
Bunda Mawar akhirnya memergoki mereka diantara tirai tanah yang menggantung di udara. Menyumpah-nyumpah sewaktu menyadari dirinya ditipu. Dengan jeritan melengking disemburkannya api ke arah kedua sejoli yang terlindungi oleh tirai tanah yang menghambur di sekeliling. Walau hanya sebentar, tirai tanah itu mampu menjadi pelindung keduanya dari serangan panas api, suatu kebetulan lain yang membuat monster kepala-tanpa-tubuh itu makin geram, ”Anak monster sialan !”
Apalagi Mirna, yang dalam rupa monster bertubuh raksasa, lari menjauhinya ke arah berlawanan. Setan kepala tanpa-tubuh itu terbang mengikuti sambil menjaga jarak agar jangan sampai Yudi menyiramnya lagi dengan cairan menjengkelkan itu. Yang ada di pikirannya saat itu hanya menangkap kedua begundal menyebalkan itu secepatnya.
Mirna kembali memondong Yudi, meloncati pepohon seperti bajing, berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya sementara Bunda Mawar mengejar di belakang laksana meteor berapi. Dengan rupa kepala tanpa tubuh tentunya mudah bagi setan itu buat bermanuver diantara pepohonan, sementara keunggulan yang dimiliki Mirna dengan tubuh raksasanya adalah unggul dari segi menerobos dahan dan ranting-ranting pohon yang besar tanpa kesulitan...dan itu yang dilakukan Mirna buat terus menghindar dari kejaran ibunya.
Sesekali dia menengok ke belakang, mendapati ibunya mengikuti bak peluru kendali yang terbang di belakang ekor pesawat. Awas dan cerdas. Menunggu saat dirinya lengah atau menjadi lelah. Ini membuatnya nyaris hilang akal, ”Kita tidak akan berhasil...” serunya diantara deru angin yang berkesiut di tubuh mereka yang berlari, mungkin setengah terbang. ”..cepat atau lambat dia pasti berhasil menangkap kita.”
”Pokoknya pergi dulu ke tempat sirkus. Kita akan lawan dia di sana.”
”Tapi kamu akan mati.”
”Kalau perlu kita akan mati bersama.”
Mirna diam, terus berlari, namun dia lantas berbelok liar lalu merosot ke bawah dengan tukikan tajam yang mengaduk perut Yudi. Bahu Mirna, dengan kulitnya yang tebal berliku, mulai menggaruk perutnya dengan kasar. Posisinya sungguh tidak enak. Ini hampir sama dengan yang dirasakannya bila terbang naik pesawat kecil dari Balikpapan ke Bontang dan mengalami turbulensi di tengah jalan. Guncangan selama penerbangan itu cukup buat mengaduk keluar isi lambung seseorang. Herannya, Yudi sekarang lebih menyukai turbulensi di pesawat kecil tersebut, karena yang dialaminya belum apa-apa dibandingkan guncangan dalam gendongan Mirna.
Dari kerumunan willow mereka berpindah menembusi pohon-pohon elm. Burung-burung mengepak terbang disertai gerutu protes karena telah dibangunkan secara paksa dari tidurnya yang nyaman di sarang. Cericit hewan-hewan itu ditimpali teriakan ultrasonik dari beberapa kelelawar yang terbang menukik.
Salah satu dari kelelawar buta itu ada yang terlambat menangkap balik resonansinya, dia tertubruk oleh Mirna yang saat itu tengah membelok gila-gilaan untuk menghindari tembakan api dari Bunda Mawar. Kelelawar naas itu terbang berpusingan, teler karena tumbukkan yang tidak terduga itu dan menemui ajalnya tak berapa lama akibat api yang dihindari Mirna menghantam dirinya. Binatang itu jatuh ke tanah dengan tubuh gosong.
__ADS_1
”Dia mulai tak sabaran...” seru Mirna dengan sesekali menoleh untuk melihat kapan semburan itu mulai lagi.
”Awas!” Yudi memperingatkan.
Peluru api melewati bahu Mirna karena dia sempat menghindar ke kiri. Dia juga berhasil berkelit dari tembakan yang kedua dan ketiga, sebagai hasilnya peluru-peluru api yang mematikan itu menghantam pepohonan di bawah mereka, apinya lalu membakar pohon-pohon lain atau yang kulitnya sudah tua dan aus. Api membesar dengan cepat sehingga hanya tinggal tinggal waktu saja sampai kebakaran besar terjadi. Si monster kepala-tanpa-tubuh itu terbang dan melepaskan tembakan demi tembakan tanpa henti.
”Jangan beri dia ruang tembak!” seru Yudi. ”Kamu terlalu mudah jadi target.”
Mirna mengganti strategi, menyadari bahwa setan kepala-tanpa-tubuh lihai menyerang dari sisi atas dia kemudian memutuskan buat melewati bagian pepohonan yang lebih rimbun di sisi tengah. Cabang serta dahan pohon yang berdaun tebal tentu akan menampari si kepala terbang dengan menyakitkan, itu setidaknya bisa memberi harapan bahwa kepala tanpa tubuh itu akan terhantam batang yang keras di saat lengah, atau setidaknya penglihatannya jadi terganggu....
Ide itu sungguh brillian! Si kuyang bukan hanya tidak bisa bebas menembakkan peluru apinya tapi juga melebarkan jarak yang memisahkan mereka sedikit demi sedikit. Pada tukikan yang kelima Bunda Mawar sudah kehilangan mereka sama sekali, dan lima menit berikutnya Bunda Mawar masih tetap belum kelihatan. Waktu yang tidak banyak ini rasanya cukup bagi Yudi buat mempersiapkan banyak hal. Peralatan senjata buat melawan kuyang memang tidak ada padanya saat ini tapi setidaknya dia masih memiliki dirinya sendiri.
Yudi berusaha mengingat kembali pelajaran yang diberikan Wayan. Manteranya, langkah melakukannya, prosesnya. Tidak boleh ada sesuatu yang salah kalau tidak mau gagal. Unsur terpenting dari ini semua adalah darah...juga kenyataan bahwa mereka berada di lokasi yang mendukung...
”Untuk apa ini sebenarnya?” tanya Mirna sembari menggerus tanah dengan cakarnya, membentuk parit yang berupa lubang berbentuk lingkaran dengan diameter tiga meter sedalam tiga senti. Dikeduknya tanah keras disitu dengan enteng bagaikan anak kecil bermain pasir basah yang langsung hancur begitu diremas.
”Kalau aku tidak salah disinilah semuanya bermula. Legenda kuyang itu. Dan disinilah satu-satunya tempat dimana kamu punya kesempatan mengalahkan Bunda dengan wujud tertingginya itu.”
”Bagaimana caranya?”
__ADS_1
”Roh-roh akan membantumu, roh mereka yang punya dendam terhadapnya.”
”Hah?” Mirna ternganga tak mengerti.
”Sudahlah. Ikuti saja perintahku.”
Yudi mengulurkan kedua tangannya ke depan dengan tangan terkepal, ”Robek nadiku...” Mirna memandangnya dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa Yudi mungkin sudah mulai sinting. Dengan tidak sabar Yudi mengambil tangan Mirna dan mengacugkan jarinya yang berbentuk cakar runcing. ”Lakukan saja. Jangan banyak tanya!”
Mirna menggeleng sedih dan dengan cakar di telunjuk kirinya dikoyakannya kulit pergelangan Yudi. Kuku itu setajam pedang, hanya dengan satu sayatan pendek hubungan antara kulit itu terputus dan dari dalamnya merembes cairan segar berwarna merah diikuti bau anyir yang tajam.
”Sekarang berdiri di tengah parit. Jangan bergerak.”
Yudi tidak tahu pasti dimana posisi rumah Datuk Mahendra secara pasti di Nganjalu, tapi ini memang tempatnya, dan dia berharap kharisma dan kuasa sang Datuk atas tempat ini mengantarkannya kepada otoritas yang diharapkannya datang.
Dengan darah mengucur di tangan dia berjalan mengelilingi Mirna. Membuat lingkaran darah sembari mengucapkan manternya, ”...kupanggil semua yang berdiam disini.... awal dari semua dan yang tak akan berakhir dalam tubuh hayati....”
Buku tua Wayan bukan hanya mengajari tentang bagaimana mengusir roh jahat dengan sihir tapi juga mengundangnya bila diperlukan. Dan saat ini mereka perlu bantuan roh itu untuk memberikan kekuatannya secara sementara ke dalam tubuh Mirna yang kehilangan daya. Yudi tidak suka cara ini. Perjanjian dengan hantu atau roh halus selalu membawa dampak yang tidak enak tetapi hanya ini cara untuk melawan Bunda Mawar. Ilmu harus dilawan dengan ilmu. Sihir dilawan sihir.
Saat ini prioritasnya melawan si kuyang...konsekuensinya belakangan...
__ADS_1
Dan semoga motivasinya ini menggugah hati roh para penduduk desa yang dibunuh secara keji oleh epidemi monster ini beratus tahun lalu. Apalagi yang lebih mengerikan dari dendam kesumat yang tersimpan ratusan tahun?
***