
“Kamu tentu tahu bahwa kami melindungi rumah kami dengan sihir terkuat.”
”Yeah...tapi sihir terkuat belum tentu tidak dapat ditembus.”
”Aku tahu. Seperti kamu menemukan persembunyianku?” wanita itu tertawa, suaranya sangat tidak enak sebab dengan penampilannya yang muda suaranya malah kedengaran mirip nenek tua. “Memang aku harus memberimu ucapan selamat tapi hidupmu selesai disini.”
”Kamu lupa kode etik utama?”
”Apa yang harus kulakukan jika manusia itu mengusikku? Seperti ular harus membela sarangnya yang terusik para pemakan telur itulah yang kulakukan. Lagipula aku tidak akan membunuhmu dengan wujud itu, cukup dengan ini...”
Tangan wanita itu mengeluarkan api, kekuatan membunuhnya meningkat beberapa kali lipat, dikumpulkannya seluruh tenaga untuk satu pukulan mematikan dan Wayan sadar dia harus segera menghindar jika masih sayang nyawa. Pria itu bangun dengan susah-payah dan mengambil sesuatu dari balik kantung jaketnya. Tiga batang jarum sepanjang sepuluh senti berdiri tegak diantara sela jarinya.
Wanita itu mendesis dan bergegas melemparkan api yang telah membentuk bola dari tangannya. Bola itu meluncur deras, lebih cepat dari Wayan berkelit, dia bahkan tidak sempat melempar senjata jarumnya sebagai balasan brutal, dan bola itu menghantam dadanya dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari rintangan yang melemparkannya pertama kali.
”AAARRRGGGHHH....”
Bola api itu bagai bola bowling baja yang menubruk pin dan merubuhkannya. Terdengar bunyi berderak dari tulang dadanya hancur akibat tubrukan keras itu. Belum lagi panas dari apinya yang membakar, Wayan tidak sempat merasakan sakitnya karena dia keburu melayang ke belakang. Terjengkang lima meter jauhnya sebelum tubuhnya jatuh menghantam tanah dan pria itu langsung muntah darah.
Wayan berusaha berdiri. Samar-samar didengarnya gonggongan marah Roket. Anjing itu maju menyerang si penyihir wanita itu. Dia tak rela melihat majikannya jadi bulan-bulanan. Wanita itu tertawa mencemooh. Dengan satu kibasan tangannya, bola api pun mencelat dan menghantam Roket. Anjing malang itu hanya sempat mendeking sebelum akhirnya terlempar jauh dengan tubuh terbakar.
Mayat Roket menghamburkan bau hangus, tergeletak beberapa meter dari tempat dimana Wayan berada. Hati Wayan robek mendapati penderitaan anjing setianya. Ditatapinya Roket yang tergolek menyamping dengan mulut ternganga, meninggalkan hanya rangka rahang dan deretan gigi.
”Ro...ket..bangun...”
Tapi hewan itu tidak mungkin bangun dengan tubuh yang terpanggang seperti itu!
Hatinya hancur berantakan melihat bagaimana Roket mati secara mengenaskan. Kematian anjing kesayangannya membuat Wayan tidak lagi merasakan luka yang mendera parah di tubuhnya. Walaupun kekuatannya lenyap dan tak ada sandaran yang membuatnya mampu mengangkat tubuh, Wayan tidak sudi menyerah. Baru saja berhasil menjejakkan siku tangan ke tanah untuk menopang tubuhnya ke atas, terdengar desir angin menderu dan satu lagi bola api meluruk ke arahnya dengan kecepatan laksana setan. Bola api menghajar kencang dada Wayan dan membuatnya pingsan seketika...
***
”Selanjutnya kamu tahu. Wanita brengsek itu menyekapku di ruang bawah tanah.”
”Apakah anda menemukan pak tua Seto disana?”
Wayan terbatuk-batuk sebelum menjawab, ”Tidak! Dan aku enggan membayangkan seperti apa mayatnya setelah berada dalam cengkeraman kuyang.”
“Ini semua salahku,” Yudi menggeleng sedih. “Padahal diahanya memberitahu bahwa pelaku yang mengambil bayi Felds itu kuyang. Tidak dikatakannya kalau Mirna itu kuyang. Dan aku juga tidak menyadarinya.”
”Seto tidak tahu itu. Aku memberitahunya kemudian. Kamu juga tidak tahu. Oleh karena itu tidak usah merasa terlalu bersalah atas kematian Seto.”
”Jadi Mirna itu kuyang?” Yudi bergumam setengah tidak percaya. Sekarang semuanya makin jelas, kepingan teka-teki yang membingungkan mulai terangkai jadi suatu gambar utuh yang saling mengisi.
Itu sebabnya Mirna mendekatinya; pesan-pesan romantis di SMS, ajakan kencan, tart ulang tahun. Bila diingat lagi, rasanya dia memang belum pernah memberi tahu nomor ponsel atau tanggal ulangtahunnya. Tiba-tiba saja pesan-pesan dari Mirna muncul di ponsel, begitu juga dengan tart buatan sendiri untuk merayakan ulang tahunnya.
Pikiran positif Yudi, sebagai Sekretaris Direktur Mirna punya akses untuk membuka informasi karyawan, padahal di lain pihak Yudi tidak pernah tahu nomor ponsel gadis itu, selalu Mirna yang menghubunginya lebih dahulu seperti halnya ketika di bandara. Mungkin karena Mirna itu kuyang yang punya ilmu magis, dia mampu membuat ilusi macam itu, bila dia dapat melakukan tipuan berukuran besar dengan gerombolan sirkus maka mengirimkan SMS itu perkara sepele.
__ADS_1
Jelas pula baginya kenapa rumah Mirna beserta seluruh isi didalamnya nampak begitu ganjil. Itu menerangkan kenapa internet atau sinyal poselnya tidak dapat menembus dunia luar. Sihir Bunda Mawar jadi perisai penghalang. Bila mereka bisa memanipulasi signal ponsel dan internet maka mungkin saja mereka bisa memanipulasi dirinya sehingga dia terjebak disana selama tiga bulan, dengan menjadikan dirinya merasa itu hanya baru tiga hari. Manipulasi yang sungguh luar biasa...
”Tapi kenapa dia tidak langsung membunuhmu seperti dia membunuh pak tua Seto?”
Wayan melirik Yudi, ucapan Yudi menyiratkan bahwa seharusnya dia sudah mati. Dasar tak tahu diuntung, orang yang seharusnya diselamatkan malah jadi pahlawan. Suka tidak suka begitulah keadaannya, Yudi yang mengeluarkannya dari ruang bawah tanah itu dan itu berarti dia berhutang nyawa kepadanya. Sungguh menjengkelkan!
”Dia terikat kode etik. Jika dia membunuhku, usahanya mempertahankan kecantikan selama berabad-abad akan sia-sia.”
”Nila setitik rusak susu sebelanga.”
”Yeah, dia membiarkanku membusuk disana. Berharap aku mati kehabisan darah atau dimakan tikus yang berkeliaran di ruangan busuk itu.”
”Jadi siapakah anda ini? Semacam pemburu hantu?”
”Hantu berbeda dari siluman. Bentuk hantu lebih halus. Aku tidak bisa merasakannya.”
”Oke...oke...pemburu siluman...Van Helsing atau Blade yang memburu Vampir begitu?”
Wayan mengerutkan kening, “Memangnya siapa sih mereka?”
“Bukan siapa-siapa. Lupakan saja!” Yudi menggeleng. “Jadi bagaimana caranya anda mengenali kuyang-kuyang itu...tanpa Roket?”
”Dengan pengalaman dan alat khusus.”
Wayan menatap heran,”Untuk apa?”
”Saya hampir jadi korbannya, keluarga kedua teman saya – Rick Felds dan Danu – juga jadi korban. Monster keparat yang mengambil kehidupanku itu harus dihancurkan.”
”Kemampuan itu kamu dapatkan sebagai tanggung jawab. Bukan buat balas dendam.”
”Tapi...”
”Kamu kemari kan untuk mencari jawaban. Nah, kamu sudah mendapatkannya,bukan?”
”Pak Wayan tolong saya...saya harus tahu bagaimana cara memburu monster itu sebab saya harus melakukan sesuatu...saya sebenarnya bisa melakukan sesuatu buat menolong wanita-wanita itu sebab...” Yudi menceritakan mimpinya tentang Stella Felds lalu Indri.
”Aku tahu aku terlibat masalah ini karena ulahku. Karena itu aku ingin melakukan sesuatu untuk merubahnya. Seandainya aku bisa mengubah mimpiku jadi firasat, aku bisa mendahului kuyang dan mencegahnya melakukan tindakan keji itu. Rasanya aku punya satu kesempatan untuk memulainya sebab kuyang itu...aku takut dia akan melakukan sesuatu terhadap Siska.”
”Siska?”
”Dia pacarku yang sedang...sedang hamil...” Yudi meneguk ludah, berusaha sedapat mungkin terdengar normal meski Wayan tak menunjukkan reaksi atau bertanya. ”Dia menyusul saya kemari dari Jakarta dan dia...dia bertemu Mirna. Mereka berkelahi dan saya yakin saat itu Mirna sempat memegangi perut Siska, mungkin juga merabanya, itu berarti...”
”Kalau begitu bawa balik pacarmu ke Jakarta. Kuyang tidak dapat melewati teritori air.”
”Semudah itu?”
__ADS_1
”Semudah itu!”
”Kalau begitu ini sudah berakhir?”
”Tidak buat si kuyang...”
”Oh, aku mengerti...tentunya mudah saja buat dia mencari wanita hamil lain.”
”Tidak! Sasarannya kini bukan lagi wanita hamil. Apa kamu sadar kamu sekarang jadi target utamanya? Apalagi karena kamu dapat meloloskan diri darinya. Monster itu tidak akan membiarkanmu begitu saja.”
Yudi terbelalak, tidak terpikirkan olehnya hal tersebut, ”Kalau begitu saya akan mati?”
”Tidak kalau aku sempat memperlengkapi kamu dengan pelajaran yang dibutuhkan.”
”Jadi anda mau melakukannya? Anda mau mengajariku memburu monster itu?” Yudi tersenyum gembira.
”Hanya demi melindungimu. Dan meskipun aku tidak suka kepadamu, sampai sekarang masih, tapi kupikir kamu berhati baik. Kalau kamu berlatih serius mungkin kamu dapat menggeser mimpi itu jadi sebuah firasat...seperti yang kamu mau...”
”Sungguh?”
”Aku tidak bohong.”
”Juga soal tidak menyukaiku?” Yudi tersenyum hambar.
”Khususnya yang itu,” sahut Wayan cepat.
“Ini awal yang baik,” komentar Yudi diikuti tawa mereka berdua. Tawa Wayan terhenti cepat, digantikan wajah mengernyit karena merasakan rusuknya sakit akibat guncangan tawanya.
”Kalau begitu apa yang harus aku lakukan?” tanya Yudi kemudian.
”Bawa aku keluar dari rumah sakit keparat ini. Kita kembali ke rumahku di Bontang.”
”Tapi anda kan belum sembuh benar...”
”Keadaannya justru semakin berbahaya kalau aku terlalu lama disini. Apalagi kamu...” Wayan seperti baru tersadar dan menatap Yudi. “...berapa lama sudah kamu menungguiku disini?”
“Dua hari,” jawab Yudi.
Wayan menggeleng, ”Kalau begitu tidak ada alasan bagiku berlama-lama disini.”
”Baiklah. Aku akan mencari cara membawamu besok.”
”Tidak! Malam ini! Kita keluar malam ini juga,” sergah Wayan. ”Lagipula ada yang mau beraksi malam ini dan aku ingin memperlihatkannya padamu.”
***
__ADS_1