
”Kamu banyak diam sejak semalam,” tegur Wayan.
”Oh, selamat pagi...” sahut Yudi yang tengah duduk di teras rumah sambil menikmati udara pagi sejak matahari menampakkan diri di ufuk timur.
”Kopi?” Wayan menawarkan cangkir di tangannya. Uap yang mengepul menandakan kopi itu baru dibuat, masih hangat dan berbau harum menyenangkan.
”Terima kasih...” Yudi menerima cangkir dan meletakannya di atas meja. Wangi kopi itu menyenangkan, melengkapi pagi harinya dengan sempurna. Masalahnya hanya satu, lelaki di sebelahnya yang ikut duduk dan mulai menyalakan pemantik untuk menyulut rokok.
Wayan menyadari pandangan Yudi dan menawarkan rokoknya, ”Kamu mau?”
Yudi menerima tawaran itu dan Wayan menyulut sebatang lagi. Lelaki itu memandangi Yudi dengan cemas, ”Kelihatannya kamu tidak tidur semalam...”
”Bagaimana bisa kalau disuguhi peristiwa seperti semalam?”
Wayan nyengir, ”Yeah, harus membiasakan diri. Kamu akan melihat lebih banyak lagi karena kamu kan sudah berniat menghabisi si kuyang demi menolong pacarmu. ”
Keduanya duduk diam untuk beberapa lama, sibuk memperhatikan awan yang berarak di langit. Gulungannya yang bergelombang putih selembut kapas bergerak sepelan rotasi bumi dan nafas mereka yang tenang dalam ayunan alam. Uap yang mengepul dari cangkir Yudi berlomba dengan asap rokok Wayan, berpilin jadi satu dan memecah satu sama lain bagaikan layangan yang beradu di udara.
”Bagaimana kamu bisa hidup seperti ini?” Yudi kembali memulai percakapan. ”Maksudku...seperti ini...memburu sesuatu yang hanya masuk akal bagimu.”
”Seorang lelaki kaya pernah mengalami masa kecil yang pahit. Orangtuanya dibunuh oleh berandalan di jalan yang ingin merampok uang ayah dan perhiasan ibunya. Kenyataan itu membuatnya sadar bahwa kekerasan di jalan raya menjatuhkan korban lebih banyak dari perang dunia ke dua. Dia melatih dirinya dan mengembangkan senjata rahasia dengan misi memberantas kriminalitas dari jalanan. Menjalani kehidupan ganda sebagai pengusaha sukses di siang hari sementara di malam hari dengan jubah kelelawarnya yang menggetarkan banyak penjahat di kotanya.”
”Bruce Wayne...” Yudi menanggapi.
”Aku suka sekali tokoh itu. Aku punya edisi pertamanya, waktu itu belum beredar di Indonesia, tapi seorang anak dari klien ayahku memberikannya saat mereka sedang liburan ke Bali. Komik dari Amerika itu adalah hartaku yang pertama, tak seorangpun boleh menyentuhnya selain aku, dan lucunya lama-kelamaan hidupku jadi terpengaruh olehnya...apalagi kisahnya begitu mirip cerita hidupku.”
”Apakah orangtuamu dibunuh kuyang seperti halnya orangtua Bruce Wayne dibunuh perampok?” tanya Yudi.
”Leak mengambil adikku saat usianya lima bulan dalam kandungan ibuku. Lubang yang ditinggalkannya mengakibatkan pendarahan hebat yang membuat nyawa ibuku melayang. Aku menyayangi wanita itu, kamu tahu? Kehilangan ibu merupakan hal yang tak pernah terpikirkan oleh diriku yang waktu itu masih berusia lima tahun.”
”Tapi bagaimana kuyang dapat melakukan itu? Kakekmu kan pedande, pemburu leak.”
”Kakek yakin itu upaya balas dendam kepadanya, tapi ibuku memang tidak pernah percaya pada hal-hal itu. Kejadian itu memukul hati kakek dan setelah mengambilku untuk diasuh di rumahnya dia menurunkan semua pengetahuannya agar suatu hari kelak aku bisa membalaskan sakit hatinya. Sesuatu yang memang ingin kulakukan di tengah rasa marah dan dendam atas meninggalnya ibuku.”
”Bagaimana dengan ayahmu? Kenapa dia tidak menurunkannya pada ayahmu?”
”Kami, orang Bali, punya tradisi kasta. Ada empat kasta yang hidup sesuai dengan tingkatannya, yang tertinggi Brahmana, Satriya, Waisya, lalu Sudra. Kami boleh berteman karib tapi soal perkawinan haram hukumnya orang dari kasta rendah menikah dengan orang dari kasta tinggi, perkawinan sedianya berasal dari golongan kasta yang sama. Dan yang dilakukan orangtuaku adalah sesuatu yang ’haram’, mereka berasal dari kasta yang berbeda. Ibuku berasal dari keluarga Brahmana, karena ayahnya pedande, sementara ayahku dari keluarga Sudra. Dan hanya keturunan dari kasta Brahmana yang berhak mewarisi ilmu kakek, yang berarti itu aku, bukan ayahku.”
”Berarti kamu juga pedande seperti kakekmu?”
__ADS_1
”Aku bukan pedande dan tidak berminat menjadi salah satunya. Kakekku tahu itu. Yang dia mengerti adalah aku punya hasrat kuat buat membasmi leak atau kuyang dan monster-monster semacam mereka, dan itu membuatnya terus menggemblengku sampai aku menjadi diriku yang sekarang,” Wayan menggeleng.
Lelaki tua itu menerawang ke langit biru sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. ”Sebenarnya aku tidak ingin membunuh siapapun...tapi aku harus membasmi mereka agar tidak ada lagi anak-anak yang kehilangan ibu atau adik mereka...seperti Bruce Wayne yang tidak ingin melihat ada anak lain bernasib sama dengan dirinya,kehilangan orangtua oleh kriminal di jalan raya.”
”Lalu bagaimana anda bisa datang ke kota ini?”
”Dua puluh tahun lalu Kakek dapat kabar murid-murid leak terkuat pergi ke Kalimantan dan menggabungkan ilmunya dengan ilmu hitam setempat. Banyak korban berjatuhan dan kakek mengirimku untuk mempelajari siluman dengan ilmu barunya ini. Selama pengejaran dua puluh tahun ini aku banyak menemukan hal-hal baru yang tidak dilakukan ilmu leak...”
”Seperti apa?”
”Senajze, salah satunya, ilmu hitam setempat menguatkan ilmu yang mereka miliki namun ketika melanggar sumpah si penganut ilmu kuyang kehilangan kendali atas ilmunya. Ilmu leak yang pada dasarnya tidak berjiwa karena berada di ranah dunia ide jadi berontak atas tuannya karena ilmu hitam setempat menumbuhkan jiwa pada ilmunya. Untuk merebut kembali kendali dan mencegah dirinya dihancurkan kekuatan ilmunya sendiri dia harus menyalurkan itu ke orang lain...dengan cara bersanggama dengan lawan jenis...”
”Cara yang menyenangkan,” Yudi berdecak.
”Kenikmatan sesaat. Setelah itu si lelaki akan hancur dikuasai ilmunya sementara si kuyang akan semakin kuat jika sanggama itu membuahkan hasil berupa anak kepadanya.”
”Hancur? Berarti lelaki itu akan mati?”
”Jika sudah bersetubuh dengan kuyang lelaki itu tetap akan mati, dengan cara apapun, cepat atau lambat.”
Wajah Yudi berubah pucat, ”Kalau begitu aku akan...”
Yudi menghela nafas panjang, ”Kalau aku memang harus mati biarkan saja. Ini semua terjadi karena kesalahanku. Tapi aku harus melindungi bayi Siska, apapun yang terjadi, sebelum kuyang berhasil menyeberang ke Jakarta dan memangsanya. Anak itu tidak boleh mati gara-gara kebodohan ayahnya.”
Wayan menatap Yudi dalam-dalam, ”Kalau itu yang kamu inginkan, rasanya aku menemukan sesuatu yang bisa kita lakukan untuk menghentikan makhluk itu. Aku menemukan ini saat mencari-cari hal tentang itu semalam...” lelaki tua itu mengeluarkan sebuah buku tebal yang tampak tua dari balik piamanya.
Yudi menegakkan tubuhnya dengan segera, kalimat Wayan tadi menimbulkan harapan baru baginya, ditatapnya buku yang dibuka Wayan sebelum meneguk ludah dengan kecewa karena tidak mengerti tulisan yang tertera disana, ”Aksara apa ini?”
”Dayak.”
”Kupikir orang Dayak tidak menulis.”
”Seperti orang Bali, Dayak memiliki pembagian kasta. Keturunan dari kepala suku dan pendeta diharuskan memahami aksara dalam bahasa mereka untuk mempelajari pengetahuan berupa sihir dan petuah kebijaksanaan dari para pendahulu sebagai bekal memimpin suku. Buku ini kudapat dari seorang dukun Dayak yang berhutang budi saat aku menolong anaknya yang diserang kuyang.”
”Dia mengajarimu tentang aksaranya juga?”
”Tidak selengkap itu! Tapi aku bisa mempelajarinya semuanya dua tahun kemudian.”
”Lalu apa isinya?”
__ADS_1
”Penjelasan mengenai berbagai sihir hitam dari kakek buyutnya. Dia yakin beberapa konsep dalam ilmu itu diadopsi oleh penganut kuyang untuk melanggengkan ilmunya. Sang dukun sendiri tak pernah menggunakan ilmu-ilmu di buku ini karena sebagai tabib dia lebih banyak berkutat pada ilmu aliran darah dan ramuan,” Wayan menjawab. ”Salah satu dari konsep itu mengatakan fatalnya melakukan pembunuhan kepada orang suci. Orang suci dalam hal ini bayi atau orang yang berselubung putih.”
”Kita bisa melewatkan bayi sebab sebagai kuyang mereka jelas mengincar bayi. Lalu apa maksudnya orang berselubung putih? Apakah mereka yang punya kekuatan sihir putih?” tanya Yudi.
”Selubung putih dijelaskan sebagai orang yang tidak punya motivasi menyakiti atau melukai orang lain. Yang hatinya bersih. Lepas dari dendam. Yang tidak memiliki hasrat untuk menyerang orang lain.”
”Dengan kata lain bukan menjadi objek sasaran?”
”Kukira untuk lebih fokus...tapi kurang-lebih seperti itu...”
”Lalu apa katanya jika dia menyerang orang-orang ini?”
”Dia akan dimakan oleh ilmunya. Tulangnya akan kering, tubuhnya hangus jadi abu, dan dia masuk dalam suatu fase yang disebut sebagai hidup segan mati tak mau.”
”Situasi yang mengerikan. Mari kita dengar solusinya..”
”Tidak terlalu jelas...tulisannya kabur...tapi aku bisa mengambil kesimpulan begini, orang itu harus mau melepaskan ilmunya dengan meminum ramuan dari bahan-bahan tertentu. Obat ini pencegahan sementara. Setelahnya dia harus menunggu sampai enam bulan purnama lagi sebelum memastikan efek obat itu berhasil atau malah akan mempercepat kematiannya.”
”Hampir sama dengan kemoterapi, bukan? Tidak selalu efektif bagi semua penderita.”
”Setidaknya itu bisa menumbuhkan harapan,” komentar Wayan. ”Untuk menyembuhkan diri, si pemilik ilmu harus mengosongkan diri tanpa ilmu itu. Jika dia terhindar dari kematian dan kondisi tubuhnya stabil maka orang itu bisa terus memakai ilmunya dengan catatan bahwa kekuatan ilmunya hanya dapat berfungsi setengah saja dari sebelumnya.”
”Dengan kata lain dia melemah. Kalau begitu lebih baik bila dia tidak memakai ilmunya.”
”Belum tentu juga, di buku ini ditulis bahwa ada bonus bagi mereka yang bisa lolos dari kematian. Sayangnya tidak dijelaskan bonusnya seperti apa hanya saja itu didapatkan selama proses pemulihan sepanjang enam bulan purnama itu bila mereka bisa bertahan dan hidup.”
Kening Yudi berkerut, ”Aku belum mengerti, bagaimana dengan meminum cairan orang bisa melepaskan kesaktian ilmunya? Bukankah itu sama seperti kita belajar memahat atau mematung? Suatu keahlian itu tidak akan bisa dilepaskan dari kita kecuali...” mendadak ide itu terbesit dalam pikirannya. ”...tentu, kecuali ada sesuatu yang memengaruhi otaknya... yang membuatnya hilang akal...”
Wayan mengangguk, ”Ada ratusan syaraf, nadi darah, dan otot halus yang terhubung dari otak ke seluruh tubuh. Tidak perlu mengeblok semuanya, cukup satu nadi yang tepat untuk mematikan kemampuan ilmu itu. Satu nadi itulah yang punya sifat sensitif yang berusaha dikuasai oleh cairan itu dengan bahan-bahan yang terkandung di dalamnya. Cukup beberapa mililiter dan cairan itu akan menghalangi keahlian sang pemilik ilmu tanpa mengurangi kemampuannya beraktivitas secara normal.”
”Sayangnya cairan itu hanya mampu membendung jalan darah di nadi dalam waktu tertentu, enam bulan purnama, benarkah?”
”Waktu yang cukup untuk memberi kesempatan bagi tubuh memulihkan kerusakan diri yang disebabkan oleh ilmu itu.”
”Seperti apa kejadiannya kalau tubuh gagal memulihkan diri?”
”Racun yang dihambat oleh obat itu akan naik ke atas kepala dan membanjiri otak dengan kekuatan yang dua kali lebih hebat dari kemampuan sebenarnya. Kekuatan yang berlebihan itulah yang menghancurkannya sebab otak gagal menampung kapasitasnya.”
”Mengerikan ! Aku tidak ingin menjadi orang itu,” Yudi mendengus keras. ”Yah, seperti yang anda bilang... setidaknya kita bisa memberikan harapan. Jadi bagaimana kalau kita mulai bekerja?”
__ADS_1
***