KUYANG

KUYANG
Episode 29


__ADS_3

Kucing itu menatap Yudi sekian lama seolah bertemu teman lama, lalu mengeong pelan laksana mengucapkan salam pertemuan, duduk dengan tenangnya laksana penembak jarak jauh sedang mengintai sasaran. Entah apa yang dipikirkan hewan itu tapi keberadaannya dalam kamar ini sungguh mengganggu.


Sayangnya, meski ingin mengusir binatang itu dia tidak dapat melakukannya karena tak ingin membuat Mirna terbangun. Lucunya, kucing itu seperti memahami kondisinya sehingga dengan acuhnya kucing kurang ajar itu mendekati mereka berdua. Sewaktu kucing itu menghampiri, bau yang tidak enak itu bergerak mengikuti, dan tahu-tahu hewan mungil itu melompat ke atas tubuh Mirna.


”Ini sudah keterlaluan,” batin Yudi yang berniat menangkap batang leher si kucing sial jika masuk dalam jangkauan tangannya, mencekiknya lalu membantingnya ke lantai agar binatang sial itu tidak mengganggu malam indahnya...


Bahu Mirna tersentak, memberi isyarat kalau gadis itu terbangun dengan tiba-tiba. Tentu saja gadis itu terbangun akibat gerakan si kucing, dan saat itu menyadari ada yang tidak beres, nafasnya berubah memburu, ”Apa yang...”


”Ssshh...akan kuusir dia,” Yudi mendesis lembut.


Namun gadis dalam pelukannya itu menyentakkan selimut dan melayangkan tangannya ke depan buat mengusir pergi sang kucing. Yang membuat Yudi terperanjat karena bentuk tubuh pada gadis itu bukanlah bentuk tubuh Mirna. Perutnya buncit, sepertinya sedang hamil tua, sementara rambutnya lebih pendek. Potongannya mirip.... Stella Felds...


Kucing itu menghindar dari kibasan Stella sebelum memasang posisi agresif. Mulutnya terbuka membentuk seringai, memamerkan deretan gigi runcing sebagai posisi mengancam. Wanita itu kaget setengah mati dan sebuah kekuatan tak kelihatan mendorongnya kembali ke belakang. Tubuh wanita itu terhenyak keras hingga memaksa ranjang berderit menahan bobot yang ditimpakan dengan paksa.


”Apa yang…”


Yudi berusaha menggoyang-goyangkan tubuh wanita itu untuk membuatnya terjaga tetapi dia nampak tidak memperhatikan atau bahkan menyadari kehadiran Yudi. Perhatiannya tertuju sepenuhnya pada si kucing yang menatap makin buas dan kini malah sudah berjalan mendekat dengan gerakan pelan dan dipenuhi hawa maut.


Yudi berusaha mengusir binatang itu, pandangan sang hewan beralih sesaat dari wanita itu dan entah bagaimana Yudi merasakan tubuhnya membeku. Tangannya yang terjulur hendak memukul sang kucing terhenti di udara. Melayang kaku. Jantungnya berdebur kencang saat kucing itu mendesis marah dan seolah siap menyerang sewaktu-waktu. Setelah memastikan Yudi tak lagi jadi pengganggu, hewan itu kembali pada korbannya.


Meski terasa sedikit gemetaran di tangannya, tubuh wanita itu juga kaku seperti halnya yang dialami Yudi. Itu mungkin akibat keinginannya yang begitu kuat untuk membebaskan diri dari pengaruh kasat mata si kucing, yang dengan seenaknya sekarang naik ke perut si wanita hamil. Keringat meluncur deras di dahi wanita itu. Yudi terkesiap mendapati perut wanita itu bergerak-gerak ganjil. Ada benjolan besar yang nampak berusaha mendorong dari dalam sebelum kemudian bergerak menyusur secara acak dari atas ke bawah, lalu kembali ke atas lagi.

__ADS_1


Mengerikan sekali melihat bagaimana ukuran perut itu makin besar dan membentuk bagian-bagian tubuh yang bisa dikenali macam kepala kecil, berganti tangan, yang kemudian berubah jadi kaki. Yudi menahan nafas tegang. Dorongan di perut wanita itu semakin menggila. Seakan isi perutnya berusaha keras untuk termuntahkan. Yudi berusaha menjerit sebagai pelampiasan rasa frustrasi tetapi yang keluar dari mulutnya hanya rintihan, ”Jangan... jangan lakukan itu...”


Dia benci pada dirinya yang hanya bisa melihat pemandangan tersebut tanpa mampu melakukan apapun buat menolong si wanita malang. Seakan dia diseret kemari sebagai penonton yang hanya bisa pasrah menunggu adegan demi adegan dari sepetik drama mengerikan yang hanya boleh diketahuinya sendiri. Siapapun...apapun... yang membawanya kemari pasti menikmati teror yang muncul menghantui dirinya saat ini.


Kucing kecil itu memberi tepukan-tepukan kecil dengan ekornya dan guncangan di perut wanita itu makin hebat. Wanita itu tetap tidak dapat berteriak meski kesakitan dan benjolan itu kemudian bergerak menyentuh dasar perutnya lalu mendorong lebih jauh hingga memaksa wanita itu menyibakkan sepasang kakinya lebar-lebar.


Kamar yang gelap itu membuat Yudi tidak dapat melihat sosok makluk aneh di belakang si kucing hitam. Walaupun begitu pemuda itu merasakan dengan jelas kehadiran suatu makluk di belakang sana. Suatu makluk mengerikan yang siap melakukan hal-hal tidak manusiawi... entah apapun itu...dan kengerian itu begitu mencekam dibalut jeritan kesakitan si wanita yang tak kuasa menahan kakinya untuk terus terentang akibat ditahan oleh suatu kekuatan kasat mata. Yudi mengamuk, berusaha membebaskan diri karena ingin menolong wanita itu, namun seberapa keras pun usahanya percuma saja.


Makin hebat dia memberontak kekuatan kasat mata seperti yang mencengkeram wanita itu membekap tubuhnya dengan luar biasa. Membuat seluruh tulangnya terasa remuk. Nafas Yudi terengah-engah di tengah perlawanan sebelum akhirnya menyudahi usaha yang sia-sia.


Wanita di sampingnya seperti menyadari hal itu, merasakan hal yang sama, hanya bisa pasrah sementara matanya yang menyorotkan sikap tidak terima mulai berlinangan air mata kesedihan. Tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya tapi mereka berdua menyadari, dari perlakuan yang diterima wanita tersebut, bahwa itu bukan sesuatu yang menyenangkan.


Anehnya, teriakan-teriakannya itu rasanya hanya membuat pekak telinganya sendiri...


Diantara kaki sang wanita yang terpentang perlahan-lahan terasa hawa panas yang memancar deras, yang diiringi bau anyir, sementara leleran darah mulai menggenang di atas seprai. Yudi melongo ketika seberkas sinar hijau keperakan muncul dari bagian tubuh diantara kaki wanita itu. Sinar itu bentuknya seukuran bola sepak bola, meluncur dan melayang-layang di udara dengan sendirinya. Tubuhnya menggigil karena mendengar tangis bayi keluar dari dalamnya saat bola sinar itu melayang ke atas lalu berhenti tak jauh dari lutut sang ibu, tepat saat itulah Yudi melihat wajah jelek si makluk yang terbias oleh cahaya dari bola sinar.


Wajah wanita itu mirip tengkorak, matanya yang cekung nanar dan berair, sementara dari mulutnya mengalir liur berwarna hitam yang baunya mengingatkan pada saluran got di pasar. Dia memperhatikan bola kehijauan yang ada di telapak tangannya yang terbuka dengan tatapan liar. Seringai puas nampak menyungging di wajahnya sementara tangisan dari dalam bola itu makin memillukan. Sepertinya bola itu mempunyai indra perasa yang membuatnya merasakan hawa tidak enak yang muncul dari nenek tua jelek itu. Yudi enggan menduga-duga namun rasanya paham apa yang ada dalam bola hijau tersebut.


Yudi menggenggam kepalan tangan, andai dia dapat membebaskan diri dari belenggu ini maka tinjunya akan bersarang di dagu nenek itu tanpa ampun. Dia akan membuat si jelek itu terpelanting ke lantai. Hatinya mencelos saat seringai nenek itu terarah padanya...seringai jelek mengejek...seolah menantang Yudi untuk melakukan apa yang dipikirkannya...di saat yang bersamaan suatu kekuatan menghambur dari wanita itu ke arahnya, menekan semangatnya dan mengerutkan keberaniannya. Di saat itulah Yudi menyadari bagaimana menjadi tidak berdaya... menjadi sadar bagaimana rasanya saat kematian begitu dekat dengannya. Nenek tua itulah si kematian dan Yudi jelas tidak ingin macam-macam dengannya...


Sekejap mata si nenek tua dan kucingnya menghilang dan itu memutuskan semua belenggu. Yudi bisa menggerakan tubuhnya kembali, begitu juga halnya dengan wanita itu yang langsung berteriak histeris. Hanya berselang lima detik ruangan itu dipenuhi cahaya benderang dari lampu yang dinyalakan dan Yudi melihat Danu masuk ke kamar.

__ADS_1


”YAA, TUHAAAN INDRI...APA YANG TERJADI???”


Tentu! Yudi ingat sekarang...


Sedari tadi rasanya wajah itu dikenalnya, dan tentu saja dia mengenalnya karena itu Indri, istri Danu. Dan seperti Stella Felds, wanita itu memang sedang mengandung tujuh bulan. Apakah dia…jangan-jangan dia juga menjadi korban kuyang...


Danu berlari mendekat dan memegangi bahu istrinya yang tengah menangis histeris, si wanita spontan memeluk suaminya dan tangisannya semakin menjadi. Sepasang kekasih itu seperti tidak menyadari kehadirannya di ruangan itu. Kekalutan tergambar kuat pada wajah Danu begitu wanita itu meraung, ”Dia mengambil bayiku...dia mengambil bayiku...”


”Kita harus cepat ke rumah sakit...”


Wanita itu tidak mendengarnya, ”Dia mengambil bayi kita...dia mengambil bayi kita...”


Indri mencerocos terus-menerus, tak dapat menghentikan frustasinya, karenanya sulit bagi Danu untuk memapah turun wanita itu dari ranjang. Akhirnya diputuskannya buat menggendong Indri. Begitu pasangan itu keluar dari kamar, pintu terbanting keras sementara cahaya lampu meredup perlahan, menenggelamkan Yudi kembali dalam bisunya kegelapan.


Lelaki itu murka, marah karena tertempelak atas kekejian yang hanya bisa ditontonnya dan membuatnya tak berdaya. Dia menjerit marah dan meloncat bangkit. Nafas Yudi terengah-engah seperti habis berlari ribuan mil. Dia menahan isaknya. Wanita-wanita ini...Stella Felds... Indri...mereka pasti menginginkan bayi mereka selamat dalam keadaan hidup tapi makluk ganjil itu telah merenggut keduanya dengan begitu kejam...


*** kamu pembunuh!  Dasar pembunuh keji!


Saat itu disadarinya kalau dirinya berada di kamar Mirna...bukan kamar Indri yang ditempatinya baru beberapa menit lalu...layar televisi sudah mati sementara Mirna berbaring tenang disampingnya. Dada gadis itu bergerak turun naik dalam irama lembut. Kelihatannya sama sekali tidak terganggu oleh gerakan mendadak yang dilakukannya saat bangun dari tidur barusan. Itu membuat Yudi lega sebab dia jelas tidak ingin mengganggu Mirna. Pada saat bersamaan didengarnya tangisan bayi di luar kamar....


***

__ADS_1


__ADS_2