
Duduk di pinggir danau sembari menikmati nasi goreng buatan sendiri yang seharusnya menjadi bekal makan siang dengan ditemani limun jeruk merupakan hal yang menyenangkan, apalagi dengan perut yang sedari tadi menggerutu kelaparan.
”Jadi bagaimana menurutmu tempat ini?” Mirna membuka percakapan.
”Tempat yang indah,” jawab Yudi. ”Aku tak menyesal dibawa kemari. Sebagai kekasih...”
”Kekasih?” Mirna memotong. ”Apakah memang itulah keadaan kita?”
”Memangnya kamu pikir kita bukan begitu?” Yudi menanggapi enteng. ”Kalau kita bukan kekasih menurutmu apa aku mau melakukan yang kita lakukan di dalam danau tadi?”
Mirna tertawa,” Semua laki-laki pasti akan mencumbui wanita yang sedang telanjang.”
”Dan tak semua wanita telanjang mau dicium pria kalau dia tidak tertarik padanya,kan?”
Pipi Mirna bersemu merah, ”Itu tidak adil! Kamu tahu aku sayang kamu.”
”Tentu, aku juga memiliki perasaan yang sama.”
”Sungguh?”
”Percayalah!” Yudi meremas tangan Mirna.
”Dan kamu mengetahuinya sekarang. Kamu memang perlu tahu.”
”Thanks... buat mempercayakan itu padaku,” Yudi lalu balas mencium gadis itu.
”Yeah! Dan nampaknya bukan hanya kita yang senang. Tempat ini pun cukup senang dengan kehadiran kita. Siap dengan bagian yang mendebarkan?” tanya Mirna.
”Secepat itu?” Yudi tertawa.
”Tentu. Buat apalagi kita jalan sejauh ini?”
”Kamu benar-benar sudah tidak sabar, ya?”
”Kamu sendiri?”
”Kamu pikir danau ini akan berubah begitu saja setelah kita menanyakannya?”
”Kalau tidak dicoba kita tak akan tahu!” sahut Mirna. ”Ayo...”
Gadis itu berdiri dengan menggandeng lengan Yudi sebelum tiba di pinggir kolam, meninggalkan makanan yang belum usai dinikmati, dan berlutut di tempat dimana Yudi berkaca di danau itu pertama kalinya. Mirna menoleh dan tersenyum kegirangan,”Kamu atau aku yang akan menanyakannya?”
”Apa ada mantra atau kata khusus untuk ini?” tanya Yudi seraya menunjuk permukaan danau. ”Aku tidak mau mengucapkan kata yang salah.”
”Cukup tanya tentang kita dan lihat hasilnya. Jadi kamu atau aku yang bertanya?”
”Kamu saja, deh! Supaya kamu tidak menyalahkanku jika ternyata tidak terjadi apa-apa.”
”Dasar pesimis,” Mirna cekikikan geli. Dengan memeluk pinggang Yudi dihadapinya air danau dan bertanya. ”Danau hijau...kami sudah lama merasa nyaman satu sama lain. Kami ingin bertanya...”
__ADS_1
Mirna menoleh ke Yudi sejenak untuk memberikan senyum manis. ”...apakah kami bisa jadi sepasang kekasih yang berbahagia...dan...hidup bahagia sebagai suami-istri nantinya?” Mirna menghembuskan nafas lega, seolah baru terlepas dari beban berat buat mengatakan hal itu. ”Apakah aku mengatakannya dengan benar?”
”Aku tidak bisa mengatakannya dengan lebih baik,” Yudi memeluk bahu Mirna.
”Terima kasih. Sekarang kita tunggu jawabannya...”
Permukaan danau yang jernih itu diam, tenang dalam keheningan tanpa riak. Bahkan binatang kecil seperti jentik atau berudu pun nampak enggan mengganggu ketenangannya. Sinar mentari yang menyeruak dari balik bukit jatuh ke atas permukaan air yang perlahan mulai berubah hijau. Perubahan yang indah hingga membuat Yudi melongo terpesona. Perubahan itu memang tidak secepat trik seorang pesulap buat mengubah kartu namun itu adalah perubahan yang nyata, tidak terbantahkan, dan misterius. Dimulai dari bagian tengah sebelum kemudian menyebar ke tepiannya.
”Yess, kamu lihat warna danaunya, sayang? Artinya hubungan kita direstui Dewi Hindeari...” Mirna menubruk Yudi dengan bahagia.
Keduanya saling berpelukan, berciuman, tak mempedulikan tubuh yang basah. Bahkan pakaian Mirna yang tipis tak mampu membendung lekuk tubuh indahnya yang kini menempel di tubuh Yudi. Menggeseknya dengan gerakan sensual yang membangkitkan birahi. Nafas mereka menderu dan diantara desahan nafas itu Mirna bertanya dengan nyaris mendesah, ”Katakan kekasihku, apa yang kamu ingin aku lakukan untukmu?”
Yudi memandangi Mirna dan teringat pada posisi seksinya pagi tadi. Posisi yang begitu menantang. Posisi yang membuatnya menjadi lelaki sepenuhnya...seperti mengerti apa yang dipikirkannya Mirna naik ke perut Yudi dan duduk diatasnya. Baju yang basah tak dapat membendung gundukan ranum yang mencuat dari balik dadanya. Gundukan yang tumbuh sebagai hasil kematangan sang gadis. Logika makin menumpul tatkala Mirna melepas pakaiannya dan tubuhnya beringsut ke belakang...
Ya, Tuhan...apakah mereka akan melakukannya disini? Disini? Di danau cinta ini?
Bagaimana kalau tiba-tiba ada orang datang dan memergoki mereka?
Otaknya bak berhenti berpikir ketika Mirna melepaskan sabuk yang mengikat celananya. Yang bicara di pikirannya bukan lagi akal sehat tapi pembenaran oleh hasrat badani...
Jadi mereka akan melakukannya disini?
Yeah, kenapa tidak? Biarkan saja semua terjadi...mereka akan melakukannya disini...
***
Yudi mengira percintaan panas mereka sudah terlampiaskan di danau hijau dan berakhir beberapa menit lalu,.Nyatanya begitu tiba di rumah Mirna, mereka kembali berciuman di bagian atas tangga. Sepertinya keduanya enggan berpisah ke kamar masing-masing. Ditemani temaram ruangan yang sendu dan mengundang hasrat, Mirna menarik tangan Yudi untuk memagut kembali bibirnya ke bibir pria itu. Siluet mebel-mebel di ruang tengah tergambar dalam kegelapan, berdiri membeku sebagai saksi atas apa yang mereka lakukan, laksana rakyat tengah menyimak sang pemimpin yang berorasi di mimbar.
”Kalau kita berani melakukannya di hutan, kenapa disini tidak?”
Mirna terkikik, ”Bunda Mawar akan membunuhku kalau kita kepergok.”
”Bagaimana kamu yakin? Kelihatannya suasananya sepi.”
”Dia suka turun malam-malam untuk mengambil minum.”
Yudi ingat kejadian sewaktu dia kepergok wanita itu saat menyelidiki ruang bawah tanah, “Kamu benar! Kalau begitu bagaimana? Kamu mau kembali ke kamar?”
Mirna tersenyum penuh arti, ”Kamu sendiri, apa maumu?”
”Masih harus dijelaskan setelah yang kita lakukan di danau?” goda Yudi.
Mirna terkikik, mencubit pinggang Yudi, ”Masuk dulu ke kamarmu, aku akan menyusul.”
”Kenapa aku tidak ikut saja ke kamarmu?” Yudi menimpali.
”Masuk duluan aja, nanti aku menyusul. Kalau kamu jadi anak baik dan penurut aku akan memberikan kejutan yang menyenangkan.”
”Baiklah !”
__ADS_1
Mirna menepati janji, lima menit kemudian dia berada di kamar Yudi setelah pemuda itu mandi dan berbaring di ranjang tanpa merasa perlu berpakaian. Gadis itu memberi kejutan menyenangkan di balik mantel bulu macannya yang mahal berupa sebotol anggur Perancis berusia 100 tahun dan tubuh mulus dengan lekukan seindah pahatan patung dewi Yunani.
”Woow...” Yudi bergumam dengan mata berbinar-binar, terpacu oleh gairah antara akan mencicipi anggur yang enak dan ditemani gadis cantik malam ini. ”Benarkah anggur yang berusia ratusan tahun enak?”
”Bagaimana kalau kamu mencobanya sendiri baru berkomentar?” ucap Mirna.
Pemuda itu menyesap anggur secara perlahan setelah Mirna menuangkannya ke gelas, rasa hangat menjalar di kerongkongannya dan belaian alkohol menguasai seluruh tubuhnya, dimulai dari dada, perut, lalu ke kepalanya. Dia menggelenggelngkan kepala dengan wajah puas. Mirna tertawa kecil dan bertanya, ”Jadi bagaimana menurutmu? Enak?”
”Luar biasa,” Yudi menjawab.
”Mau tambah lagi?”
”Kalau boleh,” pemuda itu menyodorkan gelasnya untuk diisi untuk yang kedua kali.
”Kenapa tidak boleh?” ucap Mirna mengelus dagu kekasihnya. ”Kami punya banyak yang seperti ini di gudang anggur.”
”Menyenangkan sekali. Andai saja aku punya gudang anggur seperti kalian, aku bisa menikmati minuman enak ini setiap malam.”
”Kamu bisa memilikinya kok...” pancing Mirna.
”Oh, ya? Bagaimana?”
”Tinggal saja disini dan menemaniku selama-lamanya.”
Yudi memandangi Mirna, ”Benarkah? Kamu mau hidup bersamaku di rumah ini?”
”Bukankah kita memang ditakdirkan bersama, sayang? Kamu lihat sendiri kan apa yang kita dapatkan di danau hijau?”
Pemuda itu tersenyum, ”Aku mau....aku mau tinggal disini menemanimu.”
Mirna memekik kecil seraya memeluk Yudi, ”Itu yang ingin kudengar darimu, sayang!”
”Kalau begitu bagaimana kalau kita bersulang untuk janji kita?” Yudi berkata.
”Tentu...” sahut Mirna melepas pelukannya lalu menuangkan anggur ke gelas Yudi.
Alkohol yang menstimulasi otaknya memberikan perintah untuk secara spontan menambah segelas lagi, segelas lagi, lalu segelas lagi...dan seiring bertambahnya gelas demi gelas, tubuh Mirna tampak semakin menggoda...
”Kamu tidak keberatan?” Mirna bertanya dengan genit pada akhirnya sebelum lampu kamar padam.
Tanpa perlu menunggu jawaban Yudi yang sudah dapat terbaca, cahaya ruangan itu digantikan cahaya bulan yang merembes dari kisi-kisi jendela, cukup terang buat membentuk siluet seksi tubuh Mirna saat mantel itu turun perlahan melewati bahu, perut, pinggang, paha, lalu ke mata kakinya. Dengan gerakan menyerupai kucing manja gadis itu ikut naik ke ranjang dan Yudi merasakan ujung jemari Mirna menyentuh dan menggelitik kakinya bagai lahar panas, yang biarpun bergerak lamban namun mengandung sejuta daya yang dapat melumpuhkan manusia bila larut ke dalamnya.
”Tentu...mana bisa aku keberatan?” Yudi berkata lirih sebagai jawaban yang terlambat.
Keduanya berciuman tanpa lelah, yang Yudi sadari waktu bagai berhenti demi memberi ruang seluas-luasnya bagi mereka, sementara gerimis mulai menjadi lebih intens mengisi udara kosong di ambang bumi, mengusir debu dan menurunkan suhu udara di sekeliling, termasuk di dalam kamar, yang makin menambah panas keduanya.
Pagutan mereka makin kuat, binal, dan cepat. Remangnya keadaan di kamar ini makin menambah gairah di dada Yudi. Belum pernah dialaminya permainan macam ini bersama Siska, dan tak akan pernah diketahuinya yang seperti ini jika dia meninggalkan Mirna.
Saat itu dibukanya mata karena ingin menikmati pemandangan di hadapannya. Dan saat itulah Yudi mendapati sesosok monster jelek, dalam posisi berbaring, tengah menciuminya. Rupa monster itu jelek sekali namun belum sampai Yudi berteriak kaget, sang monster sudah lebih dahulu menyadari pandangan jijik Yudi hingga dia menjerit dengan lengkingan yang menyakitkan telinga sambil mendorong Yudi, membuat pemuda itu berguling dan jatuh terjerembab ke lantai dengan kepala membentur ubin lebih dahulu. Belum sempat Yudi tersadar sepenuhnya terdengar teriakan dari atas tempat tidur,
__ADS_1
***