KUYANG

KUYANG
Episode 27


__ADS_3

Yudi merasa seperti habis dikerjai saat meninggalkan Fadil. Kerumunan orang yang menonton masih berkumpul dan mereka sibuk berbicara satu sama lain, dengan senyum simpul dan lirikan aneh kepadanya dan Mirna. Tak tahu apakah mereka menertawakan insiden Mirna ataukah dirinya yang nampak tolol karena insiden ’dada’.


”Masih mau melihat-lihat?” El bertanya.


”Tidak, ah! Aku capek. Langsung ke tempat kamu aja.”


”Oke, ”El nyengir. ”Mudah-mudahan Galih sudah selesai dengan masakannya.”


”Galih?” tanya Yudi pada Mirna.


Mirna mengangkat bahu, ”Siapa itu Galih? Apa dia istrimu?”


El terkekeh, ”Dia bukan istriku. Kehidupan orang-orang di sirkus tidak mengenal budaya berumah-tangga. Dia hanya seorang gadis yang merasa nyaman tinggal sekereta denganku.”


Kereta El berbentuk persegi dengan dua pasang roda di setiap sisi sudutnya. Terbuat dari fiber glass yang dicat kuning menyolok, nampak lusuh penuh debu seolah kereta itu telah menjalani wilayah yang sedemikian jauh, bahkan mungkin juga melewati tempat-tempat yang sulit dan berbahaya, jika melihat dari kedua sisi belakang yang sedikit penyok dan kaca jendela yang retak bisa diketahui bahwa El bukan pengendara yang sabaran karena sering menabrakkan kendaraannya. Dari cerobong asap mengepul asap yang mengantarkan bau sedap bawang goreng dan lemak, Yudi sampai harus menahan liurnya.


El membuka pintu dan mempersilakan mereka masuk sebelum berseru, ”GALIH...”


Teriakannya mengagetkan Mirna dan Yudi, padahal tanpa perlu berteriak pun panggilannya pasti terdengar di dalam kereta kecil tersebut. Diantara bunyi riuh penggorengan di bagian dapur, seruan El dibalas oleh seruan wanita yang tak kalah melengking, ”TUTUP PINTUNYA KALAU MASUK...DAN TANGGALKAN SENDALMU DI RAK


DEPAN...”


Benar-benar seperti di hutan, Yudi memandang Mirna dan keduanya terkikik geli. El menghampiri kulkas kecil yang berada disamping lemari yang berisi pakaian yang acak-acakan dan mengambil tiga kaleng bir. Dia meletakan ketiganya di meja dan Yudi segera mengambil sebuah. Mirna memandanginya dengan cemberut, ”Aku tidak minum bir, tahu...”


”CEWEK MANA YANG KAMU BAWA KALI INI, EL?” seru Galih tanpa dinanti-nanti.


”MAKANYA KAMU KEMARI, SUPAYA AKU KENALKAN...”


Bunyi codet mengaduk penggorengan berhenti dan wanita bernama Galih itu muncul dari dapur. Wanita itu cantik tapi tampilan acak-acakan, wajahnya begitu khas orang gipsi namun dengan kulit bersih dan terang, rambutnya yang keriting belum disisir, sebatang rokok terselip diantara bibirnya yang tipis, sementara celemek kotor melilit pinggangnya yang kurus. Jika dia mengenakan pakaian yang lebih mengilap dan seksi maka Yudi langsung ingat bahwa dia wanita yang menjadi sasaran si pelempar pisau dalam salah satu pertunjukan.


”Halo, namaku Galih...” tegurnya tanpa merasa repot-repot buat mendekat dan berjabat tangan. Mirna mengangguk dan memberi senyum dibarengi oleh Yudi.


”Ini adik tiriku Mirna. Dan itu pacarnya, Yudi...”


”Hey, sejak kapan aku...” Yudi tak jadi melanjutkan sebab kakinya keburu diinjak El.


”Kenapa wajahmu begitu?” Galih menatap Yudi yang mengernyit dengan curiga.


”Terkilir. Tadi ada insiden kecil. Dia harus menangkap Mirna yang jatuh dari atas tali.”


”Talinya si Fadil?” Galih berdecak. ”Jangan biarkan dirimu dikerjai orang sinting itu.”.


”Sayangnya, aku baru saja mengalaminya,” Yudi mencoba melucu. ”Seharusnya kamu memperingatkanku lebih awal, sesuatu yang tidak dilakukan oleh pemandu kami.”


Mirna terkikik dan El memandangi Yudi dengan mengerutkan kening. Galih memandang El, ”Adik tiri? Kamu tak pernah cerita kalau kamu punya adik tiri?”


”Aku sendiri nyaris lupa kalau tidak ketemu dengannya kemarin. Kami sudah lama tidak bertemu,” El menjawab sekenanya. Dia duduk di meja dan meletakan kaleng bir dengan gaduh, ”Makanan sudah siap?”

__ADS_1


”Makanan saja yang ada di otakmu. Seharusnya kamu menerima tawaran si Bongkeng untuk mempekerjakanmui jadi asistennya. Kamu akan punya uang lebih daripada hanya jadi penjaga stand.”


”Berapa kali aku harus bilang kalau aku tidak berminat bekerja dengan komidi putarnya. Membuat tanganku belepotan gemuk.”


”Ah, itu hanya alasanmu. Kamu pasti tidak senang karena dia mantanku!” tukas Galih.


”Terserahlah, apa katamu...” sela El. ”Bagaimana makanannya? Kita harus menjamu tamu-tamu kehormatan ini, jangan buat mereka kecewa!”


”Makanannya tidak akan cukup buat kita berempat,” Galih merengut.


”Kalau begitu kami tidak perlu makan,” ujar Yudi menengahi. Dia merasa tidak enak bila kedatangannya disini mengakibatkan pertengkaran keduanya. ”Jangan repot-repot...”


”Ya, El. Kami tak ingin merepotkan,” Mirna menambahkan.


Itu jelas mengusik harga diri El, ”Kalian pikir aku tidak sanggup menjamu kalian. Duduklah dan biarkan Galih yang berpikir bagaimana menyediakannya buat kita. Kamu dengar, nona cantik ?”


”Ya...ya...ya...” Galih menggerutu lalu kembali ke dapur. Sesaat kemudian terdengar wajan yang diangkat dan sesuatu dituang ke piring.


Mirna memandang kakak tirinya, ”Tidak apa-apa kamu memperlakukannya seperti itu?”


”Dia sebenarnya pintar tapi harus didorong semacam itu agar kreatif,” ujar El.


”Bukan, maksudku...tidak seharusnya kamu kasar seperti itu. Apalagi dia bukan istrimu.”


”Kalau begitu aku boleh memperlakukan dia begitu kalau dia istriku?” El bertanya balik.


”Kami hanya tidak ingin membuat suasana tidak enak,” ujar Yudi.


El malah tertawa, ”Apanya yang tidak enak? Kalian kira kami bertengkar cuma karena ini? Astaga, tidak! Ini situasi yang biasa buat kami. Kalau tidak begini kami malah bingung.”


Galih kembali dengan membawa nampan berisi sepiring besar ayam dan empat buah piring. Dia membagikannya dengan tangkas ke depan masing-masing orang dan menyisakan sebuah untuk dirinya sendiri. Gadis itu menunjuk rice-cooker diatas kulkas yang tingginya tidak sampai sepinggang Mirna, ”Ambil sendiri nasinya...”


Makan siang itu memang ala kadarnya tapi nasi yang pulen dan ayam yang digoreng gurih bikin Yudi ketagihan. Keempatnya menikmati makan siang tanpa bersuara, menyibukkan diri masing-masing sampai akhirnya Galih mengakhiri keheningan, ”Aku ingat sekarang, El pernah ngomong dirinya punya adik berlainan ayah. Apakah kamu yang dimaksud?”


”Ya, benar...” sahut Mirna mengangguk.


”Kamu benar-benar cantik. Tak sangka kamu bisa punya kakak seperti El.”


”Memangnya kamu pikir aku ini keturunan cerpelai?”


”Kalau begitu kamu meniru ayahmu...” ejek Galih.


Mirna terkikik geli sementara El memandang Galih dengan melotot. Dalam hal yang satu ini Yudi langsung berpendapat kalau dia setuju dengan Galih. Perempuan itu tertawa serak, ”Nggak usah memandangku seperti itu. Jelek-jelek begini aku tetap menyukaimu...”


Yudi bisa melihat bahwa mereka saling menyayangi, meski kerap mengatakan sesuatu dengan ketus dan nada yang nyinyir tapi cara Galih mengambilkan nasi dari rice-cooker atau cara El menyisihkan lauk miliknya ke piring Galih jelas menunjukan hal itu tanpa mereka sadari. Hubungan mereka yang menurut El tidak jelas itu menunjukan tanda-tanda yang mengarah pada pernikahan.


”Yeah, tapi bukan berarti kamu bebas mengataiku seenak perut!” omel El.

__ADS_1


”Dan aku akan terus mengataimu kalau kamu tidak cerita padaku soal itu, El!” ujar Galih


”Ya, ceritakan tentang itu, El! Aku ingin tahu soal keluarga kalian sebab Mirna juga tidak cerita apa-apa tentang itu,” Yudi yang melihat kesempatan itu segera memberi dukungan.


”Hey...hey...kenapa tiba-tiba semua orang mengeroyokku?” lalu El berpaling pada Mirna. ”Jangan-jangan kamu juga memintanya?”


”Yah, kamu kan tahu kalau aku belum lahir saat itu terjadi...” kata Mirna.


El mengerang, ”Sial! Sekarang aku sadar mengajak kalian makan siang itu ide buruk.”


”Sudahlah. Tidak ada salahnya mengetahui tentang masa lalu, kan? Kita bisa belajar sesuatu darinya,” bujuk Mirna.


”Ya,tapi seharusnya bunda atau ayahmu menceritakan itu padamu. Bukan aku,” ujar El.


”Kenyataannya mereka tak melakukan itu. Dan kamu,satu-satunya orang yang kuharap dapat memberitahuku, apalagi aku belum pernah punya waktu seperti saat ini bersamamu.”


El menenggak air untuk menyingkirkan makanan yang menyumbat kerongkongan, ”Tidak banyak sebenarnya yang kuingat tentang hubungan mereka. Yang kutahu perpisahan itu tak mudah. Banyak hal pahit yang mengubah segalanya tetapi mereka berusaha melakukannya dengan sebaik mungkin, walau aku tahu hati mereka pahit satu sama lain. Mungkin itu upaya agar aku, yang waktu itu masih kecil, tidak terlalu tersakiti jika berpisah dengan salah satu dari mereka.”


Dia menarik nafas sebentar sebelum melanjutkan, ”Meski saling mencintai, mereka sepertinya sudah mempersiapkan diri seandainya perpisahan itu benar-benar terjadi. Aku teringat saat kami sedang makan malam, mereka berdebat serius soal dengan siapa aku harus ikut saat melewatkan tahun baru. Lucunya, mereka tidak berkeras bahwa aku harus ikut salah satu dari mereka tetapi mereka malah berkeras bahwa pasangannya yang harus membawaku. Bunda berkeras kalau Ayah harus membawa aku bersamanya, begitu  pula sebaliknya..”


”Kok jadi seperti anak terbuang. Kurang perhatian,” Yudi membatin dengan prihatin.


”Sebelum ayahmu menggantikan tempat ayahku...” dia mengernyit, mengingat duri dalam keluarga memang tidak mudah apalagi menceritakannya. ”...kami hidup senang. Aku tahu Ayah sangat mencintai bunda dan begitu juga sebaliknya. Satu hal yang kuingat tentang mereka hanya ketika kami sama-sama berlibur ke Rawen. Disana ada satu tempat indah yang tak akan bisa lepas dari kenanganku. Danau di tengah hutan itu...”


”Danau hijau?” sambung Mirna.


”Ya, dan aku yakin Bunda pernah membawamu juga ke tempat itu karena itu tempat kesukaannya,” ujar El.


”Tempat itu memang luar biasa. Terutama saat matahari merekah.”


”Bukannya sinar matahari tidak bisa menembus ke dasar hutan?” tanya Galih.


”Tidak dari atasnya, tetapi danau itu terletak pada dataran yang agak miring sehingga memungkinkan cahaya matahari menembusnya lewat sela pepohonan saat muncul dari sebelah timur,” jawab El. ”Kamu sempat melihat perubahan warnanya?”


”Ya,” Mirna mengangguk senang.


”Berubah jadi apakah danau itu saat terkena cahaya matahari?” tanya Yudi tertarik.


”Kuning emas.”


”Kuning emas? Lalu kenapa tempat itu diberi nama danau hijau?”


”Nama itu diambil karena kemampuan magisnya. Danau itu merupakan tempat buat pasangan yang saling cinta datang untuk mendapat petunjuk pada dewi Hindeari.”


”Dewi Hindeari?” Yudi mengerutkan kening. ”Siapa dia?”


***

__ADS_1


__ADS_2