KUYANG

KUYANG
Episode 16


__ADS_3

Yudi baru saja hendak meninggalkan box telepon ketika terdengar pesawat telepon di belakangnya berdering. Dia menengok heran lalu setengah ragu-ragu mengangkat gagangnya. Begitu mendengar suara wanita dari balik sambungan dia tahu yang meneleponnya adalah Mirna, ”Kamu kok bisa telepon kemari, Mir?”


”Aku punya jalur telepon khusus,” Mirna terkekeh. ”Kok kamu belum naik ke pesawat?”


”Penerbanganku batal. Gara-gara kamu...aku bangun kesiangan...”


”Aku nggak berani bangunin, habis kamu tidurnya nyenyak banget.”


”Apa sih yang kamu lakukan sama aku? Ngasih obat tidur, ya?”


Mirna malah ketawa renyah, ”Mau tahu aja..”


”Serius, nih...malam kemarin kita nggak...”


”Nggak apa?” Mirna malah berlagak bego.


Yudi yang jadi ragu-ragu dan berkata dengan hati-hati, ”Nggak...yah, kamu tahu lah...melakukan yang aneh-aneh...”


”Aku ceritain nanti deh kalau kita ketemu tapi terus-terang aku bahagia banget dengan yang semalam...” Mirna mendesah.


Deg !


Jantung Yudi serasa berhenti berdetak. Memaki-maki dirinya yang begitu goblok karena kecurigaan dan ketakutannya ternyata benar terjadi, ”Mir...aku...”


”Jadi berangkatnya ditunda nanti sore?”


”Nggak, penerbanganku diundur tiga hari lagi.”


”Kamu sekarang mau kemana? Balik ke Bontang atau nginep di Balikpapan?”


”Yang pasti aku nggak nginep disini tapi kalau di Bontang aku mau kemana? Kan nggak mungkin aku balik ke mess. Aku mau ke tempat Danu...”


”Bagaimana kalau nginep di rumahku aja?”


Yudi menengok menatap Mirna, ”Kamu nggak serius kan Mir?”


”Aku amat-amat serius....”

__ADS_1


Lidah Yudi kelu buat berkata-kata, ingat cerita Mirna bilamana dia memperkenalkan seorang laki-laki kepada ibunya hanya jika orang itu sudah serius menjadi suaminya. Dan saat ini Yudi merasa tidak layak untuk masuk dalam posisi terhormat itu. ”Nggak usah deh, bikin repot kamu.”


”Usahlah...lagian kenapa repot? Kamu kan cuma mau nginap, bukan bikin pesta di rumahku.”


”Maksudku, kamu nanti harus mengenalkan aku sebagai suami kamu dan semacamnya, nggak?”


Hening sejenak lalu terdengar tawa Mirna memecah kebisuan yang menakutkan, gadis itu baru paham maksud Yudi, ”Suami? Kamu kok punya pikiran begitu? Yud, aku kan hanya mengajak kamu nginap. Bukannya mau aku kenalin sama bunda.”


”Memangnya bunda kamu nggak ada di rumah?”


”Kalau ada memangnya kenapa?” goda Mirna.


”Eh, serius nih...”


”Sudah, deh. Aku mau kenalin kamu sama bunda bukan sebagai suami kok...dia sudah tahu kalau kamu itu calon ayah,” Mirna menenangkan.


”Kamu sudah cerita begitu ke dia?”


”Ya.”


”Oke deh,” kata Yudi akhirnya mengalah. ”Tapi hanya buat dua hari ya, setelah itu aku pulang ke Jakarta.”


”Kalau begitu dimana kita ketemu setelah aku sampai di Bontang?”


”Nggak perlu. Kita bisa ketemu sekarang.”


”Maksud kamu?”


”Iya, aku lagi ada di dekat kamu. Kamu kan yang pake jeans butut dan jaket tentara?” kata Mirna terkekeh. ”Bawa tas ransel gendut berisi barang-barang yang baru kamu jejalin semalam.”


Spontan lelaki itu celingukan dan dilihatnya gadis berpakaian model babydoll, hanya kali ini warna merah, dengan sepatu boots tinggi melambai ke arahnya beberapa meter dari box telepon dimana dia berada. Dengan dongkol, juga geli, Yudi berkata, ”Aku kesitu, deh!”


Pemuda itu mengembalikan gagang telepon umum ke pesawatnya sebelum berjalan ke arah Mirna. Diliriknya sekilas benda yang ada di genggaman Mirna, yang dikenalinya sebagi ponsel, sesuatu yang biasanya hanya dipakai para direksi dan pejabat-pejabat tinggi di perusahaan untuk berkomunikasi. Benda yang lumayan mahal buat dimiliki karyawan biasa sepertinya, dan bila Mirna bisa mempunyai benda seperti itu pasti dia bukan orang yang biasa-biasa saja di perusahaan, meskipun Yudi tahu gadis itu adalah sekretaris Iwan Feng. Dia tersenyum dan memeluk Mirna, ”Kok kamu ada disini? Nggak masuk hari ini?”


”Kayaknya aku juga bangun kesiangan,” jawab Mirna genit.


Yudi salah tingkah, dia segera mengalihkan ke topik lain, ”Kita berangkat sekarang? Kita masih keburu sebelum bis bandara pergi.”

__ADS_1


”Buat apa naik bis? Aku bawa mobil,” kata Mirna.


”Kamu...punya mobil?” Yudi berkata dengan mata terbelalak dan dia termangu melihat kendaraan beroda empat yang besar dan mewah yang berhenti di depan Mirna lima menit kemudian.


Gadis itu menggandeng tangannya lalu mengedik ke dalam, ”Ayo.”


Wangi lemon dari pengharum mobil yang dihantarkan AC mobil menguasai hidung Yudi, berpadu dengan bau kulit pembungkus jok dan seluruh interior bagian dalam mobil yang tersamak rapih. Bagian belakang kendaraan tersebut luas dan cukup nyaman untuk diisi tiga sampai empat buah kopor yang ukurannya dua kali ransel yang dibawanya saat ini. Sepasang bangku di bagian tengah didesain sedemikian rupa untuk memberikan kenyaman bagi penumpang saat berkendara, perangkat televisi yang terpasang di belakang jok kemudi semakin memanjakan siapapun yang menaikinya.


Pintu mobil dapat tertutup secara otomatis hanya dengan menggesernya ke samping. Kendaraan itu menderum dalam bisikan lembut dan menggelinding di aspal jalan bandara yang menghubungkan dengan pintu keluar serta jalan raya. Getarannya sungguh tidak terasa, berbeda dengan mobil dinas kantornya, apalagi bis yang rutin mengantarnya ke kantor. Mobil macam ini yang diidam-idamkannya sejak dulu, dan Yudi tidak menyangka gadis seperti Mirna memilikinya....


”Pantas saja!” Yudi berkata memecah kebisuan saat mobil itu mulai melaju cepat di jalan raya menuju Bontang.


”Apanya yang pantas?”


”Pantas kamu nggak pernah mau aku anterin pulang. Rupanya kamu punya mobil yang lebih enak,” kata Yudi. Tiba-tiba dia merasa rendah diri, perasaan inilah yang kemudian jadi membuatnya mengeluarkan kata-kata yang seperti menusuk.


Mirna hanya tersenyum, ”Bukan begitu ! Bunda bawel kalau aku tidak dijemput.”


Gadis itu tersenyum lalu mengangkat pembatas kursi yang menghalangi kursi mereka. Dengan gerakan menyerupai kucing manja dia merapat ke tubuh Yudi. ”Boleh aku tidur lagi? Aku masih ngantuk gara-gara tadi malam.”


”Uh-eh..i..iya...terserah kamu,” kata Yudi gelagepan.


Berdua dengan gadis cantik ini di sebuah mobil mewah yang penuh dengan wewangian memabukan, salah satunya menguar dari rambut bergelombang Mirna yang memancarkan harumnya madu, apalagi dengan jarak yang nyaris tanpa celah. Gadis ini sungguh menggoda. Mirna tersenyum kecil,”Memangnya kamu nggak ngantuk?”


”Masih ngantuk, sih!” Yudi mengangguk.


Mirna meletakan kepala di pangkuan Yudi, ”Boleh, ya?”


Ini bukan permintaan tapi pernyataan, yang sulit ditolak oleh lelaki manapun termasuk Yudi, dia hanya bisa menjawab gugup, ”Ya...yaa...tidur aja dulu kalau gitu...”


”Kamu juga harus tidur...”


”Te...tentu...”


Bagaimana dia bisa berkonsentrasi kalau di pangkuannya ada sosok dewi yang tidur dalam lelap dengan kepasrahan untuk diperlakukannya begitu rupa. Dia tak pernah mengingini pun memimpikan hal ini tetapi disinilah makluk cantik ini terbaring. Membuatnya harus mati-matian menguasai diri, akan memalukan jika Mirna mendapati tonjolan keras di belakang kepalanya sementara tangan sang gadis, entah sadar atau tidak, menarik genggamannya hingga berada begitu dekat dengan buah dadanya yang terasa hangat. Pipi Mirna yang memerah apel kontras dengan bibirnya, menjadikannya perpaduan uar biasa dari wajahnya yang damai. Sungguh, dia tidak tahu apakah dia kuat menanggung keindahan ini...berharap agar ini tidak selalu terjadi di dua hari ke depan, saat di rumah Mirna, sebab dirinya tak mungkin sanggup menolaknya...


Dengan susah-payah Yudi berhasil tidur sementara mobil menyusuri jalan dengan tenang. Tak dirasakannya guncangan atau tikungan tajam karena kendaraan itu berjalan begitu tenangnya. Tanpa sepengetahuan Yudi, yang telah terbang ke alam mimpi, mobil itu bukannya menyusuri aspal jalan yang biasa digunakan pengendara menuju Bontang melainkan melaju tiga meter diatasnya. Sampai di perbatasan kota, kendaraan ajaib Mirna yang tak dikendalikan siapapun, karena memang tidak ada pengemudi di bangku supir, bukannya berjalan terus melainkan berbelok ke arah Hutan Rawen

__ADS_1


***.


__ADS_2