KUYANG

KUYANG
Episode 32


__ADS_3

Truk yang ditumpangi Yudi akhirnya meninggalkan hutan setengah jam kemudian, Yudi bernafas lega begitu melihat siluet dari deretan bangunan kota di depannya. Truk itu melaju tanpa canggung membelah keheningan kota dan baru berhenti setelah sampai di depan pintu ruang gawat darurat sebuah rumah sakit terdekat.


”Kami butuh pertolongan,” Yudi berseru saat melompat keluar sebelum truk berhenti dengan sempurna.


Si supir truk memaki pada Yudi, ”Hati-hati tolol! Kamu ingin kakimu patah?”


Dua perawat pria lari tergopoh-gopoh dengan membawa ranjang dorong lalu mengeluarkan Wayan dibantu oleh Yudi dan sang supir. Wayan sudah berada diambang batas ketidaksadaran. Salah satu dari perawat bertanya pada Yudi, ”Apa yang terjadi?”


”Serangan hewan di hutan,” jawab Yudi.


”Dia kehabisan darah. Harus dilakukan tranfusi. Kamu tahu golongan darahnya?”


”Sayangnya, tidak!” jawab Yudi dengan gelengan kepala.


”Baiklah, kami akan memeriksanya lebih dulu.”


”Itu tidak butuh waktu lama, kan?” Yudi bertanya cemas.


”Jangan kuatir, pak. Serahkan saja pada kami,” si perawat wanita menjawab.


Keduanya menyuntikkan obat penenang ke tubuh Wayan yang masih belum berhenti gemetaran. Yudi memegang bahu pria tua itu buat menangkan, ”Tenanglah, kamu pasti akan selamat!”


Tiba-tiba Wayan merenggut baju Yudi dan menariknya ke bawah agar pemuda itu bisa mendengar ucapannya yang lirih, ”Hati-hati dengan Kuyang...”


”Apa?” Yudi mengerutkan kening kebingungan.


”Pergi dari sini...secepatnya...dia mengejarmu....” dari tangan Wayan yang menyusup di kantong jaket Yudi terdapat tiket pesawat milik Yudi, tiket pesawat yang digunakannya untuk pulang ke Jakarta. ”Pergi ke bandara sekarang...”


”Darimana...” Yudi hendak bertanya lebih lanjut namun mendadak Wayan muntah darah, memuntahi bajunya sendiri, lalu ke lantai, dan juga ranjang.


Kepala lelaki itu terbanting ke bantalan ranjang dorong sembari pria itu memegangi perutnya. Ditatapnya Yudi dengan melotot, ”Pergi ke bandara untuk melihat buktinya...hati-hati dengan kuyang...”


”Menjauh darinya...” sang perawat lelaki berteriak memperingatkan seraya setengah menyeret Yudi. Pemuda itu menatap nanar saat Wayan dibawa menyusuri lorong oleh dua perawat lainnya dan masih tetap tertegun setelah pintu ruang gawat darurat itu ditutup dari dalam.


***


Mungkin kedengarannya tidak bijak meninggalkan Wayan di rumah sakit sementara pria itu sedang mendapatkan perawatan agar lolos dari sakratul maut...semua orang waras pasti akan mengatai betapa bodohnya keputusan Yudi namun dia tidak bisa memungkiri betapa dia ingin tahu maksud perkataan Wayan.


Dia sudah bertahan di rumah sakit itu sekitar dua jam lamanya, demi menjaga norma kepantasan, tapi ucapan Wayan yang semakin kuat mengiang di kepalanya membuat Yudi akhirnya memutuskan untuk pergi ke bandara, dan setibanya disana dia sungguh tidak sabar untuk mencari tahu tentangnya.


”Ambil kembaliannya...” Yudi berkata seraya membanting pintu mobil setelah memberi sejumlah uang yang cukup banyak dan ditinggalkannya sang supir yang terpana karena tidak sempat memberikan uang kembalian.

__ADS_1


Setelah melewati pintu pemeriksaan Yudi menuju meja counter sembari memegang tiketnya. Petugas yang ada disana bukan wanita yang melayani sewaktu dia check-in tiga hari sebelumnya. Perempuan itu sedang sibuk di depan komputer sebelum mendongak dan memberi senyum termanisnya, ”Selamat pagi, bisa saya bantu?”


”Ya, saya mau ke Jakarta. Penerbangan untuk pagi ini.”


Gadis itu tersenyum dan menerima tiket yang diacungkan Yudi, membukanya lalu memeriksa sebentar, beberapa detik kemudian gadis itu kening berkerut sementara senyum menghilang dari wajahnya. Dia nampak kebingungan menatap Yudi dengan wajah setengah geli, ”Anda benar-benar ingin pergi dengan tiket ini?”


”Memangnya kenapa, mbak?” Yudi bertanya balik.


”Soalnya tiket bapak sudah tidak berlaku.”


”Maksudnya?” Yudi mengerutkan kening.


”Tiket bapak kadaluarsa. Ini tiket penerbangan untuk tiga bulan yang lalu.”


Yudi terperanjat mendengarnya, ”Tiga bulan lalu? Apa maksudnya tiga bulan lalu?”


“Tiket bapak ini berlaku di April sementara sekarang kan bulan Agustus.”


Yudi laksana disambar petir di siang bolong mendengarnya, “Bagaimana mungkin ini bulan Agustus? Saya baru pergi tiga hari lalu dan….”


Wajah sang petugas berubah tak sabar, ”Bapak silakan lihat di koran yang ada di lobi bandara. Dan Kalau tidak ada lagi keperluan bapak, boleh bapak minggir sebentar karena antrian di belakang bapak sudah menunggu.”


Pemuda itu meninggalkan counter dan pergi ke rak koran yang dimaksud. Mengambil satu eksemplar dan membukanya. Nafasnya tertahan saat mendapati tanggal yang tertera di sudut kiri koran itu.adalah 19 Agustus 1999.


***


”Ayo, Danu! Elu harus disini. Kalau elu pergi juga gue nggak tahu kemana lagi harus mencari,” Yudi menggerutu dalam hati.


Tidak sampai lima menit pintu dibuka dari dalam dan temannya keluar dengan wajah kusut. Dipandanginya Yudi dengan ekspresi setengah tidak percaya mendapati temannya berdiri di teras rumahnya, ”Yudi?” Danu bertanya ragu. ”Ini beneran kamu?”


Yudi tidak perlu memberikan jawaban sebab Danu kemudian memeluknya erat, seakan temannya itu baru saja menemukan kembali barang berharganya yang hilang. Setelah itu Yudi membombardir Danu dengan cerita, mulai dari saat dirinya yang terlambat naik pesawat ke Jakarta, menginap di rumah Mirna yang misterius, sampai kejadian aneh di bandara. Akhirnya Yudi bertanya, ”Apa benar sekarang bulan Agustus?”


Baru saat itu Yudi menyadari wajah Danu yang terlihat lelah, temannya membalas tanpa semangat ”Bagaimana kalau kita masuk dan cerita di dalam.”


Ruang tamu rumah Danu nampak berbeda dengan biasanya. Perabotan serta furnitur di tempat itu nampak berantakan seolah sedang dalam tahap dikemasi. Mata Yudi tertuju pada ranjang bayi yang bisa dirakit-lepas berada dalam keadaan tertumpuk rapih, saat itu diingatnya mimpi aneh di rumah Mirna. Dia menoleh pada Danu, ”Kok sepertinya elu juga mau pergi seperti Felds? Apa yang terjadi pada Indri?”


Danu terperanjat mendengar ucapan Yudi, ”Darimana kamu tahu?”


Yudi hanya mengangkat bahu, ”Gue mengalami banyak hal aneh di rumah Mirna, dan mimpi tentang Indri yang keguguran itu salah satunya.”


Pemuda itu sadar dirinya tidak perlu menanti jawaban dari Danu sebab raut wajah temannya itu sudah memberikan respon yang jelas. Danu nampak pucat, lelah, dengan mata merah berair yang nampak keberatan disangga oleh kantong mata di bagian bawahnya yang bengkak kelabu. Yudi mengulangi ucapannya dengan lirih dan

__ADS_1


perlahan, ”Jadi benar?”


Danu menangkupkan wajah dengan sepasang telapak tangan, sepertinya berusaha menahan tangis yang hendak pecah. Yudi segera mengerti bahwa apa yang ada dalam mimpinya bukan hanya sekedar mimpi...mungkin itu semacam penglihatan yang tak disadarinya lebih awal...dan kemarahan di dada Yudi meluap-luap.


Jadi benar monster itu telah melakukan sesuatu yang jahat terhadap sahabatnya. Dia tidak tahu mesti bagaimana hingga Yudi hanya diam mematung, membiarkan Danu larut dalam kesedihan sampai temannya tenang dan menemukan kekuatan kembali buat menuturkan semuanya.


Dimulai dari malam dimana temannya itu meninggalkan istrinya, Indri, tidur sendirian di kamar demi menyelesaikan tumpukan laporan dan di tengah kesibukannya tiba-tiba mendengar jeritan sang istri. Tanpa pikir panjang Danu berlari ke kamar dan mendapati seprai ranjang Indri dipenuhi oleh darah, sementara pemilik kamar tengah menangis sesunggrukan, beberapa kali berdesis lemah seolah berusaha mengatakan ada sesuatu yang mengambil bayi mereka.


Hati Yudi terasa kosong begitu mendapati bahwa keguguran Indri sungguh terjadi di kehidupan nyata. Hanya saja berbeda dengannya, Danu berpikir tragedi yang dialami Indri akibat kelelahan, yang diperkuat diagnosa dokter kandungan yang mengatakan kandungan Indri dalam kondisi lemah sehingga dokter tidak yakin apakah sang jabang bayi bisa bertahan lebih dari dua bulan. Dokter memberi obat untuk proses pemulihan pasca keguguran dengan anjuran istirahat selama tiga hari di rumah sakit, yang ditolak mentah-mentah oleh Indri dan malah mengepak barang untuk meninggalkan Bontang.


Setiap rinci dari cerita Danu sesuai dengan apa yang dilihat Yudi dalam mimpinya. Tidak lebih dan tidak kurang. Mungkin Danu melewatkan soal kucing...atau sosok nenek tua dengan bola cahaya kehijauannya...sesuatu yang wajar karena pria itu belum berada di kamar saat itu terjadi namun yang terjadi setelah Indri menjerit semuanya persis sama. Bahkan Yudi masih ingat bagaimana Danu menggendong wanita malang itu ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit.


”Herannya Indri bersikeras mengatakan monster yang mengambil bayi kami pada satu kesempatan, lalu di kesempatan lain dia menyebut soal kucing sebagai biang keladi. Mungkin kamu tak percaya tapi Indri juga jadi sering menjerit ketakutan setiap melihat binatang itu,” Danu berhenti sesaat buat menarik nafas. ”...psikiater bilang trauma macam itu biasa terjadi manakala seseorang kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya.”


”Dengan kata lain jiwanya terganggu?” Yudi tidak bisa menerima kalau sang psikiater bisa mengambil kesimpulan yang salah. Di lain pihak Indri benar mengenai kucing sebab gadis itu tahu persis yang terjadi, dan trauma itu sesuatu yang wajar sebagai efek negatifnya.


”Ya...” Danu menjawab lirih.


”Lalu apa yang mereka lakukan pada Indri?”


”Perawatan di rumah sakit di Yogya.”


”Elu mengirimnya pulang?”


”Indri berkeras memintanya.”


”Gue ikut prihatin...”


”Tidak masalah apa kata dokter...” Danu menanggapi lirih. ”Bila mau jujur sebenarnya hidup kami berdua berakhir meski kehidupan tetap berjalan. Aku mengajukan pengunduran diri dari perusahaan minggu lalu, itu terhitung hari ini...”


”Bukan berarti elu harus pergi dari sini, kan?” sela Yudi sekaligus membuka konfrontasi.


”Apa yang bisa kulakukan setelah Indri berkeras tidak mau kembali? Mustahil aku sudi tinggal disini dengan kenangan menyedihkan begitu. Aku harus menemani Indri. Selanjutnya kamu sudah tahu...”


Yudi menatap wajah Danu dan mengangguk pelan, ”Yeah, gue tahu...dan gue yakin elu bikin personalia bingung setelah perkara keluarga Felds.”


Danu tersenyum hambar, ”Bukan hanya aku yang bikin personalia bingung, tahu... sebenarnya kamu juga orang yang paling banyak dicari. Yang kudengar personalia bahkan menelepon ibumu ke Jakarta. Jawabannya malah membingungkan karena katanya kamu tidak ada di Jakarta.”


”Mereka melakukan itu?” tanya Yudi kaget.


”Apa yang elu harapkan dari orang yang menghilang selama tiga bulan? Menunggu telponnya? Aku sendiri berharap dapat menelpon ibumu kalau aku tahu nomornya. Semua orang tidak tahu dimana kamu berada...tak seorang pun...”

__ADS_1


Ini berarti rahasia Yudi sudah terbongkar. Perusahaannya sudah tahu dirinya tidak pulang ke Jakarta, dan bahwa ayahnya tidak sakit keras atau sekarat sebagaimana yang dijadikan sebagai alasan, jadi rasanya percuma saja bila dia berharap dapat bekerja kembali seperti sedia kala di tempat itu sebab manajemen pasti sudah membuat surat PHK dan tidak sabar untuk memberikannya kepadanya manakala dia kembali.


***


__ADS_2