
”Peri hutan penyebar asmara. Menurut orang-orang tua dahulu, calon suami-istri yang akan menikah atau pasangan wajib buat datang ke danau itu untuk memastikan bahwa orang yang mereka pilih adalah orang yang tepat. Jika air danau berubah hijau maka itu artinya Dewi Hindeari menyetujui mereka dengan cara keluar dari peraduannya di dalam sungai untuk mereka.”
”Semacam mendapat restu?” tanya Yudi.
”Bukan. Hanya sebagai tempat untuk memastikan bahwa keputusan yang kita ambil tepat. Menikah itu bukan main-main. Dan Dewi Hindeari adalah jawaban bila berhubungan dengan cinta. Kalau air danau berubah hijau itu artinya Dewi Hindeari memastikan bahwa orang yang kita pilih adalah orang yang tepat tapi jika warna danau tetap bening maka dipastikan hubungan pasangan itu tidak dapat langgeng.”
El menyingkirkan piringnya yang telah kosong ke samping dan Galih dengan sigap menumpuknya diatas piring bekas lauk, ”Itu pula yang terjadi pada Ayah dan Bunda. Mereka menanyakan itu ke danau hijau dan jawabannya...kalian sudah tahu jawabannya...”
”Tapi masakan mereka berpisah hanya gara-gara itu?” Mirna memprotes.
”Memang tidak. Danau hijau yang tidak memancarkan cahaya kehijauannya yang magis itu hanya pertanda awal. Setelah itu banyak hal yang membuat mereka sadar kalau mereka amat berseberangan. Meskipun cukup nyaman dengan kehadiran Ayah tetapi Bunda sepertinya punya dunia sendiri yang tak bisa dijangkau. Aku sulit menjelaskan atau menggambarkan detilnya karena aku masih terlalu kecil untuk memahaminya.”
”Memangnya ada berapa pasangan yang berhasil gara-gara danau hijau itu?” tanya Mirna setengah bergumam.
”Tak tahu! Belum pernah ada yang membuat survey tentang itu,” jawab El. ”Lagipula itu kan hanya legenda. Kisah fiktif. Dan aku tidak percaya yang begituan. Buatku jawaban ilmiah lebih memuaskan dan kupikir warna hijau itu muncul karena bias cahaya yang menyinari lumut yang tumbuh di dasarnya.”
Galih segera menimpali, ”Tapi itu menarik, sayang! Kamu harus mengajakku kesana.”
”Memangnya kita mau kawin?” tanya El sewot.
”Oleh karena itu kita perlu kesana buat memastikannya.”
”Tidak perlu dipastikan! Hanya melihatmu saja aku tahu kita tak mungkin menikah.”
”Lalu menurutmu apa yang kita lakukan selama ini?” tanya Galih dengan melatyangkan tangannya berkeliling ruangan, gadis itu nampak mulai emosi.
”Itu kan maumu sendiri pindah bersamaku,” sahut El dengan entengnya.
”Cukup, ah! Aku tidak mau dengar ocehan seperti ini lagi,” ujar Galih marah lalu bangun dengan membawa beberapa tumpuk piring.
”Aku akan membantumu,” Mirna ikut berdiri, dengan maksud ingin menenangkan pacar kakak tirinya. Lalu mendesis pada pria itu, ”Jangan keterlaluan El! Dia gadis baik untukmu!”
Begitu kedua gadis itu sibuk di tempat cuci piring El menoleh pada Yudi, setelah menyalakan rokoknya, ”Yang lebih pantas ke danau hijau itu sebenarnya kalian!”
”Kami? Maksudmu...Mirna dan aku?” Yudi meyahut gugup.
”Siapa lagi?” El menyeringai. ”Dari pertama melihat kalian berdua aku sudah mencium sesuatu yang romantis.”
”Masa sih? Padahal aku dan Mirna tidak pacaran. Kami hanya berteman.”
”Jangan bohong. Aku melihat sinar matamu yang menginginkannya...” Yudi sama sekali tidak bisa membantah hal tersebut. ”...kamu mau tahu pendapatku tentang kalian berdua?”
”Jangan katakan sesuatu yang konyol.”
”Sebaliknya! Kalian berdua serasi,” Yudi hanya bisa terdiam. Berusaha mencerna kata-kata itu dengan kecepatan yang membuat malu komputer pentium satu. El menambahkan, ”Pergilah kesana dan aku yakin kamu akan mendapat jawabannya.”
__ADS_1
Yudi tertawa serak, berusaha mengatasi kegugupannya, ”Entahlah...mungkin nanti... lagipula aku tak tahu tempatnya.”
”Maka dari itu aku menyuruh kalian kesana, kan? Bukan kamu sendirian! Mirna tahu tempatnya,” komentar El sambil mengepulkan asap rokok. Dia mengeraskan suaranya begitu kedua gadis itu kembali ke meja makan setelah selesai mencuci piring. ”Habis ini aku yang minta kalian cerita tentang kisah cinta kalian di kantor. Karena itulah aku mengundang kalian kemari.”
***
Obrolan yang makin menyenangkan membuat keempatnya lupa waktu. Tak terasa siang berganti sore, dan sore sampai ke magrib, hingga bunyi guruh dan langit yang menggelap membuat Yudi dan Mirna sadar kalau hujan sebentar lagi turun dan sudah waktunya buat mereka kembali ke rumah. Namun buat Mirna, menyudahi hari itu bersama El sama sulitnya seperti memisahkan anak kangguru dari kantung perut ibunya.
Gadis itu berjalan menggandeng tangan saudara tirinya itu saat mereka melangkah keluar dari karavan El menuju lapangan. Suasana perkemahan itu lengang hingga membuat Yudi bertanya-tanya apakah malam ini sirkus dan pasar malam tidak akan beraksi.
”Kalau begitu kamu harus ingat untuk menempatkan kue itu di kulkas...” Mirna terkekeh-kekeh. ”Kalau tidak dia akan lumer dan kamu bisa memakainya sebagai maskara badut.”
”Jangan ingatkan aku pada loyang pai yang dilempar itu...” sambut El juga dengan tawa.
Yudi dan Galih berjalan di belakang mereka dengan tersenyum-senyum. Dari belakang keduanya mirip sepasang anak kecil yang sedang bercanda. Di satu kesempatan Yudi sempat menengok pada Galih lalu menunjuk Mirna dan El dengan sudut matanya. Galih balas tersenyum lalu menggeleng.
”Kamu harus datang sekali-kali menjenguk, Bunda,” kata Mirna setengah merajuk.
”Yeah...” El menyahut acuh tak acuh.
“Mumpung kamu masih disini.”
“Okelah. Aku akan cari waktu yang tepat buat itu.”
”Janji, ya...” Mirna menunjuk hidung El dengan telunjuknya.
”Kamu sih nggak akan pernah tahu bagaimana dia menepati janji,” sindir Galih.
”Oh, aku tahu. Meski jarang bertemu dengannya aku tahu bagaimana adatnya. Jadi aku harus minta janjinya atas nama kuburan ayahnya...”
”Sungguh mengerikan,” Yudi tersenyum kecil.
”Tapi hanya itu yang akan membuat El menepati janji.”
”Aku tidak harus melakukan itu. Pokoknya kamu akan kukabari...” El manyun lalu menoleh pada Yudi. ”Kuharap kisahmu dan adik tiriku berlanjut ke akhir yang bahagia. Datanglah ke danau itu...”
”El...” sela Mirna memukul bahu saudara tirinya, wajahnya bersemu merah.
Saudara tirinya belum berhenti, ”Jaga dia baik-baik, bung! Karena dia adikku tersayang.”
”Datanglah ke rumah El. Kalau bukan untuk bunda kamu bisa melakukannya untukku.”
”Dengan resiko kamu akan didamprat olehnya?”
”Ayolah, El...”
__ADS_1
”Oke...oke...nanti kita tentukan waktunya. Bye sis,” El mencium pipi Mirna sebelum gadis itu naik ke mobil. Galih hanya memperhatikan di belakang dengan tangan terlipat di dada.
”Makasih ya buat makan siangnya. Itu makan siang terenak,” kata Mirna pada Galih.
Gadis itu mengangguk, ”Mampirlah lagi kapanpun kamu mau.”
Keduanya sampai di rumah beberapa menit saat hujan baru saja mengguyur dengan derasnya hingga membuat suasana malam itu makin terasa murung. Begitu turun dari mobil mereka harus buru-buru lari ke teras bila tidak ingin basah kuyub oleh hujan.
Anehnya, tidak ada seorang pelayan pun yang muncul menawari payung, sesuatu yang sebenarnya diperlukan keduanya saat itu, malahan pria bungkuk berseragam pelayan itu menawari makan, padahal baik Yudi atau Mirna tidak berminat karena keduanya masih kenyang. Mirna menoleh pada Yudi, ”Kamu mau menemaniku nonton?”
Yudi mengangkat alis mendengar itu, ”Kupikir di rumahmu tidak ada televisi.”
”Memang tidak. Bunda benci televisi. Tapi aku punya satu di kamarku.”
”Dan kamu membiarkanku mati gaya tanpa hiburan sejak kemarin?” Yudi memasang tampang kesal yang malah membuat Mirna cekikikan.
”Kamu mau memaafkanku kalau aku mengajakmu nonton film bagus?”
”Mungkin...” Yudi lalu memberi tanda dengan jempol dan telunjuk. ”...mungkin sedikit.”
Mirna menggandeng Yudi, ”Ayolah, lagipula tidak ada yang lebih menyenangkan daripada menonton saat hujan, bukan?”
Yudi tidak dapat mempercayai dirinya berada di kamar Mirna, di kamar seorang gadis, yang ternyata berada di lantai yang sama dengan kamarnya hanya saja di sisi sayap yang berseberangan dan sang pemilik ruangan sendiri yang membawanya ke dalam sana. Mungkin El benar...mungkin mereka memang ditakdirkan untuk bersama...dan meski beberapa kali gadis itu menunjukkan ketertarikan kepadanya, sayangnya dirinya terlalu bodoh buat menyadarinya...
Pikirannya terpacu pada Siska, mungkin saat ini dia tengah meringkuk di ranjang sembari mengelusi perutnya, bercengkerama dan menggadang-gadang anak dalam rahimnya, disertai alunan lembut musik klasik untuk menenangkan situasi dari badai yang membuat hati tak menentu. Dia tidak mungkin membiarkan gadis malang itu sendirian menanggung derita yang diberikannya, walaupun faktanya tidak bisa ditutupi bahwa dia juga cinta Mirna... amat sangat...
Ketertarikan ini bukan pada hal erotis – meskipun Mirna memiliki level keseksian yang lebih tinggi dari Siska – tapi Mirna punya hal tak terlihat yang menariknya begitu kuat laksana magnet menarik besi. Bidadari itu menghiasi pikirannya dimana Yudi sadar dirinya mungkin bisa gila bila kehilangan gadis itu sehari saja...
Dia tak mau menyakiti hati salah satu dari kedua gadis itu. Andai saja ada cara buat mempertahankan mereka... andai saja dia bisa memiliki mereka berdua...dia tidak akan berpikir dua kali buat mengambil cara tersebut. Bisakah dia memiliki mereka berdua?
”Yud...” suara Mirna membangunkan pria itu dari lamunan.
”Eh...ya?”
”Filmnya mau mulai.”
Tak satupun adegan yang bermain di hadapannya tercerna pikiran Yudi, Pandangannya memang terarah pada layar dan suara yang keluar dari sistem pengeras suara cukup berisik tapi hanya kehampaan yang didapati Yudi saat dirinya duduk dengan serba salah di sebelah Mirna...di satu waktu dia ingin memeluk gadis itu tapi detik berikutnya dia merasa itu hal yang salah. Yudi tak perlu lama-lama berada dalam kebingungan yang menjengkelkan, beberapa menit setelah film tersebut berputar gambar-gambar film itu perlahan mengabur, menuntun dirinya ke alam tidur.
Dia baru terbangun ketika terdengar dentuman keras, kusen kaca mengeluarkan bunyi keratak saat bergetar akibat tekanan guruh, detik berikutnya kilatan cahaya yang menyilaukan memberkas dari luar. Kilat itu luar biasa besar, membuat bumi bagai terpukau oleh pesonanya yang putih mulia, pekat malam membeku untuk sesaat untuk memberi waktu takzim kepada sang guntur. Hanya beberapa waktu berselang setelah petir itu menyambar, seluruh lampu padam dan kamar diselimuti kegelapan.
Saat itu Yudi menyadari Mirna tidur di sebelahnya. Dengan posisi berbaring melintang sembari memeluknya, gadis itu menjadikan bahu Yudi sebagai bantal, bisa dirasakannya nafas gadis itu di lehernya. Pemuda itu mengumpat dalam hati, ”Sial! Kenapa hal macam ini harus terjadi sekarang?”
Saat itu penciumannya merasakan bau menyengat...bau yang tak enak...pandangannya sayup-sayup di tengah kegelapan ruangan dan saat tersadar sepenuhnya, cahaya pertama yang didapatinya adalah sepasang bola kuning berpendar di lantai dekat pintu. Sepasang bola kuning itu bergerak mendekati ranjang yang terhampar di hadapannya. Dari ukurannya, Yudi menduga itu mata seekor hewan, dan yang terlintas pertama kali dikepalanya adalah kucing.
Diantara kegelapan terdengar bunyi mendengkur yang membenarkan dugaan Yudi. Sosok di lantai itu menyelinap ke bawah ranjang sebelum meloncat dengan lincahnya, saat mendaratpun Yudi hanya mendengar bunyi samar tapak kaki yang menyentuh seprai di tepian ranjang. Baru ketika berada di bagian ranjang yang tertimpa cahaya dari luar dilihatnya sosok usil itu seekor kucing hitam...
__ADS_1
***