
Yudi sebenarnya sudah melupakan kekesalannya atas perbuatan Mirna di rumah Felds, kalau saja bukan karena catatan yang dikirimkan Office Boy kepadanya di sebuah amplop tertutup mengingatkannya. Mirna menulis di surat itu untuk mengajaknya ketemu di kantin kantor, sembari ngopi, supaya dirinya bisa menjelaskan segala hal terkait kepulangannya bersama Iwan Feng semalam.
Entah penjelasan apa yang hendak diberikan Mirna, hanya saja tak ada alasan bagi Yudi menghindari ajakan minum kopi di sore nanti, apalagi pekerjaannya juga sedang tidak banyak, hingga dia mengirim balasan kepada Mirna dengan pesan singkat, OK!
Jadi setelah membereskan tugas terakhirnya sore itu Yudi melangkahkan kaki menuju kantin yang berada beberapa puluh meter di bangunan dimana ruang kerjanya berada. Dia baru saja membelok di gang yang menghubungkan bangunan itu dengan area kantin saat melihat pria tua yang ditemuinya di rumah Rick Felds tengah berjalan bersama Wayan, rasa ingin tahunya spontan terusik, ngapain orang itu disini? Dan ada hubungan apa dengan Wayan?
Pasangan misterius itu menghilang dari sudut bangunan yang ada di belakang kantor, bangunan yang digunakan sebagai gudang peralatan dan suku cadang yang kebetulan juga menjadi ruang kerja Wayan. Memutuskan buat mencari tahu, Yudi kemudian melintasi halaman yang lengang dan berjingkat-jingkat masuk ke bangunan yang pengap tersebut.
Yang banyak membantu mungkin adanya beberapa lampu eternit yang menerangi lorong, sesuatu yang sebenarnya dihindari perusahaan karena membiarkan lampu ruangan menyala diluar jam kerja sungguh tidak efisien, dan membantunya melangkah dengan hati-hati mendekati ruangan Wayan yang berada di pintu kedua di sebelah kanan.
Pintu ruang kerja Wayan tertutup rapat. Yudi ingat bangunan ini bukan bangunan permanen, dinding-dindingnya yang terbuat dari gipsum bukanlah peredam suara yang baik. Seandainya saja dia bisa masuk ke kamar sebelah untuk menguping pembicaraan mereka, sebaliknya dia juga harus hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang sampai membuat curiga kedua orang yang sedang dibuntutinya. Maka Yudi memeriksa pintu di sebelah, pintu ruang pertama terkunci rapat tapi dia bersorak gembira mendapati pintu ketiga bisa dibuka.
Pintu ketiga merupakan pintu ruang penyimpanan rongsokan elektronik yang tidak bisa diperbaiki lagi. Dia menggeleng sedih pada onggokan barang macam layar, keyboard, atau panel-panel listrik besar yang bertumpuk tak karuan. Mentang-mentang tidak bisa diperbaiki lagi barang-barang ini dibiarkan begitu saja disini. Ruangan ini bukan ruang maintenance, lebih cocok disebut gudang. Kalau saja diperbolehkan beberapa barang itu, bisa diperbaikinya agar dapat dijual kembali. Sayangnya, bukan itu tujuannya kemari.
Dia memasang telinga untuk mendengarkan apa yang sedang terjadi di ruang sebelah, hanya gumaman tak jelas dari suara dua lelaki, gumaman itu punya arti setelah dia merapatkan telinga ke dinding.
”Kamu benar, aku melihat wujud sebenarnya...”
”Ya, dan kamu yakin dia yang datang ke rumah Felds?” yang ini dikenali Yudi sebagai suara pak Wayan.
”Yakin. Kalau begitu urusannya tambah runyam.”
”Tapi belum tentu dia yang mengambil bayi itu kan?”
”Jadi bagaimana rencanamu? Diam sambil menunggu sampai ada korban lagi?”
”Aku paham maksudmu, ini memang sudah terlalu banyak...”
”Bukan hanya terlalu banyak, menurutku dia sudah mulai rakus...”
”Masalahnya ada beberapa yang seperti itu disini. Dan belum tentu dia pelakunya.”
”Hanya dia yang masih aktif, Wayan. Ingat regenerasi itu? Dia akan bertambah giat seiring periode itu beralih.”
”Aku tahu tentang periodenya, pak Seto! Tapi ijinkan aku mengawasinya dulu...agar kita tidak salah bertindak...”
”Itu terserah kamu. Tapi yang kulihat sungguh membuatku cemas.”
”Kamu yakin hubungan itu bukan hanya soal berteman?”
”Kalau Kuyang sudah memilih korbannya maka tidak akan bisa lolos. Kamu lihat saja.”
__ADS_1
”Jadi apa yang mau kamu lakukan, pak tua?”
”Melakukan sesuatu... sesuatu untuk mencegah dia berkembang dengan warisannya yang mengerikan itu...”
”Siapa yang mau kamu bunuh? Yang wanita atau yang pria?”
”Belum kuputuskan, yang jelas salah satu dari mereka harus lenyap.”
”Ini mengerikan!” batin Yudi. Mereka sedang membicarakan rencana pembunuhan, Siapakah lelaki dan wanita yang dimaksud? Mungkinkah itu pasangan Felds, dan itu sebabnya orang tua itu datang ke kebaktian penghiburan di rumah Felds, yang sebenarnya terlalu janggal buat dirinya berada disana. Bicara soal kejanggalan, Yudi jadi ingat ucapan janggal pria tua itu tentang kuyang...sesuatu yang kembali diucapkannya barusan...apa sebenarnya kuyang itu? Dan apa urusannya dengan yang terjadi pada pasangan Felds?
”Seto...seto...siapapun yang kamu bunuh, bakal menyulitkan kita. Apalagi situasiku kini sedang kurang enak akibat kejadian yang kuceritakan barusan. Maka dari itu kamu jangan melakukannya dengan gegabah,” tegur Wayan yang disambut batuk-batuk khas Seto.
Merasa cukup banyak mendengarkan, Yudi akhirnya keluar dari ruangan karena tak ingin terjebak disitu. Makin lama berada di tempat tersebut, makin besar kemungkinan untuk ketahuan dan Yudi jelas tidak ingin hal itu terjadi.
Percakapan kedua orang aneh itu masih menggelayuti benak Yudi setibanya di kantin kantor, akibatnya dia terkejut ketika Mirna menepuk bahunya dari belakang. Gadis itu tersenyum geli melihat wajah Yudi yang kosong, "Lagi ngelamunin apa, sih? Kayaknya lagi banyak pikiran banget."
Cepat-cepat Yudi menutupi kegugupan dengan tawa, "Ah, nggak kok...cuma lagi konsen aja nyari kamu tadi."
"Aku ada disini kok, nggak kemana-mana."
"Aku pikir kamu datang duluan," ucap Yudi seraya menunjuk meja di dekat dapur yang tidak menarik perhatian orang, "Duduk disana aja yuk. Enak disana, nggak akan dilintas orang lalu-lalang."
Mereka duduk di meja pilihan Yudi, memesan pilihan kopi masing-masing - Yudi dengan white coffee, Mirna dengan kopi hitam - yang mengagumkan bagi Yudi sebab belum pernah dia menemui cewek yang tahan minum kopi sehitam dan sepekat pesanan Mirna dan menggambarkan juga kegelisahan hatinya karena memendam yang hendak didiskusikannya dengan Yudi, gadis itu tidak membuang waktu untuk membuka pembicaraan, "Kamu kok jadi sulit dihubungi?”
"Oh, aku kira kamu marah sama aku."
"Marah kenapa?" Yudi pura-pura bodoh.
"Karena membiarkanmu pulang sendirian dari rumah Rick Felds."
"Memang pulang sendirian jadinya, but it's ok...sudah biasa dengan keadaan itu kok…" Yudi menambahkan dengan sinis dalam hatinya, memang pulang ke rumah diantar mobil jauh lebih menyenangkan daripada diantar motor.
Mirna menatap Yudi dengan lekat, "Jujur saja, aku nggak mengira pak Feng akan mengantarku pulang. Kami memang datang sama-sama sepulang kantor, dia memaksaku buat ikut menemaninya dan menawari naik mobilnya karena masih banyak tempat kosong...."
Berikutnya gadis itu ngomong panjang lebar, soal ini-itu, padahal inti pembicaraannya hanya satu, meminta maaf karena meninggalkan Yudi dan berusaha menjelaskan bahwa dirinya tidak ada hubungan khusus dengan Iwang Feng, hubungan mereka hanya sebatas professional antara atasan-bawahan.
"Sudahlah, nggak usah terlalu dipikirkan," Yudi menanggapi setelah gadis itu selesai bicara. "Itu bukan masalah..."
"Kamu ngomong begitu tapi nada bicaramu kedengeran lain. Ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?" Mirna bertanya prihatin.
Pemuda itu menghela nafas, "Kamu ingat pria tua yang kutemui di rumah Felds?"
__ADS_1
"Yang asyik ngobrol denganmu?" Mirna menanggapi. "Kenapa memangnya?"
"Aku melihatnya lagi hari ini...di kantor kita..."
Mirna mengerutkan kening dengan senyum kecil terkulum di wajahnya, "Berarti dia memang pekerja di perusahaan ini."
Yudi menggeleng, "Dia kemari bukan karena kerja disini, dia kemari menemui Wayan."
"Wayan...maksudmu pak Wayang…pria menyebalkan yang beberapa hari lalu menakutiku dengan anjingnya?" Mirna mengernyit sebal. "Ada urusan apa orang tua itu bertemu dengannya?"
"Aku sempat mencuri dengar pembicaraan ketika keduanya di ruang kerja Wayan."
"Apa?" gadis itu terbelalak kaget. "Kok kamu sembarangan melakukan hal semacam itu?" dia celingukan ke segala arah demi memastikan situasinya aman dan lega mengetahui mereka memang sendirian di kantin pada saat itu. "Bagaimana kau melakukannya? Dan apa yang mereka bicarakan?"
"Dinding ruangan disitu hanya dibatasi partisi gipsum, gampang buat mencuri dengar, dan untungnya aku melakukan itu sebab aku jadi tahu kalau mereka akan membunuh orang," sahut Yudi.
Mirna tambah bingung, "Siapa yang hendak mereka bunuh?"
Yudi menggeleng, "Aku tidak tahu, mereka tidak menyebut nama, yang kutahu sasaran mereka dua orang, lelaki dan wanita, mungkin juga pasangan."
"Pasangan? Mungkinkah itu Rick dan Stella Felds?" Mirna mengemukakan dugaannya. "Itu sebabnya pak tua yang tidak dikenali siapapun -selain Wayan- datang ke rumah pasangan Felds buat mengintai keadaan."
"Kalau dia hendak membunuh pasangan Felds, dia pasti sudah melakukannya di rumah mereka malam itu," sanggah Yudi. "Nyatanya dia sempat bicara denganku bagaimana dia mengenal Stella Felds yang banyak membantu kampungnya sejak lama."
"Mungkin saja cerita itu mengada-ada supaya orang tidak mencurigai kehadirannya di rumah Felds," komentar Mirna.
"Aku pikir sasaran mereka ada hubungannya dengan sesuatu yang bernama kuyang," kata Yudi. "Pria tua itu tak sengaja menyebutnya di depanku, dan menyebutnya lagi manakala bicara dengan Wayan."
"Kuyang?" wajah Mirna kaget luar biasa mendengarnya. "Kamu yakin tidak salah dengar orang itu menyebut nama itu?"
"Selain membicarakan status hubungan dari orang yang akan mereka bunuh, aku dengar si tua itu menyebut bahwa bila kuyang sudah memilih korbannya maka tidak ada yang bisa lolos. Aku belum mengerti hubungannya tapi sepertinya serius bila nama itu disebut beberapa kali..." Yudi mendongak dan tertegun melihat raut wajah Mirna pucat pasi.
"Tentu saja serius. Sangat serius. Kami, orang asli Bontang, tidak akan mau ikut campur bila itu ada sangkutannya dengan kuyang," Mirna berseloroh dengan nada tak enak.
"Memangnya apa sih kuyang itu?"
"Dengar, yud!" potong Mirna. "Kita sudahi saja pembicaraan kita, okay? Kurasa aku sudah cukup menjelaskan apa yang terjadi malam itu dan untuk itu aku minta maaf..." gadis itu berdiri demi melihat Yudi yang masih ingin bertanya lebih lanjut. "...dan sebaiknya kamu lupakan soal kuyang bila tidak ingin terluka di kota ini."
"Seseorang akan dibunuh oleh kedua ******** itu dan kamu ingin aku melupakannya?" tegur Yudi saat gadis itu melangkah pergi.
Mirna menoleh, "Kalau begitu melaporlah ke polisi dan biarkan mereka yang berurusan dengan para pembunuh itu."
__ADS_1
***