KUYANG

KUYANG
Episode 20


__ADS_3

Lagi-lagi Yudi terbangun dengan sakit kepala...


Dia mengernyit dan memegangi kepalanya...menunggu sampai sakit yang merajam itu hilang perlahan-lahan...ini pasti gara-gara kebanyakan minum anggur semalam...Mirna sama sekali tidak menghentikannya dari meminum habis isi botol Margou itu hingga tetes terakhir dan dia pasti terlalu mabuk, atau mungkin juga pingsan, karena sama sekali tidak ingat apa yang terjadi semalam dan bagaimana dirinya bisa berakhir di tempat tidur... apalagi...pemuda itu termangu mendapati tubuhnya yang tanpa busana di balik selimut...


Apa yang terjadi semalam?


Bunyi guyuran keran dari kamar mandi terhenti diikuti senandung perempuan yang keluar dari sana. Mirna tersenyum mendapati pemuda itu sudah bangun, sementara Yudi yang akhirnya menyadari apa yang terjadi padanya semalam memaki ketololannya dalam hati. Gadis itu menyapa dengan riang, ”Ayo bangun, pemalas! Ini sudah pagi. Sarapan sudah disiapkan buat kita di bawah.”


Yudi tidak henti-hentinya mengutuki diri sendiri karena melakukan kelalaian demikian rupa. Membiarkan dirinya mabuk dan bercinta dengan gadis itu di rumahnya sendiri jelas suatu kebodohan tak termaafkan. Herannya, Mirna terlihat biasa-biasa saja dengan perbuatan terlarang yang terjadi disini. Atau jangan-jangan memang tidak ada sesuatu yang terjadi semalam...dan ketakutannya tadi cuma perasaannya saja....tidak habis pemuda itu berusaha


mengingat kejadian semalam namun otaknya sama sekali tidak bisa mengembalikannya.


Rintik hujan diluar mengiringi saat mereka, Mirna dan dirinya, sarapan berdua pagi itu tanpa kehadiran bunda yang rupanya sudah sibuk dengan kegiatannya sendiri di kamarnya, ”Melukis...kalau sudah begitu dia akan lupa waktu... dan memintanya turun untuk sarapan atau makan siang sama saja cari perkara...”


Setelah makan keduanya berkeliling rumah untuk membunuh waktu, apalagi rintik hujan masih juga turun tanpa henti sehingga akan lebih enak melakukan aktivitas di dalam rumah, dan Mirna membawa Yudi berkeliling di hampir seluruh ruangan, kecuali lantai tiga karena tidak ingin kehadiran mereka mengganggu Bunda Mawar di kamarnya di lantai paling atas tersebut.


Yudi takjub mendapati ruangan di sebelah kamarnya ternyata ruang seni yang berisi pahatan-pahatan kayu yang luar biasa. Kayu yang menjadi materi ornamen berbagai macam objek itu terbuat dari berbagai macam jenis; mahoni, balsa, cendana, dogwood, pinus, bahkan jati, dengan tingkat kepadatan yang juga bervariasi; mulai dari yang amat tebal sehingga butuh kekuatan fisik besar untuk membentuknya, sampai kayu tipis yang butuh ketelitian tinggi agar jangan sampai patah atau rusak saat dibentuk. Berbagai objek patung itu serasa membawa suasana dalam pelosok terpencil di belantara Kalimantan karena bentuknya mengambil rupa berbagai hewan seperti arowana, piracucu, kumbang aneh dengan sungut melengkung seperti bulan sabit, harimau dalam pose menyerang atau yang merunduk ketakutan, rusa yang sedang merumput, serigala dalam posisi melolong dengan kepala tegak. Semakin tua usia patung-patung itu Yudi mendapati ukirannya semakin halus.


”Itu karena para guru di jaman silam memiliki ilmu yang lebih mumpuni, kemampuan memahat mereka muncul dari hati nurani yang murni, yang membuat mereka mampu memahat dengan begitu detil. Generasi penerus mereka mungkin bisa meniru teknik tapi belum tentu semua ilmu bisa diserap dengan baik. Begitu juga dengan hati para empu tua.”


”Kalau begitu bagaimana kamu tahu para pemahat ini berguru satu sama lain? Belum tentu generasi yang lebih muda selalu merupakan murid generasi yang lebih tua. Dan bisa jadi mereka memang punya gaya yang berbeda sesuai dengan minat dan tingkat kepandaian mereka terhadap hal-hal detil,” komentar Yudi.


Mirna menanggapi, ”Nah, itu yang harus kamu perhatikan dengan teliti... kemarilah...biar kutunjukan sesuatu yang mengagumkan...” Mirna memegangi patung ayam jantan setinggi tigapuluh sentimeter sementara Yudi mendekat. Tak sengaja hidung pemuda itu mencium aroma melati dari rambut hitam panjangnya sehingga Yudi harus berkonsentrasi keras pada setiap ucapan Mirna. ”...lihat parutan di lehernya? Lalu lihat sayapnya yang terbentuk dari kontur dan pola melingkar? Sekarang coba kamu bandingkan dengan patung kerumunan beringin Rawen ini, lihat parutan yang sama menyusuri pembentukan batang pohon sampai ke akarnya lalu pola melingkarnya menjadi penghias rumit dedaunannya.”


Yudi mengangguk-angguk. Dia baru menyadarinya sekarang. Memang ada yang sama dari kedua benda seni ini tetapi dia mendapati bahwa meskipun memiliki gaya yang mirip tetapi pola melingkar di patung beringin itu tidak berbentuk bulat sempurna namun lebih menyerupai oval. Pola itu begitu kecil dan luwesnya hingga tak akan terlihat hanya dengan sekali pandang. Dia mengutarakan hal itu dan Mirna mengangguk senang.


”Ya, sepintas memang kelihatan hasil karya orang yang sama tetapi sebenarnya bukan. Patung ayam ini dibuat oleh Datuk Mahendra, seorang bangsawan daerah utara Sampit pada abad 15, sementara pohon beringin ini dibuat oleh Prajangga Nanta, anak Datuk Mahendra. Meskipun berguru langsung dari ayahnya tetap saja kualitas keduanya berbeda, begitu juga antara guru dan murid."


"Prajangga Nanta tak mudah menirukan ciri khas Datuk Mahendra yang terkenal sebagai pemahat bulan purnama dengan pola melingkarnya, itu terlihat dari lingkaran pahatannya yang bulat sempurna seperti purnama. Kamu bisa lihat di karya Prajangga Nanta ini, ada sedikit cacat berupa tonjolan tak simetris di beberapa bagian, jelas sekali dia tak mampu meresap seluruh ilmu ayahnya dengan baik...”


”Atau bisa jadi ayahnya tidak mau memberikannya begitu saja karena itulah ciri-cirinya yang tidak ingin dia berikan kepada siapapun, meskipun itu kepada sang anak, atau mungkin Prajangga Nanta yang memilih gaya berbeda agar dia lepas dari bayang-bayang sang ayah.”


Mirna kembali tersenyum pada sanggahan Yudi, ”Bisa jadi begitu, sayangnya kedua dugaan kamu salah. Pola melingkar bulan purnama ini pola suci dan semua pematung hebat Dayak akan bersedia melakukan apapun untuk memiliki keahlian macam ini, sebab yang mampu membuatnya akan menempati kasta tertinggi, tempat terhormat, dan dijuluki sebagai penjaga warisan. Itu pasti yang mendorong Prajangga Nanta untuk menguasainya, bukannya menciptakan gaya baru yang tak dikenal atau malah akan disepelekan masyarakat.”


”Yang ternyata gagal dikuasainya. Lalu apa yang terjadi dengan Prajangga Nanta?”


Mirna mengangkat bahu, ”Dia putra Datuk. Datuk itu sama dengan raja kecil di Jawa. Apa yang bisa rakyat kecil perbuat terhadapnya? Menyisihkannya, tidak mungkin! Prajangga Nanta tetap menduduki tempat terhormatnya namun masyarakat kehilangan orisinalitas ciri khas mereka akibat kegagalannya menyerap ilmu Datuk Mahendra. Walau begitu dia orang bijak dan masyarakat masih bisa melihat persamaan falsafahnya dengan Datuk Mahendra.”

__ADS_1


”Oh, apa itu?”


”Datuk mengambil objek hewan seperti ayam jantan atau anjing sementara Prajangga Nanta berkutat pada pepohonan hutan. Keduanya merupakan simbol dari pelindung. Ayam jantan melindungi manusia dari kebutaan hari dengan membangunkan matahari sementara anjing jadi penjaga dan teman setia manusia. Sedang pepohonan punya makna melindungi, banyak hewan yang butuh rumah sebagai tempat berlindung mereka. Coba lihat karya Prajangga Nanta yang lain, dia selalu membuat patung pohon dalam kerumunan atau berkelompok, itu artinya keteduhan yang diberikan oleh pemerintahannya.”


Yudi mendengarkan sembari mengangguk-angguk, ”Ngomong-ngomong kamu pernah ke sana? Hutan Rawen?”


Mirna menjawab, ”Hutan itu tidak jauh dari rumah ini. Rawen itu adalah tempat paling menakjubkan. Disana bukan hanya ada pepohonan seperti layaknya hutan, tapi sungainya mengalir jernih, mengairi ’kebun-kebun’ alami yang ditumbuhi mawar liar. Kamu benar soal objek patung Prajangga Nanta, tempat itu penuh inspirasi, tak heran bila Nanta atau Datuk menuangkan banyak hal tentang tempat itu dalam karyanya.”


”Kalau begitu sesekali kamu harus mengajakku kesana.”


”Dengan senang hati...”


Semakin lama berada di ruangan penuh patung itu Yudi merasa dirinya makin kecil di balik kebesaran sejarah dari benda-benda di sekeliling. Bukan hanya kecil, tapi sekaligus bodoh, sebab hanya sedikit yang diketahuinya tentang dunia ini dan kehidupan yang terjadi di dalamnya. Gadis itu membawanya berkeliling ke ruangan lain di lantai dua sebelum pindah ke lantai dasar. Ternyata menjelajahi rumah itu butuh waktu hampir setengah hari. Yudi menjuluki bangunan itu sebagai museum seni, karena rumah itu ternyata menyimpan banyak benda seni selain patung.


”Nah, kamu sudah melihat benda-benda seni yang ada disini. Bagaimana kalau kita menengok gudang anggur?” Mirna menawari.


”Asalkan tidak ada keharusan aku harus minum persediaan yang ada disana,” Yudi berseloroh. ”Sakit kepalaku bisa kambuh nanti.”


”Kamu kelihatan nggak mengalami sakit kepala kemarin,” Mirna tersenyum penuh arti.


”Memangnya aku kelihatan seperti apa?” tanya Yudi. ”Kukira aku mabuk berat.”


”Maksudnya apa?” Mirna tidak menanggapi pertanyaan Yudi, terus berjalan mendahului ke gudang anggur.


Seperti kata Bunda Mawar, berbagai macam anggur ada di gudang yang terletak di ruang bawah tanah. Tersimpan dalam rak yang terpahat sepanjang dinding setinggi dirinya, kayunya saling bersilang membentuk jajaran genjang yang merupakan hiasan sekaligus ruang-ruang penyimpan botol. Belum pernah dilihatnya botol anggur sebanyak ini.


Seperti yang dibilang wanita itu tentang Margou 1870, dia mendapati tiga buah peti besar yang masih penuh berisi botol anggur jenis itu di sudut ruangan. Aroma yang menguar di dalam ruangan terdiri dari berbagai macam entitas anggur yang melebur jadi satu membuaikan penciumannya. Yudi mengambil salah satu botol dengan hati-hati, mengerjap sebentar untuk menghilangkan rasa pening akibat aroma memabukan yang merembes dari pinggiran tutup botol yang disumbat gabus, dan membaca label yang tertempel rapih di perutnya.


”Chauvignon 1770,” gumamnya.


”Ekstraksinya dengan cara kuno yang masih mengandalkan mesin pemeras mekanik.”


”Bordeaux 1825,” gumam Yudi setelah mengambil sebotol lagi.


”Itu adalah jenis yang terbaik.”


”Berapa harganya sekarang?” tanya Yudi.

__ADS_1


Mirna mengangkat bahu, ”Entahlah! Aku tidak pernah tertarik untuk mengetahuinya.”


Yudi mengembalikan kedua botol itu dengan hati-hati, ”Kalau aku pasti kulakukan. Menyimpan anggur tua sama seperti rumah tua, harganya makin lama pasti makin mahal.”


”Kalau memang begitu lalu kenapa?” tanya Mirna.


”Apa kalian tidak berminat menjualnya?”


Mirna tersenyum,”Kami tak butuh uang. Apa kamu menganggap kami memerlukannya?”


Yudi merasa dirinya seorang bodoh total. Kondisi keluarga Mirna jelas menunjukkan bahwa uang bukan sesuatu yang penting bagi mereka. Namun belum sempat menangpi saat itu pandangannya tertumbuk pada sesuatu di sudut kanan ruangan. Dalam keremangan ruangan diihatnya relung batu berbentuk bundar yang hanya tampak bagian atasnya saja, sementara yang bawah terpotong oleh lapisan lantai, sepertinya bagian bawah itu dibuat ceruk berupa tangga yang menjorok ke bawah dan menjadi landasan bagi ruangan baru tersebut. Sebuah pintu kayu menutupi relung itu tanpa terlihat anak lubang kuncinya.


”Ruangan apa itu?” Yudi menunjuk ke tempat tersebut.


Pandangannya lekat pada relung itu hingga dia tidak melihat perubahan wajah Mirna, ”Tidak ada apa-apa disana. Hanya pintu yang tua tanpa ada ruangan dibaliknya.”


”Lalu buat apa membuat pintu tanpa ada ruangan yang harus ditutupi?”


”Nenekku bilang dulu itu lorong bawah tanah, jalan darurat untuk menyelamatkan diri ketika perang kolonial. Sekarang lorong itu sudah musnah setelah terjadi gempa bumi dan langit-langitnya runtuh.”


”Kalau begitu tempat itu pernah dipakai?”


”Entahlah, mungkin! Tetapi tidak sejak jaman nenekku.”


”Lorong bawah tanah. Kukira itu hanya ada di kastil-kastil di luar negeri,” gumam Yudi.


”Kalau sudah puas melihat-lihat disini kita akan melihat tempat terakhir,” ucap Mirna.


”Ayo!” sahut Yudi. Dia baru melangkah beberapa meter dari tempatnya tadi saat kakinya menendang benda berbentuk pipih yang menyembul dari balik lubang diantara kaki rak anggur. Benda itu menggeser pelan dan Mirna bergegas menahannya dengan kaki agar bonggolnya tak sampai menghantam dinding kayu yang akan menimbulkan bunyi berisik. Yudi ganti menengok karena gadis itu hanya diam saja di belakangnya.


”Kamu ikut?”


”Ya, sebentar! Kukira aku melihat tikus tadi disini.”


”Mana?”


”Ah, dia sudah lari waktu mendengar kamu bicara,” Mirna tertawa hambar.

__ADS_1


Gadis itu membimbing Yudi keluar ruangan setelah mematikan lampu. Sayangnya keremangan itu tak dapat menahan laju cahaya matahari yang menyeruak dari balik lubang sempit yang merupakan ventilasi ruangan, dan jatuh menimpa bonggol berwarna putih yang ternyata merupakan tulang paha sepanjang lima sentimeter.


***


__ADS_2