KUYANG

KUYANG
Episode 40


__ADS_3

Kesintingan apalagi yang diperbuatnya?


Yudi tak tahu bagaimana dia bisa terlibat dalam kebodohan ini. Sayangnya yang sedang terjadi sekarang sudah kepalang basah, berlaku seakan dirinya perawat yang tengah membawa pasien di kursi roda, Yudi mendorong kursi roda yang diduduki Wayan menuju ke halaman belakang dimana ambulans biasa diparkir. Untunglah mereka dibantu dokter Assegaf, sebagai orang dalam dia tentunya mengetahui semua seluk-beluk rumah sakit sehingga Wayan bisa keluar tanpa sepengetahuan siapapun.


Hanya ada satu ambulans yang sedang diparkir di halaman, dan kuncinya ada pada Yudi. Sang dokter berpesan supaya ambulans itu disembunyikan saja di dalam garasi rumah Wayan agar dia bisa mengambilnya di kemudian hari. Dibukanya pintu belakang ambulans dan dibantunya Wayan untuk masuk ke bangku belakang. Disembunyikannya kursi dorong di belakang pohon kamboja setelah melipatnya serapih mungkin.


Satpam yang berjaga di gerbang rumah sakit menghentikan kendaraan karena tidak mengenali Yudi yang membawa ambulans, tapi dengan gaya meyakinkan Yudi menjelaskan dirinya perawat baru seraya menyerahkan tiket yang diberikan serta oleh dokter untuk dibawa bersama kunci. Si penjaga mengangguk dan mempersilakannya lewat.


”Boleh juga idemu....supir baru...” Wayan terkekeh dari bangku belakang.


”Hanya mengikuti apa yang terlintas di kepalaku.”


Perjalanan berlanjut dalam kebisuan, Wayan langsung lelap dalam tidur sementara Yudi berkonsentrasi dengan mobil serta jalan yang dilalui. Mereka baru akan tiba di Bontang kira-kira tengah malam nanti. Lima jam itu waktu yang lumayan buat memulihkan kekuatan bagi Wayan sehingga dia tidak ingin mengganggu orangtua itu dengan pertanyaan-pertanyaan sepanjang perjalanan. Lima jam berlalu hingga dilihatnya gapura bertuliskan ucapan selamat datang di Bontang. Baru pada saat itu Wayan dibangunkannya sebab Yudi tak tahu dimana lelaki tua itu tinggal.


Setengah jam melewati gapura kota, kendaraan itu berhenti di depan gerbang sebuah rumah di pemukiman yang merupakan rumah dinas perusahaan. Yudi merasa miris, sementara dirinya tinggal dalam mess yang sumpek orang ini bersantai di rumah yang begini lapang, tapi seseorang dengan jam kerja tinggi seperti Wayan memang punya hak untuk tinggal di rumah dinas seperti ini.


Wayan memutar kunci pintu, melangkah masuk, dan menyalakan lampu. Pemandangan yang ada disana membuat mereka terperanjat hebat; meja makan terbalik, serpihan kaca yang tadinya merupakan permukaan meja tersebut berhamburan di lantai, rak buku terguling bersama buku-bukunya yang terserak ke segala penjuru, kursi terlentang pasrah dengan kaki patah di atas rak tersebut, cat dinding terkelupas di berbagai tempat karena benturan benda keras yang menghantam berulang-ulang.


”Ada perampok?” Yudi membuka pembicaraan saat keduanya berpandangan.


”Perempuan iblis itu pasti mencariku,” Wayan menanggapi.


”Apa sih yang dia cari?”


”Entah...peralatanku mungkin...atau mungkin dia mencariku. Karena tidak menemukan apapun disini, dilampiaskannya kekesalan dengan cara begini.”

__ADS_1


”Apa tidak sebaiknya kita lapor polisi?” Yudi bertanya.


”Lalu apa yang mau kamu bilang ke mereka?”


Pemuda itu lama mencari jawaban sebelum kemudian menanggapi dengan helaan nafas kesal, ”Benar juga! Mereka pasti tidak akan percaya.”


Wayan mengangguk, ”Kita jelas-jelas keduluan. Kuyang itu sudah tahu siapa aku, keputusan berbahaya untuk tetap tinggal disini sebab kuyang sudah tahu siapa aku.”


”Mirna?” tanya Yudi.


”Bukan hal sulit baginya untuk mengintip fileku. Sama seperti aku mengintip filenya.”


”Sial. Kita keduluan kalau begitu...” ujar Yudi.


”Belum tentu...kalau kita bisa mengamankan beberapa peralatan...”


”Aku sekarang tinggal di rumah Danu tapi kurasa disana juga tidak aman sebab kuyang pernah menyatroninya


disana.”


”Kuyang tidak punya alasan kembali kesana, sebaliknya dia pasti akan balik kesini untuk membunuhku. Rumah Danu itu ide bagus.”


”Oke, kalau begitu kita berangkat.”


Rumah Danu jelas tidak seramai pemukiman rumah Wayan. Keadaan bangunan itu gelap, sengaja dimatikan lampunya oleh Yudi sebelum pergi ke Balikpapan membezuk Wayan. Ketika Yudi dan Wayan masuk, waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Perut Yudi yang sedari tadi memprotes kini malah berdiam diri, mungkin capek karena diacuhkan terus oleh Yudi yang sibuk dengan hal lain selain makan malam.

__ADS_1


”Masih ada waktu...” kata Wayan membuka pembicaraan lalu menatap Yudi dengan wajah serius. ”Sebelum kamu melihat wujud mereka yang sebenarnya kamu sebaiknya tahu dulu kekuatan dan kelemahan mereka. Itu akan jadi bekalmu saat...yah, bukannya tanpa alasan kalau tahu-tahu dia bisa memergokimu dan monster itu tidak pernah senang bila mengetahui ada manusia biasa yang bisa melihat dirinya secara langsung...”


”Jadi aku harus bertarung dengannya?”


”Sudah kubilang, kalau mau berurusan dengan kuyang kamu harus siap, walau nyawa taruhannya!”


Yudi mengangguk, ”Aku siap! Katakan semuanya padaku.”


”Kuyang mampu berubah wujud ke berbagai bentuk, namun kepala tanpa badan merupakan bentuk terkuat dimana dia bisa mengeluarkan ilmunya. Bentuk itu memampukannya melayang pergi dan memburu mangsa yang sudah ditandai dengan melintasi satu tempat ke tempat lain sejauh apapun. Tak ada yang bisa mencegahnya saat dia berada dalam bentuk itu.”


”Kalau begitu bagaimana cara kita mengalahkannya?”


”Sebenarnya ada satu cara. Cara yang sulit. Tak semua orang bisa melakukannya. Aku bisa menunjukkannya padamu nanti tetapi daripada harus melakukan itu, akan lebih mudah bila kita melakukan pencegahan sebelum monster itu menandai korbannya.


”Bagaimana caranya aku menolong Siska kalau begitu? Apakah tidak ada harapan?”


”Aku lanjutkan dulu penjelasanku, kuyang itu mampu berubah wujud ke bentuk lain...” Wayan melanjutkan penjelasan tentang kuyang sementara Yudi, yang tidak lagi berani menginterupsi, mendengarkan dengan seksama. Sebagian besar penjelasan Wayan sudah diketahuinya lewat riset ataupun apa yang dia alami saat berada di rumah Mirna, jadi Yudi mendengarnya sambil lalu kecuali pada bagian dimana lelaki tua itu mulai menjelaskan bagaimana mengalahkan makluk jejadian tersebut.


”Buat mengalahkan kuyang kita harus mencari sumber transformasinya. Untuk berubah bentuk sedemikian rupa kuyang harus menyembunyikan dulu tubuh manusianya. Tempat persembunyian itu dijaganya dengan sihir tingkat tinggi karena dia tidak ingin orang awam menemukannya secara sengaja atau tidak sengaja. Karena bila ada orang yang menemukan tubuhnya dan memindahkannya, atau menggeser posisinya sedikit saja, maka dia tidak lagi dapat kembali ke wujud manusia sebab kepalanya yang tidak dapat bersatu dengan tubuhnya.”


”Kalau begitu Mirna dan Bunda Mawar pasti menyembunyikan tubuh mereka di rumah itu manakala mereka beraksi.”


”Bisa jadi, walau sebenarnya mereka bisa menyembunyikannya dimana saja,” Wayan manggut-manggut menanggapi. ”Seperti manusia, kuyang bisa bergerak secara spontan. Bila di suatu tempat dia menjumpai calon korban yang telah ditandai, pada saat itu dia dapat saja meninggalkan tubuhnya untuk menyerang dengan tubuh kepala melayang itu. Dan disinilah letak kelemahannya...”


”Aku menyimak,” komentar Yudi.

__ADS_1


***


__ADS_2