KUYANG

KUYANG
Episode 22


__ADS_3

Panggung berbentuk lingkaran di tengah tenda itu penuh hiasan dengan kombinasi warna cerah disertai lampu sorot warna-warni. Empat tiang besar yang berdiri di sisi luar titik berat panggung dicat dengan pola bergaris merah-putih dan menjadi jaring pengaman dari pemain trapeze yang tengah berayun-ayun ringan. Di sisi utara terdapat gerbang yang menjadi pintu masuk para pemain sirkus dan gerbang itu ditutupi dengan tirai beludru merah muda. Di atas pintu masuk itu dibangun sebuah balkon dimana para pemain orkestra yang mengiringi pertunjukan berada. Mereka mengenakan pakaian berupa jas lengkap berwarna cerah dengan paduan dasi kupu-kupu yang lucu. Bau permen dan gulali menghiasi udara tenda. Musik dimainkan sementara menunggu para artis sirkus bersiap-siap.


Bila kondisi arena begitu mewah, lain halnya dengan yang ada di sisi penonton. Arena berbentuk lingkaran itu dikelilingi bangku besi yang sudah berkarat disana-sini dan berbentuk spiral menyerupai komidi putar yang makin meninggi dari satu deret ke deret di belakangnya. Lampu teplok yang terpancang di tiang penyangga tenda tak mampu menerangi sudut sempit. Siluet kepala-kepala penonton dari balik bangku menunjukkan betapa penuhnya tempat itu saat ini. Kelihatannya tak ada bangku tersisa. Tak heran rumah-rumah di desa ini sepi, rupanya seluruh penduduk desa sedang menonton di tempat ini.


Pertunjukan awal baru dimulai ketika keduanya mendapatkan kursi yang masih kosong dan duduk disana. Penonton bertepuk-tangan saat seorang badut dengan empat bola di tangan melakukan jugling di tengah arena sambil memamerkan gerakan lucu yang memancing tawa.


Yudi memandang sekeliling dengan rasa dejavu, pemandangan ini tidak asing...suasana sirkus ini mirip dengan yang diingatnya semasa kecil...masa dimana seorang pria bernama Santo Wahono, pernah menjadi ayahnya dan memberikan kehangatan yang didambakan setiap anak laki-laki dari sang ’pria besar’ pujaan mereka. Masa yang lampau sekali, jauh sebelum pria itu pergi meninggalkan ibunya demi wanita lain.


Meski samar diingatnya beberapa adegan yang dihiasi kecapan gulali merah muda yang manis, pelukan, tepukan, lalu tawa Santo yang heboh setiap badut melakukan kelucuan yang waktu itu sama sekali belum Yudi mengerti dimana letak kelucuannya. Sesuatu yang patut dikenang, sekaligus menyakitkan, karena itulah masa manis dimana dia pernah merasakan punya ayah.


Tawa penonton menyadarkannya, khususnya tawa kecil yang khas di sebelahnya, yang membuatnya mau tak mau tersenyum geli dan menoleh. Pandangan Mirna tak lepas dari si badut yang sibuk membanyol, juga pada rombongan akrobat sepeda yang memamerkan aksinya berupa berbagai formasi dan bersalto. Gadis itu terlihat begitu bahagia dengan tawanya yang lepas. Saat itu Mirna menyadari pandangan Yudi kepadanya, bukan pada pertunjukan di arena, ”Kenapa? Mereka kelihatan hebat, bukan?”


”Ya! Menakjubkan.”


”Tunggu sampai kamu lihat atraksi puncaknya.”


”Memangnya apa atraksi puncaknya?”

__ADS_1


”Gajah...dan sangat banyak gajah yang terlibat...”


Gadis itu bertepuk tangan kegirangan ketika tiba saatnya atraksi puncak, tujuh ekor hewan seberat lima ratus kilogram masuk ke arena diiringi musik berdentam. Gerakan mereka yang lambat, penuh perhitungan, dan mantap bikin Mirna terpesona. Diremasnya lengan Yudi saat barisan gajah mendekati bangku mereka. Tepuk tangan bergemuruh saat sang pelatih hewan masuk ke dalam arena.


Pelatih para gajah itu seorang pria berperawakan sedang mengenakan seragam ketat warna mencolok dengan membawa cemeti di tangan. Setiap benda itu melecut para gajah melakukan berbagai atraksi mulai dari duduk, bermain bola, berdiri diatas kaki belakang, melambai dengan belalai, dan berbaris. Bunyi yang berbeda dari setiap ayunan cemeti menjadi tanda bagi hewan raksasa itu untuk melakukan apa yang diinginkan sang pelatih.


”Hebat, ya...” desis Mirna diiringi tepuk tangan penonton yang kerap terdengar setiap kali hewan-hewan itu berhasil melakukan aksinya.


”Ya..” balas Yudi. ”Itulah tugasnya pelatih, bukan?”


”Kamu tak ingin tahu bagaimana rasanya berdiri dikelilingi hewan-hewan besar yang siap menginjak-injakmu jika kamu lengah?” tanya Mirna.


”Itu sih pasti,” Mirna ketawa sembari menepuk lengan lelaki di sebelahnya.


”Temani aku yuk...” Mirna menggandeng Yudi.


Yudi tergagap, ”Eh...oh..kemana?”

__ADS_1


”Kamu nggak lihat pelatih gajah itu memanggil kita?”


Yudi melihat ke tengah arena, sang pelatih menunjuk dirinya dan Mirna sebelum kemudian melambai sebagai tanda agar mereka masuk ke gelanggang. Tepuk tangan penonton bergelora, memberi dukungan keduanya buat maju dan menerima tantangan pelatih gajah tersebut. Dengan kikuk Yudi mengikuti Mirna ke arena. Orkestra memainkan lagu dalam tempo lincah sementara suara lantang moderator sirkus mengulang kalimat ”cepat” dan ”lari” yang saling bersusulan.  Lampu arena menyoroti begitu keduanya berdiri di panggung, menjadikan bintang dadakan yang tak mengira kesempatan ini terjadi pada mereka sebagai sorotan utama. Diiringi tepukan senang penonton karena mereka memberi respon sesuai yang diharapkan.


Sang pelatih gajah memiliki pipi tembam dengan mata sipit dan dagu tercukur rapih. Meski wajahnya menyunggingkan senyum tapi Yudi tahu senyum itu jenis senyum pertunjukan yang akan hilang begitu kamu ngobrol dengannya di luar panggung. Telinga caplangnya, yang merupakan anggota tubuh yang membuatnya serupa dengan hewan peliharaannya, menjuntai dari balik rambutnya yang tergerai sebahu.


”Rupanya penonton disini begitu antusias sehingga kedua-duanya turun ke panggung,” pelatih itu berkata lantang diikuti tawa penonton. Si pelatih sebenarnya hanya mengundang satu orang tapi dengan kepolosannya Mirna membawa Yudi serta dengan menggandengnya. ”Jadi bagaimana? Siapa diantara kalian yang mau mengikuti tantangannya?”


Yudi mengangkat tangan Mirna. Gadis itu terkejut tapi tak sempat membantah karena penonton keburu berteriak dan bertepuk tangan, diam-diam dicubitnya lengan Yudi hingga pemuda itu meringis. Sang pelatih tersenyum lebar lalu menggandeng Mirna ke tengah arena, ”Jadi pilihlah gajahmu nona cantik.”


”Memangnya apa yang harus aku lakukan?”


”Pilih dulu gajahnya dan aku akan memberitahu.”


Mirna menunjuk gajah ketiga saat Yudi mengedik ke arahnya. Sang pelatih menghampiri gajah pilihan Mirna, ”Dia memilih Sari, si bungsu dari keluarga gajah. Pilihan yang tepat karena Sari sangat penyayang dan sabar. Beri tepuk tangan buat Sari dan nona cantik ini.”


Kembali tepuk tangan terdengar sementara Mirna melirik Yudi dengan pandangan jenaka, memberi isyarat bahwa Yudilah yang harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu dengannya. Kejadian berikutnya berlangsung cepat, bahkan sebelum Yudi sempat menjauh ke tempat aman, sang gajah menjulurkan belalainya ke pinggang Mirna lalu dengan satu sentakan kuat si gajah mengangkat gadis itu sebelum memondongnya ke atas ke leher sang hewan.

__ADS_1


Penonton bertepuk tangan riuh diiringi musik yang bertalu gembira saat Mirna dan sang gajah mengelilingi arena. Gadis itu cepat menguasai diri, dari yang tadinya berpegangan erat karena ngeri terjatuh berubah jadi tawa gembira dan melambaikan tangan ke arah penonton. Hati Yudi berdesir saat lampu sorot memancar ke wajah Mirna yang bersinar-sinar gembira. Dia benar-benar bidadari...


***


__ADS_2