
Dua jam berlalu sejak sementara Mirna masih belum membalas SMS terakhirnya. Yudi mendengus, masa gadis itu sebegitu gusarnya atas pertanyaannya? Hanya gara-gara dia ingin tahu apa kuyang itu...hanya saja yang terpancar di wajah Mirna tadi lebih tepat disebut kengerian...dan reaksi Mirna, yang baru pertama kali dilihatnya, menarik perhatian pemuda itu. Mirna bereaksi keras begitu nama kuyang disebut, sama halnya dengan si pria tua yang bicara dengan Wayan.
Kalau lelaki tua itu begitu ketakutan hingga jadi sibuk bicara sendiri, Mirna sebaliknya bungkam seribu bahasa. Ada sesuatu mengenai kuyang yang bikin orang-orang yang sudah tinggal lama di kota ini enggan membicarakannya.
Rasa ingin tahu membuat Yudi akhirnya mencari tahu lewat internet, jadi setelah menyelesaikan pekerjaan di lapangan Yudi meluangkan waktu beberapa jam untuk kembali ke ruang kerjanya. Diketiknya kata ’kuyang’ di search engine sebelum kemudian muncul sejumlah tautan yang berhubungan dengan kata pencarian yang diketik. Nampaknya ini akan memakan waktu yang cukup lama, pemuda itu menyulut rokok, tidak lupa beserta asbak tentunya, sebagai doping agar dirinya bisa berkonsentrasi membaca semua laman yang tersedia. Diunduhnya beberapa laman sampai akhirnya mendapatkan salah satu yang memberi penjelasan cukup panjang,
Kuyang...
Diyakini masyarakat dayak sebagai ilmu mencari kecantikan serta mempertahankan kemudaan. Wanita yang ingin cantik dan tetap muda menjual dirinya kepada iblis untuk mendapatkan kesaktian ini, sebagai syaratnya sang penganut ilmu harus memakan janin dan darah menstruasi wanita. Kuyang melakukan ritual memakan janin dalam periode bulanan yang cukup rutin, kebanyakan terjadi pada bulan purnama.
Dalam melakukan aksinya kuyang dapat mewujudkan dirinya sebagai binatang, kucing hitam merupakan wujud yang paling sering dipilih, selain kelelawar, sementara bentuk lain adalah wujud kepala tanpa badan dimana seluruh isi perut ikut keluar dan terbang dengannya...
Kucing hitam...
Yudi teringat cerita Rick Felds tentang munculnya kucing dalam kamar dan bagaimana istrinya tertindih kucing hitam sebelum pasangan itu kehilangan bayi mereka...bisa jadi ucapan pria tua itu benar adanya...ini semua ada hubungannya dengan kuyang...
Dalam beberapa kasus serangan kuyang di kampung-kampung, wanita yang hamil terjangkiti oleh semacam penyakit aneh selama masa kehamilan. Sebelum mengambil bayi dari korbannya, kuyang harus lebih dulu mengelus perut korban atau memberikan semacam ramuan yang akan membuat korban teracuni dan janinnya dapat dikeluarkan dengan mudah. Karena itu perlu diwaspadai bila ada orang asing memberikan minuman aneh.
Selain itu untuk melindungi ibu hamil agar tidak menjadi korban kuyang sebelum melahirkan, rumah-rumah di Kalimantan sering dibangun pagar berupa dahan berduri di sekitar rumah. Pagar duri ini diyakini dapat mencegah kuyang agar tidak masuk ke dalam rumah karena kuyang takut jika bagian dalam tubuhnya yang menggantung di udara sampai menyangkut atau tertusuk benda-benda runcing ketika melewatinya.
Ketika mengeluarkan bayi dari dalam perut wanita hamil, kuyang menggunakan lidah yang bisa memanjang menyerupai belalai hingga dapat mencapai janin atau plasenta dalam rahim. Belalai ini begitu kuat sehingga bisa menangkap janin dan setelah itu menggunakan giginya yang tajam untuk memakan sang jabang bayi.
__ADS_1
Itu menjelaskan cerita Felds kenapa sosok wanita misterius yang masuk ke kamar mereka mengambil posisi memasuki kedua kaki Stella. Perutnya yang turun sebagai efek saat bayinya ditarik keluar. Berarti mereka benar benar kedatangan makluk gaib ini di malam yang naas itu. Semuanya cocok. Cocok tapi sungguh tidak masuk akal dan gila. Mustahil melapor ke polisi tentang hal-hal macam ini...apalagi...makluk itu penampakannya sungguh sungguh tak masuk akal...
Web itu menampilkan pula beberapa foto yang menggambarkan penampakan kuyang dalam wujud tanpa tubuh. Potongan kepala dengan rambut panjang dan bibir yang bertaring saja sudah mengerikan, ditambah lagi tampilan anggota dalam tubuhnya macam usus atau jantung yang menggantung begitu rupa, tentu bukan sesuatu yang ingin ditemuinya di malam hari tentunya.
Bila sekedar membaca artikel di web tentunya tidak ada artinya baginya, lain halnya ketika sudah mendengarnya lebih dulu dan melihat dengan mata kepala sendiri perbuatan makluk ini kepada orang yang dikenalnya. Tanpa sadar Yudi mengambil batang rokok yang ketiga dan menyalakannya. Dia terlonjak hebat, nyaris berteriak, mendengar telepon yang tiba-tiba berdering.
”Sial!” Yudi merutuk kesal kemudian mengangkat gagang telepon.
”Halo...A’a?”
Dia segera mengenali suara itu, ”Hey, Sis...kok nelepon kemari?”
”Oh, gitu?” Yudi menyahut lalu menambahkan dalam hati. ”Dan keputusanmu nelepon kemari bikin aku nyaris mati gara-gara kaget...” dia berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar-debar, sementara melanjutkan ucapannya di telepon. ”Iya belum bisa telepon, lagi banyak kerjaan.”
***
Si tua Seto mengendarai vespanya dengan ekspresi kesal. Dia tidak mengerti kenapa situasi sekacau ini dibiarkan begitu saja. Berapa banyak lagi korban yang harus jatuh hanya demi membuktikan bahwa makhluk jahanam yang mereka buru memang cewek itu. Dia tidak butuh bukti lebih banyak lagi...yang mereka miliki sebenarnya cukup... entah kenapa Wayan justru memilih strategi yang memakan waktu sedemikian panjang.
Biar saja, dia sudah memutuskan untuk beraksi sendirian. Pokoknya malam ini dia akan membunuh makhluk itu sebelum melakukan aksi mengerikannya lagi. Bulan purnama belum juga surut...dan tentunya makhluk itu belum sedemikian kenyang meskipun dia sudah memangsa bayi pasangan Felds malam kemarin.
Kendaraan roda dua yang ditunggangi pria tua itu melintasi jalanan penuh kabut. Untungnya tidak banyak kendaraan berkeliaran di malam itu. Meskipun tergolong kota sibuk, Bontang bukanlah kota yang padat dengan orang-orang malam. Kesibukan memang menggila di siang hari ketika pelaku industri mengeruk tambang-tambang batu bara atau memotongi pohon serta kayu di sekitar sini namun selepas magrib kebanyakan orang memilih segera beristirahat di rumah. Situasi sepi macam itu tentunya juga dialami di daerah-daerah pinggiran yang merupakan perbatasan kota dengan hutan seperti yang dijelajahinya sekarang.
__ADS_1
Derum vespa yang berat, dengan sesekali ditimpali bunyi batuk-batuk mesin yang mirip tercekik bensin, mengikuti laju vespa yang membelok ke kiri dari persimpangan di depan. Rute yang dipilih itu membawa Seto ke suatu tempat yang semakin dihuni pohon-pohon tinggi dan besar di kiri dan kanan sebelum akhirnya jalan setapak itu berakhir di sebuah kuldesak yang penuh lumpur.
Lumpur yang memenuhi kuldesak menunjukkan tempat itu sepertinya penuh dengan kesibukan di siang hari tapi bagi mata ahli seperti Seto hal itu justru merupakan pemandangan aneh, mengingat area kuldesak yang tidak begitu lebar membuatnya mustahil dijadikan tempat perputaran truk, bahkan truk berukuran kecil sekalipun.
Diambilnya tas kulit dari sadel belakang vespa, tas yang berisi peralatan yang akan membantunya mengusir makluk jahanam tersebut. Dikeluarkannya senter dari tas dan dinyalakannya sebelum menerobos ke semak-semak yang tumbuh di ujung kuldesak.
Pria tua itu mengangguk senang begitu menemukan benang merah yang dipasang di malam sebelumnya. Tak terusiknya kondisi benang memberi petunjuk kuat bahwa tak seorang manusia pun yang pernah menjelajahi tempat ini selain dirinya dan Wayan. Dengan sorotan senter dia mulai berjalan mengikuti panduan benang merah menuju ke tempat dimana mereka memergoki makluk itu terakhir kali.
Meskipun tidak berjalan terburu-buru namun desah nafasnya setelah berjalan sekitar sepuluh menit mulai tersengal. Umur memang tidak bohong. Hanya semangat di dalam dadanya saja yang membuat si tua Seto terus melangkah masuk ke dalam hutan.
Sesekali dia berhenti dan berdiam diri saat mendengar bunyi ranting patah atau desau samar yang tidak biasa, setelah memastikan bahwa bukan makluk tak wajar yang mengintai di sekeliling dia lantas kembali melangkah. Sejak bertemu dengan luwak iseng yang lari melintas diantara akar-akar lima menit lalu Seto tak mendapati lagi bebunyian aneh, yang menghiasi suasana hutan saat ini hanya gongongan anjing yang berasal dari kampung sebelah.
Kampung terdekat dari hutan ini berjarak kurang lebih tiga kilometer dan bukan kampung besar sehingga hanya dihuni beberapa penduduk berusia lanjut yang bekerja sebagai pencari kayu bakar. Seto dan Wayan sudah memeriksa kampung itu bulan lalu untuk memastikan makhluk yang mereka buru tidak tinggal disana, dan keduanya berpendapat bahwa kampung itu aman.
Benang merah yang memandunya belum berakhir ketika sesosok manusia mengenakan pakaian berupa jubah panjang hingga menutupi kepala dan kaki tiba-tiba muncul dari balik rimbunan semak di sisi kirinya. Seto tercekat, buru-buru dia menyusup ke semak-semak terdekat dan mengintai dari balik dedaunan. Sosok itu spontan berhenti begitu mendengar bunyi keresek yang ditimbulkan Seto saat menyeruak masuk ke semak. Dia mengarahkan obor di tangannya dan menatap dengan seksama semak-semak dimana pria tua itu berada, di pihak lain Seto berkomat-kamit karena berharap sosok itu tidak terlalu curiga.
Sayangnya, sosok berjubah seram itu tidak begitu saja percaya, malah melangkah mendekat hingga Seto pun beringsut lebih jauh dengan cemas. Api obor yang membara makin menerangi keadaan di sekeliling semak dimana Seto bersembunyi seiring mendekatnya sosok berjubah itu. Di satu sisi Seto ingin menguakkan semak agar dapat melihat rupa sosok aneh itu lebih dekat, di pihak lain hal itu tidak akan menguntungkan dirinya karena bila sosok itu sadar dirinya dibuntuti maka kesempatannya membunuh makluk itu malam ini akan lenyap.
Sosok berjubah itu tak mendapati siapapun setelah menyingkirkan segerombalan daun yang menumpuk diantara semak. Penasaran, dia kembali menyingkirkan dedaunan semak di sebelahnya tapi tidak menemukan apa-apa di sana. Diarahkannya obornya menerangi ruang di balik semak dan mengangguk puas beberapa saat kemudian. Seto, yang telah berpindah ke semak-semak yang berada dua meter dari persembunyiannya yang pertama, bernafas lega mendengar langkah sosok berjubah itu menjauh.
***
__ADS_1