KUYANG

KUYANG
Episode 21


__ADS_3

”Sudah melihat gudang anggurnya?” tegur Bunda Mawar setelah Yudi dan Mirna selesai melihat-lihat seluruh rumah sore itu. Wanita itu baru selesai dengan lukisannya dan beristirahat di ruang tengah ditemani teh hangat dan kue bolu buatan sendiri, sementara Yudi yang baru selesai mandi menunggu Mirna di ruang tengah. Hidup wanita itu sungguh nyaman, setelah melakukan hobinya sepanjang hari dia bisa bersantai-santai dengan minuman hangat dan makanan enak.


”Ya,” jawab Yudi disertai anggukan sopan.


”Mirna mana?”


”Di kamarnya...sedang mandi...”


”Seingatku dia mau mengajakmu keluar sore ini.”


“Dia belum bilang apa-apa soal itu.”


“Anak itu kenapa jadi pemalu begitu dengan kedatanganmu?” Bunda Mawar cekikikan. “Kamu mau teh ?”


”Tidak, terima kasih,” Yudi tidak menyukai minum teh di sore hari. Baginya kopi lebih mantap, tapi dia tetap duduk menemani wanita itu.


”Jadi bagaimana menurutmu rumah ini?”


”Menyenangkan,” Yudi menjawab. ”Rumah ini pasti menyimpan banyak kenangan. Mengingatkan saya pada buku sejarah berhalaman tebal.”


”Perumpamaan yang menyenangkan,” Bunda Mawar tertawa kecil. ”Memang banyak hal yang terjadi di dalam rumah tua ini. Semua cerita hidupku – yang sedih atau senang – merupakan bagian rumah ini. Begitu pula dengan mereka yang hidup sebelum aku. Ini semua tentu menjadi milik Mirna nantinya.”


”Apakah tidak ada kemungkinan Mirna...keluar dari tempat ini?”


Bunda Mawar menatap Yudi,”Kenapa dia harus melakukan itu?” Bibirnya yang sedikit menyudut membuat Yudi sadar kalau wanita itu tidak senang mendengar perkataannya barusan.


”Yah, mungkin saja Mirna ingin keluar dari sini, pergi ke kota lain untuk mengikuti suaminya ke suatu tempat dimana mereka akan membangun sebuah keluarga bersama,” kata Yudi.


Bunda Mawar tersenyum, ”Mungkin saja...itu mungkin...tapi Mirna tipe gadis yang selalu rindu rumah. Butuh lelaki hebat yang bisa menahannya untuk tidak pulang kesini.”

__ADS_1


”Yah, saya pikir itu tanggung jawab lelaki itu untuk membuatnya nyaman.”


”Tapi untuk apa dia harus pergi kalau semua keperluannya tersedia disini?”


”Mungkin karena dorongan alami bahwa lelaki atau perempuan akan meninggalkan orang tua dan bersatu dengan pasangannya?”


”Itu pemikiran yang menarik. Hanya saja pernahkah terpikir olehmu bahwa di jaman emansipasi ini bisa terjadi perempuan tak harus mengikuti laki-laki? Bisa terjadi kebalikannya, lelaki mengikuti perempuan?”


”Bisa saja,” jawab Yudi. Itu bukan sesuatu yang aneh karena banyak kawan-kawannya di kantor melakukan hal serupa.


”Dan seandainya itu terjadi sama kamu, apa pilihanmu?”


Wajah Yudi bersemu merah dalam sepersekian detik. Tak menyangka Bunda Mawar bertanya seperti itu. Untung saja dia bisa menjawab dengan tegas, "Saya memilih untuk mengajak pasangan saya untuk keluar dari rumah keluarga dan membangun rumah kami sendiri."


Mendengar itu alis Bunda Mawar terangkat, sepertinya makin tertantang menggali lebih jauh, ”Katakan Yud, kamu senang di rumah ini?”


”Bagus,” kata Bunda Mawar mengangguk-angguk kemudian meminum tehnya.


”Tapi Bunda... mungkin saja calon suami Mirna tidak berpikiran seperti saya.”


”Kalau begitu kenapa kamu tidak memberi Mirna kesempatan?”


Semu di wajah Yudi makin merona, ”Saya? Mengapa saya?”


Bunda Mawar menghela nafas panjang, “Jangan pura-pura, Yudi. Mirna itu suka sama kamu. Dia belum pernah membuat kue untuk siapapun, selain untuk Bunda, dan itu dilakukannya sampai dua kali. Waktu Bunda memergokinya dia sampai ngumpet-ngumpet untuk menyelesaikannya karena malu.”


”Ya...ya...itu karena yang pertama dimakan tikus...entah kenapa..." Yudi berkomentar.


”Sudah berapa lama kamu berteman dengan Mirna?”

__ADS_1


”Kurang lebih setahun.”


”Kamu tahu nggak, selama itulah Bunda mengenal kamu. Mirna anak yang tertutup. Sulit menebak isi hatinya tetapi insting seorang  ibu tak pernah salah. Dari beberapa kali obrolan kami, dia sering menyebut dirimu tanpa disadari dan lewat cerita yang sekilas-sekilas itulah aku tahu kamu lelaki yang baik...”


”Terima kasih, bunda,” Yudi tak tahu harus gembira atau sedih, kenyataannya dia tidak sebaik yang dipikirkan kedua wanita ini. Andai saja wanita itu tahu apa yang dilakukannya pada Mirna di kamarnya di mess, dan juga yang dilakukannya semalam di rumah ini saat dia mabuk karena kebanyakan minum wine tentu pandangannya yang positif itu akan berubah seratus delapan puluh derajad.


Yudi tak tahu harus berkata bagaimana lagi, apalagi harapan wanita ini kepada dirinya nampak begitu tinggi, padahal kenyataannya dia sadar bahwa kenyataan pahit bakal menghantam sebab dirinya sudah terpaut dengan suatu tanggung jawab kepada Siska dan bayinya. Yang Yudi tidak mengerti, Mirna bilang kalau ibunya sudah tahu mengenai kondisinya yang harus menikahi Siska, tapi kenapa disini wanita itu malah mendorong dirinya supaya berhubungan serius dengan anaknya. Keluarga yang aneh...


”Mungkin pada waktunya nanti, Bunda...” sahut Yudi mengalah.


Bunda Mawar menghirup uap teh yang keluar dari cangkirnya dan mengangguk-angguk, ”Pada waktunya nanti...” Setelah menghabiskan teguk terakhir cairan di cangkirnya perempuan itu berdiri, ”Nah, itu dia datang...”


Yudi berbalik dan terkagum-kagum melihat Mirna begitu cantik dengan pakaian ketat berlengan buntung dan celana jeans belel sepaha dengan sepatu kets putih dan jaket tersampir di pinggang berdiri di ambang pintu ruang makan. Dia tersenyum tipis, setipis aroma parfumnya yang mampir ke hidung Yudi. Tanpa sadar Yudi berkomentar, ”Dandananmu cantik sekali, mau pergi keluar?”


”Kemarin aku kan janji mau mengajakmu jalan-jalan,” sahut Mirna.


”Jangan pulang terlalu malam,” kata Bunda Mawar. ”Kamu boleh menonton sirkus itu tapi jauhi tempat begundal karnaval itu. Aku tidak suka melihat mereka.”


Mirna mengangguk kecil sebelum buru-buru menggandeng Yudi untuk pergi dari hadapan ibunya. Yudi merasakan Mirna tidak menyukai anjuran sang ibu  barusan sehingga dia berbisik, ”Memangnya kita mau kemana, sih?”


”Ikut saja dan jangan banyak tanya,” Mirna mendelik sambil mencubit pinggang Yudi.


Keduanya meninggalkan rumah dengan mobil yang sudah menunggu Mirna di teras rumah, dan wajar saja jika mereka harus menggunakan mobil sebab tempat tujuan Mirna harus ditempuh dalam setengah jam, jarak yang lumayan jauh untuk kota kecil. Walau begitu Yudi menikmati perjalanan tersebut karena tidak ada kemacetan dan juga banyak pemandangan hijau di kiri-kanan yang bisa dilihat.


Tempat yang dituju itu ternyata sebuah dusun kecil, dimana di dalamnya terdapat sekumpulan rumah yang ukurannya hanya setengah dari kamar di rumah Mirna. Atap bangunannya terbuat dari rumbia sementara dindingnya dari kayu yang diserut kasar dan telah kecoklatan termakan panas dan hujan. Disamping rumah-rumah itu terdapat bangunan yang menyerupai lumbung dengan sumur-sumur yang dibangun dari batu setinggi pinggang orang dewasa untuk mencegah anak-anak tercebur ke dalamnya.


Di bagian belakang gubuk yang berupa pagar semak seakan menjadi pelindung alami dari dunia luar, sementara di bagian mulut rumah saling bertemu di sebuah lapangan kosong yang kini ditempati oleh sebuah tenda sirkus besar bergaris merah-putih. Sebuah papan nama besar yang dilengkapi lampu hias warna-warni bertuliskan ”SIRKUS RAHYADI” terpampang di gerbang gapura.


***

__ADS_1


__ADS_2