
Keduanya sampai di lantai dasar dan sementara berjalan menuju tangga wanita itu bertanya pada Yudi mengenai acara keluarnya bersama Mirna tadi sore. Yudi menjawab dengan semangat, ”Sangat menyenangkan melihat macam-macam pertunjukan disana. Mirna bahagia di tempat itu. Bunda harus melihat senyumnya saat dia menaiki gajah...”
”Menaiki gajah?” wanita itu terbelalak.
”Tidak berbahaya, kok! Gajah itu menaikkan Mirna ke lehernya dengan belalainya dan mengajaknya berkeliling panggung. Dia menjadi bintangnya malam ini,” sahut Yudi cepat.
”Begitu, ya? Bunda sih sulit melihat sesuatu yang menarik dari badut yang berjumpalitan atau gajah yang berbaris beriringan. Tapi bunda senang kalian bisa melewatkan waktu yang menyenangkan.”
”Kami sangat bersenang-senang tadi. Terima kasih karena bunda sudah memberi waktu buat saya keluar bersamanya. Saya bahkan mendapatkan hadiah boneka untuk Mirna dari stand game dart yang dijaga El.”
Sikap Bunda Mawar mendadak berubah, Yudi merasakan hal itu dan tiba-tiba menyadari kebodohannya, dia mungkin sudah salah bicara soal El. Wanita itu merespon dengan ketenangan yang sempurna, ”El ada disana?”
”Ya, Bunda.”
”Dan apa yang dilakukannya disana?”
”Dia bilang dia sudah lama ikut sirkus itu berkeliling kota dan senang karena mereka mampir kemari.”
Bunda Mawar menghela nafas, ”Kerja dengan rombongan sirkus. Tak kuduga. Anak itu memang menyusahkan... persis ayahnya...lalu apa yang mereka bicarakan?”
Yudi menjawab sekenanya, ”Tidak banyak. Hanya menanyakan kabar masing-masing karena mereka sepertinya sudah lama tidak ketemu. El lebih tertarik bicara dengan saya dan mengajak bertaruh.”
”Bertaruh?”
”Bertaruh apakah saya bisa mendapatkan hadiah yang bagus buat Mirna di stand menembak dart yang dijaganya.”
”Dan kamu mendapatkan bonekanya?” Bunda Mawar tersenyum. ”Kamu hebat.”
”El sempat menanyakan kabar anda,” ucap Yudi.
Wanita itu berkata sangsi, ”Dia menanyakan itu? Aku tak menduga dia ingat ibunya.”
”Tapi dia ingat. Dia ingat hobi anda melukis.”
Bunda Mawar membisu sementara mereka menaiki tangga, mungkin sibuk mengenang El. Yudi memberanikan diri untuk bertanya lebih lanjut, ”Bunda tidak rindu ketemu dengan El?”
Cepat dan pasti wanita itu menggeleng, ”Tidak!”
”Kenapa? Seorang anak tidak akan melupakan ibunya sebagaimana sang ibu tak mungkin melupakan anak. Saya yakin El ingin ketemu anda.”
Bunda Mawar menjawab, ”Aku tidak merindukannya....” jawaban itu dingin dan kejam. Yudi baru mendengar nada semacam itu di balik keramahan dan kehangatannya selama ini, mengingatkannya pada aura mengerikan saat wanita itu memergoki di ruangan bawah tadi, seakan ada monster yang mendekam di dasar lautan perasaannya dan menunggu saat yang tepat untuk mencelat keluar menggapai mangsa.
”Saat ayahnya membawanya pergi...aku tahu aku tidak akan pernah melihatnya lagi dan apapun yang terjadi...aku tidak mau melihat anak itu lagi. Bagiku dia dan ayahnya sudah mati.”
Yudi meneguk ludah, ”Maaf bila aku menanyakan sesuatu yang menyakitkan buat Bunda.”
”Tidak apa-apa, Yud! Bunda senang kamu mau jujur sama Bunda.”
”Mudah-mudahan Bunda tidak marah pada Mirna karena pertemuan tadi tidak sengaja,” ujar Yudi bersiap membela gadis itu.
__ADS_1
Wanita itu menggeleng, ”Tidak! Tapi tolong bantu Bunda memberi pengertian ke Mirna supaya dia tidak mendekati El lagi. Bunda tahu persis sifat ayah El dan aku takut itu akan ditiru olehnya. Selama ini dia diasuh ayahnya,pepatah bilang apel jatuh tak jauh dari pohonnya.”
”Ya, saya mengerti...” kata Yudi. Dia mengerti jalan pikiran Bunda Mawar walau tak sepenuhnya setuju dengannya. Betapapun kasarnya El, Mirna terlihat begitu membutuhkan saudara tirinya itu, bagaimana pun mereka itu saudara. Dan tidak seharusnya saudara dipisahkan.
***
”Temani aku pergi lagi yuk hari ini,” ajak Mirna setelah Bunda Mawar meninggalkan ruang makan usai sarapan. Wanita itu tidak banyak bicara pagi ini. Tadinya Yudi berpikir sarapan ini akan jadi kesempatan buat menegur Mirna soal pertemuannya dengan El. Ternyata pembicaraan mereka bertiga hanya basa-basi soal cuaca dan diperbolehkannya Mirna bersama Yudi melihat lukisan Bunda Mawar yang sebentar lagi selesai.
”Mau ke tempat El?” tebak Yudi.
”Tentu! Kemana lagi?”
”Aku pikir kamu mau kerja hari ini. Seingatku kamu kan sudah bolos kemarin?”
”Apa salahnya ijin sementara waktu? Lagipula aku kan harus menemani kamu disini. Masa kamu ditinggal sendirian sama Bunda?”
Alasan Mirna ada benarnya, ”Kamu sudah minta ijin sama Bunda?”
”Soal apa? Cuti kerja?”
”Bukan! Tentang ke tempat El.”
Ekspresi Mirna berubah, ”Kenapa aku harus bilang sama dia?”
”Yah, kupikir bukankah itu yang harus dilakukan semua orang sebelum pergi? Pamit kepada kerabat di rumah.”
Perubahan drastis itu sungguh mengherankan Yudi. Rasanya baru tadi malam wanita itu bersikeras agar Mirna menjauhi El, ”Kamu yakin? Soalnya tadi malam aku sempat ngobrol sama Bunda soal El.”
Ekspresi Mirna datar saja sembari meneguk tehnya, ”Oh, ya? Kalian ngobrol apa?”
”Ibumu baru tahu El bekerja di sirkus itu. Dia tidak senang kamu bergaul dengan El.”
”Bunda memang tidak tahu apa-apa soal El sejak berpisah dengan suami pertamanya, yang juga ayah El. Dia banyak menutup diri tentangnya. Pasti dia juga tidak menanyakan kabar El atau ayahnya.”
”Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka?” tanya Yudi.
”Kalau mau tahu sebaiknya kamu temani aku. Kamu bisa tanya langsung pada El.”
”Kenapa tidak kamu saja yang cerita?”
”Kan aku belum lahir saat peristiwa itu terjadi,” Mirna mengernyit. ”Mana aku tahu?”
”Ya, deh!” Yudi mengatai dirinya sendiri karena begitu tolol tidak terpikir hal tersebut. Dan karena dia memang ingin tahu sejarah keluarga yang aneh ini dia akhirnya menemani Mirna menuju ke tempat sirkus berada. Pasti ada cerita yang bisa dia korek dari El.
Mereka sampai di lokasi rombongan pasar malam setengah jam kemudian. Tidak jauh berbeda dengan waktu yang ditempuh kemarin malam. El sedang membereskan gulungan terpal yang merupakan stand dartnya. Rambutnya yang gondrong dan dicat kebiruan dibiarkan tergerai ke bahu, dadanya yang telanjang menampakan bulu-bulu kehitaman lebat hingga ke bagian pusarnya, sementara itu dibawah terangnya hari Yudi bisa melihat bayangan gelap dari kumis yang sedang tumbuh di bawah bibir dan sepanjang dagu lelaki itu. Mulutnya termonyong-monyong menahan sebatang rokok yang tengah dihisapnya. Dia menyapa ramah begitu melihat keduanya,
”Akhirnya datang juga.”
”Kalian hendak pergi?” tanya Mirna memandang situasi di sekeliling yang tenang, tidak menunjukan kesibukan apapun.
__ADS_1
”Oh, belum. Aku hanya membereskan standku yang hancur malam kemarin.”
”Memangnya apa yang terjadi semalam?” Yudi nimbrung.
El mencibir, ”Pasti kalian tidak percaya. Setelah kalian pergi tiba-tiba muncul **** hutan sebesar kambing yang berlari menubruk standku dengan uikannya yang menyebalkan.”
”Astaga!” Yudi terkejut. ”Kamu tidak apa-apa?”
”Seperti yang kalian lihat, aku baik-baik saja!” El mengangkat tangan dengan bergaya. ”Sialnya binatang itu langsung kabur setelah membuat standku rubuh. Pengunjung berlari ketakutan karena mengira akan ada serbuan susulan dari rombongan **** itu.”
”Untunglah kamu tidak apa-apa,” ujar Mirna.
”Apakah serangan seperti itu biasa terjadi disini?” tanya Yudi.
”Temanmu ini benar-benar orang kota, ya?” El tertawa dan menengok pada Mirna.
Mirna memukul dada Yudi perlahan dengan terkikik geli, ”Kita di Kalimantan, Yud! Walau kita tinggal di pemukiman tapi masih dikelilingi hutan liar. Dan di hutan liar banyak binatang liar.”
”Tapi biasanya binatang kan tidak menyerang tanpa alasan,” Yudi membela diri.
”Jika saja aku bisa bertanya padanya alasannya menyerang standku maka keadaanku akan jauh lebih baik...” El berkomentar sembari mengikat kain terpal yang telah terlipat tersebut. ”...dengan begitu aku akan tahu kesalahanku dan tidak akan mengulanginya di kemudian hari.”
Mirna tertawa kecil, ”Kalau begitu kami datang di saat yang kurang tepat?”
”Semua saat tepat buatku. Apalagi buat ketemu kamu, Mir. Tunggu dulu disini. Aku segera kembali,” El mengangkat lipatan terpal itu di bahunya lalu berjalan menuju kereta trailernya.
Dalam suasana santai pun rombongan sirkus tetap menyibukkan diri dengan urusan masing-masing, kebanyakan berkaitan dengan persiapan atraksi diri mereka sendiri. Ada yang memeriksa roda kincir, memberi makan hewan, berlatih trampolin, membetulkan lampu neon tenda pertunjukan, bahkan tercium bau harum lemak yang sedang digoreng dari para wanita yang sibuk memasak di kereta yang dijadikan sebagai dapur umum.
Hampir semua yang ada di lapangan ini merupakan anggota sirkus, tidak ada seorangun penduduk desa, bahkan anak-anak yang biasanya ingin tahu, di tempat itu. Mungkin para lelaki desa sibuk bekerja di kebun atau pabrik penggergajian dekat sini, sementara para wanita dan anak mendekam di rumah, berusaha tidak terlalu dekat dengan rombongan sirkus yang notabene orang-orang asing.
”Dari dulu aku menyukai rombongan sirkus...” komentar Mirna. Yudi menengok padanya dan berpendapat bahwa itu menunjukan bahwa dia sedarah-daging dengan El. ”...bayangkan saja kehidupan mereka. Begitu mengasyikan, misterius, dan penuh hal-hal baru. Mengunjungi tempat-tempat asing, bertemu orang-orang baru, mengerjakan apa yang mereka sukai.”
”Kelihatannya menyenangkan tapi sadarkah kamu orang-orang ini mendambakan kehidupanmu.”
”Masa sih?” Mirna tertawa geli.
”Percayalah padaku. Mereka yang hidup dalam kehidupan ini lambat-laun jenuh mengunjungi tempat-tempat asing dan suatu hari mereka ingin punya kehidupan dimana mereka bisa menetap di suatu tempat dan tinggal seterusnya disana, memiliki penghasilan rutin yang tak pernah membuat mereka pusing memikirkan asalnya, dan bertemu wajah-wajah yang sudah mereka kenal dengan baik setiap hari.”
”Bagaimana kamu bisa berpikir begitu padahal kamu belum pernah jadi anggota sirkus?”
”Aku memang bukan anggota sirkus tapi aku punya pengalaman sering mengunjungi tempat baru dengan obanyak orang asing sebelum kerja di KPC. Hal itu membuatku sering merasa lelah.”
”Kalaubegitu kamu juga mengerti rasanya menjalani hidup bagai katak dalam tempurung, ketika seseorang tidak pernah pergi kemanapun selain di tempat kelahirannya...”
Perbincangan keduanya terhenti saat El kembali, dengan wajah lebih cerah, ”Untunglah Pak Rahyadi punya tenda cadangan. Stand dart akan siap berdiri lagi sore nanti dan menjalankan tugasnya...” digosok-gosokannya telapak tangan dengan puas. ”Jadi...apa kalian mau berkeliling sebentar buat berkenalan dengan teman-temanku sebelum makan siang di keretaku?”
”Boleh,” sahut Mirna cepat. Lalu dia berbisik di telinga Yudi. ”Aku belum pernah melihat dari dekat rombongan sirkus di luar jam pertunjukan..pasti asyik..”
Yudi menggeleng lalu tersenyum geli melihat tingkah Mirna yang bak anak kecil. El menengok dan berkata pelan pada keduanya, ”Ingat ya, kalian jangan sembarangan bicara karena anggota sirkus banyak yang nyentrik. Mereka tak mudah didekati dan terlalu perasa. Hanya ramah pada orang tertentu saja.”
__ADS_1