
Wayan mengangguk dan meneruskan, ”Supaya manusia tidak menemukan tubuh yang sedang disembunyikan, kuyang harus melindungi dengan sihir berkekuatan tinggi. Namun sihir itu juga berpotensi menghancurkan si kuyang saat hendak kembali bersatu dengan tubuhnya usai melaksanakan aksinya. Jadi untuk itu dia harus menurunkan tingkat kekuatan sihir tempat persembunyiannya."
"Dari ceritaku kamu sudah dengar apa yang perisai sihir itu lakukan padaku,kan?” kata Wayan. ”Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah mengikuti si kuyang, mengikuti jalur masuk yang sama dengannya begitu dia sampai di tempat dimana tubuhnya berada, dan disitu kita bisa menghancurkannya.”
”Mengikuti jalurnya berasal? Hanya satu kemungkinannya...kita harus terbang..”
”Sekarang kamu mulai mengikuti.”
Yudi memandang kebingungan, ”Lalu bagaimana kita melakukannya? Apa kamu dapat menumbuhkan sayap di punggung kita?”
Wayan menatap Yudi dalam-dalam kemudian tertawa keras mendengar pertanyaan konyol itu, ”Di saat seperti ini selera humormu tidak hilang. Kamu memang hebat.”
”Aku tidak sedang becanda. Apa rencanamu untuk itu?”
”Nanti saja kamu lihat,” sahut Wayan seraya memandang arlojinya. ”Ayo,kita berangkat.”
Yudi tak tahu jam berapa persisnya saat keduanya meninggalkan rumah, hanya saja keadaan di tempat itu amat sepi, tak terlihat satu manusia pun berkeliaran di sekeliling. Wayan mendongak ke langit malam yang hitam dengan sedikit bintang bergantung disana sementara bulan yang bersinar pucat tampak menyendiri di peraduan. Yudi ikut mendongak menatap langit ketika Wayan bergumam, ”Ah, dia datang...” namun Yudi tak melihat apapun yang aneh atau kira-kira menarik perhatian Wayan.
Wayan berjongkok dan menggambar sesuatu di aspal dengan sebatang kapur, itu adalah lingkaran dengan bintang segi lima di dalamnya, dimana di setiap ujung bintang tersebut tergambar lima panca indera yang mengilustrasikan penajaman indera. Dikeluarkannya bola kaca sebesar jeruk bali itu dari tas sebelum menarik lengan Yudi, ”Masuk kemari...”
Kening Yudi berkerut. Apa maksud Wayan? Apa dia jadi gila? Kesintingan apalagi ini?
__ADS_1
Bola kaca di tangan Wayan bercahaya lalu terlontar ke langit. Masih dalam kebingungan Yudi merasakan tubuhnya berubah tidak nyata, mengambang dalam kehampaan, sekelilingnya berubah menjadi riak air yang mengucur makin deras dari bawah ke atas sementara Wayan tersenyum padanya... senyumannya yang seakan mencemooh kebingungannya yang disertai ketakutan hebat...
”Jangan kuatir,” Wayan menenangkan..
”Dimana kita?” Yudi bertanya antara takjub dan takut setelah mereka akhirnya berhenti di udara dengan sentakan cukup kasar. Telinganya berdenging sementara kepalanya laksana dipenuhi gelembung udara, sensasi ini mirip menaiki pesawat terbang yang membawamu terbang terlalu cepat sebelum kamu melakukan persiapan cukup, seperti melakukan gerakan menelan atau memakan permen yang diberikan pramugari demi mengurangi tekanan udara.
Mereka tidak sepenuhnya berhenti di udara sebab dirasakannya dirinya bergerak, hanya saja gerakan itu seperti menaiki perahu di arus deras, mengikuti sesuatu yang mengalir tanpa perlu mengeluarkan tenaga seperti sebelumnya. Yudi memandang terbelalak pada api dengan lidahnya yang menjilat-jilat liar udara sekelilingnya. Entah bagaimana keduanya bisa berada di dalam sebuah bola api...
Bola api ini besar dan panas. Kekuatannya sanggup memanggang mereka seandainya tak ada selubung menyerupai busa sabun yang melindungi. Gugusan bintang nampak bergerak begitu cepat di sebelah atas, atau mungkin juga karena dirinya – yang berada di dalam bola api ini – bergerak terlalu cepat, sementara pemandangan yang ada di bawah dilihatnya hamparan padang rumput hijau yang samar dan dingin bersanding dengan pepohonan yang tidur nyenyak.
”Kita berada di dalam kuyang,” jawaban Wayan mengembalikan Yudi pada kenyataan.
“Di dalam kuyang?” dipandanginya Wayan seolah ucapan tadi sesuatu yang gila.
”Bagaimana kita bisa melakukan itu?” Yudi tidak dapat mempercayai hal itu tapi apa yang dialaminya saat ini sungguh diluar nalar.
”Bola kristal yang terlontar tadi masuk melewati celah-celah lubang di leher si kuyang dengan membawa kita di dalamnya. Saat ini kita berada di dalam bola mata kuyang, persisnya, jadi karena aku ingin melihat apa yang dilihat si keparat ini.”
”Kamu sering melakukan ini?” tanya Yudi.
Wayan tersenyum, ”Ini cara teraman untuk mengikuti kuyang tanpa dia sadari.”
__ADS_1
”Ini gila!” desis Yudi.
”Tunggu sampai kamu lihat bagian yang lebih gila dari ini,” ucap Wayan.
Jauh di depan terlihat bintik-bintik sinar lampu kota, makin lama makin jelas seiring mendekatnya si kuyang. Seperti kata Wayan, mereka benar-benar bisa melihat semuanya dari bola mata si kuyang. Makluk siluman ini melewati gang di sebuah perumahan padat dan asing bagi Yudi. Tidak banyak perumahan di Bontang hingga dia nyaris hafal semua bentuk jalannya, tetapi kompleks ini terasa asing, mungkin saja ini sebuah komplek di kota lain yang dekat Bontang seperti Balikpapan atau Samarinda. Dengan kecepatannya yang sedemikian rupa, Yudi yakin kuyang mampu mengarungi jarak puluhan kilometer dalam beberapa menit.
Terbang rendah seperti itu membuat banyak rintangan, seperti pagar tinggi, tiang listrik, atau kelokan, harus dihindari. Keduanya mengalami gerakan manuver yang menggila, berzig-zag lincah ke kiri-kanan. Yudi berkonsentrasi agar tidak muntah. Di lain pihak kuyang ini begitu santainya melayang di tempat ini, seolah sudah hafal atau terbiasa dengan sekitarnya. Mungkin dia sudah melakukan pengintaian korbannya selama beberapa waktu sehingga dia hafal kapan persisnya harus menyerang dan rute yang harus diambilnya untuk sampai di rumah itu. Salah satunya adalah tempat yang aman dari kawat duri atau pagar besi berujung tajam, Yudi ingat hal itu dari artikel yang dibacanya, sebab itu akan membuat kuyang tidak dapat menyelusup ke dalam rumah korban.
Wayan menunjuk pada sebuah rumah bersusun tingkat tiga, sepertinya rumah kos, yang sedang diamati si kuyang. Yudi yakin di dalam sana banyak wanita yang bisa dijadikan sasaran oleh monster ini. SI kuyang mengambang di udara. Diam. Seperti menunggu. Saat sependar lampu menyala dari salah satu kamar di lantai atas, makhluk ini menerobos jendela yang dibiarkan terbuka secara tidak sengaja oleh penghuninya.
Penghuni kamar itu adalah wanita ayu berambut panjang dengan tungkai menawan yang terjajar di bawah lilitan handuknya. Wanita itu sepertinya baru saja hendak mandi sebelum menerima telpon, ”Bagaimana mungkin kamu tidak bisa meninggalkan dia ? Kamu sudah berjanji...”
Ajaib, bahkan di dalam busa sabun ini pun ucapan gadis itu bisa didengarnya...
Gadis itu merengut, ”Kamu tahu perasaanku...memangnya apa yang kamu pikir setelah aku rela kamu tiduri? Jabang bayi ini apa belum cukup jadi bukti buatmu?”
Bulu kuduk Yudi berdiri. Kuyang ini memilih korban sempurna. Gadis simpanan pejabat daerah yang memanfaatkan bayinya sebagai senjata untuk merebut lelaki itu dari istrinya yang sah. Perempuan seperti itu mungkin tidak terlalu peduli dengan anaknya selama bisa menarik keuntungan darinya, apalagi calon ayahnya yang muncul hanya karena desakan keadaan atas dosa. Orangtua yang tidak menghendaki anak, sementara si kuyang membutuhkannya. Pihak yang paling malang dari semuanya ini tentunya si bayi yang tidak tahu apa-apa.
Yudi tidak tahu dengan cara bagaimana kuyang ini berhasil mengelus perut si gadis keras kepala atau memberinya cairan seperti yang ditulis di artikel internet, yang pasti dia merasa bayi di dalam perut si gadis seperti sedang gelisah merasakan sesuatu yang tidak beres sementara induknya tidak menyadari apapun, sibuk marah-marah karena urusannya sendiri, ”Kalau begitu dengarkan aku **** gendut! Aku tidak peduli alasanmu. Kalau minggu depan kamu tidak bercerai darinya aku akan membuka semua aib ini ke media. Setan alas! Dan jangan berani mengancamku. Kamu yang memulainya, dasar tolol...”
Gadis itu menutup telepon dengan kasar, bibirnya yang cemberut semakin maju, dibantingnya tubuhnya ke ranjang setelahnya. Gadis ayu itu menarik nafas panjang demi mengatur nafas yang memburu oleh amarah. Beruntungnya Yudi sempat menutup mata ketika kuyang itu meluncur kencang ke arah si gadis.
__ADS_1
Hanya beberapa detik berselang terdengar teriakan melengking dan bau darah menyerbu indera penciuman...Yudi tidak berani membayangkan apa yang dilakukan monster kejam ini pada si jabang bayi dan ibunya, yang tentunya sesuatu yang mengerikan... pemuda itu tak kuasa menahan rasa mual...dia pun muntah...amisnya darah bercampur dengan bau muntahnya...
***