KUYANG

KUYANG
Episode 18


__ADS_3

Kamar itu bukan kamar yang jelek, lebih tepat dibilang memesona! Hanya hotel bintang empat yang dapat mengalahkan kualitas kamar ini. Ranjang King Size dengan selimut berlapis dua, karpet bulu domba, lemari tiga pintu dari kayu mahoni yang dipelitur sempurna, rak berisi jajaran buku dalam posisi tegak, lalu lampu baca diatas nakas disamping ranjang dengan penutup yang juga berwarna krem dengan renda mungil serta pita di bagian tengahnya. Walau tak ada AC disitu namun hawa di kamar lumayan sejuk, agaknya ventilasi berupa lubang udara seukuran batu bata yang berjajar sepanjang dinding di sebelah atas jendela menghantarkan udara dingin yang tertiup dari hutan di belakang rumah. Panorama hutan itu menghampar di jendelanya dari kanan ke kiri bagaikan tirai hijau alami yang lembut. Sebuah pesawat televisi berlayar datar di kaki ranjang menjadi satu-satunya benda modern di ruangan tua ini.


”Sebentar lagi kita akan makan malam dengan bunda. Kamu cepat bersiap-siap, ya.”


”Dari tadi aku tidak melihat bunda. Dimana dia?”


”Biasanya sedang istirahat. Mungkin sudah bangun sekarang,” Mirna menjawab.


”Oke, deh kalau begitu...”


”Kalau begitu aku tinggal dulu...” dan sebelum Mirna menutup pintu dia menengok lagi. ”...aku senang kamu menerima undanganku.”


”Habis aku mau kemana lagi?” jawab Yudi dalam hati tetapi dia tidak mengucapkannya, hanya tersenyum lalu mengangguk.


Setelah Mirna keluar dari kamar Yudi bergegas mandi. Tidak mungkin dia tampil acak-acakan di depan ibu Mirna yang sudah baik hati memberikan tumpangan selama dua hari nanti. Dan tubuh wangi disertai tampilan keren saat menemani mereka makan malam merupakan balasan yang sepadan bagi kedua wanita tersebut.


Kamar mandi itu seanggun kamar tidur. Sebuah kaca besar terpampang di atas wastafel yang tertanam di meja dinding yang menjorok keluar, diatas meja tersebut tertata rapih toiletris dan wewangian yang dibuat dari bahan-bahan lokal, dua lembar handuk bersih tersampir di gantungan di atas kloset duduk yang berwarna cerah yang senada dengan bath-tub, sementara itu di samping bath-tub terdapat pancuran yang dilengkapi oleh keran air panas dan dingin. Aroma wangi jeruk dan rempah-rempah menggantang di segala penjuru ruangan.


Air panas membanjur rambutnya lalu turun ke sela lekuk tubuhnya untuk kemudian jatuh ke lantai bath-tub dengan bunyi gemericik pelan. Uap dari air yang mendidih naik menggantang pelan-pelan ke seluruh ruangan, membuat cermin di atas wastafel berembun. Usai mandi dia berdiri di depan kaca wastafel, dilapnya permukaannya untuk mengusir embun air, didapatinya dagunya telah ditumbuhi bulu-bulu lembut dari janggut muda. Dia memang belum punya waktu untuk mengurusi wajahnya selama di mess dan rasanya sekarang saat yang tepat, apalagi karena di kepala wastafel itu terdapat pisau cukur yang lengkap dengan foam pembersih.

__ADS_1


Dagunya terasa bersih saat pemuda itu mengelus bagian di bawah wajahnya, rasanya menyenangkan, dan ini cocok sebagai tampilan makan malam dengan keluarga terhormat.  Apalagi dengan t-shirt polo hijau gelap dan celana korduroi bermotif kotak. Yudi baru selesai memandangi wajahnya dengan puas di kaca saat terdengar ketukan di pintu.


”Ya? Pintu tidak dikunci...”


Pintu terbuka dan seorang lelaki kurus berdagu panjang mirip keledai dan rambut kisut masuk ke dalam kamar. Tampangnya masam. Yudi memperkirakan orang ini pelayan di rumah ini dari seragamnya. Suaranya yang serak mengusik ketenangan ruangan anggun itu, ”Nyonya besar dan nona Mirna menunggu anda di ruang makan.”


”Oke, saya sudah selesai...” ujar Yudi lalu mengikuti lelaki itu turun.


Keduanya sampai di lantai satu dan berjalan menuju pintu kasa ke dua. Si lelaki tua membiarkan Yudi masuk duluan, lagi-lagi Yudi takjub mendapati tempat itu, yang rupanya merupakan ruang makan. Selain penerangan berupa lampu listrik, yang lebih familiar baginya dibandingkan lampu oval dengan pendaran aneh seperti di ruang utama, tempat yang dinamakan ruang makan itu juga dihiasi lilin yang berdiri diatas sepasang tempat lilin perak yang masing-masing berada di kepala meja.


Meja besar diletakan dengan kecermatan memukau tepat di tengah ruangan dengan empat kursi berbantal dakron dan sandaran berukir sulur tumbuhan yang rumit dengan kelopak bunga mekar menjadi bagian puncaknya. Ruangan itu hanya memiliki satu pintu lain yang Yudi pikir merupakan penghubung ke dapur sebab dari sanalah dia mencium bau sedap datang, selain dari hidangan di atas meja tentunya.


”Jadi ini sang bunda,” Yudi membatin. ”Benar-benar wanita luar biasa. Tidak ada kerut-merut yang biasa menghiasi wajah wanita seusianya.Berkat macam inilah yang akan membuat iri para artis yang mulai sibuk keluar-masuk klinik bedah plastik tatkala memasuki usia senja.”


Kedua wanita itu berdiri menyambut. Yudi tercekat saat keduanya mendekati, pakaian yang dikenakan ibu Mirna tidak mampu menutup lekuk tubuh sempurnanya. Bentuk tubuhnya tidak kalah sintal dibandingkan gadis berumur dua puluh tahun. Lehernya yang jenjang selaras dengan rambut hitam panjang berombak, sepasang dada yang membusung bangga, lengan yang terlihat bebas lemak, dan tungkai sempurna yang keseluruhannya dibalut kulit mulus tanpa cela. Dengan kata lain, kedua makluk cantik ini bagai pinang dibelah dua.


Yang membedakan adalah sikap mereka. Sang bunda melemparkan senyum menawan, sesuatu yang tak disangkanya sebab dia sudah bersiap-siap mendapati bibir yang cemberut atau tatapan bermusuhan, yang membuatnya semakin cantik dalam kenyamanan diri yang tak berlebihan sementara Mirna sedikit gelisah. Suaranya tercekat, ”Yud, kenalkan ini bunda.”


Bunda tersenyum ramah. Dia menyalami Yudi sementara matanya mulai mencari-cari sesuatu yang membuat anaknya tertarik kepada seorang lelaki seperti dirinya. Yudi berusaha menatap bunda dengan mantap meski dia nyaris terjebak dalam sorot matanya yang bening tetapi mengandung pemikat yang mematikan.

__ADS_1


”Selamat malam, bunda. Perkenalkan, nama saya Yudi.”


”Saya Mawarni. Kamu bisa panggil saya Bunda Mawar,” katanya penuh percaya diri tanpa sedikitpun kesombongan terselip.


”Tentu, Bunda Mawar...kalau anda tidak keberatan dipanggil begitu...”


”Tentu tidak!” Bunda mengangguk-angguk. ”Ah, tidak heran Mirna tertarik sama kamu...”


”Ibu...” ujar Mirna mengingatkan pelan, wajahnya memerah malu.


Yudi berusaha mengatasi salah tingkahnya dengan mereka-reka sendiri apa yang telah dilakukannya yang membuat wanita itu melihat sesuatu yang menarik buat Mirna. Sejauh ini yang dilakukannya normal saja. Dia berdehem, ”Ehm, terima kasih...”


”Mari kita makan. Jangan sampai hidangan yang disajikan Purwo jadi dingin.”


Pemandangan indah kembali terhampar di hadapan Yudi saat wanita itu berbalik. Pantatnya yang bulat penuh menonjol dari balik kain roknya, cara berjalannya yang melenggak-lenggok bak peragawati membuat Yudi mengerti kenapa Mirna bisa berjalan dengan gaya demikian. Perempuan setengah baya itu duduk dengan anggun di kursinya, mengingatkan Yudi pada kesopanan jaman dahulu yang selalu dipraktekan neneknya. Bunda Mawar menunjuk hidangan di atas meja. ”Ayo, Yud! Sebagai tamu kamu harus mengambil makanannya duluan.”


Yudi sulit menyembunyikan kekagumannya pada hidangan yang tersedia. Gurame yang dimasak dengan kecap manis lengkap dengan acar, sepiring sate kambing yang menjulang di balik tumpukan saos kecap, kacang, dan tomat pilihan, sepiring kangkung yang ditumis dengan tauco dan irisan bawang, sepiring besar bebek bakar dengan siraman saus madu. Tidak lupa nasi gurih yang dimasak dengan bumbu dan cara khusus dalam lipatan daun pisang, mencium aromanya saja membuat rasa laparnya berubah buas. Ini bukan makan malam...ini pesta....


Pemuda itu makan bak kesetanan, entah karena lapar yang mendera atau makanan yang terhidang ini begitu enak. Bukan hanya enak makanan ini juga dihidangkan dengan porsi yang luar biasa besar. Belum lagi habis bersisa, pria bungkuk yang tadi menjemputnya ke kamar sudah menghidangkan porsi baru dari makanan tersebut. Yang bikin Yudi tidak habis pikir itu dilakukan sementara pasangan ibu-anak di hadapannya duduk makan dengan porsi sedikit, sepertinya menunjukkan bahwa mereka sedang ikut program diet. Yudi membatin, seandainya dia jadi suami Mirna maka dia akan mati muda, tenggelam dalam lautan kolesterol.

__ADS_1


***


__ADS_2