Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku

Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku
Penyelamatan


__ADS_3

Setelah mengetahui lokasi Romi. Semua tim menuju lokasi.


Beberapa dokter ikut, karena mengkhawatirkan kondisi Cempaka dan mengendalikan Romi.


Sementara itu, di dalam rumah dekat danau.


Romi masih merasa kesal karena tak ingin disentuh Cem, membanting isi dapur.


Gun melihat Tuan Mudanya meluapkan amarahnya.


Gun sangat tidak suka kalau ada orang yang membuat Tuan mudanya marah.


Dia pun masuk ke kamar di mana Cempaka berada.


Cem yang tadi duduk di atas tempat tidur, berdiri setelah melihat kedatangan Gun.


"Gun, apa Kak Rom..."


belum selesei bicara, tamparan mendarat di pipi Cempaka.


"Apa yang kamu lakukan?" teriak Cem pada Gun. Saat sudah mengangkat tangannya ingin membalas Gun, Romi masuk ke dalam ruangan.


Romi melihat pipi Cempaka yang merah dan lebam. Dia melihat ke arah Gun.


"Apa yang kamu lakukan pada istriku?" teriak Romi.


Cem kaget, entah itu karena teriakan Romi atau fakta Romi menyebutnya sebagai istri.


"kenapa aku bisa di tengah-tengah orang gila ini?" batin Cem menangis.


"Saya tidak suka pada orang yang membuat Tuan Romi kecewa, marah atau sedih," jawab Gun.


Romi langsung menghajar wajah Gun. Dia langsung terjatuh ke lantai.


"Berdiri!!" teriak Romi.


Gun pun berdiri pada posisi semula. Romi kembali memukulnya.


Cem yang ngeri melihat adegan ini berteriak menyuruh Romi berhenti.


"Kak Romi, hentikan!!"


Andai tak mengingat kemungkinan hamil. Ia akan mengambil kesempatan ini untuk kabur.


Tapi Romi tak berhenti. Gun sudah babak belur. Darah mengalir dari sudut bibir dan matanya yang bengkak.


Cempaka akhirnya duduk meringkuk dan menutup matanya tak ingin melihat adegan di depannya.


Ia pun merasa mual dan berlari ke kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi.


Ia tidak mendengar suara lagi dari kamar tadi.


Ia mengintip, Romi duduk di atas tempat tidur dan Gun berlutut di depannya. Mereka berdua kelihatan sama-sama lelah.


"ini kesempatanku untuk kabur. Tidak, aku berjanji membawa Kak Romi kembali!" Cem menggelengkan kepalanya.


"Katakan Gun, bahwa apa yang aku lakukan adalah kesalahan?"

__ADS_1


"Tidak Tuan. Anda tidak melakukan kesalahan."


"Apa aku salah karena menginginkan wanita yang kucintai bersamaku? Dia juga mencintaiku kan?"


"Apa ini? apa mereka sedang berusaha membohongi dan membuat ilusi mereka sendiri?"


"Aku akan ikutan gila mendengar mereka berdua" akhirnya Cem memutuskan untuk ke dapur membuat teh jahe.


Karena tidak menemukan jahe dia hanya meminum Teh. Dia sudah tidak perduli apa yang dua orang gila itu bicarakan.


Karena dia sudah cukup stress tidak tau bagaimana cara menghubungi suaminya. Terdengar kejam memang,


Tapi dia juga lelah, emosinya sudah habis terkuras.


Ingin membujuk Romi untuk kembali itu juga percuma.


Cem tiba-tiba mendengar bunyi dari luar.


Dia mengintip keluar jendela.


Melihat ada beberapa orang yang mengendap.


"Mas Reza? pasti ada Mas Reza di sana." Cem kemudian berlari ke arah pintu, tapi terkunci.


"Kamu mau ke mana?" Cem terkaget mendengar suara Romi.


"a..aku mau lihat-lihat luar. Aku mau melihat danau dari dekat. Apa gak apa-apa?" tanya Cem gugup.


"Makanlah dulu, kamu belum makan sejak kemarin." Romi melihat dapur yang berantakan.


"Sepertinya aku harus mengendalikan amarahku."


Gun keluar dari kamar dan membantu Romi. Sementara Cem hanya melihat kedua orang itu dan sesekali mengintip keluar jendela.


"Sementara Kak Romi membereskan itu. Apa aku boleh tidur di kamar dulu?" Cem melangkah ke kamar dan menutup pintu tapi di cegah Romi.


"Tidak usah menutup pintunya. Biar kakak gampang mengecekmu."


"emm? mengecek apa?"


Lagi Romi menutup mata dan menghisap nafas dalam-dalam.


"Aku hanya sedikit stress Cem, aku tidak bodoh. Bahkan dalam tidurmu kamu hanya menyebutkan namanya Reza, Reza dan Reza!" berteriak sambil memukul meja makan di hadapannya.


Cem yang ketakutan, reflek kakinya berjalan mundur. Romi yang melihatnya langsung meminta maaf.


"Maafkan Kak Romi, Cem!" saat Romi melangkah maju, dia langsung menutup dan mengunci pintu.


"Cem, buka pintunya. Cem!!" Romi memukul pintu itu dengan kuat.


Instingnya mengatakan untuk lari. Dia melihat Romi yang coba menenangkan dirinya tapi tidak berhasil. Bisa-bisa dia jadi target amukan Romi selanjutnya.


Ia aangat ketakutan.


Ia berjalan ke jendela dalam kamar tapi terkunci. Dia mengambil kursi kayu dan memecahkan jendelanya. Sementara Romi yang berada di pintu mulai menendang pintu sekeras-kerasnya.


Cempaka berlari keluar melewati jendela, tubuhnya terluka terkena pecahan kaca tapi kemudian ia melihat seseorang dari kejauhan di hadapannya.

__ADS_1


Ia berlari sekencang-kencangnya, begitu juga orang di depannya


Ketika Ia melihat belakang Romi berdiri di depan jendela yang pecah, melihat Cempaka pergi.


Air matanya mengalir, "aku hanya menginginkan satu hal benar-benar jadi milikku, itu juga kau rebut," ucap Romi pada Reza dari kejauhan. Tapi kata-katanya didengar Gun.


Cem terus berlari, tak lama kemudian orang yang di depannya juga meraih Cem. Dan orang itu tak lain adalah Reza .


Kemudian Cempaka menangis di pelukan Reza dengan keras dan memeluk suaminya itu dengan erat.


Cempaka merasa sangat ketakutan. Ia sangat takut tidak dapat lagi bertemu dengan Reza, Ia sangat takut bahwa ia tidak bisa kembali bersama mertuanya.


Rumah di danau itu sudah terkepung sehingga Romi dan Gun tidak mempunyai jalan keluar lain. Romi meronta-ronta meneriaki nama Cem.


Romi bahkan sampai menangis melihat Cem yang sudah berada di pelukan Reza.


"Cem! Kakak disini Cem!..Cem!!" Romi akhirnya diberikan obat penenang.


Sementara itu Gun yang masih berusaha di kejar oleh petugas berlari ke kamar. Dari jendela ia bisa melihat wanita yang telah menghianati tuannya. Dan laki-laki yang tidak tahu malu mengambil kekasih Tuannya.


Ia menodongkan pistol ke arah Reza dan Cempaka.


Tapi sasarannya adalah Reza, karena jika Reza sudah tiada, maka Cempaka tidak punya tempat untuk kembali selain tuannya.


Karena orang yang tiba-tiba datang dari belakangnya, dia terkejut.


Tembakannya malah mengenai bahu kiri Cempaka.


"haaaa, aaaaaahhh..." Cem yang kesakitan meremas badan Reza.


"Cem...Cem..!!" dokter langsung datang memeriksa luka temba Cempaka.


Dan mereka pun langsung di bawa ke rumah sakit terdekat. Cem kehilangan banyak darah. Hingga akhirnya di operasi.


Dan mau tidak mau mereka harus melaporkan pada pihak yang berwajib.


Reza yang khawatir, mondar mandir di depan ruang operasi.


"Semoga Cem tidak apa-apa? dan kalau memang bayinya sudah ada, semoga dia juga terlindungi." pinta Reza dalam hati


Melihat dokter keluar, Reza langsung membanjiri dokter itu dengan pertanyaan


"Dokter, apa istri saya baik-baik saja?


bagaimana dengan janinnya,


apakah dia hamil?


Jika iya bagaimana keadaan bayi kami?


Apa lukanya tidak akan mempengaruhi peekembangan bayi?"


"Diaaaaammm" teriak Dokter itu, yang sedang lelah karena baru keluar dari ruangan operasi.


"Maafkan saya. Tolong beri saya ruang lebih dulu. Setelah itu, saya akan memanggil keluarganya." Ucap dokter itu lebih tenang.


Reza pum berjalan mengikuti dokter itu.

__ADS_1


*bersambung......


__ADS_2