KUYANG

KUYANG
Episode 37


__ADS_3

”Oke, Roket...saatnya melanjutkan perjalanan...”


Sejenak Wayan memastikan arah yang diambilnya sesuai dengan titik koordinat di kompas lalu mulai melangkah. Masih sekitar lima jam lagi sebelum matahari masuk ke peraduannya. Kemungkinan ia bisa sampai ke wilayah di kotak nomor lima setelah berjalan kira-kira dua puluh kilometer lagi. Jarak yang tidak seberapa sebenarnya... dibandingkan jarak dari Bontang ke Rawen yang harus ditempuhnya selama satu jam perjalanan dengan mobil.


Hal semacam ini telah jadi makanannya sejak dua bulan belakangan. Memanfaatkan hari kerjanya yang terbagi menjadi tiga minggu kerja dan seminggu libur, dia melakukan pencarian secara efektif selama tujuh hari libur itu, bahkan tidak segan untuk bermalam di hutan dengan mendirikan kemah. Tujuannya hanya satu, bila tempat persembunyian kuyang itu terlacak maka dia bisa mengorek rahasia mereka lebih dalam lagi, siapa tahu rahasia itu berhubungan dengan kuyang-kuyang lain dan itu bisa mengantarkannya kepada keluarga-keluarga yang masih bersembunyi.


Wayan berharap rute ini tidak sulit dilalui agar dia bisa sampai kesana sebelum gelap. Harapan tinggal harapan, pepohonan di Rawen memang tidak serimbun dan serapat Bangkirai, hutan wisata terbesar di wilayah itu, namun kondisi wilayahnya yang lembab membuat tanah disitu harus diwaspadai sebab tanah gambutnya bisa berubah menjadi lumpur yang menghisap. Untung Roket bukan anjing gembala jerman sehingga dia bisa menggendongnya atau memasukannya ke dalam ransel jika menemui tempat-tempat seperti tanjakan curam.


Hawa di dalam hutan itu makin terasa panas akibat jepitan batang pohon yang kian menyempit. Sesekali terdengar bunyi burung berteriak atau derik hewan yang bersembunyi di bawah tanah. Suasana hutan yang remang-remang menimbulkan kewaspadaan tersendiri, waspada agar tidak sampai dikagetkan oleh ilusi-ilusi aneh yang terus membayanginya dengan sosok misterius yang muncul dari balik pepohonan di sekelilingnya. Roket yang semula bersemangat mencari akhirnya menolak keluar dari ransel Wayan. Diletakkannya kepalanya di tepian tas setelah menemukan tempat yang nyaman buat tidur.


”Yeah, tinggalkan saja aku sendirian...dasar pengkhianat,” tegur Wayan tertawa melihat moncong anjingnya muncul dari balik ransel.


Ditemukannya tempat yang cukup baik untuk terhindar dari serangan angin dari berbagai penjuru. Tempat itu cukup baik buat mendirikan tenda. Lelaki tua itu hanya butuh sepuluh menit untuk mendirikan tenda, dilanjutkan dengan menyiapkan makan malam berupa nasi dan sekaleng sardin masing-masing untuk dirinya dan Roket, ditambah dengan sekaleng bir bagi Wayan tentu saja.


Ini membuat keduanya kembali bersemangat, apalagi dengan adanya kehangatan yang berasal dari api unggun yang cukup lumayan untuk melawan dingin di sekeliling. Dia hanya harus berhati-hati untuk memastikan api unggun itu tidak sampai menyulut daerah sensitif dari tanah gambut yang ada disitu. Sedikit saja bara tersulut ke dalam tanah maka habislah tempat ini ditelan kebakaran yang memang biasa terjadi di hutan Kalimantan.


Setelah memadamkan perapian buat memasak Wayan merasa perlu berkeliling sebentar, memastikan keadaan disitu aman dari hewan buas. Dia telah menaburkan garam di sekeliling tenda untuk mencegah ular masuk tetapi hewan yang lebih besar tentunya tidak bisa dicegah hanya dengan segenggam garam.


”Kamu tinggal disini. Jaga tenda baik-baik,” kata Wayan pada Roket yang dibalas goyangan ekor. Anjing tekel itu masuk ke dalam tenda dan langsung meringkuk di kantong tidur


Malam yang dingin ataupun hadirnya manusia ternyata tak menyurutkan pesta di hutan itu. Kodok berkaong, kepak burung hantu yang mencari mangsa, nyanyian jangkrik, ataupun sepasang kunang-kunang yang menari nampak menghiasi riuhnya kehidupan malam di Rawen. Nampaknya kehidupan malam bukan hanya hak manusia saja, dan kehidupan malam makin mengagetkannya saat Wayan mendapati kerumunan semak mulberry tinggi yang janggal


Dikuaknya sesemakan tersebut dengan berhati-hati. Ternyata ada jalan setapak yang tertutupi di belakangnya. Dikelilinginya semak setelah mengeluarkan senter dari kantung celana. Cahaya senter memberinya sejengkal gambaran dari situasi yang dihadapinya. Jalan setapak itu ditumbuhi rumput liar dan alang-alang di kiri-kanannya, semak mulberry yang tumbuh merapat membuat kakinya tenggelam dalam tumbuh-tumbuhan tersebut.

__ADS_1


Diikutinya jalan setapak dan dibiarkannya dirinya dibimbing olehnya. Tidak mengurangi kewaspadaan, Wayan tak lupa mematahkan dahan pohon untuk meninggalkan jejak manakala bertemu percabangan jalan yang meragukan. Tiap sepuluh meter dia berhenti buat memastikan dirinya sendirian. Memasang kuping bila ada bunyi yang tidak biasa. Di tempat segelap ini dia juga harus berhati-hati terhadap ular yang sewaktu-waktu bisa saja jatuh dari atas pohon atau macan kumbang yang menerjang dari suatu tempat di balik semak. Untunglah sejauh ini semuanya aman.


Pria itu tidak tahu sejauh mana jalan setapak ini harus disusuri, dan sampa berapa lama lagi. Rasa penasaran terus menggerus logikanya untuk menyusuri lebih jauh sampai jalan setapak tersebut berakhir di daerah landai yang dikelilingi bambu. Angin berhembus sepoi meniup dedaunan bambu yang bergemerisik kesenangan. Pada saat itulah Wayan melihat dua sosok berdiri diantara kegelapan...dari posturnya dia yakin keduanya manusia...tapi apa yang mereka lakukan di tengah hutan yang terpencil ini?


Jantungnya berdebar saat dia mendekat untuk memeriksa...


Lelaki itu merunduk menghindari cabang pohon yang bersliweran di atas kepalanya sambil setengah berlari. Buluh rumput liar yang tumbuh setinggi lutut menyabet kesal tetapi sama sekali tidak mempengaruhinya karena jeans tebal yang dikenakannya. Wayan berusaha menahan langkahnya supaya tidak menimbulkan bunyi mencurigakan yang akan membuat kedua orang itu jadi curiga.


Ditahannya pancaran bohlam senter dengan menangkupkan tangan di depan mulut benda itu sementara mencari tempat dimana dia bisa mengamati kedua orang itu dengan seksama sekaligus menjaga jarak aman. Wayan berhenti di belakang sebuah pohon cendana raksasa yang memiliki otot akar berbonggol dan berdiri sekitar lima meter dari kedua orang itu berada, jarak yang paling dekat diantara pohon-pohon lain. Wayan berharap angin malam dapat menghantarkan suara lebih jelas agar dia dapat menguping pembicaraan mereka.


Kedua orang itu kelihatannya habis bersenang-senang, mungkin juga habis merayakan sesuatu karena sesekali ada tepukan, lalu salah satunya – yang wanita – menyanyi. Wayan mengerutkan kening, dia ingat nada lagu ini pernah didengarnya di komedi putar sebuah sirkus yang pernah singgah di Bontang puluhan tahun silam.


Sirkus?


Buat berjaga-jaga dikeluarkannya sebuah benda berbentuk mirip kaca pembesar dari tas pinggang. Benda itu mampu membedakan siluman kuyang dari manusia, tetapi dia tidak tahu apakah itu juga cukup kuat untuk melihat hantu.


”Ini menyenangkan, bukan?”


”Jadi bagaimana rasanya naik gajah?” balas si laki-laki.


”Tidak enak diangkat seperti itu. Tapi setelah duduk diatas gajah rasanya luar biasa.”


”Tentu, malam ini kamu bintang pertunjukannya. Kamu lihat reaksi penonton tadi?”

__ADS_1


”Itu kan karena mereka menyukai gajah itu melaksanakan tugasnya dengan baik.”


”Kurasa mereka menyukai kombinasi yang cocok antara kalian berdua.”


”Sialan, jadi kamu pikir aku termasuk golongan gajah?”


”Bukan! Kamu cocok jadi si ratu gajah.”


”Ih, nyebelin. Tapi ada nggak enaknya duduk diatas gajah...”


”Takut jatuh dari ketinggian?”


”Gajah itu punya bulu dan bulunya ternyata setajam duri. Kakiku tergores olehnya.”


”Untung kamu tidak pakai rok mini.”


”Aduh, jangan ngomongin begitu, deh...”


Terdengar keduanya tertawa cekikikan lalu diam. Suara itu hilang begitu saja. Wayan mengerutkan kening. Dia melongok untuk mengintip, setelah menunggu beberapa saat akhirnya menyalakan senter dan mengarahkannya berkeliling. Kedua orang itu tidak kelihatan dimanapun.


”Halo...” sapa Wayan dengan menggigil, atau yang mungkin juga gabungan antara rasa merinding dan kedinginan.


Dia keluar dari tempat persembunyian dan mencari kesana-kemari, namun dia tidak menemukan siapa pun disana. Kedua orang tadi seolah lenyap ditelan asap. Wayan memanggil lagi, ”Halo…dimana kalian?” cuma gema dari seluruh sudut hutan yang membalas tegurannya...

__ADS_1


***


__ADS_2