
Ketenangan pagi hari di mess karyawan KPC, Kaltim Persada Coal, lenyap setelah Abas memberitahu Pak Agus mengenai tikus yang masuk ke kulkas pada malam kemarin. Reaksi sang pengurus mess ternyata bukan hanya menutup lubang yang menjadi jalan masuk tikus tapi juga membuang segala bahan makanan yang tersimpan di dalamnya, demi mencegah penghuni agar tidak terjangkit penyakit seperti yang dikatakannya, karena entah apalagi yang sudah disikat tikus-tikus itu terhadap makanan lainnya.
Akibatnya tak ada sarapan pagi itu dan beberapa penghuni yang terbiasa makan pagi akhirnya mengomel karena terpaksa berangkat dengan perut kosong, jelas saja karena sang pengurus mana sempat membeli bahan-bahan baru. Untung bagi Yudi, dirinya jarang sarapan sehingga bukan masalah baginya berangkat kerja di pagi itu. Lagipula dia memang ingin buru-buru sampai ke kantor untuk mengambil kado Siska dari lokernya.
Begitu turun dari bis yang mengantar para karyawan sampai di kantor pukul delapan, Yudi bergegas menuju loker. Baru saja dikeluarkannyakunci untuk membuka loker ketika menyadari sesuatu yang aneh. Tercium bau wangi yang menguar hebat di udara, aroma yang sepertinya datang dari lokernya, dan tatkala melihat dengan seksama ternyata ada cairan merembes dari sela-sela di bagian bawah tutup lokernya.
Dibukanya tutup loker dan mendapati penutup kado Siska terkoyak, kotak yang menjadi isi kado pun hancur berantakan sementara sebuah botol terguling keluar dan jatuh ke lantai. Botol itu retak di berbagai sisi namun tak sampai hancur sebab bahannya terbuat dari kaca yang cukup kuat. Yudi berjongkok dan memungut botol tersebut...
Lambang yang tertera di botol memberitahu Yudi bahwa merek itu adalah salah satu pilihan Siska untuk memilih parfumnya. Bukan merek kesukaannya sejujurnya,hingga sekarang pun, dan Siska tahu itu, mungkin itu sebabnya gadis itu heran mendengar jawabannya yang menyukai kado ini semalam.
Dirinya sungguh bodoh...namun tidak ada yang bisa diperbuatnya untuk memperbaiki hal itu...botol parfum ini bisa dibuangnya tetapi wangi menyengat ini mungkin akan membekas dua minggu lamanya bila tidak dibersihkannya segera.
“Dan gue kira elu sedang bersiap pergi ke pesta dengan wangi yang luar biasa ini...”
Yudi mendongak melihat orang yang menegurnya, tidak lain adalah sahabatnya, Danu, yang berdiri di depan lorong dengan cengiran lebar. Danu bertubuh tegap, tingginya mungkin tidak sepantaran Yudi tapi jelas lebih berisi, dagunya yang keras semakin menampakkan kesan maskulin dengan bayangan kelabu dari jenggot yang belum sempat dicukur. Hidungnya yang besar mengesankan dirinya sebagai orang sombong walaupun dalam kesehariannya, orang yang sudah mengenal Danu mengenalnya sebagai pria yang manis dan baik hati, meskipun terkadang Yudi juga merasakan sedikit sifat centil dari sahabatnya itu, terutama ketika melihat wanita cantik. Namun tatapan Danu sekali ini terfokus bukan karena wanita cantik melainkan kepada loker Yudi, tak ada alasan dari Yudi untuk berkelit darinya, jelas sekali bau ini berasal dari lokernya. “Apa yang terjadi, man? Lokermu tampak kacau!”
“Entahlah,” Yudi menanggapi. “Aku meninggalkannya dalam keadaan aman tadi malam. Ini yang kudapati pagi ini.”
“Apa lokermu tidak dikunci?”
“Kamu tahu itu sudah jadi prosedurnya.”
“Kunci lokernya dirusak tidak?”
“Masih aman, kok!” jawab Yudi setelah memeriksa sesaat.
“Ada yang hilang?”
“Selain kado Siska yang tak lagi tersisa?” Yudi mengintip sekilas ke dalam loker, baru sadar kalau dia belum meneliti lokernya begitu mendapati botol parfum pemberian Siska jatuh ke lantai. “Sepertinya semua pada tempatnya.”
“Aneh juga, ngapain ada yang sengaja membobol lokermu kalau tidak mengambil apa-apa,” komentar Danu. “Jangan bilang kalau menumpahkan parfummu hanya perbuatan iseng.”
“Mungkin juga bukan orang yang menumpahkannya tapi makluk lain...” sambar Yudi.
“Misalnya?”
Yudi menceritakan kepada Danu apa yang terjadi pada kue tart pemberian Mirna di malam sebelumnya, cerita yang membuat Danu tercengang, “Itu mengerikan, man! Kalau aku, aku tidak mau memakan apapun yang disimpan di dalam sana.”
“Itu sebabnya Pak Agus membuang semua makanan yang ada, kan?”
“Maksudku setelah itu pun sama. Percayalah, sekali binatang sialanitu menemukan jalan masuk ke kulkas itu, mereka akan melakukannya lagi di kesempatan lain.”
__ADS_1
“Sepertinya kamu menyarankan Pak Agus supaya mengganti kulkas,” Yudi berkata geli.
“Apa kamu pikir tikus-tikus itu mengikutimu dan menumpahkan parfummu?”
“Bukan tikus-tikus yang sama dari kulkas di mess. Yang jelas besar kemungkinan ya tikus juga yang melakukan ini pada kado Siska.”
“Tikus atau bukan, tetap saja parfum bisa merusak banyak hal, apalagi kalau sampai membasahi barang-barang yang tersimpan di loker,” komentar Danu. “Sebaiknya panggil bagian kebersihan untuk membantumu membereskan kekacauan ini.”
“Bisa membantuku memanggil mereka sementara aku memilah-milah barangku?”
“Itulah gunanya teman, bukan?” Danu berkomentar. “Apalagi mereka menugaskanku bersamamu lagi hari ini.”
“Hari ini? Kupikir mereka memberiku jadwal bersama Felds hari ini,” Yudi menatap Danu. Kemarin tim menemukan celah yang cukup rawan di dinding tambang di bagian timur, Yudi dan tim harus segera menutup celah tersebut dengan mesin canggih atau tambangnya akan runtuh. Untuk pekerjaan tersebut dibutuhkan keahlian Felds buat menangani mesin berat yang memang khusus untuk itu, atau jadwal pemasangan penyangganya akan terhambat.
“Kamu belum dengar? Sesuatu yang mengerikan terjadi padanya,” Danu menjawab
”Hal mengerikan apa?” Yudi mengerutkan kening.
“Mrs. Felds keguguran semalam.”
Yudi terbelalak mendengarnya, “Ya, Tuhan! Bagaimana bisa begitu?”
”Kamu tahu kan gosip tidak pernah benar?” Danu menanggapi. ”Sebagian bilang dia jatuh di kamar mandi,sebagian bilang bayinya meninggal begitu saja di rahimnya, ada lagi yang bilang kalau istrinya dapat obat yang salah dari dokter. Buatku simpel,Stella Felds keguguran, titik!”
“Mau bagaimana lagi kalau boss memanggil?” Danu mengangkat bahu. “Indri harus menunggu untuk itu. Lagipula dia bilang tidak masalah karena adiknya bersedia menemani.”
“Kalian beruntung masih punya keluarga yang saling mendukung.”
“Kudengar nanti malam Rick Felds bikin ibadah....aku tak tahu kalian menyebutnya apa...tapi beberapa kawan kita yang Kristen mau mengunjungi rumahnya. Kurasa sebaiknya kamu ikut.”
“Kamu tidak ikutan?” tanya Yudi.
Mendengar itu Danu meradang, “Ikut ibadah? Memangnya kamu sudah gila? Aku bisa terbakar disana...sholat aja bolong-bolong...”
Yudi ketawa, “Sorry, aku lupa...”
***
Hubungan Yudi dengan Rick Felds sebagai kolega termasuk intens karena sering bertemu di lapangan, itu membuat Yudi memiliki kedekatan dengan Felds lebih daripada kepada pekerja ekspatriat lain. Jadi wajar bila Yudi benar-benar mengusahakan dirinya buat hadir ke ibadah penghiburan di rumah Felds.
Rumah dinas Felds tidak lebih besar dari rumah milik karyawan lokal yang berposisi setara, hanya saja bangunan itu terasa lapang sebab sang penghuni tidak menempatkan banyak perabotan di dalamnya. Ruang tengah itu kini dipenuhi kursi yang diduduki para tamu di sayap kiri dan kanan bangunan, tidak terlalu banyak undangan yang hadir namun hampir seluruh ekspatriat yang bekerja di KPC ada di sana, sementara sebuah mimbar yang terbuat dari kayu cendana berpelitur mengilat berdiri di sebelah meja kecil yang ditempati nampan berisi cawan roti dan anggur komuni di ujung lingkaran.
__ADS_1
Suasana begitu muram, semua wajah mengekpresikan rasa prihatin dalam sikap diam, sesekali terdengar isak tangis Stella Felds yang duduk dengan kepala tertunduk di kursi dekat mimbar. Sementara itu suaminya, Rick Felds, pria berkulit putih dengan rambut pirang ikal bermata biru dan tubuh tegap. Dia mengenali Yudi dan menyambutnya dengan anggukan dan senyum hambar. Yudi sempat bertatapan dengan Stella Felds saat Rick memperkenalkan dirinya, mata yang bengkak dan sembab tidak mengurangi kecantikannya... hidung mancung, mata biru lentik, bibir merekah yang membuat wanita itu tak ubahnya seorang artis.
Dia meninggalkan pasangan itu setelah memberikan ucapan bela suangkawa singkat, menahan diri untuk mengobrol dengan Rick tentang apa yang terjadi karena masih banyak orang mengantri di belakangnya yang ingin bertemu dengan pasangan itu. Karena datang terlambat Yudi mendapati deretan kursi yang berisi teman-teman kantornya sudah terisi penuh, terpaksa dia minggir ke deretan kursi di sayap kiri, di deretan itu masih tersisa beberapa bangku dan salah satunya berisi kakek tua yang kerap terbatuk-batuk.
“Permisi, apakah kursi ini ada yang menempati?” Yudi menegur.
Lelaki tua itu diam saja, memejamkan mata dan sibuk menarik nafas panjang.
“Kalau begitu kurasa tidak masalah kalau aku duduk disini,” Yudi bergumam seraya menempati kursi itu. Lelaki tua itu bukan karyawan KPC, mungkin dia tetangga atau teman pasangan Felds. Dan meski pria itu mengacuhkannya di awalnya, demi menjaga kesopanan Yudi menawarkan mengambilkan minum untuk meredakan batuk-batuknya.
”Kamu baik sekali, anak muda. Terima kasih...” sahut pak tua itu menerima gelas dari tangan Yudi.
”Bapak tinggal dekat sini?” tanya Yudi basa-basi.
”Dekat sekali sih tidak tapi kalau kamu berjalan kaki dari rumah ini tidak akan terlalu melelahkan,” jawab lelaki tua itu dengan suara parau.
”Bapak kenal Mr. Felds?”
”Orang baik. Dia dan istrinya. Desa kami desa yang kurang mampu dan Felds banyak membantu biaya sekolah untuk anak-anak kami....” Yudi memang pernah mendengar kalau istri Rick Felds itu anggota sebuah lembaga amal dari Amerika. ”...pasangan ini sangat sayang anak-anak. Ketika mendengar Stella Felds mengandung kami ikut senang, sebab mereka sudah lama mendambakan anak. Sayang, sesuatu yang seperti ini semestinya tidak perlu terjadi kalau saja saya bisa menceritakan kepada mereka lebih cepat.”
”Menceritakan apa, pak?” tanya Yudi.
Lelaki tua itu menoleh dan mengangkat alis, nampaknya baru menyadari kalau Yudi benar-benar tidak tahu, ”Tentang legenda itu...”
”Legenda apa?”
Dia menengok ke kanan ke kiri lalu berbisik mendesis, ”Kuyang...”
Kini gantian Yudi yang mengangkat alis,”Kuyang?”
”Aku ingin cerita tapi aku tidak yakin tuan dan nyonya Felds mau mendengar...” si kakek tua itu berkata seolah pada dirinya sendiri.
”Apa itu kuyang, pak?”
Pria itu meracau, ”Dasar si Seto tua bodoh...kalau saja aku bisa berbahasa inggris pasti aku sudah bisa memberitahu PakFelds.”
”Beritahu saya apa itu kuyang, pak! Saya bisa membantu anda memberitahu Mr. Felds.”
”Jika saja kuberitahu lebih awal. Tapi mana mereka percaya dengan dongeng...”
Yudi jadi tidak sabar. Dia menggenggam lengan pak tua itu supaya berhenti meracau dan mulai berkonsentrasi kepadanya. Namun saat itu seseorang menggamitnya dari belakang, Yudi menoleh dan sedikit terperanjat mendapati Mirna berdiri disana, “Hey, kamu ikut datang juga rupanya? Aku tidak menyangka...”
__ADS_1
***