KUYANG

KUYANG
Episode 42


__ADS_3

Yudi menoleh saat bahunya digamit seseorang, ”Kita pergi sekarang...”


Sungguh ajakan yang melegakan...


Wayan memandanginya cemas, setelah memastikan bahwa Yudi sudah dapat menguasai dirinya baru dia yakin mereka dapat melanjutkan misi mereka. Pria tua itu mengambil  benda yang  menyerupai jarum kompas di atas papan batu berukirkan arah mata angin. Jarum kompas itu mula-mula berputar kencang sampai gerakannya menjadi lebih tenang dan akhirnya menunjuk arah tenggara.


Setelah Wayan mendapatkan arah yang dituju, ’busa-sabun’ yang melingkupi mereka berderak keras, terdengar bunyi mendenging dan bola itu meluncur keluar dari kuyang yang saat ini tidak lagi berbentuk bola api tetapi kepala tanpa tubuh. Wujud yang dijuluki Wayan sebagai wujud mistik utama yang berkekuatan paling tinggi...


Yudi sempat melirik dan mengernyit jijik pada kuyang yang sibuk mengorek sesuatu dari balik handuk sang gadis yang masih meliliti tubuhnya. Gadis itu masih dalam keadaan pingsan sehingga tak merasakan saat leleran darah meluncur diantara pahanya, membasahi betis, lalu turun ke lantai kamar. Saat ini mungkin saat paling indah buat sang kuyang. Tak ada yang mampu menyingkirkannya dari tempat ini, juga gadis itu, selain kesadaran bahwa sudah waktunya kembali ke tubuh fana yang ditinggalkannya.


Yudi bernafas lega karena tidak harus berlama-lama di tempat itu, ’busa-sabun’ yang membawa dirinya dan Wayan meluncur dengan kecepatan tinggi menjauhi si monster sadis pembunuh jabang bayi itu. Kecepatan busa sabun yang mereka naiki tidak kalah kencang dengan kecepatan kuyang saat berada dalam bentuk bola api, sepertinya hendak memburu waktu, dan melesat ke arah yang ditunjuk papan kompas, arah yang Wayan bilang merupakan arah kedatangan si kuyang sebelum mereka menumpanginya.


”Kamu bisa melanjutkan?” tegur Wayan yang kali ini nampak tidak terlalu yakin.


”Asal tidak menjijikkan seperti tadi...” kata Yudi.


”Sudah kubilang, yang kamu lihat belum apa-apa,” ujar Wayan.


”Jangan mengejekku. Aku tahu kamu mau bilang kalau aku tidak melihat apapun tadi,” ujar Yudi kesal demi melihat senyum ejekan merona di wajah Wayan. ”Sebenarnya aku sudah melihatnya beberapa kali...”


”Masa?” Yudi kemudian menceritakan mimpi-mimpinya. Tak ada lagi alasan buat merahasiakannya. Wayan sudah membuka semua rahasianya dan Yudi merasa dirinya harus melakukan hal yang sama. Wayan memandangi Yudi dengan takjub. ”Jadi kamu selama ini mengalaminya langsung tapi tidak dapat menjelaskan apa yang sebenarnya yang terjadi...”


”Aku tahu itu kuyang...tapi aku tak tahu bagaimana aku bisa melakukan itu. Apakah anda sudah pernah mengalami yang kurasakan?”


”Maksudmu rasa mual itu? Yang bikin kamu muntah?” saat Yudi mengangguk untuk mengiyakan lelaki itu terkekeh. ”Tidak! Aku selalu tidur nyenyak. Terutama setelah membunuh kuyang-kuyang.”

__ADS_1


“Sangat menyenangkan.”


”Seperti yang kuduga, kelihatannya kamu punya sesuatu yang tidak kumiliki.”


”Itu tidak membuatku merasa lebih baik.”


”Kerendahan hati merupakan awal yang bagus.”


”Bisakah penglihatan itu digeser waktunya?”


”Menjadi firasat seperti yang kamu pikir itu?”


”Begitulah, kupikir akan ada banyak yang aku tolong kalau aku bisa melihat firasat itu sebelum terjadi pada si korban,” ujar Yudi.


Wayan menjawab dengan suara serak, ”Sayangnya aku tak tahu. Aku juga tidak mengerti bagaimana kamu bisa memiliki kemampuan macam itu. Tidak tahu ada orang yang mampu sedekat itu dengan kuyang tanpa peralatan seperti yang kugunakan. Yang jelas, memindahkan mimpimu menjadi firasat merupakan pekerjaan sang Pencipta...bukan pemburu siluman yang sudah mulai uzur ini...”


Benda yang mereka tumpangi menghampiri sebuah gubuk yang berdiri di tengah pematang sawah lima meter di depan. Gubuk itu beratap rumbia, dengan sisi rangka bambu, dan dinding rotan. Sebuah bangunan yang sehari-hari digunakan para petani untuk istirahat atau makan siang. Nampak sebagai bangunan biasa tetapi gubuk yang lengang itu dipenuhi area kegelapan. Ada rasa tak enak mengganjal hatinya, mungkin ini akibat tekanan pada paru-parunya yang membuat nafasnya tersengal.


Di bawah cahaya lampu minyak, sosok itu tampak berdiri kaku. Diam tak bersuara. Mirip patung tanpa kepala yang biasa dipakai di toko-toko pakaian sebagai model baju. Disamping itu sosok ’patung’ yang ada di hadapannya ini bukan terbuat dari porselen atau kayu melainkan daging. Dengan gaun tipis yang potongannya lebih cocok disebut daster. Ujung bagian bawah dasternya sedikit bergerak-gerak ditiup angin sepoi-sepoi.


Pandangan Yudi tidak lepas dari sosok tubuh tanpa kepala dalam gubuk itu sehingga melewatkan perhatian saat Wayan mengeluarkan mereka dari bola kaca ajaibnya. Tahu-tahu saja gelembung dari bola kaca yang melindungi mereka pecah laksana gelembung sabun yang tertiup angin deras dan mereka berpindah tempat diluar. Tubuh si kuyang yang tampak besar kini jadi seukuran dirinya, sedikit lebih pendek malah...


”Inikah tubuh si kuyang?” desis Yudi memperhatikan tubuh yang mematung itu dengan setengah takjub. Sulit dipercaya kalau tubuh itu milik manusia juga seperti dirinya. Begitu pandangannya tiba di sekeliling leher makhluk itu dia merasa mual mendapati lelehan darah disana.


Wayan berdecak, ”Pernah terbayang sakitnya leher dipenggal? Makhluk-makhluk siluman ini mengalaminya saat bertransformasi...herannya itu tidak membuat mereka kapok...”

__ADS_1


Yudi mendengus pada bau menyengat yang menusuk penciumannya, aromanya seperti campuran terasi lama dan kotoran hewan, sesuatu yang tak tercium sebelumnya, mungkin karena tertahan tebalnya bola kaca, ”Mengingatkanku pada Michael Jackson. Dia tidak pernah kapok naik meja operasi plastik demi mendapatkan kesempurnaan penampilan.”


Wayan meringis mendengar komentar Yudi sebelum kemudian menunjuk bagian atas leher kuyang, ”Batas lepasan ini meninggalkan bekas saat dia kembali jadi manusia normal. Bekas berupa lingkaran merah di leher.”


”Itukah yang membuatmu sadar bahwa Mirna itu kuyang?”


”Kan sudah kubilang, Roket yang menemukannya,” jawab Wayan. ”Tapi bekas itu selalu bisa membantuku mengidentifikasi mereka meski tidak selalu mudah, apalagi jaman sekarang lingkaran merah itu bisa disamarkan dengan bedak atau lotion. Supaya bisa memastikan dengan lebih baik kamu perlu memakai ini...”


Wayan memberikan kaca pembesarnya kepada Yudi yang langsung diletakkannya di depan mata. Dari balik benda itu Yudi melihat sosok besar binatang...monster lebih tepatnya... seperti yang dilihatnya di ruang bawah tanah Mirna dan itu membuat nafasnya tercekat. Dia menoleh pada Wayan dengan wajah tegang, ”Sosoknya persis yang kulihat dengan monster di ruang bawah tanah rumah Mirna. Apakah itu salah satu bentuk perubahan wujud mereka selain kepala tanpa tubuh?”


”Salah satunya,” Wayan mengerutkan kening. ”Kamu melihat monster macam itu? Kalau begitu benar, baik Mirna atau ibunya, menyembunyikan tubuh mereka di rumah itu.”


Diserahkannya kembali kaca pembesar itu pada Wayan, ”Apa nama benda hebat ini?”


”Tidak ada namanya. Dan nama tidak penting. Yang penting aku tahu kegunaannya.”


”Bisakah dia dipakai dengan konsep pembalik?”


”Maksudmu?”


”Melihat seperti apa tubuh manusia si monster...”


”Sayangnya tidak!”


Yudi mendekat, bermaksud menyentuh tubuh sang kuyang tapi saat itu juga jemarinya tersengat sesuatu yang panas. Cepat-cepat ditariknya tangannya, dimasukannya telunjuk yang tersengat ke dalam mulut buat didinginkan. ”Apa itu tadi?”

__ADS_1


***


__ADS_2