KUYANG

KUYANG
Episode 53


__ADS_3

Semua kabut itu terkuak lepas. Dia ingat semuanya. Mimpi itu...apa yang dia kira mimpi sebenarnya bukan mimpi sama sekali. Dia memang mengalaminya. Dia pernah masuk ke ruang bawah tanah ini, memergoki Mirna dalam bentuk monsternya, dan menyelamatkan Pak Wayan yang sekarat dari sini.


Dia keluar dari tempat ini secara ajaib dan menyelamatkan Wayan sebelum mendapati bahwa dirinya telah 'diculik' tanpa sepengetahuannya selama tiga bulan. Dia memang bertemu dengan Siska yang menyusul ke Bontang untuk kemudian memergoki dirinya bersama si binal Mirna sehingga gadis itu kemudian memutuskan hubungan dengannya.


Lalu pada serangan kuyang ke rumah Danu. Rumah yang terbakar dan Wayan yang dihajar habis-habisan karena kondisinya belum pulih benar. Dia dibawa kembali ke rumah terkutuk ini dengan cara yang tidak dia ketahui, dibuat mengira bahwa semua ini hanya mimpi...sial !


”Lepaskan dia, Bunda. Dia tidak ada hubungannya dengan ini semua,” teriak Mirna.


”Aku bosan dengan pilihanmu, Mirna! Lihat apa yang dia lakukan terhadapmu.”


”Bukan karena dia, Bunda! Aku sendiri yang bersikap ceroboh.”


”Setidaknya kamu bisa melakukan apa yang Bunda suruh supaya kamu tidak dalam keadaan seperti itu berlama-lama.”


”Lalu setelahnya apa? Mirna tahu Bunda akan membunuh Yudi pada akhirnya.”


”Itu memang pantas untuknya.”


”Itu yang aku tidak inginkan.”


”Kenapa kamu mempertahankannya? Setelah apa yang terjadi dengan dirinya dia hanya manusia tak berguna....”


”Memangnya apa yang terjadi padaku?” Yudi menyela marah.


Bunda Mawar tertawa, ”Kebetulan kalau dia ingin tahu, aku bosan menjaga kenyataan itu darinya.”

__ADS_1


”Jangan lakukan itu Bunda...”


”Biarkan dia melihatnya dengan mata kepala sendiri, Mirna...”


”Jangan...” teriak Mirna setengah merengek dan saat itu Yudi mengerang kesakitan sebelum kemudian berguling-guling sembari memegangi perutnya. Bunda Mawar tertawa terbahak-bahak. Mirna melolong demi melihat kekasihnya disakiti. ”Kamu jahat Bunda. Aku benci kamu!”


”Kamu tidak bisa benci padaku. Aku ibumu, Mirna!”


Namun gadis itu tidak mendengarkannya, tubuhnya memberontak menggila. Menggembung, menciut, lalu menggembung lagi. Lagi-lagi dengan gerakan ganjil itu. Diikuti bunyi ledakan kecil dan keretakan yang melinukan tulang seluruh struktur tubuhnya berubah, menguat, liat, menonjol, dan siap tempur. Kakinya yang bersendi depan kini menekuk ke belakang bagai burung yang lengkap dengan cakar hitam sekuat besi.


Di tengah rasa sakit Yudi masih sempat melihat bagaimana Mirna berubah menjadi monster yang semula dilihatnya...monster yang muncul dari mulut ruang bawah tanah itu...hanya bedanya, monster itu tak lagi terbelenggu oleh rantai bola besi. Entah seperti apa kemampuan makluk itu tanpa penghalang. Jika Mirna, si monster raksasa itu, bergabung dengan ibunya, si monster berkepala tanpa tubuh, maka tamat sudah riwayatnya...belum lagi nyeri yang menguasai perutnya tadi...


Demi Tuhan! Apa sebenarnya yang terjadi pada tubuhnya? Bagaimana bisa tiba-tiba seluruh tubuhnya, khususnya di bagian tengah tubuhnya seperti di perut dan punggung laksana dibakar api saat Bunda Mawar menjentikkan jarinya.


Terdengar erangan dan angin berkesiur. Kepala tanpa tubuh itu terbang memburu dirinya. Mulutnya menganga, mengancam dengan taring panjang di sela bibirnya, siap mencabik urat di lehernya. Dia menjerit-jerit bak orang gila, ”Matilah kamu...”


Si monster kepala-tanpa-tubuh itu berhasil menghindar tapi tak urung kaget hingga perhatiannya beralih dari Yudi. Monster itu berkata tak percaya,”Mirna?”


”Biarkan dia pergi, Bunda. Atau aku akan...”


Bunda Mawar memotong dengan nada menghina, ”Hah, memangnya kamu bisa apa?”


Tak mau menunggu, monster raksasa itu menyerang lagi. Cakarnya terarah ke depan, siap mencungkil keluar mata si kepala-tanpa-tubuh, namun sebelum dapat menjangkau lawan, si monster raksasa keburu rubuh. Terdengar bunyi gedubrak keras seolah ada benda keras tak terlihat yang melindungi si monster kepala-tanpa-tubuh.


Tak terima serangannya gagal, monster raksasa itu bergerak menyerang lagi. Kali ini si monster tanpa kepala sudah bersiaga dan sebelum lawannya bertindak dihirupnya udara dalam-dalam lalu dihembuskannya. Lucu melihat kerja paru-parunya yang transparan saat menggembung, sayangnya akibatnya tidak begitu lucu. Serangkum angin dahsyat meluncur menghantam monster raksasa itu bagai tinju menghantam bulu. Si monster raksasa menjerit kesakitan. Dia terhantam mundur ke udara dan menabrak langit-langit ruang bawah tanah hingga hancur.

__ADS_1


Udara segar yang mengalir masuk membersihkan bau apek dan menjijikkan daging busuk dari dalam ruangan, cahaya bulan menyeruak dari pecahan langit-langit yang terbentuk dari tubuh si monster raksasa dan menyapu jengkal demi jengkal dari bukit tulang dan kepala terbang bunda Mawar. Siraman cahaya rembulan itu malah seperti memperkuat tenaga Bunda Mawar beberapa kali lipat. Yudi ketakutan merasakan hawa membunuh darinya yang makin besar dan tak terkendali.


”Dasar anak bau kencur. Baru segitu kemampuanmu sudah mimpi mengalahkanku...” Bunda Mawar terkekeh. Dia kemudian menoleh pada Yudi. ”Sekarang giliranmu haram jadah...”


Lakukan sesuatu...cepat lakukan sesuatu...


Insting Yudi membimbing tangannya ke dalam saku jaket dan mengambil botol berisi cairan hijau itu. Jemarinya yang gemetaran membuka tutup botol. Sendi tangan kanannya sakit luar biasa tapi dipaksakannya untuk terus bergerak. Satu sentakan mengerikan, sembari menggigit bibir menahan sakit, diayunkannya lengannya ke arah sang monster sebelum Kuyang itu menancapkan gigi-giginya ke tubuhnya.


Cairan di dalam botol menggelegak keluar dan membasahi wajah si monster kepala-tanpa-tubuh. Makhluk itu menjerit-jerit karena wajahnya terbakar dan terhuyung mundur. Cairan yang disiramkan Yudi tadi telah menguliti pipi dan dagu monster keparat itu seperti air panas mengerutkan kerupuk. Asap berbau klorida merebak dari balik kulitnya yang pucat. Makluk itu memaki dengan sejuta kalimat kotor yang bisa terpikirkan olehnya saat itu.


”Pergi...atau berikutnya wajahmu tak berbentuk sama sekali!” ancam Yudi.


Saat itu organ-organ yang menjuntai di bagian bawah tubuh sang monster kepala-tanpa-tubuh merangsek ke depan. Apa yang dikira Yudi hanya merupakan ornamen belaka, ternyata memiliki kekuatan menggebah laksana ekor buaya dan membelit laksana belalai gajah. Gerakannya berkesan asal-asalan tapi ternyata mengincar tangan Yudi yang memegang botol. Kibasan itu membentur bak palu godam tepat ke tangannya. Pemuda itu menjerit kesakitan dan pegangannya pada botol terlepas. Botolnya terlempar entah kemana. Untungnya makhluk itu masih terpengaruh oleh rasa sakit pada wajahnya sehingga tidak keburu menyerang kembali.


Yudi melihat bagaimana makhluk itu menghirup nafasnya dan bagaimana lidah api kecil mencelat dari sela lubang hidungnya. Dia akan menyerang lagi, namun kali ini bukan udara yang akan ditiupkannya, ada sesuatu yang lebih berbahaya dari serangan berikut ini dan saat itu insting Yudi memberitahunya agar dia segera menyingkir. Monster kepala-tanpa-tubuh itu akan membakar lawannya...


Dari pelajaran yang diberikan Wayan, Yudi tahu kuyang mampu memuntahkan lahar api seperti naga. Hal itu memang tidak dapat dilakukan sembarangan karena akan menguras energi. Jika kelewat banyak menggunakannya si kuyang sendirilah yang akan mati karenanya.


Tapi saat ini harga diri sang kuyang sedang terluka! Monster itu sedang murka!


Yudi sudah pernah melihat kemarahan si kuyang pada Wayan di rumah Danu. Kali ini, seperti Wayan yang telah membuat harga dirinya terluka, monster itu siap menghancurkan siapa pun yang membuatnya mendapat malu... kuyang itu akan membakarnya...membakar semuanya!


Api menyembur dari mulut monster tanpa tubuh itu namun sebelum sampai membakar dirinya, suatu sosok mencelat turun dan berdiri melindunginya. Tubuh besar sosok yang baru datang itu menghalaukan semburan api laksana batu karang memecah deburan ombak. Pemuda itu mengernyit saat tangan sosok itu menjenggut pinggangnya, lalu dengan kekuatan yang hebat mengangkatnya seolah tubuhnya tanpa bobot sama sekali.


Sosok itu menggotong Yudi ke atas bahunya lalu berlari menuju lorong tempat monster tadi masuk. Di belakangnya, monster kepala-tanpa-tubuh menjerit-jerit marah. Bukan hanya karena sakit di wajahnya tapi juga rasa malu karena ditipu dua kali oleh lawan. Sebagai pelampiasan amarah sang kuyang menyemburkan api secara membabi-buta.

__ADS_1


***


__ADS_2