
”APA YANG KAMU LAKUKAN?”
Apa maksud Mirna?
Gerakan bergedebukan di atas menandakan gadis itu tak sendirian di sana. Ada orang lain bersamanya dan gadis itu sedang berkelahi dengannya. Jangan-jangan monster itu akan menciderainya. Suara gadis itu terdengar ketakutan.
”Aku dataang...” jerit Yudi.
Geram dan marah, Yudi bergegas meraih ujung seprai sebagai tempatnya menopang kekuatan. Lututnya bergerak mendorong dan dia berhasil merangkak naik ke atas ranjang. Dia terhenyak melihat monster itu tengah berlutut menindih Mirna dengan posisi membelakanginya. Makhluk jahanam itu membungkuk di antara kaki Mirna seolah menunggui sesuatu. Yudi tidak dapat melihat monster itu dengan jelas tetapi samar-samar rupanya mirip kucing. Kucing besar yang menyerupai struktur manusia...
Benda di antara **** Mirna itu sedikit terdorong keluar, bentuknya mirip melon yang ditutupi kulit dan daging kental kemerahan. Bagian atasnya terlihat bergerak-gerak lemah, menandakan adanya kehidupan terpancar di sana. Tangan si monster melayang di antara kaki Mirna, membentuk cakar menyerupai cakar elang yang tengah menangkap ikan salmon dari dalam sungai, mencengkeram benda berkedut itu dan menariknya keluar dengan paksa seperti penggaru mencabut tanaman kol dari tanah.
Lolongan kesakitan bukan hanya berasal dari Mirna tapi juga benda yang baru dicerabut keluar dari tubuhnya, yang ternyata tubuh bayi setengah jadi yang masih terbungkus ketuban. Ukurannya setengah dari ukuran bayi normal, beberapa bagian tubuhnya mungkin belum matang namun telah menunjukkan anggota tubuh manusia yang lengkap. Lingkaran biru lebam mengelilingi kelopak mata sang bayi yang masih tertutup rapat. Jabang bayi itu mungkin belum dapat membuka indera penglihatan namun mampu dirasakannya bahaya mengancam hanya beberapa sentimeter darinya. Dan bahaya itu tidak dapat dihindarinya...
Makhluk menijijkkan itu menjulurkan lidah, menjilati darah yang menempel di tubuh sang bayi. Tak puas, lidahnya melilit tubuh si bayi dan meremasnya begitu rupa seperti seekor piton meremas mangsa dan mematahkan setiap tulang dan sendi yang ada di sana. Jeritan bayi itu berhenti dengan dengkingan aneh. Lidah monster itu melingkari batang leher si jabang bayi dan tak ayal mematahkannya pula.
”Biadab!” Yudi meradang.
”Yudi..tolong aku...”
Suara itu datangnya dari gadis di ranjang yang sedang ditindih oleh sang monster. Yudi kaget luar biasa mengetahui gadis itu bukan Mirna melainkan Siska. Gadis itu berbaring telentang dalam posisi tak berdaya, ketakutan, panik, dan kesakitan menguasai ekspresinya. Sorot matanya yang mengiba membuat Yudi teringat pada sorot mata yang membuatnya jatuh hati pada gadis itu, sesuatu yang telah hilang sekian waktu lamanya.
Ketika mulut monster itu membuka hendak menelan sang bayi, Yudi menerjang dan berteriak, ”Lepaskan dia !”
__ADS_1
Keduanya terguling ke lantai, seprai ikut tertarik hingga menenggelamkan mereka dalam pergulatan di bawah kegelapan. Yudi meronta, berusaha memutar tubuh agar dapat berada di atas si monster. Dentuman itu menggema, membuat Yudi terbangun sepenuhnya, disibaknya selimut yang menutupi.
Ternyata saat itu Yudi tengah terduduk di lantai, di bawah ranjang, tetapi sang monster tidak ada di mana pun, dan ketika menengok ke arah ranjang ternyata Mirna masih berada di sana. Tertidur lelap dengan mendekap botol anggur yang isinya telah mereka kosongkan bersama beberapa jam sebelumnya. Pemuda itu sadar dirinya begitu mabuk hingga jatuh dari ranjang usai mendapat mimpi buruk. Untunglah kelakuannya tak mengusik Mirna, terlihat dari nafasnya yang bergerak teratur dalam lelap.
Dilayangkannya pandangan melewati jendela. Petir menyambar untuk kesekian kali dan Yudi paham darimana datangnya dentuman tadi. Hujan menghantam bumi dengan kecepatan yang akan membuat malu seluruh selang penyemprot mobil di dunia. Ranting-ranting pohon berkeratakan dihantam kesiur angin badai. Suasananya pasti sungguh tak menyenangkan di luar sana.
Pemuda itu mengerang, ditinggalkannya selimut tertumpuk di ranjang sebelum pergi ke kamar mandi. Hendak membasuh mukanya dengan air hangat sebelum kembali tidur. Keran air berderik saat diputarnya searah jarum jam, seolah memprotes karena digunakan di tengah malam buta. Air hangat mengucur perlahan dari mulut keran, Yudi menangkupkan sepasang telapak tangan buat menadah air yang hendak dibasuhnya ke wajah. Begitu air menyapu kulit wajahnya ketegangan pun sontak mereda.
Dia menyangka semuanya baik-baik saja sampai ditegakannya tubuh buat memandang ke dalam cermin. Betapa terkejutnya ketika yang ada dalam cermin itu wajah orang lain. Wajah seorang pria tua, kurus, berkantong mata tebal, dan tirus menyerupai tikus. Itu bukan wajahnya. Itu wajah seorang lain. Bukan wajah yang asing...wajah yang familiar baginya...meskipun Yudi tak ingat dimana pernah bertemu orang itu.
Sosok itu melambai-lambai kepadanya sementara mulutnya meneriakan sesuatu seolah memberi peringatan atau sesuatu yang menyerupai itu. Sosok itu menghilang cepat saat Yudi mengedipkan mata, wajah si lelaki tua berganti wajahnya yang lelah, pucat, dan kurus...sosok yang nyaris tidak dikenalinya...
Dia kembali ke ranjang untuk berbaring disamping Mirna, dipeluknya gadis itu dari belakang dan Mirna balas memeluk lengannya yang melingkar di pinggang si gadis. Yudi berusaha kembali terlelap tapi entah kenapa dia sama sekali tidak dapat melepaskan bayangan pria tua itu dari pikirannya.
Petir yang menggelegar pada detik berikutnya memunculkan wajah pria tua itu kembali di luar kamar. Posisi Yudi yang sedang tidur menghadap ke jendela membuatnya dapat melihat wajah itu mengintip ke dalam ruangan. Saat itu diingatnya kalau kamarnya berada di lantai dua dan bagian luar yang menghadap jendela tidak ada balkon atau semacamnya, jadi bagaimana mungkin lelaki tua itu bisa ada di sana. Dengan penasaran Yudi bangun untuk melihat lebih jelas dan sosok itu memberi isyarat dengan mengedikkan kepala agar pemuda itu mengikutinya sebelum hilang ditelan malam.
Sejenak dipertimbangkannya buat mengajak Mirna, namun melihat betapa lelapnya gadis itu tidur akhirnya Yudi tak sampai hati, sehingga dia lantas bangun dari ranjang, memakai perlengkapan memadai seperti mantel, jas hujan, dan sepatu lalu pergi keluar setelah mengambil senter. Suasana rumah begitu kosong. Semua penghuninya tampaknya sedang tidur lelap sehingga tidak peduli akan adanya orang yang tengah mengendap-endap keluar.
Gerimis yang menghiasi udara kini hanya berupa butiran kecil tanpa arti, tidak akan membuatnya sampai basah kuyup. Bulan masih terlihat menggantung di langit walau tidak lagi dengan aksen kuat sebab berkas matahari sudah mulai memandu hari meski sang surya sendiri belum menunjukkan batang hidungnya di garis horison. Pria tua misterius itu berdiri di halaman depan, posisinya yang menengok ke belakang seolah hendak memastikan bahwa Yudi akan mengikutinya. Yudi memasang tudung jaket untuk melindungi kepalanya dari gerimis sebelum mengikuti pria misterius itu.
Yudi berusaha berjalan secepat mungkin agar bisa menyusul pria itu namun entah kenapa jarak diantara mereka tetap tidak dapat dipangkas olehnya. Hal itu membuatnya heran, bertanya-tanya bagaimana Wayan masih mampu berjalan secepat itu. Dengan jarak yang cukup lebar, keduanya tanpa terasa semakin jauh berjalan ke dalam hutan...
***
__ADS_1
Melewati dataran yang naik-turun beberapa kali, pemuda itu akhirnya tiba di pertigaan yang nampaknya akan menjadi akhir perjalanan. Pemuda itu semakin yakin karena pria yang diikutinya jadi lebih sering menengok ke belakang dari sebelumnya, seolah tidak ingin Yudi sampai kehilangan dirinya. Setelah berbelok ke kanan dari pertigaan tersebut dan berjalan beberapa menit akhirnya Yudi tiba di daerah yang ditumbuhi pepohonan cemara berukuran raksasa dengan bagian lerengnya berupa hamparan lapangan semak ilalang serta rumput liar setinggi lutut.
Yudi memandang berkeliling, mencari-cari di mana pria misterius itu berada dan kenapa dia membawanya ke tempat ini. Entah kenapa saat itu Yudi merasa tempat ini dikenalnya. Rasanya dia pernah berada di tempat ini, bukan saat ini saja tapi beberapa kali sebelumnya...dan ketika dilihatnya pohon eik itu, yang berbeda dari pohon lainnya karena warna kulit batangnya lebih pucat...pohon itu pohon yang berdiri di belakang stand dart milik El. Beberapa meter ke belakang dari pohon ini, El menempatkan trailer rongsokannya. Pohon ini juga yang dilihatnya dari balik stand El yang hancur berantakan setelah El bercerita bagaimana stand dartnya diterjang **** hutan pada malam sebelumnya.
Tak salah lagi. Ini memang tempatnya...
Tapi di mana semua orang berada? Kemana rombongan sirkus itu? Apakah mereka sudah pergi? El memang memberitahu kalau sirkus itu akan pergi dalam beberapa hari ini tetapi tidak disebutkannya bahwa kepergian mereka akan secepat ini.
Kemungkinan lain adalah dia salah tempat, ini bukanlah tempat di mana rombongan sirkus itu berada, karena perkampungan yang mengelilingi tenda-tenda sirkus seharusnya tetap ada disini meski rombongan sirkus pergi seperti dugaannya.
Jantung Yudi berdegup saat melangkah berkeliling. Tempat ini mendatangkan perasaan yang lucu, tempat ini di satu sisi dikenalnya sementara di sisi lain tampak asing. Bagaimana mungkin tempat ini bisa berubah dalam sekejap? Padahal jelas-jelas dirinya dan Mirna baru saja mengunjungi rombongan sirkus itu kemarin.
Lelaki itu mengaduh saat kakinya terantuk sesuatu. Dia menatap ke bawah dan mendapati kayu-kayu menyerupai sepasang pasak yang tersembunyi di antara rumput-rumput liar. Pasak itu dipasang berdampingan, jelas sekali sengaja dibuat oleh tangan manusia, dan ini makin bikin Yudi penasaran.
Dia menyibakkan rumput, mencabuti beberapa helai yang menghalangi pandangan, sampai tak lama kemudian menemukan sebentuk pondasi rumah. Bukan pondasi modern dengan beton, batu, dan semen tapi pondasi dari rumah di desa...dan sepertinya juga bukan rumah desa pada masa ini tapi dari masa yang lebih silam karena orang-orang di masa ini tidak lagi menggunakan campuran perekat seperti yang ada di bawah sini.
Diikutinya alur pondasi yang kemudian bertemu dengan alur pondasi lain yang terbuat dari batu-batu kali, melintang dari satu sisi ke sisi lainnya, sebagian lapuk atau hilang tetapi kemudian muncul lagi pada lajur yang sebenarnya bisa ditarik secara garis lurus. Sesampainya di bagian tenggara wilayah itu didapatinya deretan bambu yang menancap tegak laksana tiang dan kayu usang yang dimakan rayap. Deretan bambu tersebut tampaknya merupakan bagian rangka rumah berusia ratusan tahun yang sudah lama dilupakan karena hilang ditelan alam saat semak belukar tumbuh subur menutupinya.
Di bawah ceruk dari kayu-kayu lapuk itu Yudi dikagetkan oleh ayam hutan betina yang nampaknya sedang mengerami telur-telurnya disitu. Ayam itu lari tunggang-langgang menjauhi Yudi, meninggalkan tiga anaknya yang hanya mampu menciap-ciap ketakutan. Mungkin karena belum pernah bertemu dengan makhluk lain sebelumnya, apalagi makhluk yang ukuran tubuhnya begitu besar, para anak ayam hutan itu ketakutan setengah mati. Bagi hewan, makhluk yang memiliki ukuran lebih besar dari dirinya tentu akan sangat mengintimidasi dan secara instingtif mereka akan menganggap makhluk tersebut sebagai pemangsa atau mendatangkan bahaya.
Namun saat itu Yudi menyadari ada sesuatu yang berbeda, si induk ayam yang lari terbirit-birit itu tidak kunjung kembali, sementara anak-anak ayam masih terus menciap dengan berisik meskipun dia sudah beranjak pergi beberapa meter dari tempat tersebut. Diputuskannya kembali ke tempat dimana dia menemukan anak-anak ayam itu buat mencari tahu.
Keadaan di bawah ceruk itu gelap sehingga dia harus menyibakkan semak dan menyalakan senter, pada saat itulah terlihat oleh Yudi seekor ular melintas pelan diantara tetumbuhan, meluncur tepat ke arah dimana anak-anak ayam itu berada. Keciap mereka ternyata bukan karena rasa lapar melainkan jeritan panik, atau bahkan mungkin minta tolong agar induk mereka kembali. Anak-anak ayam itu rupanya merasakan adanya bahaya mengintai tak jauh dari sarang.
__ADS_1
***