
Parit darah telah terbentuk, tidak perlu sampai penuh tapi cukup membasahinya sebagai tanda bahwa ikatan itu telah sempurna, begitu yang dikatakan dalam buku tua Wayan. Roh merupakan wujud halus yang menyebar luas sehingga bila ingin mengumpulkan energinya maka wujud itu perlu dimampatkan dalam sebuah arena. Parit darah inilah yang membentuk arenanya. Ini sesuai dengan psikologis ruangan, semakin sempit ruang yang diberi maka semakin naik tensi dari tingkat tekanan.
Doanya masih teralun sendu, ”..hanya burung di udara yang mengerti kesedihanmu... kesenyapan pohon tua yang mengerti tangismu...aku memintamu datang dan menemani... sebab aku merasakan sedih di hati...”
Tangannya kini penuh oleh lumuran darah. Merah. Segar. Tak mau membuang waktu dia berdiri diluar parit darah, ”Ulurkan tanganmu...” Yudi berkata kepada si kucing raksasa.
Telapak tangan monster itu membuka ke depan, panjang dengan cakar menggantung di udara. Telapak tangan mereka bertemu, darahnya melumuri tangan si monster yang sesekali menjilati lidahnya, mungkin karena haus ingin mencicipi darah yang menyerbakkan anyir segar menggoda.
Suaranya yang melantunkan mantera meninggi,”...datanglah menjemput kekasihmu...yang ada disini untuk melarutkan lukamu...untuk menghapus mimpi burukmu... menuntaskan api dendammu....”
Puisi pujiannya selesai dan kini kata kuncinya...
”Hum luantiasku..Houm shantivide... aku memanggilmu untuk bersatu....” dia mengucapkannya berulang-ulang. ”Hum luantiasku...Houm shantivide...”
Suara tunggalnya tiba-tiba menjadi ganjil, ”aku memanggilmu untuk bersatu...” memecah menjadi gema lalu disusul dengan gema lain, lalu yang lain, lalu satu lagi. Seakan ada puluhan suara yang bersama-sama mengatakan itu bersamanya.
Suara gumaman itu datang dari parit darah. Jelas berasal dari sana. Namun gemanya perlahan berubah laksana dengung lebah marah yang keluar dari sarang dan mencari mangsa. Mangsanya ini adalah udara di sekeliling hutan, mengitari pepohonan yang ada di dekat situ, dan dinding-dinding dedaunan memantulkan bunyi gema doa bagai corong loudspeaker di masjid.
”Hum luantiasku..Houm shantivide...”
Dedaunan bergeresekan. Dengungan ini makin berpusing mengitari. Seluruh sudut hutan terpekur dalam haru. Beku karena larut oleh doa dan mantera. Waktu bagaikan membeku. Rasanya tidak ada tempat yang terkuasai olehnya. Seluruh makhluk di hutan kini seperti ikut memberikan andilnya untuk mendukung Yudi.
”Aku memanggilmu untuk bersatu...”
Darah yang membasahi parit menggelegak, sebagian belum kering benar memang sebab darah butuh setengah jam untuk mengubah bentuk cairnya, tanah yang terkena cipratan darah pun ikut bergolak.
__ADS_1
”Hum luantiasku...Houm shantivide...”
Parit darah di sekeliling Mirna mengeluarkan cahaya merah menyilaukan. Membentuk lingkaran cahaya yang mengitari sang monster. Saat cahaya itu naik ke atas membentuk tirai cahaya yang melingkupi makhluk di dalamnya Yudi merasakan kehangatan terpancar darinya. Cahaya ini bukan hanya cahaya...ada sesuatu yang hidup dan menggeliat di sana...yang berteriak kesenangan karena mendapati dirinya boleh dilepaskan kembali setelah sekian lama.
Bagaikan magnet sinar hangat merah ini menyedot udara di sekeliling hutan. Angin bergerak dengan kepatuhan yang tidak rasional, agaknya didorong oleh gema bertalu mantera yang menguasai wilayah tersebut. Udara itu merayap dari kaki Yudi, naik ke tubuhnya, ke kepalanya...rambut Yudi berdiri mengibas liar dipermainkan desau angin yang berpusing... kemudian menyusup masuk ke sinar yang melingkupi Mirna lewat tangan mereka yang saling berpaut.
Dalam waktu singkat udara memenuhi tabung sinar itu. Hawa disitu menjadi lebih berat, padat, dan membuatnya sulit bernafas. Itu membuat Mirna sedikit takut tapi rasa takut gadis itu sedikit mereda karena merasakan kekuatan hebat di dalam sini adalah kekuatan yang sebentar lagi akan menjemput Yudi... menguasai pemuda yang akan melindunginya itu!
Belum sempat menyerapnya lebih jauh, keadaan sekelilingnya berubah gelap, suram, dan menekan. Mantera yang terlantun itu ikut tertekan olehnya, menjadi lebih lirih, enggan menerima, berusaha melawan kekuatan asing yang melanggar wilayah pribadinya. Yudi menyadarinya saat lengkingan tawa lawan pecah. Falseto wanita yang tidak enak. Kekuatannya berusaha mendesak iringan manteranya pergi dari tempat itu. Yudi berusaha tidak kehilangan konsentrasi, melawan panik sebab proses ini butuh beberapa menit lagi untuk sempurna.
Dari sudut matanya Yudi melihat apa yang membuat Mirna ketakutan, kepala Bunda Mawar yang dipenuhi api membara melayang turun dengan perlahan, mengawasi, bagaikan pesawat antariksa Darth Vadder yang mengitari bumi dengan seribu keingintahuan buat meneliti apa sebenarnya yang sedang dilakukan para makluk bumi ini.
Meskipun tanpa tubuh ternyata komposisi fisik sang kuyang tidak berubah. Sepasang paru-parunya yang kelabu gelap mengembang dan mengecil cepat, persis orang yang baru berlari sprint dalam jarak yang amat jauh. Jika ada tulang dada di situ tentu dia bisa menikmati bagaimana bongkahan dada Bunda Mawar turun naik. Sementara itu jantungnya berkedut cepat. Berusaha memompa darah ke nadi-nadi yang tak ada...
Setelah tawa itu berhenti, sang kuyang berkata, ”Aku kaget kalian memilih tempat ini. Tempat ini punya sejarah bagus. Sayangnya, kalian salah kalau berpikir tempat ini dapat menghalangiku buat melumat kalian berdua...”
Dedaunan menyeruak lepas dari ranting sebelum kemudian menyerbu Yudi dan Mirna. Ujungnya yang tajam menghadap lurus ke depan bagai serbuan anak panah dalam perang Baratayuda. Siap merajam tubuh keduanya...
Ukuran jarum-jarum pinus yang melesat di udara itu mungkin kecil, hitam, nyaris tak terlihat di kegelapan namun bahaya yang dibawanya amat kentara. Bayangan dirinya akan ditumbangkan oleh dedaunan pinus yang semula tampak remeh itu tak dapat dihindari, menghadang akal sehatnya, terutama ketika desingan-desingan liar dari setiap daun membelah udara. Segenap pikiran menjadi tidak waras...
Dia ingin lari. Meskipun tahu itu tidak mungkin. Dia tidak mungkin meninggalkan Mirna dalam keadaan seperti ini. Yang mereka lakukan masih setengah jalan. Proses yang ditinggalkan begitu rupa laksana fusi nuklir yang masih mentah, akan meledak dan membahayakan mereka berdua.
”Dia akan membunuhmu Yudi...lepaskan aku...” Mirna mengerang marah.
”Tidak, Mirna! Kamu yang akan mati kalau kulakukan itu...”
__ADS_1
”Biarkan...biarkan aku yang mati...” Mirna memberontak dengan menggila, berusaha melepaskan diri dari tangan Yudi namun keduanya melekat kuat satu sama lain.
Volume tawa sinting sang kuyang makin keras, seiring mendekatnya jarum-jarum itu. Jaraknya tinggal tiga meter... dua setengah... dua....satu setengah...lalu tinggal satu meter lagi...
Mirna menjerit tak berdaya. Anehnya jarum pinus yang menyerang tiba-tiba berhenti di udara. Udara di sekitar tubuh Yudi telah berhambur meluas untuk kemudian memadat dan membentuk perisai semu. Ratusan daun pinus itu kehilangan tenaganya kemudian rontok ke tanah, jatuh terkulai seperti kapas yang melayang turun dari buahnya yang telah masak. Cekikikan si kuyang terhenti karena kaget.
Udara yang termampatkan di tabung sinar memudar gelap. Kelabu. Kotor mirip asap knalpot yang menyemprot dari truk sampah yang gagal uji emisi. Rasanya tinggal waktu saja sebelum mengental seperti kopi. Nafas Mirna makin tertekan. Yudi mendengar monster itu bernafas satu-dua demi mempertahankan hirupan udara.
Saat itu matanya terbuka ke dalam dimensi lain. Udara yang berubah kotor itu berisi puluhan roh yang terbang berkeliling. Beberapa dari mereka anak-anak berumur lima tahun ke bawah, atau gadis-gadis muda, wanita tua, dan ada juga lelaki...tetapi jumlahnya lebih banyak bayi..Citra ini pun ternyata dari udara berat di sebelah luar sinar, udara yang melindunginya dari serangan jarum.
Hanya Yudi yang dapat melihat sosok mereka lebih jelas diluar sini. Yang laki-laki bertelanjang dada dengan kain sarung terbalut di pinggang dan diikat sabuk kulit besar, yang perempuan memakai kain sampai di dadanya, yang anak-anak dan para bayi sebagian besar telanjang.
Kerumunan roh itu berdiri diantara Yudi dan sang kuyang, siaga, siap bertempur bila si kuyang nekad menyerbu. Bunda Mawar menyadari ini dan berteriak-teriak marah. Murkanya yang memuncak mengalahkan kekagetannya
mendapati bahwa seluruh penghuni Nganjalu yang telah dihabisinya bangkit di hadapannya, memihak musuhnya, membantu keduanya melawannya.
”Jahanam kalian orang-orang kampung. Kalian mau mati dua kali?”
Dia menyemburkan peluru apinya dan citra dari roh orang desa Nganjalu bersama-sama mengangkat tangan. Udara menghambur liar menyambut peluru api. Peluru api itu tertahan, keganasan lenyap seketika dan buyar menjadi pecahan abu tak berarti. Si Kuyang menembak lagi tapi seperti yang pertama, peluru api itu pun buyar.
Kuyang itu menjerit marah. Tidak terima dipandang remeh dia maju menyerang. Gigi taringnya yang tajam siap mencabik leher Yudi. Jika jarum pinus atau peluru api tak bisa menembus tembok udara itu pastilah dia bisa! Begitu yang diyakininya...
Dia menerjang tetapi seperti yang terjadi pada kedua serangan sebelumnya kepalanya membal ke belakang setiap sehabis menabrak udara. Menyerang lagi, terpental balik ke belakang, maju menyerang lagi, lalu terjengkang lagi....
”TERKUTUK! BIADAB! SETAN..." segala makian dan sumpa serapah keluar dari mulutnya yang kotor.
__ADS_1
***