
Mirna meletakan jari telunjuknya di bibir Yudi, ”Sssh, aku nggak minta yang seperti itu.”
Sepasang mata coklat Mirna yang ternyata berpendar dalam kemilau sejernih kristal menenggelamkan Yudi ke dalam riak-riak gelombang yang menyejukan dan memberi rasa aman dimana riak itu kemudian memupus rasa bersalah dalam dirinya bagai sebuah noda yang dicuci oleh busa yang lembut. Hilang sudah rasa galau, sekujur gelisahnya, yang diinginkannya saat ini adalah menatap mata itu selama mungkin untuk mengeruk rasa nyaman yang diberikannya, ”Ah, seandainya aku bisa, Mir...”
Mirna bergumam lembut, nyaris seperti bisikan, ”Kamu bisa mencoba...”
Bisikan itu menggelitik gendang telinga Yudi dan membangkitkan sebuah rasa aneh yang semula menggelitik seluruh tubuhnya dengan gerakan samar yang suram. Rasa menggelitik itu menjalar di punggungnya lalu merambat ke tiap sel dan pembuluh darahnya. Sensasi nyatanya memudar seiring matanya yang semakin kabur oleh kenyamanan gelombang rasa aman yang mengundang dari tatapan Mirna, saat itu Yudi mencium wangi tubuh Mirna yang mengurungnya dalam kenikmatan memabukan dari perpaduan wangi melati dan rempah-rempah. Rasa aneh yang menjalari tubuhnya mulai menguasai dirinya sepenuhnya dan memicu gambaran indah yang bersliweran di kepalanya.
”Apa yang...”
Diantara gambaran aneh sekaligus menyenangkan itu dia mendapati rasa dalam tubuhnya mendorongnya mencondongkan diri ke depan. Bibirnya meraup bibir Mirna, yang sama sekali tidak ditolak oleh gadis itu.Mendapati kepasrahan Mirna kekuatan itu makin melenakan Yudi hingga dia makin berani melakukan yang lebih dari mencium. Yudi memeluk tubuh Mirna. Kebuasan penuh nafsu disertai kegelisahan untuk segera melakukan sesuatu, menjadikan Mirna yang telah dibaringkannya di ranjang menjadi sebuah pemandangan indah yang menunggu letupan akhirnya yang dahsyat.
Jantung Yudi berdetak kencang ! Mirna sungguh luar biasa...
Pemandangan yang terhampar nakal sewaktu Mirna keluar dari kamar mandi kini bukan lagi sekedar ilusi, dia memang bisa melihat tubuh molek gadis itu di balik pakaiannya yang kedodoran.... sementara itu hujan diluar terus menyirami bumi... berusaha membuatnya bangun tetapi ternyata malah semakin terlena dalam buaian nikmat...
Satu hal yang diingatnya ketika terjaga...sakit kepala yang luar biasa...rasa nyeri itu membuat Yudi terpaksa menutup kelopak matanya dan memegangi kepalanya selama berlangsungnya proses menyakitkan itu. Cukup lama dia harus menunggu sampai dirinya mampu bangun dan mengatur nafas yang terengah. Samar-samar diingatnya bahwa dia dan Mirna melakukan sesuatu bersama tadi malam namun gadis itu tak lagi ada di ranjangnya.
Mungkin yang ada di ingatannya yang samar itu hanya mimpi,sayangnya kardus kue yang berisi kue yang tersisa sepertiga bagian di atas meja menjadi bukti bahwa Mirna memang ada di kamarnya tadi malam. Ditambah lagi ransel gendut berisi barang-barang yang baru dikemasnya untuk menemani pulang ke Jakarta.
Astaga,pulang ke Jakarta!!!
Yudi langsung meloncat dari ranjangnya dan meraih arlojinya. Dia kaget bukan main mendapati waktu menunjukan pukul dua belas siang. Bagaimana dia bisa tidur begitu lama?
Waktunya tinggal dua jam lagi dan ketika menghubungi mobil penjemput, sang pemilik kendaraan malah mendampratnya karena dia sudah menjemput Yudi beberapa jam lalu namun tidak ada seorang pun yang keluar untuk mengonfirmasi pesanan sehingga kendaraan yang disewanya pulang dengan sia-sia. Sang pemilik kendaraan menambahkan, ”Saya juga tidak bisa menyediakan lagi buat bapak. Mobilnya sudah saya sewakan ke orang lain karena tidak ada berita dari bapak.”
Lupakan jalan darat. Yang harus dilakukannya saat ini adalah naik pesawat udara ke Balikpapan dari kota kecil ini, dan itu hanya bisa dilakukannya bila dia ke bandara Marudi sesegera mungkin, memesan tiket pesawat, dan berharap jam keberangkatan pesawatnya tidak terlambat. Apapun itu harus dicoba sebab dia sudah memesan tiket pulang ke Jakarta hari ini dan dia tidak ingin itu terbuang sia-sia.
Supir yang membawanya ke bandara Marudi ngebut gila-gilaan, itu membuatnya bisa tiba di bandara kecil itu hanya dalam waktu setengah jam. Pesawat baling-baling yang akan mengantarnya ke Balikpapan pun sudah menunggu dengan mesin baling-baling sudah dinyalakan, seolah kendaraan itu merupakan pesawat pribadi yang khusus dipesan untuk Yudi, yang merupakan pengalaman yang tidak ingin diulanginya kalau memungkinkan.
Bila tidak terpaksa seperti ini, Yudi sebenarnya benci pergi ke Balikpapan menggunakan jalan udara dari Bontang. Meski penerbangannya hanya butuh satu jam tetapi guncangan dan tubulensinya yang kerap membuat perut mual menjadi penghalang buat Yudi meletakannya sebagai sarana transportasi pilihan pertama. Dia lebih suka menggunakan jalan darat yang relatif lebih tenang walau jalannya berkelok dan butuh lima jam antara kedua kota tersebut.
__ADS_1
Begitu pesawat mendarat di Balikpapan Yudi langsung menghampiri meja boarding tetapi wanita gemuk yang melayaninya menggelengkan kepala, ”Maaf, pak! Pesawatnya baru saja berangkat.”
”Lho, bukannya disini dijadwalkan jam dua?” Yudi mulai naik darah.
”Memang. Dan sekarang sudah jam dua kurang lima menit. Mustahil kami memanggil lagi pesawat yang sudah dalam posisi take-off.”
”Tolonglah! Saya harus berangkat hari ini juga...”
”Mungkin anda bisa bicara dengan bagian penjadwalan untuk penerbangan berikutnya atau memesan tiket baru...”
”Yang pasti saya tidak berminat mengeluarkan uang lagi..” Yudi melotot sebelum kemudian menghampiri counter penjadwalan yang dibatasi kaca.
Seorang wanita yang mengenakan seragam yang mirip dengan wanita gemuk di meja boarding sedang duduk didalamnya, menyadari ada orang mendekat dia menyapa ramah, ”Ada yang bisa saya bantu ?”
”Iya, tolong dibantu. Saya terlambat hanya lima menit buat boarding, padahal saya harus terbang hari ini juga..” Yudi menunjukan tiketnya.
Wajah gadis itu segera berubah, ”Lima menit itu bukan hanya, pak! Boarding itu harus satu jam sebelumnya.”
”Sayang sekali mendengarnya, pak! Tapi karena jadwal penerbangan ke Jakarta tinggal nanti malam, bapak bisa memesannya sekarang dengan charge tambahan,” kata wanta itu dengan entengnya lalu menyebut harga yang harus dibayar Yudi semisal dia ingin memesan tiket penerbangan malam ini. Jumlah yang membuat Yudi melotot, gadis penjual tiket tolol itu sepertinya uang bukan masalah bagi Yudi. ”Atau kalau bapak bersedia menunggu, kami bisa menukarnya dengan gratis untuk penerbangan lusa karena kebetulan baru saja ada yang melakukan cancel order, jadi bapak bisa menempati kursinya.”
”Besok lusa? Itu dua hari lagi,” Yudi menyahut dengan nada tinggi. Itu berart dia hanya tinggal punya sisa waktu cuti sehari. Percuma menunggu selama itu. ”Saya beli tiket buat nanti malam saja, bisa?”
”Bisa,” gadis itu menjawab cepat.
Yudi baru saja hendak mengeluarkan kartu dari dompetnya saat teringat kartu kreditnya patah dan sedang diurus ke bank minggu lalu. Kartu penggantinya belum sempat diambil karena dirinya sibuk mempersiapkan berbagai hal terkait rencana pernikahannya dengan Siska. Menggunakan kartu debit juga tidak mungkin karena pertengahan bulan seperti sekarang jumlahnya tidak mencukup membayar sejumlah yang disebutkan si gadis penjaga counter tiket. Dengan senyum kikuk dia berkata pada sang gadis penjaga yang masih menunggu dengan senyum ramahnya,”Kebetulan saya tak punya uang sebanyak itu. Bagaimana kalau saya undur saja keberangkatannya?”
”Itu juga tidak masalah...”
”Jadi kapan keberangkatannya?”
”Keberangkatan dua hari lagi. Jam sepuluh pagi,” gadis itu menambahkan setelah menyerahkan kertas booking kepada Yudi. ”Jangan terlambat lagi ya, pak!”
__ADS_1
Bagi Yudi yang terpenting sekarang adalah mengamankan tiket lebih dulu, soal apa yang akan dikatakannya bila dia terlambat pulang ke Bontang itu jadi urusan nanti. Dia bisa mencari alasan yang masuk akal, misalnya ayahnya jadi meninggal dan upacara perkabungan membuatnya tertahan cukup lama di Jakarta.
Dia lalu menelpon Siska untuk memberitahu bahwa ada masalah dengan perusahaan penerbangan yang dipesannya, dimana setelah tiba di Balikpapan jadwalnya diundur tiga hari lagi untuk sebuah alasan yang tidak jelas. Gadis itu menyahut bingung, ”Kok bisa begitu?”
”Mana aku tahu? Namanya juga lagi sial...” Yudi berkata pasrah.
”A’a sudah mengurus tiketnya buat tiga hari lagi, kan?”
”Sudah...sudah...tenang aja!”
”Bagaimana bisa tenang kalau semakin hari perutku semakin gendut. Kalau A’a sudah sampai disini dan menerangkan segalanya pada orangtua kita, baru aku tenang.”
”Sabar aja. Tiga hari lagi A’a sudah di Jakarta...”
”Jadi sekarang bagaimana? Masuk kerja lagi dan cuti tiga hari kemudian?”
”Mana boleh begitu?” Yudi menanggapi dengan tawa geli. Sepertinya A’a harus ngumpet dulu dua hari ini.”
”Kemana?”
”Mungkin ke rumah Danu.”
”Terserah A’a aja deh yang ngatur,” ujar Siska. A’akepala rumah tangganya sekarang.”
Kepala rumah tangga...Yudi merasa aneh mendengarnya...secara informal statusnya memang sudah berubah...tapi Yudi sangsi dirinya bisa menerima hal itu...mungkin orangtuanya juga tidak akan bisa menerimanya...secepat itu...dia memutuskan sambungan setelahnya, ”oke kalau begitu, sampai ketemu di Jakarta tiga hari lagi.”
Urusan tiket dan Siska beres!
Berikutnya mencari tempat untuk tinggal selama dua hari di Bontang sampai hari keberangkatannya...sebagai tempat persembunyiannya begitu istilah yang dikatakannya tadi di telepon...karena mustahil kembali ke mess karyawan. Meskipun kebanyakan penghuninya cukup akrab dengannya, bukan tidak mungkin ada diantara mereka yang akan mengadu ke atasannya dan bisa gawat urusannya bila mereka tahu bahwa dirinya kembali ke mess saat Yudi seharusnya berada di Jakarta.
***
__ADS_1