
Bulu kuduk Yudi spontan berdiri begitu tangisan bayi itu terdengar untuk kedua kalinya. Meski tangisan yang kedua ini lebih lirih dari yang pertama namun tetap saja ini memang suara bayi yang sebenarnya. Suara ini jelas tidak bisa diabaikannya karena sudah dua kali terdengar dengan begitu nyata, apalagi masih ada trauma yang melekat bila mengingat mimpinya tentang bola sinar yang mengeluarkan tangisan bayi barusan. Rasa penasarannya yang terpicu membuatnya benar-benar terjaga.
Diingatnya ruang misterius di bagian bawah rumah ini saat didengarnya raungan itu malam kemarin. Apalagi tangisan itu rasanya seperti datang dari ruangan sebelah bawah, entah ini hanya perasaannya atau memang banyak suara-suara ganjil menghantui rumah ini... yang membuat suasana di tempat ini semakin aneh...setelah raungan kini tangisan bayi. Ini membuat Yudi ingin menyelidiki lebih jauh...
Setelah memastikan Mirna dalam keadaan pulas pemuda itu bangun dari sofa, memakai sandalnya, mengambil lampu minyak yang berada dekat meja nakas, lalu berjalan keluar menuruni tangga. Saat itulah tangisan bayi tadi terdengar kembali, tangisan lirih yang membuat sukmanya teriris, seolah ada kepasrahan dari makluk kecil tak berdaya itu dalam menghadapi maut yang menjelang. Yudi tidak tahu apakah tangisan itu berhubungan dengan mimpinya barusan, mungkin telinganya menangkap suara itu yang lalu mengantarkannya ke alam bawah sadarnya hingga terbentuklah mimpi mengerikan itu.
Dia pernah membaca tentang hal itu, bagimana otak manusia mampu menangkap suara meskipun si pemiliknya dalam keadaan tidur dan mengirimkannya ke otak. Syaraf otak yang dipenuhi sensor kemudian menggerakan kemampuan imajinatif dalam bentuk gambar sehingga orang yang sedang tidur pun mampu mengenali sekelilingnya. Kemampuan semacam itulah yang dimiliki juga oleh orang yang berjalan dalam tidur sehingga mereka tidak menabrak atau terjatuh dari tangga saat berjalan dalam tidur mereka.
Kegelapan di lantai bawah sama gelapnya seperti di lantai atas. Bahkan mungkin lebih parah sebab minimnya ventilasi di ruangan itu membuat cahaya dari luar sulit melakukan penetrasi ke dalam. Lelaki itu mengarahkan lampu minyaknya dan hanya mendapati perabotan yang diam membeku di tempatnya. Belum beberapa menit disitu terdengar ketukan langkah kaki dari tangga sebelah atas.
Secepat kilat Yudi merunduk ke bawah tangga dan berjongkok seraya menutupi lampu minyak dengan tubuhnya supaya cahaya lampu yang dibawanya tidak terbias keluar. Dan dia begerak tepat waktu karena bunyi langkah itu semakin jelas. Makin mendekatnya ketukan itu diikuti cahaya yang terpantul makin kuat ke lantai, membuat Yudi bisa melihat sosok itu tidak lain adalah Bunda Mawar.
Wanita itu sampai di lantai bawah, ke suatu tempat yang terpisah cuma beberapa meter dari persembunyiannya, saat melewati tangga Yudi bisa melihat punggung si wanita yang terbalut kimono warna cerah. Bunda Mawar melangkah ke arah gudang anggur, mungkin ingin mengambil satu-dua sloki anggur sebagai teman tidur...atau... mengurus bayi yang menangis itu...pertanyaannya, kalau memang ada bayi disana bayi siapakah itu?
__ADS_1
Yudi beringsut keluar dari persembunyiannya dan mengikuti wanita itu beberapa menit kemudian, wanita itu belum terlalu jauh karena Yudi masih dapat melihat cahaya dari lampu petromaks yang dibawanya. Keduanya memasuki gudang anggur dalam waktu yang berselang. Disini Yudi harus lebih berhati-hati lagi agar dia tidak menyenggol botol-botol anggur di rak ataupun yang ditaruh sembarangan di lantai.
Gudang anggur itu pengap seperti biasanya. Yudi menahan nafas untuk mencegah bau memabukan itu menyengat penciumannya. Lampu langit-langit yang jadi andalan buat menerangi ruangan tersebut telah digantikan tugasnya oleh empat buah obor yang berada di masing-masing sisi bangunan berbentuk persegi panjang tersebut. Cahaya dari obor itu melegakan sebab dia tidak perlu terpicing-picing mengikuti cahaya petromaks Bunda Mawar. Wanita itu berhenti di depan pintu ruang bawah tanah, namun Yudi melewatkan sesuatu saat orang yang diintainya itu menghilang ke balik pintu.
Nah...nah...ternyata pintu itu bisa dibuka. Kamu bohong padaku ya, ibu yang cantik?
Yudi mendekati pintu tersebut dan memperhatikannya dengan seksama. Dia mengerutkan kening heran karena tidak ada kenop ataupun tuas pintu disana. Jemarinya meraba permukaan pintu, mencari-cari sesuatu yang bisa dipakai untuk membuka. Beruntung jaman dahulu teknologi tidak secanggih sekarang, jadi seharusnya pintu ini tidak dilengkapi pengaman canggih macam voice password atau sight coding.
Pintu itu terbuat dari tujuh buah kayu melintang yang dipaku sejajar. Meskipun buatannya terkesan asal, bahan kayunya yang bermutu baik membuatnya mampu bertahan dari masa dimana pintu tersebut dibuat sampai sekarang. Tak ada sesuatu yang ganjil seperti benjolan, cekungan, atau mungkin benda-benda tersembunyi yang bisa merupakan kenop pembuka pintu. Pintu itu hanya pintu biasa.
Yudi meletakan telinga ke daun pintu. Bukan suara bayi atau raungan atau bunyi ganjil lainnya yang terdengar dari dalam, melainkan langkah kaki bersliweran yang pastinya terlalu kasar buat makluk halus, atau siluman, atau apapun itu yang dituduhkan Bunda Mawar ada dibaliknya. Mungkin itu langkah kaki Bunda Mawar sendiri, dan tampaknya dia sedang sibuk di dalam sana....dan dia jelas tidak sendiri...
”Kamu ini memang bodoh...” terdengar suara Bunda Mawar menegur. Ucapannya diikuti beberapa denting samar menyerupai bunyi sendok membentur bibir gelas.
__ADS_1
”Entah sampai kapan ini manjur. Kamu harus mendapatkan Senajze itu.”
”Minum ini...”
Orang yang diajak bicara oleh Bunda Mawar lebih banyak diam, pembicaraan keduanya selama beberapa menit setelahnya kurang bisa dipahami Yudi karena lebih banyak gumaman yang terdengar disana tetapi dia menyadari kalau wanita itu sebentar lagi akan meninggalkan ruangan. Pemuda itu bergegas pergi, melewati dua-tiga anak tangga dengan langkah panjang, kemudian bersembunyi ke balik tumpukan gentong besar di sebelah kanan ruangan tersebut. Terdengar bunyi pintu berdesir dan Yudi segera memaki dalam hati, pantas saja dia tidak bisa membuka pintu itu karena pintunya terbuka bukan dengan cara didorong melainkan digeser.
”Kamu tunggu disini, aku mau ke kamar mengambil beberapa barang,” ujar Bunda Mawar kepada orang yang di dalam. ”Jangan lupa, bereskan sampah itu sampai aku kembali.”
Bibir sang wanita yang cemberut menunjukkan kalau perasaannya sedang tidak senang, kesan cantik saat ini jauh darinya. Dia terlihat...berantakan...lelah...dan kurang tidur. Sesekali dia terbatuk dan memaki lirih, ”Dasar... merepotkan!” lalu pergi dengan meninggalkan pintu ruang bawah tanah itu terbuka lebar.
Ini kesempatan baik! Kamar Bunda Mawar di lantai tiga, perlu waktu sekitar lima belas menit baginya untuk kembali kemari. Jadi Yudi punya kesempatan sebentar untuk mengintip siapa orang yang diajak wanita itu bicara di dalam. Begitu wanita itu lenyap dari pandangan Yudi berdiri dan masuk ke dalam setelah memastikan ruangan itu kosong lebih dulu. Terdapat semacam langkan tepat di belakang pintu yang menjorok ke bawah dan amat gelap. Mustahil menuruninya tanpa penerangan,
Yudi bersyukur dirinya sudah bersiap dengan lampu minyak di tangan hingga dia bisa melihat keadaan di hadapannya. Langkan itu terhubung ke undakan terjal yang harus ditapakinya dengan hati-hati agar jangan sampai terpeleset, nafasnya semakin memburu seiring makin dekat dirinya ke bagian akhir tangga yang berjumlah delapan belas undakan, dan sebabnya apalagi kalau bukan karena rasa cemas akan apa yang bakal ditemuinya di ruang bawah tanah tersebut...
__ADS_1
Siapa orang yang ada di bawah sini? Kenapa dia bisa ada di dalam sini?
***