
Tidak ada yang menjawab panggilannya, oleh karenanya pemuda itu membuka pintu gudang anggur yang menuju ruang bawah tanah, diambilnya senter dari saku dan dinyalakannya untuk membantu pandangan. Suasana tangga kayu menuju ruang bawah tanah itu kosong, bila ada orang yang turun kemari pasti di ujung sana Yudi akan bisa memergoki orang itu sebab tangga ini merupakan jalan buntu.
Dituruninya undakan dengan setengah ragu sebelum menatap pintu di hadapannya dengan berpikir keras. Pintu itu sama sekali tidak bergagang atau berkenop, dan itu membingungkan. Rasanya dia pernah membuka pintu itu sebelumnya hingga yakin kalau itu dapat dilakukannya kembali.
Tangan kanannya meraih ke atas sementara yang kiri menekan celah di sebelah bawah pembatas pintu yang tepat berada di tengah. Dengan satu sentakan, tanpa perlu mengeluarkan segenap tenaga, pintu itu bergeser. Tak terdengar decitan dari engselnya, menandakan seseorang merawatnya dengan baik.
Hanya butuh celah sebesar tubuhnya saja bagi Yudi untuk kemudian masuk ke dalam ruangan yang dibatas pintu bawah tanah tersebut, Begitu sudah berada di dalam, diarahkannya senter berkeliling hingga cahayanya membuyarkan suramnya kegelapan. Seekor laba-laba yang terusik oleh cahaya yang muncul mendadak itu lari menghindar menuju ke sarangnya yang terbentang di sudut kanan bagian dalam pintu.
Yudi bersin beberapa kali setelah mengibaskan debu yang turun dari birai kusen pintu bagian atas ke bahunya. Pemuda itu melangkah dengan hati-hati agar tidak terjebak ke dalam lubang atau kayu yang lapuk yang ternyata tidak dijumpainya setelah berjalan semakin jauh ke dalam. Nyatanya ruangan bawah tanah itu tidak sepenuhnya ditinggalkan karena sebagian besar ruangan itu terlihat cukup bersih.
Cahaya senter menyorot berkeliling dengan gerakan yang sama pelannya dengan langkahnya. Satu-satunya yang berpacu cepat adalah jantungnya, bergerak tak menentu didera ketegangan luar biasa karena cemas pada apa yang bakal menantinya di dalam ruangan ini. Jika dapat melihat wajahnya sendiri Yudi tentu akan mendapati mukanya pucat seputih mayat.
__ADS_1
Dan bau apek ruangan akhirnya tidak sanggup mengatasi bau lain dibaliknya. Bau seperti daging busuk atau telur yang tersimpan terlalu lama di keranjang sampah. Tanah yang dipijaknya menjadi sedikit lebih lengket. Memang udara disini terkesan lebih lembab namun lengketnya bidang datar yang dia pijak bukan karena air tetapi cairan yang lebih lengket seperti lumpur, bekas muntahan, atau darah kering.
Nafas Yudi terhenti saat cahaya senter menumbuk gundukan di hadapannya. Jelas sekali kalau gundukan inilah yang menjadi sumber bau yang diciumnya. Gundukan tulang itu hampir dua meter setengah tingginya, entah sudah berapa banyak manusia yang jadi korban, mungkin ada sekitar ratusan dan tulang-tulang mereka tertumpuk disitu dalam bentuk yang masih utuh ataupun sudah terpatah-patah. Walau banyak yang sudah kering tetapi tulang-tulang itu masih menarik minat banyak lalat berkumpul di atasnya.
Melihat kondisinya Yudi yakin beberapa tulang itu usianya sudah sangat tua, mungkin lebih dari lima puluh tahun, dan itu terlihat ketika beberapa tulang yang ditendangnya di dasar gundukan berubah jadi debu dalam sekejap. Lucu rasanya membayangkan harimau yang pernah menghuni ruang bawah tanah ini melakukan ini semua, sebelum dibunuh oleh nenek buyut Mirna. Binatang itu memang ganas, tapi apa mungkin mampu menyusun tulang sampai sedemikian tinggi?
Saat itu pandangannya terpusat pada sepotong tangan yang terjulur dari dasar bukit tulang. Tangan yang masih baru dan yang menarik perhatiannya adalah cincin bermata hitam yang dikenakan di jari manisnya. Dia tahu siapa pemakai cincin seperti itu... Wayan!
Yudi mengambil botol dari dalam sakunya, dugaannya benar...cairan ini berhubungan dengan kuyang sebab cairan inilah yang dibuat Wayan di akhir hidupnya sebelum mereka diserang kuyang. Cairan ini untuk menghancurkan kuyang. Mungkin itu sebabnya si kuyang membunuhnya. Siapapun yang berhasil menciptakan senjata untuk memusnahkan kuyang tentu akan dibenci makluk jahanam itu!
Yudi melepas cincin dari jari potongan tangan itu sebelum menyematkan di jarinya sendiri. Dia tidak berminat mencari dimana bagian tubuh Wayan lainnya karena dia tak akan mampu menghadapinya. Sepotong tangan ini cukup untuk membuat Yudi paham situasinya.
__ADS_1
Ruangan itu terasa semakin sunyi saat Yudi berjalan memutari gundukan untuk melihat apa yang ada dibaliknya. Bunyi langkahnya menggema ke tiap penjuru ruangan, dipantulkan oleh dinding batu yang membentuk ruangan tersebut, dan ketika sampai ke balik bukit tulang-belulang itu didapatinya sesosok tubuh kecil terbujur kaku, tertelungkup seperti seonggok daging yang baru dibantai di tempat pejagalan.
Tubuh itu tanpa kepala, batang tulang belakangnya menonjol keluar dari balik lehernya yang terpotong, darah masih menetes meski daging di sekitar dan bagian dalam leher itu sudah membiru. Cairan kental berwarna merah darah menggenangi lantai di sekeliling tubuh itu dalam jumlah yang cukup banyak. Hembusan ombak kemarahan melanda kepalanya dalam gulungan tak tertahankan. ******** itu telah membunuh si bayi...bayi itu mati...makhluk malang tak berdaya itu tewas dengan keadaan mengerikan sekaligus menyedihkan...
Dia berlutut di depan mayat bayi. Kepalanya merunduk hingga menyatu tanah. Tangisan tanpa lolongan atau jeritan keluar dari dalam dirinya. Tangannya mengepal, keras dan kaku menumpahkan semua amarahnya pada kekejian ini. Yudi bergumam meradang, ”Bagaimana mungkin ada orang yang begitu kejam melakukan ini?”
Lagipula sosok itu bukanlah manusia...dia lebih tepat dikatakan binatang...monster!
Belum juga tangis Yudi reda ketika dirasakannya sesuatu mendekat dan instingnya memberitahu kalau sesuatu itu merupakan bahaya besar baginya. Cepat-cepat pemuda itu bangkit berdiri lalu berjalan terseok ke bagian bangunan yang paling diselimuti kegelapan, tepat sebelum sesuatu yang berjalan dengan langkah berat itu sampai ke dekat gundukan tulang.
Sosok itu bertubuh bungkuk bukan karena punuk yang tumbuh di belakang lehernya tapi karena tingginya diluar batas normal, sekitar dua setengah meter dan itu membuatnya harus sedikit merunduk bila tidak ingin kepalanya terantuk langit-langit. Punuk di tubuhnya mungkin belum sebesar punuk unta tetapi cukup mengganggu di tubuh makluk itu. Sepasang kakinya yang tertekuk ke belakang mirip kaki burung unta. Dari bayangan siluetnya tergambar otot dari tubuhnya menggembung liat tanpa bulu, menyambung langsung ke ujung lengannya yang terdapat lima jari panjang berbuku-buku yang lebih berbentuk semacam cakar. Kepalanya yang menyerupai kucing mengibas-ngibas ganjil beberapa kali.
__ADS_1
***