KUYANG

KUYANG
Episode 35


__ADS_3

Yudi memasukan tangan ke saku jaket untuk menahan dinginnya suhu ruangan yang menggigit tulang. Dia tidak mengerti bagaimana pasien di ruang ICU ini tahan dengan suhu rendah seperti ini, mestinya mereka sudah beku sekalipun diberikan selimut berlapis-lapis.


Tiga hari berlalu sejak kejadian memalukan di kamar mess dan semua orang sudah meninggalkannya. Siska kembali ke Jakarta dengan duka yang Yudi tahu tak akan termaafkan. Lewat SMS Danu, Yudi mengetahui keputusan Siska yang ingin membesarkan bayi itu sendiri tanpa figur ayah dan keputusan itu tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tadinya Yudi ingin Danu bisa ketemu Wayan agar bisa mengembalikan lagi kepercayaan yang hilang atas Yudi tapi Danu malah ikut terbang bersama Siska ke Jakarta karena hendak menyusul istrinya yang sudah lebih dulu pulang ke Jawa.


Sementara Mirna...si biang keladi dari semuanya...Yudi tak tahu dimana Mirna berada sekarang. Setelah Siska lari keluar, Mirna juga ikut kabur tanpa sempat dicegah oleh Danu. Tapi dia yakin Mirna sudah kembali ke rumahnya di tengah hutan itu, ke tempat yang tidak Yudi ketahui dimana keberadaannya...


Kesialannya ditambah lagi dengan diusirnya dia dari mess oleh Pak Agus. Rupanya bagian personalia telah memberitahu lelaki tua itu soal status kepegawaiannya, yang membuat penjaga mess tersebut merasa bebas memberikan kamarnya kepada anak baru yang akan datang seminggu lagi.


”Tetapi dia kan baru akan datang minggu depan,” Yudi memprotes.


“Bukan berarti kamu bisa tinggal disini selama itu,” kata Pak Agus dengan logat Melayu yang selalu membuat Yudi ingin menonjok hidungnya yang sebulat tomat.


“Ayolah, masa saya tidak bisa diberi kelonggaran?”


”Jangan mempersulit keadaan. Kamu mau saya dipecat?”


”Kasih saya sehari lagi deh. Saya kan harus mencari tempat kos yang lain dan butuh waktu buat memindahkan barang-barang,” kata Yudi memelas.


”Tidak bisa. Kamu harus keluar siang ini juga...”


”Tapi bagaimana dengan barang-barang saya?”


”Kamu bisa mengambilnya di ruang kerja saya besok siang.”


Pak Agus tak bergeming dengan bujukan kata-kata ataupun selipan uang seratus ribuan. Baginya melaksanakan mandat bagian personalia sesegera mungkin merupakan mandat yang menyenangkan hati, tak ada yang bisa menggoyahkan imannya, mungkin itu sebabnya dia bisa bertahan sebagai penjaga di mess itu selama hampir lebih dari lima belas tahun meskipun tidak begitu ahli menangani pekerjaannya.


Hal yang melegakan dari berbagai kejadian belakangan ini adalah kebaikan Danu yang memberikan rumahnya sebagai tempat tinggal sementara baginya. Sahabatnya itu ternyata berencana menjual rumahnya karena tidak ingin berlama-lama tinggal di kota ini namun selama menunggu pembeli, dia berbaik hati meminjamkannya kepada Yudi. Bagi Yudi rumah itu jelas lebih nyaman dibandingkan dengan kamar messnya yang sumpek. Dan buru-buru pindah dari mess karyawan adalah keputusan tepat karena didengarnya gosip yang marak beredar di mess, cerita dalam berbagai versi mulai dari dirinya yang ketangkap basah oleh pacar saat menyewa pelacur sampai cinta segiempat yang rumit.


Selain itu Yudi mendapat kabar kalau kondisi Wayan mulai membaik. Kesehatan si lelaki tua yang pulih sedemikian cepat setelah luka-luka mengerikan itu membuat kagum dokter dan perawat. Kemarin, dokter jaga yang ditelponnya mengatakan kalau Wayan sudah bisa diajak ngobrol.


”Jadi dugaan amnesia itu tak terjadi?” tanya Yudi memastikan hipotesa dokter Assegaf usai lelaki itu mengobservasi Wayan di hari pertama. Itu adalah saat pertama ia punya kesempatan bicara dengan dokter itu.


”Untungnya begitu,” sang dokter menyahut. ”Tapi dia jelas tidak boleh terlalu lelah.”


Nada suara Yudi merendah ketika menanyakan hal ini, seolah takut ada orang lain menguping pembicaraan mereka di telepon, ”Apakah dia cerita soal monster?”


Hening sementara, dokter Assegaf tidak langsung menjawab pertanyaannya, agaknya butuh waktu untuk mencari jawaban terbaik, ”Sebaiknya kamu tanyakan langsung pada pak Wayan. Dia menunggumu...”

__ADS_1


Klik!


Yudi memandangi Wayan yang masih dikelilingi selang infus serta kabel yang terhubung ke monitor yang berulangkali memperdengarkan bunyi bip mengganggu. Di ruangan besar yang seluruhnya berwarna putih dan berbau obat suci hama itu diperhatikannya Wayan yang tergolek damai. Ekspresinya menunjukkan hal yang berbeda dari ketika dia menemukan lelaki itu di ruang bawah tanah, dia kelihatan lebih segar meski penuh bekas luka, wajahnya dijahit di beberapa bagian dan dibalut rapat, sementara gips membungkus tangan dan kaki kanannya.


Dengung monitor berdetak lebih cepat saat Wayan membuka matanya. Yudi yang sedari tadi sibuk dengan pikirannya segera menegakkan tubuh. Pandangan Wayan seperti menerawang tanpa arah tapi Yudi melihat anggukan kecil sebagai tanda bahwa Wayan mengenali siapa yang bersamanya. Pria tua itu melambai untuk meminta Yudi mendekat dan berkata lirih, ”Terima kasih sudah menolongku...dua kali...”


”Dua kali?” Yudi mengerutkan kening lalu diingatnya saat dia menemukan Pak Wayan terkapar dengan benjol besar di kepala saat memeriksa tambang sendirian. ”Oh, yang itu... kebetulan saja saya disana untuk memeriksa tambangnya. Sampai sekarang saya tidak tahu apa sih yang anda lakukan disana?”


”Aku memburu kuyang yang...” Wayan melirik Yudi. ”...yang sedang mengintaimu.”


”Mengintai saya?” Yudi terperanjat. ”Berarti sebenarnya bapak yang sudah dua kali menolongku dari monster itu.”


”Dia memang keparat jelek, kan?”


”Keparat jelek...” Yudi tertawa menanggapi. Tawa yang lepas. Dia lega karena setelah ketegangan yang begitu lama akhirnya dia bisa tertawa lepas. Wayan memandangnya dan tersenyum.


”Dan kamu lebih keren dari monster itu...” Yudi menunjuk gips di tangan Wayan.


”Kelihatannya payah. Aku seperti robot...” gerutu Wayan.


”Tidak pernah lebih baik dari ini,” Wayan menanggapi.


”Apa yang terjadi di ruang bawah tanah itu? Bagaimana kamu bisa ada disana?”


”Yang terjadi...” Wayan menerawang. ”...yang terjadi adalah sesuatu yang mengerikan..”


***


Wayan mendengarkan dengan seksama penuturan dokter Assegaf, koleganya atau mungkin lebih tepat disebut sebagai sekutu dari aktivitasnya memerangi kuyang, dan sang dokter memang banyak membantunya memberikan informasi, terlebih bila ada kematian tidak wajar yang terjadi di sekitar Banjarmasin.


Sesuatu yang mengerikan terjadi tadi malam dan itu sungguh diluar perhitungannya. Sang Kuyang telah melanggar larangan untuk menyerang manusia, dalam hal ini Seto, selama ini belum pernah ada kuyang yang berani melakukan itu, bahkan keluarga kuyang yang tertua sekalipun, sebab bila batasan itu diterjang maka tidak akan ada titik balik untuk menjadikannya normal kembali.


Sebagai pemburu kuyang dia memang pernah mendengar tentang itu walau itu hanya cerita rekaan karena belum terbukti kebenarannya, sehingga efeknya...yah, dia tak tahu seberapa mengerikan efeknya tapi itu pastinya kekacauan total.


Dari yang pernah didengarnya...kuyang bukan hanya makin rakus memakan bayi tapi begitu sekali saja dia berani membunuh manusia maka dia juga harus memakan jantung korbannya. Kuyang itu akan turun ke tingkat terendah, menjadi pemakan mayat! Ilmunya bukan lagi demi mempercantik diri tetapi demi mempertahankan kelangsungan wujud fananya.


Masalahnya, kalau hanya buat mendapatkan jantung Seto kenapa monster itu mengambil mayatnya? Bukankah jauh lebih mudah buat siluman itu melubangi dada Seto, mengambil jantungnya saja, dan meninggalkan tubuh pak tua itu di tempat penyimpanan mayat?

__ADS_1


”Kedengarannya mengada-ada,” komentar Wayan.


”Aku juga berpikir begitu,” sahut dokter Assegaf. ”Tapi orang ini, si Jarwo, bercerita dengan sungguh-sungguh. Dan aku yakin dia tidak bohong.”


”Baiklah, aku akan menanyainya nanti,” Wayan mengangguk.


”Kamu yakin Kuyang ini bukan orang-orang disini?” tanya dokter Assegaf mengingatkan Wayan pada peristiwa yang mempertemukan mereka. ”Karyawan rumah sakit ini misalnya?”


Wayan menyesap kopinya sembari mengelus anjing tekelnya, ”Adis akan langsung memberitahuku bila memang ada. Sejauh ini semua aman.”


“Kalau begitu bukan berarti kuyang pelakunya...”


”Sebaliknya, aku yakin itu kuyang. Manusia normal mana yang mau mengambil mayat?”


Dokter Assegaf angkat bahu. “Kanibal mungkin? Atau penganut ilmu hitam lainnya?”


”Aku akan sampai pada kesimpulan itu setelah menanyai Jarwo.”


Jarwo bukan lelaki yang menarik, dia mengingatkan Yudi pada seekor tikus ketakutan yang disudutkan oleh dua ekor kucing kelaparan saat dirinya menemui orang itu bersama dokter Assegaf. Lelaki itu memandangi Wayan dan dokter Assegaf dengan pandangan heran, mungkin juga mengira Wayan sebagai polisi yang sedang menyelidiki hilangnya mayat orang yang diserang harimau di hutan itu.


”Ceritakan apa yang kamu lihat,” kata Wayan setelah menawari Jarwo secangkir kopi dan roti goreng yang dicampur susu dan keju.


”Wanita ini datang dan bertanya apakah lelaki bernama Seto, kalau tidak salah yang diserang macan kumbang di hutan Rawen, dirawat dengan baik. Saya bilang, anda kemana saja nona, kupanggil begitu sebab dia memang masih muda. Semua orang tahu kalau si tua Seto sudah meninggal dan kini dia ada di kamar mayat.”


”Kamu tidak tanya siapa dia ?”


”Dia bilang dia salah satu keluarga dari Pontianak. Kelihatan sedih sekali. Setelah itu ditanyakannya kamar mayat. Kami berpisah dan aku tidak melihatnya lagi sampai malam itu...”


”Kamu yakin itu wanita yang sama?” Wayan kembali bertanya. ”Jangan-jangan hanya halusinasimu karena saat itu kamu sedang mabuk.”


”Saya tahu apa yang saya lihat...bahkan saat mabuk sekalipun...” Jarwo tersinggung.


”Masa? Kalau begitu katakan seperti apa wanita itu?”


”Bertubuh sedang. Dia tampak tinggi hanya karena dia sedang memakai sepatu hak yang terlalu tinggi. Rambutnya yang sehitam pasir digerai ke belakang, dia memakai busana yang sangat baik...kurasa dari merek ternama... dan dia berjalan seperti peragawati... maksudku...dengan gaya mereka yang terlambung-lambung...anda mengerti, kan? Dia cantik sekali..dan tubuhnya itu...luar biasa...”


***

__ADS_1


__ADS_2