KUYANG

KUYANG
Episode 7


__ADS_3

“Aku juga tidak menyangka kamu bisa begitu mesra pada orang tua...” balas Mirna yang tersenyum geli mendapati posisi Yudi.


Baru disadarinya sikapnya terlihat seperti sedang mengancam, buru-buru dilepaskannya lengan si pak tua, ”Ini tidak seperti kelihatannya...aku cuma sedang ngobrol dengan bapak ini...”


“Mau temani aku duduk di sana?” Mirna berbisik lalu menunjuk bangku yang berada di ujung kanan. “Aku nggak mau sendirian.”


Yudi memandang pria tua itu dan tersenyum, “Maafkan tapi gadis ini membutuhkanku saat ini.”


Kebaktian berjalan dengan khusyuk. Pastur memberi kotbah singkat yang ajaibnya tak membuat Yudi sempat menguap kebosanan, dilanjutkan dengan komuni sebagai sakramen penghiburan, satu per satu yang ada di ruangan itu maju untuk menerima roti komuni. Mirna mengamati seluruh kegiatan dengan terpesona. Gadis itu kelihatan menikmati ibadah hingga menahan diri untuk tidak bertanya ini-itu, padahal jelas sekali dia ingin melakukannya.


Bagian yang paling mengharukan adalah ketika sang pastur memberikan roti komuni kepada Stella Felds dan wanita itu menangis sesunggrukan untuk beberapa waktu lamanya sebelum bisa memakan roti yang jadi bagiannya. Agaknya masih sulit bagi wanita itu menerima kenyataan bahwa dirinya baru saja kehilangan bayi dalam kandungannya.


”Kekuatan dari Tuhan kiranya menyertai keluarga yang ditinggalkan, di dalam nama Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus...” Pastur mengakhiri doa dengan membuat tanda salib yang diikuti oleh semua orang dalam ruangan.


”Aku baru tahu kalau kalian punya tiga Tuhan, mirip dewa Hindu; Brahma, Syiwa, dan Wisnu. Bagaimana cara kamu memilihnya?”


”Tidak ada yang harus dipilih karena Trinitas itu sebenarnya satu.”


”Satu bagaimana?”alis Mirna terangkat. “Kamu dengar sendiri kan pria itu menyebut tiga nama barusan?”


Tiba-tiba Yudi merasa dirinya begitu bodoh, selama ini dia begitu terbiasa dengan apa yang sudah terkondisi pada dirinya, sesuatu yang ditekankan orangtuanya sejak kecil tanpa ada kesempatan baginya untuk mempertanyakan hal tersebut. Hanya perlu satu pertanyaan sederhana dari Mirna yang membuatnya menyadari bahwa dia tidak tahu apa-apa sama sekali tentangnya, namun untuk berkelit dari rasa gengsi Yudi buru-buru menanggapi, ”Ya, pokoknya satu. Menjelaskannya perlu waktu panjang. Nggak bisa sambil lalu.”


”Kalau begitu kapan-kapan kita harus meluangkan waktu untuk itu...”


”Sungguh?” Yudi tak menyangka Mirna menjawab seperti itu. Itu bukan jawaban yang asal, dari sorot matanya Yudi menangkap sebuah kehausan yang luar biasa tentang penjelasan tersebut. Kehausan yang murni dan membuat Yudi minder menyadari dirinya bukan sumber yang tepat untuk menjelaskan hal itu.


“Kenapa nggak?” Mirna tersenyum mengangguk.

__ADS_1


“Karena...” Yudi berbisik dengan tatapan tajam yang mengarah kepada orang-orang di seluruh ruangan. Mustahil Mirna tidak memahami kode itu. Namun melihat gadis itu akan terus mendesak bila dirinya tak memberi penjelasan memuaskan padahal kebaktian penghiburan sedang berlangsung, akhirnya Yudi mengangguk buat menyudahi. “Baiklah, akan kujelaskan di lain waktu.”


“Tentu saja,” Mirna mengangguk dan kembali mengikuti jalannya upacara.


Kebaktian penghiburan usai dan para tamu pulang satu persatu setelah memberi salam kepada tuan rumah. Nyonya Felds kelihatannya sudah lebih mampu menguasai diri meski tetap masih belum begitu kuat berdiri lama karena belum punya kekuatan yang cukup. Samar-samar Yudi melihat kaki perempuan cantik itu sedikit gemetaran, walau bisa memaksakan tersenyum demi membalas simpati dari jabatan serta ucapan bela sungkawa yang diberikan para tamu.


Mirna berkata pada Yudi, “Kamu buru-buru?”


“Nggak. Kenapa?”


“Tunggu, ya! Aku mau membantu yang lain beres-beres dulu, setelah itu kita pulang.” Yudi terpana mendengar itu, tidak segera menjawab karena dibingungkan beberapa hal yang kemudian diungkapkan oleh Mirna sendiri. “Kenapa wajahmu begitu? Kamu bingung pada bagian aku ikut beres-beres atau karena aku mengajakmu pulang?”


“Dua-duanya,” jawab Yudi.


“Aku jelaskan nanti. Tidak lama, kok...” Mirna mengedipkan mata. “...tunggu lima belas menit lagi ya.”


Pemuda itu memutuskan untuk keluar ke teras, menghirup udara malam ditemani rokok saat menunggu tentunya hal yang menyenangkan. Rick Felds sungguh orang yang beruntung, atau mungkin memang begitulah nasib pekerja asing di negara ini, mereka mendapat hal-hal terbaik. Gaji yang tinggi tidak perlu dipertanyakan lagi, dan itu termasuk rumah dinas yang diberikan perusahaan sebagai fasilitas tambahan bagi sang pekerja.


Yudi tidak yakin karyawan lain dengan level setara Felds bisa mendapatkan rumah dinas sebagus ini, yang menghadap ke arah danau jernih dikelilingi pohon trembesi yang perlahan menyatu dengan hutan di wilayah tenggara. Hutan di belakang rumah dinas Felds tersebut nampak gelap dan misterius malam hari ini tapi di siang hari tempat itu memberikan pemandangan indah dengan rona kehijauannya yang menyegarkan mata.


Baru saja dinyalakannya rokok, ketika terdengar pintu belakang rumah membuka dan sosok Rick Felds keluar dari sana, bergabung dengannya di teras. Sang tuan rumah yang berduka baru menyadari kehadiran Yudi saat sudah berdiri di sampingnya, “Oh, hai...Yudi. Nice to see you here. When did you came?” dia bertanya sedikit ragu.


“Since the ceremony started,” Yudi melanjutkan ucapan koleganya itu. Pria ini sungguh kehilangan perhatian akan segala sesuatunya, padahal sewaktu datang ke rumah ini jelas-jelas dia sempat menyalami Rick dan istrinya, Stella, sebelum duduk mengikuti ibadah.


Felds mengangguk, “I see. Thanks for coming.”


Yudi menatap pria asing itu dengan simpatik sementara otaknya berusaha memilih kata-kata secara hati-hati, “I’m sorry for your lost. Kejadian ini sungguh tidak menyenangkan.”

__ADS_1


Rick tersenyum hambar sebelum menjawab dengan logat East Coast yang terdengar aneh ketika digunakan untuk melafalkan bahasa Indonesia., “Tidak bisa digambarkan kacaunya hati Stella dan aku saat ini...”


“Pastinya seperti mimpi yang terenggut...”


“Bagaimana bisa bayi itu keluar dari rahimnya?” gumam Rick.


“Begitu kan biasanya keguguran...” kata Yudi lambat-lambat.


“Yudi,” potong Rick dengan nada tajam sebab Yudi tidak mengerti maksudnya. “Stella bukan keguguran...”


“Apa maksudmu?” tanya Yudi menatap Felds lekat.


“Bayi itu....bayiku....apa yang terjadi pada Stella bukan karena keguguran,” Rick Felds berkata dengan tegang, begitu tegangnya hingga suaranya terdengar bagai tercekik.


“So I’ve heard!” Yudi mengangguk dengan ekspresi penuh pengertian. “Mereka bilang itu kecelakaan...” hanya itu yang diucapkan Yudi walau dia sempat mendengar cerita Danu bahwa beberapa orang berpikir itu karena mitos mitos aneh di kota ini, tetapi dia tidak berminat membahas apapun yang tidak berdasar, apalagi di depan orangtua yang tengah berduka.


“Ada sesuatu yang mengambil bayi itu dari perut Stella.”


“Mengambil bayi dari perutnya? Rick, kamu itu ngomong apa sih?” kata Yudi.


“Kedengarannya glla! Aku juga akan berkata yang sama bila tidak mengalami sendiri,”nada yang keluar dari mulut Rick Felds membuat Yudi yakin pria ini tidak pura-pura.


“Bagaimana kejadiannya?” tanya Yudi.


Felds mengisap rokoknya dalam-dalam sambil menatap Yudi dengan menyelidik, “Aku akan menceritakannya padamu kalau kamu janji tidak akan menertawakanku.”


“Aku janji...” Yudi menanggapi dengan cepat.

__ADS_1


***


__ADS_2