu dan membuat Cem yang sedang duduk membaca buku kaget.


Reza langsung memeluk Cem, sementara Cem yang kesal mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong Reza hingga jatuh terjungkal ke lantai.


"Sayang, aku mau kasi tau kabar gembira" Ucap Reza sambil mengerang menepuk bokongnya.


Meskipun sedang kesal, Cem melirik Reza dari balik buku.


"Aku berhasil dapatin proyek nya. Karena sekarang lagi senang. Aku bakalan pergi beli martabakmu. Atau kita pergi berdua langsung ke sana? Tunggu, tunggu, kamu di sini saja. Biar Mas yang pergi beli." Reza berceloteh tanpa henti dan mencium kening Cempaka, lalu beranjak pergi.


Meskipun belum pasti, besok ia akan mengajak Cempaka ke rumah sakit, ia tak mau sok tahu.


Sekitar pukul 7 malam, Tuan, Nyonya dan Pak Didi masuk. Cem yang akan menyambut mertuanya terdiam ketika melihat wajah Pak Didi dan suasana yang tidak mendukung.


Dia berjalan mundur perlahan, tapi tidak sengaja menabrak bi Siti yang berjalan di belakangnya.


"Aduhh, Non kenapa jalan begitu?"


Cem berbalik dengan cepat ingin menutup mulut Bi Siti.


Tapi terlambat, ibu mertuanya mendekati Cem, sementara Tuan Wisnu dan Pak Didi langsung masuk dalam ruang kerja.


"Mah..? hehhehee," tertawa kecil.


"Mah, wajah Pak Didi kenapa?" tanya Cem berbisik.


"Mama juga nggak tahu," balik berbisik.


Cem merasa geli, karena mama mertuanya berbisik di telinganya.


"Reza mana? tumben kamu sendirian?" tanya Nyonya karena kalau di dalam rumah, dua orang itu lengket seperti permen karet.


"Dia ke kota xx beliin martabakku," Cem tersenyum senang.


"Tapi kan itu jauh banget, Cem. Dia pergi sama siapa?"


"Sama pak .... tunggu! Mama juga gak suka aku mau beli martabak? Kenapa sih semua orang?" Cem menghentakkan kakinya dan kembali ke kamarnya.


"Bi Ida, Cem kenapa?" tanya Nyonya pada bi Ida yang kebetulan lewat.


Bi Ida hanya menjawab, "Tuan Reza bikin Non kesal tadi."


Bi Ida juga tidak mau menjawab asal-asalan, mengingat Nyonya yang paling menunggu kehamilan Cem.


Di ruang kerja Tuan Wisnu, Pak Didi yang begitu masuk langsung berlutut.


"Bang, saya minta maaf," panggilan Pak Didi untuk Tuan Wisnu ketika dia benar-benar merasa bersalah.


Hal itu hanya dua kali ia lakukan setelah dia mengabdi di rumah ini.


Pertama, ketika ia remaja dan menghajar teman kelasnya yang membicarakan buruk keluarga Rahadi.


Kedua, saat ini. Mengingat Tuan Wisnu sangat membenci kekerasan dan melihat anaknya sendiri melakukan hal itu tentu saja membuat Didi merasa bersalah.


"Bangun Di, itu bukan salahmu. Itu juga kesalahanku.


Aku adalah ayah kandungnya, meskipun kamu bukan ayahnya, aku tahu kamu mendidiknya agar menjadi yang terbaik untuk keluarga Rahadi," ucap Tuan Wisnu dengan menghela nafas.

__ADS_1


"Apa yang salah? Sejak kapan semuanya berubah arah? Melihat anaknya sampai tega memukul Pak Didi sampai membiru dan berdarah." Batin Tuan Wisnu berkecamuk.


Ia sadar bahwa masih banyak kesalahannya dalam mendidik anaknya.


Setelah anak-anaknya sudah mulai sekolah dan belajar, Tuan Wisnu sudah tidak pernah mendampingi anak-anaknya.


"Pergilah obati wajahmu," ucap Tuan Wisnu sementara pak Didi masih berlutut.


"Apa yang harus aku lakukan? Romi, putra sulung yang dipercayakan oleh Nyonya dan Tuan padaku malah menjadi laki-laki obsesif dan sekarang semakin parah karena aku terlambat menyadarinya." Batin Pak Didi.


"Ku mohon, berdirilah Di. Kamu tahu aku tidak suka ketika kamu melakukan itu." Pak Didi pun berdiri masih menunduk.


"Tuan, masalah sikap obsesif tuan Muda terhadap Nona Cempaka, saya fikir kita harus menanggapinya dengan serius.


Saya mungkin sudah terlalu lalai dan meremehkan Tuan Muda.


Saya mendapat informasi, Nona Anita memiliki kamar sendiri di dalam kamar Tuan Romi. Kemungkinan besar, mereka tidak pernah menghabiskan malam bersama."


Pak Didi ingin melanjutkan, tapi Tuan Wisnu mengusirnya dengan gerakan tangannya.


Dan meletakkan sikunya di meja dan wajahnya di telapak tangannya.


Reza yang kembali kelelahan karena perjalan jauh, total kurang lebih empat jam perjalanan yang ia tempuh demi Cem, demi martabak yang diinginkan Istrinya.


Sekitar pukul 9 malam, Reza tiba mendapati Cem sudah tertidur pulas. Akhirnya ia menyimpannya martabaknya dan ikut tidur bersama Cem.


Keesokan harinya, Cem bahkan tidak menanyakan martabaknya lagi.


Reza yang sudah bangun, tak menemukan Cem di sampingnya. "Sayang? Cem sayang?" Reza bangun, ketika mendengar suara Cem di kamar mandi.


"sayang, baik-baik aja kan?"


"emm,,,uuue..." cem belum sempat menjawab Reza.


Reza yang kebingungan langsung turun ke dapur mencari bi Wati.


"Biii, Cem mual-mual. Apa gak apa-apa? Aku pernah baca kalau itu biasa. Tapi gak ada untuk redain mualnya?" tanya Reza berbisik pada Bi Wati.


"Tergantung, biar bibi siapkan air jahe. Tapi kenapa tuan bisik-bisik?" bi Wati yang menjawab ikut berbisik.


"Jangan ribut dulu, soalnya belum pasti. Biar aku bawa cek dulu, baru kasi tau Mama. Mana minuman jahenya?" bisik Reza.


Reza membawa minuman jahe ke kamarnya melihat Cem duduk bersandar di atas tempat tidur.


"Udah baikan?" duduk di sebelah Cem dan menyodorkan jahe hangat.


"uuugghh, kayaknya kemaren terlalu banyak makan keju sama cokelat deh. Perut aku mual, tapi gak ada yang keluar." Cem meminum jahe hangat.


"Tapi kan biasanya juga Cem makannya banyak."


"jadi maksud Mas aku rakus?" tak ingin menambah masalah Reza cepat mengalihkan pembicaraan.


"Mau ke rumah sakit?" sambil mengambil gelas yang sudah kosong dari tangan Cem.


"nggak, sekarang udah mendingan juga. setelah minum jahe." menggeleng kemudian memeluk Reza dengan posisi favoritnya.


"Maafin Cem yah, sudah buat mas capek beliin martabak ke XX, padahal hari ini juga Mas bakalan sibuk."

__ADS_1


"Gak apa-apa sayang, Mas senang Cem gak sedih lagi. Kemarin HP mas gak sempat di cas. Jadi gak bisa balas sms Cem." Cem mengangguk di dada Reza dan Reza mengelus rambut Cem.


"Oh yah, kemaren aku juga nelpon Kak Romi. Katanya dia udah baikan," ucap Cem.


"Emm, Syukur lah. Mungkin hari ini bakalan ketemu juga di kantor." jawab Reza yang tidak terlalu memusingkannya.


Setelah mengantar kepergian Reza. Cem bertemu dengan Pak Didi.


"Kenapa Nona pergi menemuinya sendiri? Apa yang diinginkan?" tanya pak Didi pada Cem yang sibuk memeperhatikan wajah Pak Didi.


"Saya tidak apa-apa, ini hanya beberapa orang yang marah karena tidak suka dengan saya" Pak Didi memberitahu Cem yang penasaran dengan wajahnya.


"Aku udah rekam pembicaraannya. Sama sekali pembicaraan gak ada yang penting. Dia marah karena aku gak ngertiin Kak Romi dan bilang kalau Kak Romi itu cinta sama Aku.


Lagian itu kan sudah lama. Masih juga di bahas-bahas." Ucap Cem menjawab dan mengoceh.


"ya udah Pak Didi, semoga cepat sembuh deh" pergi meninggalkan Pak Didi.


Hari ini, adalah meeting pertama dengan kontrak yang sudah di teken Reza. Semua orang di Perusahaan menyelamatinya dan ikut senang.


Sepulang kerja, seperti biasa. Cem menyambutnya dengan pelukan.


Setelah membersihkan diri sambil menunggu makan malam, mereka memutuskan untuk bergabung bersama Tuan dan Nyonya di lantai bawah.


Membicarakan berita bahagia Reza. Membicarakan hari-hari kampanye yang melelahkan, bertemu dengan orang yang bermacam-macam. Asyik mengobrol,


"Coba Romi juga sempatin waktu main ke sini," ucap Nyonya.


"iya, mah. Emang dari dulu dia jarang ke sini?" tanya Reza.


"iya, semenjak nikah dia kan pindah rumah. Kalau gak ada yang penting banget, baru dia ke sini." Nyonya menghela nafasnya karena merindukan Romi.


"Mungkin dia juga lagi nikmati waktu sama istrinya," ucap Reza.


Cem yang tau sebagian dari cerita rumah tangga Romi hanya diam dan berhenti mengunyah.


Sementara Tuan Besar, hanya memandang istrinya.


"Bagaimana reaksimu kalau tahu anakmu sedang sakit dan butuh pertolongan?" batin Tuan Wisnu


"a.a.a.ahh" Reza yang tiba-tiba menyuapi Cem potongan buah, Cem membuka mulutnya dan memakannya.


Kedua orangtuanya hanya tersenyum dan geleng-geleng.


"mikirin apa sih?"


"emm? gak ada kok. Aku ke kamar kecil dulu yah?" bisik Cem pada Reza dan meninggalkan


ruangan itu.


"hemm, Mama kangen sama Kak Romi. Tapi kasus Anita aja aku belum tuntas. Pak Didi bakalan kasi tau aku kan kalau memang itu kenyataan kan?" menghela nafas dan stress sendiri.


Tiba-tiba pintu utama terbuka, masuk Anita dengan wajah dan tubuh yang memar. Darah di pelipis dan sudut bibirnya.


"Mbak Anitaaa!!" teriak Cem yang mendekati tubuh Anita yang hampir terjatuh.


*bersambung......

__ADS_1


__ADS_2