KUYANG

KUYANG
Episode 14


__ADS_3

Persoalan Siska dengan kehamilannya membuat energinya terkuras, dan itu akibat memikirkan hal-hal tidak penting. Dia kehilangan gairah buat meladeni orang-orang ini dengan tampang palsunya, apalagi itu cocok dengan kebohongan yang diciptakannya sendiri, tentang ayahnya yang sakit. Mendung yang bergelayut di awan seperti mengerti kemurungan di hati Yudi. Sayang, hujan deras yang menyusul beberapa jam kemudian juga gagal meluluhkan pekat di pikirannya. Setibanya di mess kemeja, celana, dan sepatunyanya basah kuyub saat harus turun dari kendaraan menuju ke teras mess.


Pemuda itu masuk ke dalam bangunan, menyusuri lorong menuju ke kamarnya, dan termangu mendapati sosok yang tengah berdiri di depan kamarnya. Dia memanggil perlahan, ”Mirna?”


Mirna menoleh sembari melempar senyum manis, ”Baru pulang?”


Saat itu Yudi melihat pakaian dan rambut gadis itu juga basah kuyub. ”Kamu ngapain kemari? Kamu jalan kaki kemari sampai basah kuyub begini?”


”Lagi sial aja. Untung yang aku bawa selamat,” gadis itu menyodorkan sebuah kotak karton persegi berukuran medium.


”Apa ini?” Yudi menerima kotak itu dengan terheran-heran, makin bingung mendapati isinya ternyata seloyang tart coklat.


”Tart untuk kamu. Buatanku sendiri. Kamu pernah cerita kue yang aku bikin buat ulang tahun kamu dimakan tikus waktu dimasukkan ke kulkas di mess ini,” Mirna mengernyit jijik seolah terbayang tikus-tikus itu di hadapannya. ”Kebetulan aku hari ini lagi kepingin masak dan sudah kubawakan ke meja kamu. Tapi karena kata teman-teman disana kamu langsung pulang ke mess, aku menyusulkan ini kemari.”


”Wah, makasih! Kamu sampai repot-repot begitu. Aku jadi tidak enak,” Yudi menanggapi dengan segan karena saat ini dia tidak sedang berselera makan, apalagi mendapat kebaikan yang demikian dari gadis ini. Dia merasa bersalah bila mengingat Siska.


”Dan ternyata kamu memang jahat ya. Ternyata kamu memang buru-buru mau pulang ya besok? Aku tadinya tidak percaya. Kenapa tidak cerita ke aku kalau ayah kamu lagi sakit?”


Yudi memandang gadis itu dengan canggung, dia menggandeng gadis itu untuk masuk ke kamarnya sebab tidak ingin ada mata-mata usil yang akan mengintip kehadiran gadis itu di tempat ini, ”Ayo mandi dulu. Kamu bisa sakit kalau terus basah kuyub begitu.”


”Tapi aku nggak bawa baju ganti.”


”Nanti aku pinjamin punyaku dulu...”


Mirna menurut saja. Untung saja suasana hujan melenakan para penghuninya sehingga kamar mandi di bangunan itu kosong. Itu juga membuat suasananya relatif aman dari siulan-siulan nakal. Sepuluh menit kemudian gadis itu sudah berada dalam keadaan kering, segar, dan terbungkus baju kedodoran. Ukuran tubuh Yudi jelas lebih besar dari dirinya. Yudi nyaris tidak berani menatap Mirna sebab baju itu gagal menyembunyikan kemolekan tubuhnya, bahkan dia seperti bisa melihat tembus pandang ke baliknya untuk menikmati apa yang ada disana.Gadis itu menggelungkan handuk ke kepala untuk menyerap air di rambutnya lalu duduk dengan sedikit jengah di tepi ranjang. Dia tersenyum, ”Makasih, ya. Sekarang sudah lebih enak, nih...”


Yudi menatap Mirna, ”Mir, maafin aku tadi ya...”


”Maaf kenapa?”


”Aku nggak sempat cerita soal ayahku.”


”Sudahlah. That’s no problem. Aku tahu kamu sedang banyak pikiran.”


”Kamu sudah makan?” Yudi mengalihkan perhatian. ”Sori, ya sambil nyambi. Aku mau ngepak bawaan ke Jakarta.”


”Belum. Kamu?”


”Belum juga. Mau makan keluar habis aku selesai dengan yang ini?”


”Boleh aja, sih. Tapi kalau hujannya nggak reda bagaimana?”


”Wah, nggak tau deh. Aku juga bingung jadinya,” ujar Yudi membuka lemarinya dengan canggung karena Mirna bisa melihat seluruh isinya yang mirip kapal pecah, belum lagi saat salah satu pakaian dalam yang berjubel berantakan jatuh ke keluar. Yudi mengambil benda yang tidak tahu adat itu dengan tersipu, ”Sori....cowok.”


”Mau aku bantu beresin?”


”Eh...nggak...jangan...nggak perlu. Soalnya kalau diberesin aku yang bingung kalau mau mencarinya lagi. Bentar ya, aku cepat kelar kok.” dikeruknya beberapa potong pakaian secara asal lalu dijejalkannya ke dalam ransel tanpa ampun. Mirna terkikik geli.


”Oh, ya...jadi kapan kamu berangkat?”


”Kamis. Jam dua sore.”


”Naik bus dulu ke Balikpapan? Atau langsung pesawat?”


”Ke Balikpapan dulu lewat jalan darat.”

__ADS_1


”Aku boleh ikut anter kamu?”


Yudi hampir saja berteriak ’boleh’ namun dia tidak ingin Mirna sampai bolos kerja gara-gara kebohongannya, ”Nggak usah. Nanti kalau kamu dicari sama boss kamu bagaimana?”


”Cuti sehari kan nggak masalah. Bilang saja aku mules karena lagi haid.”


”Thanks. Tapi jangan,deh! Aku nggak ingin merepotkan.”


Mirna mengangkat bahu, ”Sama sekali nggak, kok! Kan aku yang mau.”


Yudi tidak menjawab dan pasang aksi sibuk membereskan pakaiannya ke dalam ransel. Gadis itu memandanginya dengan sebuah cara yang makin lama makin membuat dirinya merasa rikuh, ”Kamu pasti dekat sekali sama ayah kamu sampai bete begitu.”


”Aku nggak mau kehilangan dia,” Yudi lagi-lagi harus berbohong. Dia membuang muka, Mirna mungkin mengira dirinya sedang menahan tangis, menahan kesedihan atas penderitaan yang dialami sang ayah.


”Aku percaya kok kalau ayah kamu akan sembuh.”


”Makasih.” Dengan kecepatan superkilat Yudi membuat ranselnya menggelembung gendut. Begitu dia selesai dengan barang-barang terakhir dan menutup ranselnya yang pasrah tak berdaya hujan diluar masih tetap mengguyur tanpa jeda. Pemuda itu berkata dengan suara yang dibuat ceria. ”Gimana, nih!  Kita belum bisa keluar dong.”


”Untung aku bawa ini. Makan ini dulu, deh...” Mirna membuka kotak kue yang dibawanya, mengeluarkan tart dan juga sepasang piring kertas, lengkap dengan garpu dan pisau pemotong. Dengan gerakan cepat gadis itu mengiris kue buatannya dan menaruh sepotong kue dalam ukuran yang lumayan besar sebelum diserahkannya ke Yudi. ”Ini buat kamu.”


”Tart coklat buat makan malam?” Yudi tersenyum menggeleng.


”Jadi kamu nggak mau?” Mirna bertanya dengan wajah sedih.


”Yang bilang begitu siapa?” ujar Yudi yang tidak tahan melihat mimik muka itu. ”Aku kan kepingin mencicipi kue buatanmu.”


”Harus...” Mirna mengangguk dengan senyum lebar saat Yudi menerima piring yang diberikannya.


Pada gigitan pertama Yudi langsung tahu Mirna pembuat kue yang jago. Rasa coklat yang kental memanjakan mulutnya, lumer leleh buat membelai tiap jengkal lidahnya dengan sapuan lembut, belum lagi flanya yang lengket yang sepertinya enggan berpisah di langit-langit mulutnya. Mendapati rasa itu sontak saja kerongkongan dan perutnya bagai berteriak meminta kesempatan untuk mencicipi rasanya.


”Seharusnya kamu buka toko kue, mir!”


”Yes!” Mirna mengangkat tangan. ”Jadi nyesel kan yang waktu itu dimakan tikus?”


”Tikus-tikus sialan itu akan kecewa kali ini. Aku akan menghabiskan semuanya malam ini,” Yudi tertawa dengan mulut penuh kue. Saat itu disadarinya pandangan Mirna yang begitu rupa hingga membuatnya kikuk. ”Kenapa?Bibirku cemong coklat?”


”Bukan. Aku senang melihat ada orang yang makan kueku dengan cara seperti itu.”


”Kalau begitu kamu harus lihat tikus-tikus itu sewaktu mereka menghabiskan kue yang pertama,” goda Yudi. ”Sayang aku tidak punya fotonya.”


”Tidak perlu! Aku tahu binatang-binatang jelek itu tidak punya seni makan kue enak,” kata Mirna diimbuhi tawa Yudi.


”Kamu kok nggak ambil?”


Mirna menggeleng, ”Kue ini kan untuk kamu. Jadi khusus kamu yang makan. Katanya kan mau kamu habiskan sendiri, supaya nggak dimakan sama tikus-tikus.”


”Jangan gitu. Ayo, ambil satu...temani aku makan ini,” Yudi berkata seraya mengambil sepotong kue. ”Atau perlu aku suapin?”


Mirna ketawa lalu menahan tangan Yudi yang sudah siap menjejalkan kue ke mulutnya, ”Nggak usah, deh! Aku nggak lapar.”


”Pake jaim lagi. Katanya tadi lapar.”


”Aku ingin makan nasi.”


”Mir, temenin gue makan deh...” kata Yudi. ”Menolak permintaan nggak baik, lho.”

__ADS_1


Mirna nampak bimbang sesaat, ”Oke, deh. Tapi sedikit saja, ya. Aku nggak mau jadi terlalu kenyang sebelum makan berat.”


Gadis itu mengambil kue dari tangannya dan Yudi tersenyum melihat cara gadis itu menikmati kue buatannya. Tanpa sengaja mereka bertatapan dan Yudi makin merasa bersalah mendapati cahaya yang sama itu lagi. Mirna


menginginkan cintanya. Sesuatu yang mustahil dia berikan karena dia telah menaruh hatinya kepada orang lain, yang sedang mengandung anaknya pula.


Yudi masih ingin menjaga pertemanan ini, ada sesuatu yang istimewa diantara mereka tapi itu tidak bisa lebih dari berteman, dan untuk menjaga itu Mirna harus tahu siapa dirinya. Seorang lelaki yang tak lebih dari pribadi kotor yang tidak layak untuk mempermainkan perasaan gadis cantik yang baik hati ini.


”Mir...”


”Mmmm?”


”Sebenarnya aku bukan pulang karena ayahku...”


Gadis itu terdiam sejenak mendengarnya, ”Jadi kenapa kamu mau pulang?”


”Aku terpaksa!” Yudi menanggapi.


”Kenapa? Apa karena Siska?” todong Mirna tanpa tedeng ali-ali.


Yudi terkejut,”Darimana kamu tahu soal Siska?”


”Aku tahu banyak hal tentang kamu meskipun kamu nggak mau cerita.”


Saat itu dugaan Yudi langsung tertuju pada Danu. **** itu pasti tidak sengaja mengumbar segala sesuatu tentang hidupnya kepada gadis ini, ”Iya, ini memang soal Siska.”


”Kalau seorang pria berani berbohong untuk seorang gadis, tentu itu karena suatu hal mendesak. Ada apa dengannya? Apa dia sakit keras?”


”Janji kamu tidak akan marah kalau aku menceritakan ini?” Yudi bertanya dengan cemas. ”Yang aku omongin ini pribadi. Danu saja belum tahu masalah sebenarnya.”


Mirna mengangguk dan menunggu. Yudi berusaha merangkai kata sebaik mungkin tetapi segalanya buyar di bawah tatapan Mirna yang teduh, rasanya dia tidak tahu bagaimana harus memulai ceritanya. Dia menghela nafas tanpa berani menatap balik Mirna. Akhirnya dia hanya menyerahkan ponsel yang di dalamnya berisi foto-foto Siska, ”Aku kelewat batas...”


Mirna melihat ke dalam ponsel tanpa setitikpun emosi meski matanya jelas berkaca-kaca. Dia menyembunyikan sikap tidak terima dengan mengembalikan benda itu kepada Yudi, ”Apanya yang kelewat batas? Kalian kan saling mencintai?”


Kini ganti lidah Yudi yang kelu, ”Tapi dia hamil sebelum kami menikah.”


”Kenapa bingung? Kalian sudah dewasa. Kalian saling cinta. Kamu juga sudah punya pekerjaan sebagai gantungan hidup. Kenapa harus ragu?”


Yudi tak sanggup menjawab. Ketegaran yang dibangunnya ambrol. Dia terduduk di sebelah Mirna dan mendesah. Kedua telapak tangannya menutup wajah. Walaupun tak ada tangis seperti di sinetron-sinetron cengeng, kepalanya serasa mau pecah karena dinding pembelaan yang dibangunnya sedari tadi menekan dengan amat sangat, membuatnya harus berbaring, ”Satu hal menghalangi, kepercayaan kami berbeda...”


”Apakah itu masih masalah dengan adanya hal ini?” tanya Mirna.


”Itulah, aku tak tahu apakah orangtuanya mau menerima kalau aku tidak mengikuti kepercayaannya. Aku tidak mau melakukannya hanya karena terpaksa.”


”Kalian orang metropolitan itu ruwet. Buat kami, lakukan yang men jadi kewajibanmu dengan cara apapun. Titik. Dan hidup dapat terus berjalan.”


”Entahlah...”


”Seharusnya kamu gembira karena anak itu...”


”Danu sering mengatakan hal serupa tentang anaknya yang sebentar lagi lahir, tapi aku tidak bisa merasakan yang seperti itu saat ini.” Yudi tidak melihat kerjapan buas di mata Mirna untuk sejenak begitu mendengar tentang bayi Danu. ”Mungkin aku yang tidak siap.”


”Siapa sih yang siap dengar berita seperti ini?” Mirna menanggapi..


Yudi membisu, dalam kesempatan ini secara tiba-tiba matanya tertarik ke pandangan Mirna seperti sepasang magnet yang beradu. Gadis itu tidak tersenyum atau memberi ekspresi apapun, hanya menatap khidmat. Keduanya bertatapan lama, tanpa mengeluarkan sepatah katapun, seolah semuanya telah dimengerti dengan sendirinya lewat hal itu. Yudi bisa memahami hasrat di balik tatapan itu, hasrat yang memojokan dirinya pada sebuah bersalah karena tidak bisa memenuhinya. Pemuda itu mendesis galau, ”Maafkan aku, Mir...aku nggak bisa jadi yang seperti kamu mau...”

__ADS_1


***


__ADS_2