KUYANG

KUYANG
Episode 8


__ADS_3

Tidur Rick Felds malam itu tak nyenyak layaknya malam-malam sebelumnya, meskipun Stella berbaring di sisinya, atmosfer malam itu mirip dengan malam ketika dia tidur untuk pertama kali di rumah dinasnya ini. Penuh kegelisahan karena merasa terancam pada situasi yang serba baru dan asing. Bontang tentu berbeda dengan Chicago, sangat jauh berbeda, hawa panas disini lebih menyengat dan mempengaruhi tidurnya. Tidurnya tak ubahnya dengan tidur-tidur ayam, bayangan yang lembut atau suara sekecil apapun bikin dirinya terbangun tanpa pernah sedetik pun didapatinya lelap yang dibutuhkan, membuatnya makin lelah dari menit ke menit.


Disingkirkannya selimut yang dikiranya penyebab dirinya kepanasan, tapi lama-lama dirasakannya hawa panas itu bukan hanya berasal dari selimut melainkan dari segala penjuru ruangan. Rick Felds berusaha keras memejamkan mata, berpikir itu cuma perasaannya yang secara keterlaluan menyiksanya agar tidak dapat tidur. Yang terjadi justru sebaliknya, semakin matanya terpejam hawa panas itu makin terasa membakar, bahkan kegelapan yang biasanya menghias saat kelopak matanya tertutup berganti dengan sesuatu yang berbentuk menyerupai lidah api menari-nari dengan warna kekuningan yang cerah membara, membuat kesadarannya terjaga.


Panas yang sungguh keterlaluan, gumam Felds. Percuma saja AC terpasang di kamar ini. Dengan kesal pria itu bangun dari ranjang dan mendekati jendela. Mungkin ada baiknya jendela dibiarkan terbuka agar sirkulasi udara dari luar bisa mengurangi panasnya ruangan.


Sesaat Felds memperhatikan siluet pohon trembesi yang berdiri paling dekat dengan tempatnya berdiri. Pohon itu menyeramkan, bukan hanya saat dilihat seperti sekarang tapi juga ketika di siang hari, dan mengganggu pandangan ke indahnya wilayah hutan di pekarangan belakang rumah dinasnya. Tahun lalu pohon itu pernah ditebangnya, entah kenapa hanya dalam beberapa bulan saja pohon tersebut membesar kembali, lebih besar dan lebih lebat dari sebelumnya, dan hingga saat ini Felds enggan untuk melakukan penebangan kembali setelah melihat kenyataan bahwa pohon itu menjadi rumah teduh bagi sekumpulan burung dan serangga.


Sayup-sayup terdengar dedaunan pohon berkeresekan, pergerakan tiap helai daunnya menampakkan aliran angin yang menghambur ke dalam kamar dan memupus keringat di wajah Felds. Godaan yang muncul dari suasana yang lebih segar ini adalah lidahnya yang kebas merindukan manisnya cengkeh dalam nikotin, apalagi di tengah dinginnya malam.


Dia pasti akan menyalakan sebatang bila sedang sendirian namun itu jelas tak bisa dilakukan dengan adanya istrinya disitu, apalagi kondisi Stella yang sedang hamil tidak memungkinkan dirinya menghirup asap rokok yang sering membuat perempuan itu menderita mual. Jadi Felds akhirnya kembali ke ranjang dengan membiarkan jendela tetap terbuka. Baru saja dia menyusup ke balik selimut tiba-tiba didengarnya suara mengeong. Sontak jantungnya berdegup...kenapa ada kucing di kamarnya?


Memang beberapa kali rumah dinasnya ini bermasalah dengan kucing hamil yang kerap membuat sarang di atap bangunan, hanya saja suara tadi datang dari dalam ruangan. Suara mengeong itu terdengar lagi, kali ini lebih keras dan jelas, memaksa Felds untuk membuka mata dan tidak bisa pura-pura peduli ketika merasakan sesuatu menggaruk-garuk kakinya, sesuatu yang tajam, dan membuatnya terpekik kaget hingga dia berbalik telentang, dan saat itu matanya bertemu dengan mata makluk itu...mata hijau si kucing hitam yang menatapnya dengan cerdas dan cemerlang.


Moncong hewan itu bergerak-gerak hingga tampak kumisnya bergetar lucu sebelum berpindah ke samping Rick Felds. Dengan kurang ajarnya kucing itu berjalan dengan gerakan genit menaiki perut Stella yang membentuk gundukan melengkung seperti bukit di balik selimut. Felds hanya mampu tercengang melihat apa yang dilakukan si kucing bandel yang kini duduk di atas perut buncit Stella dan memandangi perempuan itu lekat-lekat.


Rick berusaha keras menggerakkan tangannya untuk mengusir binatang berkaki empat itu dari perut istrinya, hanya saja didapatinya sepasang lengannya mendadak kaku. Rasa kaku juga menjalari sepasang kakinya sehingga dirinya tidak mampu melakukan apapun selain hanya menjadi penonton dari apa yang akan dilakukan si kucing. Pria itu berusaha membangunkan istrinya agar mengusir sang kucing, dia memanggil-manggil serak, “Stella....wake up...Stella...”


Stella Felds segera terjaga dari tidurnya, kaget melihat ada seekor kucing berdiri di atas perutnya, namun sepertinya tidak menyadari kalau suaminya tidur di sampingnya. Matanya membalas tatapan si kucing hitam sehingga untuk beberapa saat lamanya kedua makluk berlainan jenis itu berpandangan. Pandangan yang amat kontras karena Stella, di satu sisi, melihat dengan ketakutan sementara si kucing berada dalam posisi mengancam, hewan keparat itu sepertinya memperingatkan Stella agar tidak berbuat macam-macam bila tidak ingin diserang.


Perempuan itu sadar ada yang tidak beres namun belum sempat melakukan apa-apa tubuhnya sudah keburu menegang. Ekspresi kesakitan merona di wajah Stella, ada kekuatan besar yang menekan tubuh wanita itu, seperti yang dirasakan Rick,hingga membuat Stella tidak mampu menggerakan tubuh. Kekuatan besar itu bukan hanya membuat tubuh Stella tak berdaya melainkan juga membuat perutnya mulai bergerak-gerak ganjil.


Gerakan di dalam perutnya itu makin lama makin cepat, isi perut Stella bagaikan sedang memberontak ingin keluar, samar-samar Rick melihat sebentuk kepala menekan keluar.... berganti dengan kepalan tangan yang meninju...lalu bagian bawah yang menyerupai tumit...dimana setiap dorongan membuat Stella meringis menahan sakit. Dia ingin menjerit sekeras-kerasnya tapi kekuatan yang menahan tubuhnya itulah yang tidak mengijinkan jeritan itu keluar dari mulutnya, akibatnya Stella bernafas tersengal-sengal diantara perihnya sementara keringat membanjiri wajahnya.


Tubuh kaku Stella menggerinjal, dorongan di dalam perutnya melonjak dan bergolak semakin cepat, keras, dan bersemangat. Mendorong-dorong di dasar perutnya dan membuat bayinya seperti bergerak lebih liar dari keadaan normal. Dirasakannya panas itu meningkat, membakar, dan mungkin sebentar lagi menghanguskan tubuhnya.


Dan guncangan yang hebat pada perut Stella semakin meningkat intensitasnya setiap kali si kucing hitam memberi tepukan-tepukan kecil dengan ekornya di atas perut sang istri Rick Felds. Nyeri di perut Stella berubah menjadi semacam tinju-tinju kuat yang membuatnya ingin mati daripada tersiksa lebih lama. Rick menjerit dalam hati, kemarahan menggelora di hatinya, tak tahan dia melihat penderitaan wanita itu, ”Ini tidak bisa dibiarkan! Ini tidak benar!”


Pria itu berusaha keras agar dapat membebaskan diri, atau setidaknya menggerakkan tangan demi menggebah kucing itu pergi, agar istrinya bisa bangkit dari situasi bodoh ini, namun kucing itu rupanya mengerti yang sedang dipikirkan Felds sehingga mendesis marah, memamerkan giginya dekat hidung Stella, memberi isyarat bahwa dia tak segan-segan untuk mengoyak salah satu anggota tubuh yang membuat wanita itu menarik perhatian sampai hancur.


Mata Stella tiba-tiba melotot pada sesuatu yang muncul di belakang kucing itu. Rick pun menengok ke arah yang dilihat Stella dan ekspresinya berubah tegang. Bulu kuduknya berdiri memandangi sang sosok ganjil, yang berupa wanita tua berwajah tirus mirip tengkorak, matanya yang cekung nanar dan berair, sementara dari mulutnya mengalir liur berwarna hitam yang baunya mengingatkan pada saluran got di pasar. Dia menatap Stella dengan senyum jelek diantara pipinya yang mirip pipi tikus. Stella Felds begitu ingin berteriak mengusir perempuan iblis tersebut tapi yang keluar dari sela bibirnya hanya suara tertahan yang tidak jelas, ”hmmpppfff...mmmppff..”

__ADS_1


Hal yang terjadi kepada Stella di detik berikutnya merupakan sesuatu yang sama sekali tak pernah terpikir oleh siapapun di muka bumi. Wanita tua berwajah tirus itu mendekatkan kepalanya diantara kaki Stella dan tahu-tahu perut bundar Stella mulai mengempis, semakin bergerak turun, sampai akhirnya berubah rata. Pada setiap tingkatan, di setiap menitnya, dimana perutnya mulai mengempis perempuan itu merasakan hal ganjil, bagian bawah perutnya serasa disedot semacam vacuum cleaner raksasa, dan kekuatan menghisap itu menarik keluar isi perutnya dalam bentuk gumpalan-gumpalan yang berkelanjutan.


Pada akhirnya Stella sadar jabang bayi dalam perutnya telah lenyap sepenuhnya karena tak lagi dirasakannya gerakan di rahimnya. Rick tak sanggup memandangi pemandangan memilukan saat cairan yang menyerupai lumpur coklat membasahi ranjang dan seluruh bagian bawah wanita itu, lelaki asing itu paham lumpur kecoklatan itu adalah bagian dari apa yang tadinya merupakan bayinya. Stella menangis, melolong, dan mengumpat tapi si nenek tua hanya tersenyum tawar lalu menghilang bersama sang kucing ditelan kegelapan kamar.


”Our baby...she tookour baby..” tangis Stella Felds lirih.


Bersamaan dengan lenyapnya si kucing dan wanita tua ganjil itu lenyap pula kekuatan yang membelenggu tubuh Rick dan Stella Felds. Namun keduanya sadar segala sesuatunya sudah terlambat bagi mereka berdua. Rick hanya mampu memeluk tubuh istrinya yang menangis terisak-isak tanpa henti, mengucapkan kalimat yang sama, “She took our baby...she took our baby...”


***


Yudi mendengarkan dengan tercengang-cengang, tanpa terasa tubuhnya menggigil menahan amarah serta kesedihan yang tentunya dialami pasangan Felds karena kehilangan bayi dengan cara tidak wajar begitu. Buru-buru dihisapnya rokok demi meredakan ketegangan, “That’s... awful....”


“You tell me....” Rick menanggapi.


“Apakah kau sudah berkonsultasi dengan...seorang ahli...” Yudi berhenti sejenak sebab dia sedikit ragu buat melanjutkan.


“Maksudmu?”


Rick menarik nafas dalam-dalam lalu menggeleng, “Itu ide bodoh...yang bodohnya kami lakukan juga...kami berdua pergi ke dokter kandungan malam itu....ke ICU...dan seperti yang kuduga medis tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada Stella.”


“I see,” Yudi memaklumi.


“Apalagi dua hari sebelumnya kami mengunjungi dokter Silaban, dokter kandungan yang merawat kehamilan Stella, untuk cek-up rutin. Dia memastikan kasus keguguran Stella itu hampir mustahil...” Rick melanjutkan. “...yet, that shit happened.”


Pria asing itu membuang puntung rokoknya sebelum mengambil batang berikut yang segera dinyalakan. Satu tarikan panjang dari bibirnya membuat bara menyala hingga setengah bagian rokok, suatu kebiasaan yang Yudi sering lihat dari Felds manakala pria itu tengah gelisah.


"You know what?" Yudi akhirnya memecah kesunyian. "I think you guys should take break for a while...get out of town to let the bad things gone."


"We've decided it will better for Stella to returned to Chicago next week. I had asked for two weeks absent-leave permision already."


"That's good! Liburan akan membuat kita lupa kengerian itu sejenak. Keep staying in town where you experienced such horror is horrible," Yudi berkomentar.

__ADS_1


"Seandainya saja dia tidak kemari kami tidak perlu mengalami hal ini," ucap Felds penuh sesal, suaranya yang lirih nyaris terdengar seperti tangisan. "Aku yang memaksa Stella datang kemari."


"Bukan salahmu," Yudi menanggapi. "Kamu kan hanya ingin yang terbaik baginya."


"Kami bahkan baru saja mendapatkan nama buat si bayi di malam sialan itu," kata Felds. "Kamu percaya itu?"


"Tak ada yang bisa menduga datangnya kemalangan," Yudi berkomentar. "Siapa namanya? Anakmu itu?"


"Malakhea Felds."


"That's a really nice name," Yudi tersenyum.


"Nama yang sia-sia,karena dia sudah pergi," gumam Rick Felds.


"Begitu juga dengan kami kalau kamu tidak keberatan," seseorang berkata tiba-tiba dari belakang. “Kami harus segera pergi dari sini karena hari sudah malam.”


Pria setengah baya bertubuh pendek dan berkacamata tebal itu menghampiri Yudi dan sang tuan rumah, yang membuat Yudi sedikit terkejut karena Mirna mengekor di belakang lelaki tersebut. Melihat Felds sebagai tuan rumah berdiri, Yudi pun ikut berdiri menyambut keduanya.


"Once again I'm deeplysorry for your lost," tegur pria itu memeluk Rick Felds. "Kami mau pulang dulu, kamu dan istrimu pasti perlu waktu tenang berdua."


"Thank you for your coming, Mr. Feng," sahut Ruck Felds balas memeluk lelaki itu dan mengangguk pada Mirna.


Saat itu Mirna memberi kode kepada Yudi yang memberitahu bahwa dirinya tidak jadi pulang bersama Yudi karena harus menemani pria bernama Feng ini. Ekspresinya menyatakan rasa bersalah telah membuat Yudi menunggu dengan sia-sia. Dan sepertinya pria ini punya pengaruh yang besar atas Mirna sebab gadis itu sampai memilih  membatalkan janjinya pulang bersama Yudi, pengaruh yang baru diketahuinya dari Rick Felds setelah kedua orang itu pergi.


”Seriously? You don't know that man? He's Iwan Feng...”


Walau sering mendengar nama itu dari Mirna atau karyawan lain, Yudi belum pernah bertemu dengannya secara langsung, jadi wajar saja dia tidak tahu siapa pria yang ditemani Mirna tadi.


Jadi orang itu yang namanya Iwan Feng? Direktur Personalia dan General Affairs, pantas Mirna membuntutinya tanpa perlawanan karena orang itu boss Mirna langsung. Agak aneh juga kalau seorang boss besar sebuah divisi sampai mau mengantar anak buahnya pulang, pertanyaan ini menyentil benak Yudi dan mendadak dirinya menjadi kesal, entah karena cemburu mendapati ada pria lain yang mendekati Mirna atau untuk yang kedua kalinya gagal mengantar gadis itu pulang ke rumahnya.


***

__ADS_1


__ADS_2