
”Bagaimana makan malamnya?” tanya Bunda Mawar demi melihat kecepatan makan Yudi berkurang dan lelaki itu lebih tenang menikmati hidangan di atas piringnya.
”Enak sekali, bunda,” jawab Yudi.
”Yudi tahunya dua kata buat makanan, enak dan enak sekali,” Mirna nimbrung.
”Bagus,” perempuan itu mengangguk. ”Aku senang pada orang yang bisa menghargai makanan kami. Makanlah sepuasnya tetapi sisakan sedikit ruang kosong di perutmu sebab berikutnya masih ada hidangan spesial...khusus dari Mirna...”
”Oh, ya?” Yudi menoleh pada Mirna yang tersipu. ”Seharusnya bunda memberitahu dari awal jadi saya bisa lebih mengendalikan diri...” keduanya tertawa. ”...tapi saya siap kok karena tahu Mirna sering bikin kejutan buat saya.”
”Ah, itu bukan apa-apa...” Mirna menanggapi dengan wajah senang sekaligus kuatir.
”Dan kamu tentunya tahu kenapa dia berbuat begitu, kan?” goda Bunda Mawar, membuat Yudi nyaris tersedak tulang bebek yang sedang dimakannya.
”Bunda...” desis Mirna sementara api berkelip dengan gerakan seolah mengedip nakal.
”Bunda dengar kamu mau pulang ke Jakarta?” kata Bunda Mawar. ”Ceritakan tentang Jakarta, percaya-tidak percaya sampai seusia begini Bunda belum pernah pergi kesana.”
”Masa?” Yudi menatap tak percaya, dengan segala keberadaan wanita itu dan harta yang dimilikinya rasanya sungguh mustahil kalau Bunda Mawar belum pernah menginjakan kaki di ibu kota itu sekalipun.
Tatapan wanita cantik itu yang kemudian menegaskan ucapannya sehingga Yudi mulai bercerita tentang tempat-tempat hiburan, terutama pusat perbelanjaan yang semakin menjamur - suatu topik yang tidak pernah gagal menarik perhatian para wanita - dan kulinernya. Juga tentang suasana Kota Tua, yang menjadi tempat persinggahannya ketika terakhir kali berlibur bersama Siska di Jakarta.
Semuanya mengalir lancar dari bibirnya, bahkan sebelum daging di piringnya mendingin, sementara kedua wanita itu mendengarkan tanpa menyela, sementara Bunda Mawar menatap penuh semangat. ”...kalau bunda kesana saya akan temani melihat-lihat benteng Pieter Zoen-Coen yang terkenal itu. Penjara bawah tanahnya masih ada, kita bisa membayangkan perasaan orang yang dikurung di tempat sempit itu jaman dulu dari rantai besi di dindingnya.”
”Rantai besi di dinding...” Bunda Mawar menoleh ke Mirna lalu tertawa cekikikan.”...itu sesuatu yang harus kita miliki di rumah ini. Ide itu menakjubkan!”
__ADS_1
”Tentu,” kata Yudi yang saat itu hanya mendengar bagian terakhir ucapan wanita itu, dia tidak menangkap maksud wanita itu seutuhnya, ”Ide yang biasa di jaman itu tapi tentu didukung oleh situasi belum adanya hak asasi manusia, termasuk buat penjahat. Itu tidak bisa dilakukan di jaman ini.”
”Tapi kalau seperti yang kamu bilang bahwa fasilitas umum macam rumah sakit makin banyak, pastinya makin banyak bayi lahir disana. Yang kudengar tiap hari setidaknya ada satu bayi lahir di Jakarta, benarkah sampai sedahsyat itu?”
”Itu yang membuat tanah di Jakarta jadi cepat habis. Mungkin dua atau tiga puluh tahun lagi orang disana tak bisa lagi menguburkan yang mati di tanah tetapi ditaruh ke dasar laut.”
”Itu pikiran yang mengerikan,” Bunda mengernyit. ”Sudah, tidak perlu dilanjutkan!”
Yudi baru menyadari kesalahannya dan mukanya bersemu merah karena malu. Mirna yang melihat itu tersenyum kecil, ”Maaf, hanya mengutarakan pikiran saya.”
Suasana ruang makan mencair saat Bunda Mawar tertawa kecil. Tawanya yang renyah bagai musik yang menari di telinga, ”Ya.. ya, anak muda jaman sekarang. Berbeda dengan jaman bunda dulu. Tapi kamu mau mengantarkan kalau suatu hari nanti bunda kesana?”
”Dengan senang hati,” Yudi menjawab cepat.
”Bagus! Bunda senang kamu punya teman yang baik hati, Mir!” kata wanita itu pada anaknya seolah memberi semangat untuk meneruskan apa yang sedang menjadi tujuan Mirna. ”Dan kurasa sekarang waktu yang tepat buat pencuci mulut yang istimewa itu...” wanita itu menepuk tangannya dua kali dan lelaki tua bungkuk tadi masuk ke ruang makan dengan mendorong troli makanan dengan sesuatu di bawah tudung besar aluminium. Ketika tudung dibuka tampak di dalamnya terdapat pinggan perak disamping ember aluminium kecil berisi bongkahan batu es dengan leher sebuah botol aneh tersembul dari baliknya.
”Margou 1870, dibuat di desa kecil di Nantes, Perancis. Dibawa kesini oleh pedagang Portugis dan sejak saat itu jadi koleksi kesayangan nenek buyut,” Bunda Mawar menerangkan sebeluk mengangkat gelasnya setelah diisi si pria bungkuk.”Untuk kebahagiaan kita semua.”
Yudi segera mengikuti karena melihat Mirna juga melakukan yang demikian. Setelah membalas ucapan wanita tua itu dia menenggak gelasnya dan merasakan kerongkongannya bagai dibanjiri ratusan jarum hangat yang anehnya tidak membuatnya tercekat tetapi bergejolak kesenangan. Pahit yang menguasai lidahnya pelan-pelan berubah menjadi rasa manis yang tiada duanya saat cairan itu meninggalkannya dengan buih-buih yang tersisa, itu yang membuatnya tidak berhenti di sesapan kedua...ketiga...lalu keempat...hingga yang terakhir.
Pemuda itu mendesah puas seraya menikmati rasa hangat di kerongkongannya, ”Pasti ini anggur langka, satu-satunya yang masih tertinggal di Indonesia.”
Bunda Mawar tersenyum, ”Nggak juga. Kami punya berbotol-botol di gudang anggur.”
”Kalian punya gudang anggur?” Yudi bertanya kagum. Dia rasanya seperti bukan tinggal di Indonesia tapi di belahan dunia lain dimana para orang kayanya menyimpan anggur di ruang bawah tanah di rumah mewah, atau puri, atau kastil mereka.
__ADS_1
”Tentu. Kamu boleh melihatnya sewaktu-waktu.”
”Wah, dengan senang hati! Tentu!” kata Yudi bersemangat.
”Bagaimana rasanya?” tanya Bunda Mawar.
”Aku sekarang mengerti kenapa orang bilang semakin tua anggur akan semakin enak.”
Wanita pemilik rumah tersenyum geli, ”Anggurnya tentu saja. Tidak usah diragukan. Maksudku pudingnya. Yang bikin Mirna lho.”
Yudi mengangguk, memotong secuil besar dari kue diatas piringnya lalu memasukan ke dalam mulutnya. Puding lembut itu menyatu dengan fla dingin, yang sebenarnya lebih tepat disebut es krim, untuk kemudian menghasilkan rasa manis yang segar di mulut. Rasa ini sama luar biasanya seperti tart coklat bikinan Mirna, ”Aku makin yakin Mirna memang chef handal.”
Wajah Mirna bersemu merah mendengar pujian itu, diaduk-aduknya puding di piringnya dengan sendok dengan menunduk, berusaha menghindari tatapan Yudi yang bisa membuatnya makin tersipu malu. Sementara Bunda Mawar melirik anak gadisnya, ”Kamu harus sering-sering mengundang Yudi kemari.”
Mirna menjawab, ”Tentu, kalau Bunda tidak keberatan.”
”Kenapa harus keberatan kedatangan tamu yang punya selera bagus soal makanan?” jawab Bunda Mawar. ”Baiklah, Bunda rasa kalian berdua bisa melanjutkan acara makan malam ini bila masih ingin tinggal dan nambah makanannya, sementara saya kembali ke kamar. Maafkan tidak bisa menunggumu lebih lama dan mengobrol soalnya saya lelah sekali hari ini.”
”Tentu,” Yudi mengangguk saat wanita itu berdiri dari kursi. ”Terima kasih hidangannya malam ini. Senang berkenalan dengan Bunda.”
Mirna memandang Yudi setelah ibunya meninggalkan ruang makan, ”Jadi bagaimana? Kamu masih mau makan atau berkeliling rumah? Melihat gudang anggurnya kalau kamu mau.”
”Aku kebanyakan makan,” Yudi mengelus perutnya. ”Tidak mampu jalan lagi.”
Mirna tertawa, ”Kalau begitu besok saja kita berkeliling rumahnya.”
__ADS_1
”Setuju! Boleh aku tambah winenya?”
***