KUYANG

KUYANG
Episode 24


__ADS_3

Mobil Mirna berhenti di teras rumah dan saat pintunya bergeser membuka Yudi merasa berat harus melepaskan gadis itu dari pelukannya. Diikutinya gadis itu masuk ke rumah, yang gelap karena lampu oval di langit-langit tak lagi menyala, tapi hal itu bukan masalah bagi Mirna yang berjalan dengan mulus menyusuri lantai dua ke tempat dimana kamar Yudi berada.


”Makasih ya mau menemani,” ujar Mirna begitu mereka tiba di lantai dua.


”Aku yang berterimakasih karena kamu mau mengajak aku keluar.”


”Malam ini menyenangkan.”


”Yeah, dan kuharap kamu tidur nyenyak bersamanya,” Yudi menunjuk boneka beruang di pelukan Mirna.


Mirna mengangkat boneka itu dan tersenyum bahagia, ”Pasti...dan aku harap kamu bisa memberi nama buat boneka ini...kamu tahu, seperti orangtua memberi nama anak?”


Yudi terperanjat tapi dia tersenyum, ”Aku tidak tahu. Aku tidak ahli begituan.”


”Kurasa aku sudah dapat nama yang cocok,” Mirna berkata dengan mata berbinar. ”Gulali...bagaimana kedengarannya?”


”Nama yang lucu,” Yudi menanggapi. ”Tapi kenapa nama itu?”


”Karena baunya...” Mirna mencium boneka itu. ”...begitu manis...yang pasti membawaku terbang ke alam mimpi.”


Yudi tersenyum dan keduanya membisu beberapa saat. Mata mereka bertemu, saling berpandang dan mengirimkan isyarat yang hanya bisa dipahami keduanya. Kehangatan yang diraupnya sejenak di mobil itu menggemuruhkan gundah yang ingin dibenamkannya dalam sebuah puncak yang penuh arti. Kehangatan yang menggantung itu tidak enak – keduanya menyadari itu – tetapi satu sama lain bersikap menunggu...menunggu lawan jenisnya menentukan pilihan yang akhirnya menadirkan hati.


Sekarang atau tidak sama sekali, pikir Yudi, suasana sedari sore hingga malam ini telah terjalin begitu rapih mengantarkan mereka dalam pelukan malam yang romantis, apa salahnya memuncakinya? Pilihannya hanya tinggal di kamarnya atau di kamar Mirna...yang manapun sama saja bagi Yudi...


Tetapi saat bibir mereka hendak bertemu serangkum angin dingin berhembus di belakang leher Yudi. Mengingatkan bahwa ini bukan waktu yang tepat. Segera gelora dalam hatinya menyusut jadi penolakan halus. Mirna yang menyadari bahwa Yudi menahan diri ikut menjauh. Gadis itu bertanya, ”Kenapa?”


”Jangan sekarang,” Yudi berkata dengan suara serak.


Mata Mirna menunjukkan emosinya terpukul, seperti tidak percaya mendengar jawaban itu, ”Sudah malam...aku ke atas dulu ya...”


”Selamat tidur.”


Begitu Mirna menghilang di tangga teratas Yudi langsung mengumpat dalam hati. Pintu kamar nyaris dibantingnya jika tidak segera ingat ini bukan kamar messnya. Dia sadar tidak dapat meneruskan hal ini. Kenikmatan yang dia rasakan bersama Mirna hanya sementara, waktunya di tempat ini hanya dua hari dan setelah itu Mirna hanya tinggal kenangan karena dia harus kembali pada Siska. Jadi dia tak mungkin memiliki Mirna, ada pertanggungjawaban yang harus dia lakukan pada Siska dan Yudi sadar tidak mungkin lari darinya...


”Dasar tolol...dasar tolol...” gumam Yudi pada dirinya berkali-kali.

__ADS_1


Dia baru saja hendak berganti pakaian ketika terdengar raungan keras. Raungan itu mirip suara kucing besar yang tengah kelaparan...atau mungkin juga kesakitan...apapun itu suaranya menyiratkan pemiliknya tersiksa oleh sesuatu. Dikuaknya tirai untuk memeriksa keadaan di luar, halaman belakang rumah kosong dan gelap. Ketika raungan itu terdengar lagi Yudi sadar kalau suara itu bukan berasal dari luar rumah...tapi dari suatu tempat di dalam


bangunan ini...


Pemuda itu menyusup keluar dari kamar dan mengikuti arah bunyi yang kedengarannya berasal dari lantai bawah. Jantung Yudi berdegup saat kakinya menapak di ubin lantai satu, kuatir jangan-jangan makhluk yang mengeluarkan bunyi aneh itu ada di lantai ini, tengah bersembunyi di suatu sudut dalam kegelapan, bersiap menyergapnya dalam hitungan detik. Dia berhenti sebentar dan membiarkan matanya terbiasa dengan kegelapan disitu.


Bunyi-bunyian misterius itu masih terdengar meski tak sekeras sebelumnya, berubah jadi semacam dengkuran yang memberi kepastian bahwa ruangan ini aman. Bunyi misterius ini kedengarannya berasal dari suatu tempat yang lebih jauh dari lantai ini, suatu tempat yang lebih jauh ke bawah, dan saat itu Yudi teringat pada gudang anggur. Pandangannya tertuju pada kusen melengkung yang menghubungkan lantai tersebut ke ruang bagian bawah sebelum kemudian memutuskan buat menengok kesana.


Bau ragi dan anggur menyambut Yudi begitu dirinya masuk ke dalam ruangan. Bau yang merangsek indera penciumannya itu terasa lebih kuat dari yang didapatinya ketika masuk ke tempat itu sore tadi. Mungkin karena suhu yang lebih dingin di malam hari membuat uap anggur yang menguar di udara tidak memuai oleh panasnya ruangan.


Dia melangkah dengan hati-hati agar tidak menyenggol botol anggur di rak atau yang tersusun di pojok lantai. Tangannya meraih salah satu botol anggur, cukup puas dengan beratnya karena benda itu tidak terlalu berat buat diayunkan dan cukup kokoh buat dihantamkan. Botol ini senjata yang cukup bagus buat melindungi dirinya seandainya hewan yang tengah meraung itu besar dan buas.


Lelaki itu berjingkat lagi mendekati asal suara sebelum hewan itu berhenti mengeluarkan suaranya. Sepertinya tahu, atau mungkin juga mencium, bahwa di tempat itu ada makhluk lain selain dirinya. Yudi ikut berhenti melangkah, berdiri termangu, memastikan bahwa makluk itu memang ada di balik pintu kayu dari ruangan berambang batu bundar sebab dari sanalah terdengar bunyi tadi terakhir kali.


Yudi menggenggam erat botol di tangan kanan bersamaan tangan kirinya mendorong pintu itu. Ada sederetan anak tangga yang mengarah ke bawah, anak tangga itu terkesan dalam karena hanya empat anak tangga yang terlihat sementara selebihnya tertelan kegelapan. Dia menuruni tangga hingga ke bagian dasar sebelum mendapati pintu aneh tanpa anak kunci dan gagang pintu yang ternyata tidak bergerak ketika didorongnya. Bagaimana caranya masuk kesana? Apakah ada semacam tuas rahasia yang harus diputar atau kalimat sihir yang harus diucapkan?


”Sedang apa kamu disitu?” seseorang tiba-tiba menegurnya.


Yudi mendongak dan melihat Bunda Mawar berdiri dengan berkacak pinggang di bagian atas anak tangga. Dasternya tersembunyi dibalik mantel tidur bulu yang kusut, sandalnya yang berwarna senada dengan mantelnya membungkus kakinya yang mungil, sementara rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai. Yudi nyaris mengiranya sebagai Mirna seandainya perempuan itu tidak bersuara tadi.


”Aku biasa minum segelas anggur sebelum tidur dan kembali kesini buat menaruh botolnya di rak. Kalau kamu... apa yang kamu lakukan disini?” Bunda Mawar menatap botol di tangan Yudi. ”Jngan bilang kalau kamu kemari untuk menghabiskan sebotol anggur sendirian.”


Yudi tersenyum rikuh lalu melempar botol itu ke samping. Benda itu berdenting dan seperti perkiraan Yudi benda itu tidak pecah dengan mudah saat menghantam lantai batu. ”Tidak! Memang tidak!”


”Lalu?” dahi Bunda Mawar berkerut,.Saat itu Yudi merasakan aura bengis terpancar dari wanita itu. Aura yang menakutkan, dan mungkin itu sebabnya Mirna sering merasa tidak nyaman berada di samping perempuan itu.


”Saya mendengar bunyi raungan aneh sewaktu di kamar dan saya memeriksa kemari.”


”Raungan?” wanita itu mengerutkan kening. ”Aku tidak mendengar apa-apa sedari tadi.”


Yudi mengangkat bahu, ”Suaranya mirip harimau atau kucing besar seperti jaguar atau puma. Anehnya suara itu menghilang begitu saya masuk kemari.”


”Oh, begitu? Menurutmu bagaimana caranya hewan seperti itu masuk kemari?” Bunda Mawar tidak dapat menahan senyum gelinya.


”Kalau saya bisa membuka pintu ini maka saya mungkin bisa menjelaskannya,” Yudi menunjuk pintu aneh disampingnnya. ”Saya mendengar suaranya dari sana.”

__ADS_1


”Benarkah?” Bunda Mawar terbelalak. ”Kamu yakin? Sebab pintu itu terpatri demikian sejak puluhan tahun silam.”


”Jadi tidak ada yang bisa membukanya?” tanya Yudi ragu.


”Itu yang sudah kamu coba tadi, kan?”


Wajah Yudi bersemu merah. Untunglah keadaan disitu lumayan gelap sehingga Bunda Mawar tidak melihat perubahan itu. Dia lalu menaiki tangga dan berdiri di hadapan perempuan itu. Terpukau mendapati tubuh wanita itu masih amat wangi meskipun sudah memasuki waktu tidur. Tebaran aroma melati merebak tanpa henti dari balik mantel tidurnya, aroma yang sama diciumnya ketika bertemu wanita itu di ruang tengah tadi siang. Pemuda itu berkata lirih, ”Mungkin saya salah dengar.”


Bunda Mawar mengelus bahu Yudi dengan cara yang membuat lelaki itu mendadak rikuh, ”Mungkin juga tidak. Di rumah tua ini memang banyak binatang masuk...seperti kucing liar atau bajing yang datang dari hutan...tapi rasanya mereka tidak ada disini. Sudah bertahun-tahun`rumah ini aman kok. Percayalah!”


Dengan santai wanita itu menggandeng Yudi setelah menutup pintu gudang anggur, ”Kamu mungkin tidak pernah mengalami ini di kota besar tapi memang pernah ada macan kumbang masuk ke rumah ini, tepatnya ke ruang bawah tanah itu sebelum dijadikan gudang anggur."


"Macan kumbang itu hewan yang pemalu dan tidak suka mendekati pemukiman manusia..." sambung Bunda Mawar. "...namun akibat sarangnya di bagian selatan hutan habis terbakar akibat ulah manusia dia tersesat masuk ke rumah ini, dan kamu mungkin tidak percaya kalau hewan itu masuk lewat terowongan yang merupakan pintu mati yang kamu temui tadi. Suasana di ruang bawah tanah itu memang suasana di sebuah gua, bukan?”


Yudi mengerutkan kening, penjelasan wanita itu berbeda dengan Mirna. Kalau tidak salah Mirna bilang bahwa lorong itu dulunya jalan bawah tanah supaya keluarganya bisa menyelamatkan diri dari kejaran tentara belanda semasa perang, ”Kalau begitu memang ada ruangan di belakang pintu itu?”


”Ya! Hanya saja setelah kejadian itu nenek buyutku mematrinya untuk memastikan bahwa hal itu tidak terulang lagi. Dia juga menutup pintu keluarnya.”


”Lalu bagaimana dengan macan kumbang itu dan anaknya? Apakah nenek buyut Bunda juga mengusirnya?”


”Tidak! Nenekku membunuhnya...” suara Bunda Mawar terdengar tercekik ketika menjawab. ”...makhluk itu begitu kelaparan sehingga dia memakan saudara ibuku yang waktu itu masih kecil...dan...”


”Jangan!” cegah Yudi yang merinding mendengarnya. ”Jangan teruskan. Saya paham. Itu sungguh mengerikan!”


”Jadi sekarang kamu paham kenapa ruangan itu ditutup secara permanen?”


”Dan saya nyaris merusaknya. Maafkan saya!”


”Tidak apa. Kan kamu tidak tahu.”


”Kalau begitu saya kembali ke kamar dulu, Bunda!” ucap Yudi menyadari suasana yang tidak enak ini.


”Ayolah, Bunda juga mau kembali ke lantai atas. Terlalu dingin berlama-lama disini.”


***

__ADS_1


__ADS_2