
Menyadari usahanya sia-sia sang Kuyang memutari mereka, menyemburkan apinya terus menerus dengan kekuatan luar biasa. Berharap tembok api buatannya mampu mengurung dan memanggang Yudi serta Mirna. Tetapi barisan roh yang mengelilingi Yudi merupakan benteng udara yang kokoh tak tertembus. Peluru api sang Kuyang hanya mampu membentur udara bagian luar dan membentuk dinding api tanpa sanggup menyentuh Yudi dan Mirna.
Sejenak Yudi merasa lega. Hanya, mereka tak mungkin berlama-lama di sini. Tiba-tiba dia menyadari maksud kehadiran para roh ini. Mereka yang berada dalam lingkaran darah tabung sinar menari riang, melantunkan mantera yang dia senandungkan,”Hum luantiasku... Houm shantivide...”
Berusaha mencari celah untuk masuk ke dalam tubuh Mirna. ”...kami ingin bersatu...” sementara Mirna sekuat tenaga melawan itu dengan menutup hidungnya, berusaha tidak bernafas.
”Jangan melawan...” seru Yudi.
”Mereka menyakitiku...”
”Mereka ingin membantumu. Biarkan saja...”
”Baiklah...” Mirna berkata lemah.
Dia menarik nafas dalam dan roh-roh itu menjerit senang. Menerobos masuk dengan cepat ke dalam tubuhnya, melalui lubang yang ada di hidung, mata, telinga, dan mulutnya. Tubuh monster Mirna mengejang, tegang, kaku, urat-urat di pergelangan tangannya membesar, seperti ada sesuatu yang mendesak paksa dengan cepat sementara roh-roh tersebut terus menyelusup.
Sementara proses di dalam lingkaran darah berlangsung, api si kuyang perlahan memudar. Bunda Mawar sendiri menjauh karena kelelahan. Serangannya yang membabi-buta itu tentu menghabiskan banyak energi hingga dia butuh waktu buat memulihkan diri, dan itu tidaklah cepat.
Waktu jeda tersebut dimanfaatkan segera oleh para roh yang masih berada di luar. Setelah memastikan bahwa tabung sinar itu terdapat ruang kosong mereka menyusup masuk melalui tubuh Yudi. Yudi menjerit, setiap kali roh itu masuk ke tubuhnya dia merasakan seperti ditusuk pedang tetapi saat roh keluar melalui tangannya yang terendam di dalam tabung sinar, dia merasa setiap tulangnya ditarik paksa.
Begitu berulang kali. Mirna benar ! Proses ini menyakitkan namun hanya ini cara agar mereka selamat dari kuyang...
Tubuh monster Mirna membesar sedikit demi sedikit seiring masuknya para roh. Seluruh tubuh Mirna kaku, hanya kepalanya yang bisa bergerak ke depan-belakang, berputar tak karuan menunjukkan sakit yang teramat sangat. Dia melolong dan meraung. Namun itu tidak mengurangi rasa kasihan para roh karena mereka belum puas...belum dari semua yang masuk ke dalam tubuhnya...masih banyak yang menunggu diluar tabung sinar sana.
Yudi telah memanggil roh penghuni Nganjalu dan mereka menanggapinya...jadi tentunya mereka semua ingin turut serta...mereka punya musuh yang sama..dan dendam itu harus dituntaskan bersama-sama buat selamanya.
__ADS_1
Entah berapa lama lagi proses menyakitkan ini harus berlangsung. Yudi merasa kekuatannya menurun. Dia telah kehilangan banyak darah, lelah akibat berdiri begitu lama, dan beberapa kali pandangannya berkunang-kunang. Kalau para roh itu tidak cepat melakukannya maka proses tranfusi ini akan gagal di tengah jalan karena dirinya sudah keburu pingsan atau mati kehabisan darah dan tenaga.
”Cepat...” rutuk Yudi lemah. ”Cepatlah kalian, ******* !”
Manusia akan mati akibat kehilangan darah dalam tiga puluh menit dan rasanya dia sudah melakukan ini lama sekali. Sejenak Yudi ragu apakah proses ini akan berhasil. Di buku tua itu tidak menjelaskan berapa lama hal ini harus dia tahan, tetapi kalau ternyata harus sebegini lama dia sebenarnya bisa memikirkan cara lain yang lebih cepat.
Mungkin ini hanya dampak dari terlalu banyaknya roh penduduk Nganjalu. Yudi cukup senang dengan kehadiran mereka yang jumlahnya diluar dugaan tetapi kalau ini membuat proses transfusi tidak dapat diselesaikan pada waktunya...sebelum dia kehabisan darah...ini semua sia-sia.
Tidak ! Dia tidak boleh pingsan apalagi mati...
Masih banyak yang harus dilakukan...
Setelah mempersiapkan Mirna dia harus kembali ke rumah terkutuk itu untuk melakukan sesuatu terhadap tubuh Bunda Mawar. Menyelesaikan kutukan ini di tahap akhir. Untuk itu dia harus tetap mempertahankan kekuatannya...
Sang Kuyang yang sudah pulih pun melihat kesempatan tersebut. Dia nyengir jelek dan menghirup udara dalam-dalam. Yudi yang membelakanginya tidak menyadarinya tetapi Mirna melihat semuanya. Dia melolong saat si monster kepala-tanpa-tubuh terbang mendekat. Lolongan antara rasa sakit akibat proses tranfusi menyakitkan yang belum selesai dan cemas mengetahui Yudi berada di luar sana tanpa pelindung.
Paru-paru Bunda Mawar menggembung. Kelihatannya dia sengaja menghirup terlalu banyak. Pada hitungan ke sepuluh dia menyemburkan seluruh isinya keluar, disertai nyala api membara. Itu merupakan peluru api terbesar yang pernah keluar dari mulutnya. Tidak peduli bila akibatnya dia bisa mati lemas kehabisan tenaga, dia puas karena peluru yang dilemparkannya itu memuat segenap amarah dan kebencian yang merasuk di egonya. Peluru api itu meluruk langsung ke arah Yudi.
”TIDAK...TIDAK...” Mirna menjerit.
Yudi menengok ke belakang, memandangi peluru api sebesar bola voli menyerang. Dilepaskannya satu tangan dari telapak Mirna dan membukanya ke arah api, menghadang lajunya. Tangan Yudi yang bersimbah darah masih menyimpan kekuatan para roh dan bola api itu terlontar ke belakang, berbalik ke arah Kuyang. Yudi mengernyit, tumbukan dengan bola api tadi membuat tangannya kesemutan hebat.
Bersamaan dengan itu roh terakhir masuk melewati mulutnya dan tubuhnya yang besar bergetar hebat bagaikan tersengat listrik berdaya jutaan watt. Kepalanya menengadah ke atas menahan sakit. Tubuhnya berubah hitam dan kakinya terangkat dari tanah. Sang monster mulai terkocok-kocok di udara oleh blender yang tak terlihat. Saat posisi tubuhnya melintang lurus di udara, dia mulai berputar cepat, berpusingan seperti gasing, mengeluarkan bunyi desing berisik yang mengalahkan jutaan mesin bor yang dinyalakan serempak.
Bunda Mawar bersiap dengan segala kemungkinan. Musuhnya kali ini penuh kejutan. Menyiramkan cairan hijau menjijikan yang membuat wajahnya terbakar, membuat anaknya melawannya, mengeluarkan roh penduduk Nganjalu buat melindunginya, lalu membalikkan peluru apinya dengan satu tangan. Sungguh lawan yang menyenangkan. Barangkali dialah pemburu kuyang terkuat yang dihadapinya.
__ADS_1
Sayangnya kali ini sang lawan berat sudah terpojok. Manusia itu sudah jelas kehilangan tenaga, sementara dia sendiri masih menyiapkan cadangan tenaga buat mengatasi kejutan yang mungkin muncul. Dan kejutan itu bisa saja muncul dari apa yang tengah disiapkannya atas Mirna. Bunda Mawar melihat bagaimana tabung sinar itu mulai diserap oleh pori-pori kulit hitam Mirna yang pecah. Dan dari tubuhnya yang hitam itu sinar mulai terpancar.
Saat sinar meluas dan akhirnya berubah menjadi api yang melingkupi seluruh dirinya, Mirna bisa merasakan kekuatan dahsyat terpancar, meningkat beratus-ratus kali lipat dari tubuh monsternya yang menyedihkan itu. Sang antagonis jelas tidak menyukai ini sebab itu bisa digunakan untuk membunuhnya. Jadi sewaktu peluru api yang dikembalikan Yudi sampai ke arahnya, dihamburkannya cadangan tenaganya.
Dia meniup hebat. Udara dari mulutnya membalikan api itu kembali dan dengan semburan api yang makin membesarkan amunisinya, sang peluru api menukik ke arah Yudi dengan kecepatan dan kekuatan dua kali lipat. Berubah dari sebesar bola voli menjadi sebesar bola basket. Hancurkan dulu Yudi...sang kartu as...dan dia akan beroleh kemenangan.
Yudi sendiri tidak sanggup lagi menahan kekuatan baru Mirna. Terlalu panas. Ia berseru dan terlempar ke belakang. Roboh kesakitan. Tenaganya habis. Jangankan kembali ke rumah Mirna, menggerakan kelopak matanya pun dia tak sanggup.
Walau berputar dengan kecepatan menggila ternyata Mirna sanggup melihat apa yang ada di sekelilingnya. Pandangannya tidak lagi dibatasi sudut tertentu. Ia mampu melihat dunia dengan sudut berapa pun. Inderanya juga jadi lebih peka. Ini membuatnya terkesiap saat peluru api ibunya telah begitu dekat dengan sang kekasih.
”BANGUN...BANGUN...” dia berusaha berteriak namun tidak ada suara yang keluar. Mulutnya mungkin telah melumer, tersumpal dalam kobaran api yang tidak menghanguskan namun memberinya gairah dan semangat yang baru. Suaranya hanya berupa kebisuan hampa yang rasanya hanya berasal dari hati. ”BANGUN...”
Dia mendengar setan kepala-tanpa-tubuh itu terbang dengan tawa cekakan karena tahu bahwa Yudi tak akan sanggup menghindari ajal. Kemurkaan Mirna memuncak. Ini membuat putaran dan kobaran apinya makin membesar hebat,” JANGAN BUNDA... HENTIKAN...”
Namun peluru api itu tetap memburu. Yudi hanya menatap nanar tanpa bisa bereaksi atau berteriak. Mirna sadar lelaki itu sudah pasrah sepenuhnya. Dia harus melakukan sesuatu...dia tak mau Yudi mati..dia mencintainya..dia harus menolongnya...
”HENTIKAN BUNDA...HENTIKAN BUNDA...TIDAAAAKKK...TIDAAAKK...”
Mirna tak menyadari apapun sampai semuanya berubah putih. Yang terdengar olehnya hanya dengungan riang ratusan orang yang rasanya berada dekat sekali dengannya, ”Hum luantiasku...Houm shantivide...kita telah bersatu... bersatu...”
”JANGAN SAKITI DIA...JANGAN SAKITI KEKASIHKU...”
Detik selanjutnya Mirna melesat menggila, keluar dari lingkaran darah. Kecepatannya memapas peluru api. Menerjang Bunda Mawar yang terlambat bereaksi karena kehilangan tenaga. Juga terpesona pada kejutan terakhir lawan. Inilah kejutan terbesar yang Yudi berikan kepadanya, sesuatu yang tak pernah terbersit di pikirannya. Saat Mirna mendekat, wanita itu merasa dirinya laksana kunang-kunang di bawah bohlam lampu. Langit serta bintang menjadi saksi terjadinya ledakan besar di sudut terpencil Rawen malam itu....
***
__ADS_1