
BONTANG, MARET 1999, MINGGU PERTAMA
“Jadi bagaimana? Kamu bisa dong gantikan aku karena...” ujar Danu.
“Karena apa?”
“Aku harus menemani Indri ke klinik.”
“Bukannya dua hari lalu kamu sudah membawanya untuk diperiksa dokter?”
Ganti Danu memasang ekspresi kesal, “Berapa kali sih harus cerita kalau kehamilan istriku kali ini kondisinya ada kelainan?”
“Oh, memangnya kenapa si Indri? Aku lupa...” Yudi melanjutkan dengan tawa terkekeh seakan merasa bersalah melupakan hal itu, hal yang penting-tak penting sebenarnya baginya.
“Kandungannya lemah, bro! Dokter bilang air ketubannya sedikit, jadi harus sering kontrol. Itu karena kistanya,” sahut Danu.
“Oh, iya,” Yudi kembali ingat cerita Danu beberapa minggu sebelumnya. “Jadi kamu mau tukar shift lagi?”
“Itu satu-satunya cara supaya uang makanku tidak dipotong. Bulan lalu aku sudah kena potong dua kali karena lolos shift,” Danu menanggapi. Setelah itu dipasangnya wajah yang membuat Yudi tidak mampu menolak permintaan sang teman. “Tolong, ya...”
Merasa kasihan, akhirnya Yudi mengangguk, “Kalau aku jadi kamu, aku akan ungsikan dulu Indri ke rumah saudaranya di jawa sampai dia lahiran. Tahu sendiri kan bagaimana target bulan ini lagi gila-gilanya.”
“Coba deh ngomong gitu sama istrimu sendiri kalau sudah kawin nanti. Nggak bakal segampang itu, tahu...” Danu melotot. “...bisa-bisa dia mengumbar omongan kemana-mana kalau kita nggak cinta lagi sama dia.”
Yudi ketawa, “Oke deh, syaratnya kamu yang ngomong soal perubahan ini ke Pak Fikri.”
“Beres,” Danu mengangkat jempol diserta senyum puas.“Atau kalau kamu mau, ambil jam kerjaku saja deh supaya uang makannya bisa buat kamu, bagaimana?”
“Katanya tadi kamu nggak mau sampai uang makan dipotong?” Yudi mengerang. “Kok jadi labil?”
Danu meringis, “Soalnya aku nggak enak, kamu kan sudah beberapa kali gantiin dan...”
“Nggak usah. Aku nggak ada masalah kok ngegantiin,” ujar Yudi.
“Oke, makasih kalau begitu,” Danu menanggapi dengan terharu.
Permintaan Danu kemarin membuat Yudi hari ini terpaksa berkeliaran di lapangan, mengawasi dan menginspeksi kegiatan operasi dari tambang tiga, yang merupakan tambang yang baru dibuka. Dia adalah salah satu dalam tim, selain Danu dan Rick Felds, yang bertugas membuka titik tersebut baru-baru ini, sehingga tahu banyak soal apa yang seharusnya dilakukan dan yang tidak di tempat tersebut. Karena Rick Felds sudah mengundurkan diri bulan lalu, praktis hanya Danu dan dirinya yang memahami segala sesuatu di Titik Tiga, sementara orang yang ditugaskan menggantikan Rick Felds masih dalam tahap pembelajaran.
__ADS_1
Spot tambang baru merupakan tempat rawan saat di eksplorasi secara besar-besaran di beberapa bulan awal. Pengawasan intensif selama dua puluh jam saat penggalian adalah sesuatu yang harus dilakukan, banyak hal kritikal yang harus dimonitor dan kestabilan rangka pendukung di bagian dalam tambang merupakan yang utama. Mustahil menggali bila dinding-dinding tambang tidak kokoh, itu dapat mengakibatkan tambang runtuh dan menggali tambang baru yang sudah tertutup akibat reruntuhan jauh lebih sulit daripada membukanya pertama kali. Cara paling efektif adalah dengan meledakkannya, hanya saja ada resiko ledakan berpotensi menghanguskan hampir setengah isi tambang yang berisi material rentan api.
Rick Felds pernah memberitahunya untuk melakukan beberapa tindakan pengamanan demi menjaga tambang dalam keadaan utuh ketika dioperasikan di beberapa bulan awal, diantaranya menghindari penggalian yang terlalu dalam sebelum penyangga yang dipasang terbukti sanggup bertahan. Dia ingat menanyakan seberapa dalam yang dimaksud Felds, dan pria itu menjawab, “Dirimu yang harus memastikan itu tidak sedalam kerakusan orang-orang yang ingin menggalinya…”
Dan sebagai engineer, Yudi yang tentunya harus memastikan itu dilakukan sesuai buku peraturan karena standar itu yang menjaga tambang agar mampu bertahan hingga waktu yang diperlukan untuk terus menggali batu bara dengan aman, sehingga sang engineer tidak lagi direpotkan oleh kesalahan yang tidak semestinya. Felds juga mengatakan kepadanya agar mengawasi tiap detilnya dengan baik supaya pada akhirnya sang engineer bisa mengawasi pekerjaan mekanik dengan santai di hari-hari berikutnya, atau bahkan berlibur karena jasanya tak lagi diperlukan, hal yang diucapkannya secara bercanda tapi tak disangka anjuran itulah yang membuat perusahaan tak keberatan manakala Rick Felds mengajukan pengunduran diri.
Sejauh ini kegiatan operasional di Titik Tiga berlangsung lancar. Kaltim Persada Coal harus membuka titik baru demi memenuhi tambahan target dari permintaan sejumlah pabrik di sejumlah daerah di Sulawesi yang baru berdiri. Salah satu permintaan baru itu datang dari pabrik semen yang merupakan join operation antara perusahaan lokal dengan perusahaan asal Korea Selatan, tidak tanggung-tanggung kebutuhannya sekitar dua hingga tiga ratus ribu ton per bulan. Itu bukan jumlah yang cukup dipandang sebelah mata. Manajemen Kaltim Persada Coal merespon dengan serius dengan mengembangkan sistem pengiriman yang sudah terjamin seperti proses operasional di titik tambang yang lama.
Setelah mesin-mesin bertangan mekanik melakukan pengerukkan di dalam tambang Titik Tiga, batu bara di kirim dengan conveyor yang terhubung tanpa putus dari titik pengumpulan di wilayah tambang ke mulut conveyor di hilir, yakni sejumlah tugboat yang akan mengangkut ratusan ton batu bara tersebut ke kapal induk yang menunggu di laut lepas. Beberapa bagian ambil peran dalam mengawasi tiap titik kritikal dalam proses tersebut, dan bagian Yudi adalah memastikan batu bara tergali, keluar dari dalam tambang dengan aman, dan meluncur ke tempat pengumpulan di tepian sungai melalui conveyor dengan uap yang menguar ke udara.
Sejauh ini tumpukan batu-batu hitam tersebut nampak dalam keadaan baik saat ban-ban berjalan menggerakkan mereka ke permukaan, mengantarkan materi yang selama ratusan tahun terpendam dalam bumi itu menemui udara segar dan langit biru, dan pada akhirnya akan menjadi sesuatu yang berguna di suatu tempat, atau dalam kasus ini menjadi sumber tenaga bagi pabrik semen yang memesannya.
Pemuda itu menengok arloji di tangannya. Sudah hampir pukul lima sore. Sebentar lagi matahari akan terbenam sementara udaranya lumayan pengap di sini apalagi hanya dirinya makluk hidup yang ada di dalam tambang itu, selain para pekerja yang sedang mengendalikan mesin-mesin itu tentunya, dan suasana ini perlahan menimbulkan ketidaknyamanan bagi Yudi.
Sebagai orang yang bertugas di lapangan wajar saja bila dirinya berada disini, tetapi seperti yang pernah dikatakan para teknisi senior, Rick Felds salah satunya, padanya bahwa dia tidak harus berada di tempat macam ini lama-lama. Teknisi handal mampu menciptakan sistem teknologi yang tidak merepotkan dan mampu melakukan banyak hal, bukan hanya dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik tapi juga membuat sistem tidak tergantung kepada si teknisi...dengan begitu sang teknisi bisa menikmati hal-hal lain yang lebih menyenangkan, misalnya seperti berkumpul dengan keluarga atau berjalan-jalan di alam liar..
Oleh karena itu Yudi tak berniat tinggal lebih lama dari yang diperlukan. Setelah menyelesaikan tahap terakhir dari daftar pengecekan, pemuda itu memutuskan kembali ke kantornya. Ketika dirinya sedang berjalan menuju ke mulut tambang samar-samar dirasakannya ada sesuatu bergerak di belakangnya.
Angin yang berkesiur pelan menyapu bagian belakang lehernya, menegakkan bulu kuduknya hingga spontan pemuda itu berbalik untuk melihat apa yang ada di belakang sana. Hanya kegelapan yang memenuhi penglihatannya. Walau begitu, dia merasa ada sesuatu yang sedang bergerak di dekat percabangan lorong yang mengarah ke sisi utara.
Tangan Yudi mencari senter kecil yang selalu disimpannya di saku celana, percabangan itu merupakan sudut mati yang tidak diterangi oleh lampu di sekeliling sehingga dia memerlukan senter itu sekarang. Begitu menemukan benda yang dicari disorotinya sudut tersebut, saat itu jantungnya mencelos melihat sesuatu berambut panjang melayang cepat sebelum menghilang ke dalam lorong.
Meskipun sempat mengalami syok, pemuda itu tetap berjalan perlahan mendekati percabangan tersebut karena rasa ingin tahunya lebih besar untuk mengetahui benda apa barusan. Berbeda dengan irama langkahnya, detak jantungnya bergerak makin cepat seiring jarak yang makin mendekat. Cahaya senter menyorot ke tempat terakhir yang dilihatnya, namun tak ada sesuatu pun disana selain dinding batu yang gelap dan kasar.
Tiba-tiba terdengar teriakan perempuan yang sepertinya butuh pertolongan dari dalam lorong. Yudi spontan berlari ke arah suara dan berseru-seru, ”Bertahanlah nona... aku datang...”
Setiba di tempat sumber suara, Yudi tidak menjumpai siapa pun disana. Jeritan itu tak terdengar lagi, tapi Yudi yakin bahwa dari lorong inilah jeritan tadi berasal. Disorotkannya senter ke berbagai penjuru dan menemukan tak lain selain dinding batu. Pemuda itu menajamkan telinga, berusaha menangkap bunyi atau gerakan mencurigakan meski keadaan di sekelilingnya senyap. Entah dia salah mengira atau jeritan tadi hanya khayalannya belaka. Malah dia sendiri yang memekik kaget saat pagernya berdering.
”Setan!” dia memaki dirinya sendiri, juga pada pagernya yang berbunyi di saat yang tidak tepat. Diliriknya pesan singkat yang tercatat pada pager itu dengan seksama. Ternyata dari Siska, yang memintanya untuk menelepon karena ada hal penting yang ingin dibicarakan. Apapun itu bisa menunggu, terlebih karena saat itu Yudi mendengar erangan dari suatu tempat di depannya
Yudi berjalan menuju ke tempat tersebut dan mendapati seorang pria terkulai di tanah berbatu. Cepat-cepat dia berlutut untuk membantu orang tersebut bangun dan mendapati pria itu ternyata Pak Wayan, begitu tubuh pria yang terkulai itu dibalikkannya. Kelihatannya pria itu tidak mengalami luka serius, selain memar di kepala, itu membuat Wayan bisa segera tersadar begitu Yudi membantunya duduk.
”Pak Wayan?” Yudi menggoyang-goyangkan bahunya. Pria tua itu mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha mengumpulkan kesadaran. ”Apa yang terjadi?”
Wayan memegang kepalanya, setengah mengernyit karena berusaha meredakan nyeri yang menggelayut sebelum akhirnya menanggapi, ”Kecelakaan...”
”Kecelakaan bagaimana?”
__ADS_1
”Aku sedang inspeksi disini ketika tahu-tahu terpeleset. Agaknya kepalaku menghantam batu di suatu tempat sehingga aku pingsan beberapa saat.”
”Inspeksi? Aku tidak ingat anda punya bagian yang harus dikerjakan di seksi ini. Bukankah anda sudah selesai mengerjakan tugas yang ada di tempat ini dua bulan lalu?”
Wayan malah memelototi Yudi, ”Jadi sekarang kamu mau bertindak sebagai atasanku?”
Yudi dongkol mendengarnya, kenapa lelaki tua ini masih berlaku menyebalkan bahkan di saat tidak berdaya dan butuh bantuan? Namun pemuda itu hanya menggeleng, ”Hanya heran mendapati anda disini. Tapi apa pun urusan anda, itu memang bukan urusanku. Urusanku saat ini adalah menolongmu. Ayo sini, saya bantu...”
Wayan memandangi Yudi beberapa saat dengan curiga sebelum akhirnya menyerah dan membiarkan dirinya dipapah keluar dari lorong. Yudi menanyakan sesuatu yang terlintas di kepalanya, ”Apakah anda tahu ada perempuan di dalam lorong sini?”
”Perempuan? Tidak! Kenapa?”
”Karena aku bisa menemukan tempat anda begitu mengikuti suara perempuan minta tolong itu,” sahut Yudi. ”Apa bukan anda yang berteriak?”
”Yang pasti bukan aku. Aku langsung pingsan saat itu. Tapi aku yakin tidak bertemu perempuan atau siapa pun di dalam sini.”
Yudi tidak menyahut, hanya bertanya-tanya dalam hati bagaimana dia bisa mendengar jeritan perempuan dari dalam lorong tersebut. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri, secepatnya dia ingin meninggalkan tempat tersebut tanpa menengok lagi. Langkah Pak Wayan yang semula gontai perlahan-lahan sirna, seiring keduanya berada di ambang pintu tambang. Wayan tak lagi menumpukan tubuhnya ke bahu Yudi, dan kini dia bisa berjalan sendiri meski sedikit tertatih.
”Kurasa sudah cukuplah kamu berbaik hati menolongku, anak muda!” ujar Wayan pada Yudi. ”Dari sini aku bisa melanjutkan sendiri.”
Yudi balik bertanya. ”Apa tidak sebaiknya aku membawamu ke rumah sakit atau dokter untuk diperiksa?”
”Tidak perlu repot-repot. Aku bisa melakukannya sendiri.”
”Anda yakin?”
Pak tua itu menggerak-gerakan tubuh sebagai bukti, ”Tidak ada yang salah denganku sejauh ini, kan?”
”Kelihatannya begitu,” komentar Yudi memperhatikan kening Wayan yang benjol besar.
Wayan tampak menyadari pandangan Yudi hingga tanpa sadar mengelus keningnya, ”Ini saja sudah bikin aku malu. Jangan bikin aku tambah malu.”
”Baiklah kalau begitu,” Yudi mengangguk. ”Hati-hati di jalan pulang.”
”Pasti...pasti...terima kasih sudah menolongku. Dan kalau kamu menemukanku lagi terkapar di trotoar jalanan itu akan jadi kebetulan yang benar-benar memalukan,” sahut Wayan. Sesaat dia ingin mengatakan sesuatu lebih jauh kepada Yudi tapi entah kenapa dia kemudian membatalkannya dan berbalik pergi.
***
__ADS_1